
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Komoditas nikel dan produk turunannya menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Kinerja tersebut terutama terlihat dari peningkatan ekspor nonmigas ke China yang turut didorong oleh komoditas nikel dan barang daripadanya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar. Angka tersebut meningkat 4,43% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dari total tersebut, ekspor nonmigas tercatat sebesar US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21% secara tahunan. Kenaikan ekspor nonmigas antara lain didorong oleh sejumlah komoditas, termasuk nikel dan barang daripadanya (HS75), bahan bakar mineral (HS27), serta lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15).

“Peningkatan ekspor non migas tersebut utamanya pada nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral dan juga lemak dan minyak hewani nabati,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS, di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Penguatan ekspor, lanjutnya, juga tercermin pada sektor industri pengolahan. Sepanjang Januari-Juli 2026, ekspor dari sektor tersebut meningkat 7,16% dan menjadi pendorong utama kenaikan ekspor nonmigas. Produk olahan nikel termasuk di antara komoditas industri pengolahan yang mengalami peningkatan ekspor. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kimia dasar organik, aluminium, serta minyak kelapa sawit.
Ekspor ke China
China menjadi salah satu pasar utama bagi ekspor nonmigas Indonesia. BPS mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$40,62 miliar, meningkat 18,01% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan ekspor nonmigas ke China terutama ditopang oleh nikel dan barang daripadanya, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta bahan bakar mineral.
Dengan demikian, China tidak hanya menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, tetapi juga menjadi pasar penting bagi produk berbasis nikel.
Secara keseluruhan, tiga negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari-Juli 2026 adalah China, Amerika Serikat, dan India. Ketiganya menyumbang sekitar 44,25% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Ateng merinci, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat mencapai US$19,19 miliar, sedangkan ekspor ke India sebesar US$11 miliar.

Kinerja ekspor nikel juga tidak terlepas dari semakin besarnya kontribusi industri pengolahan. BPS mencatat sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor nonmigas Indonesia. Pada Januari-Juli 2026, sektor industri pengolahan tumbuh 7,16% secara tahunan dan memberikan andil 5,73% terhadap kenaikan total ekspor.
Selain produk olahan nikel, peningkatan ekspor sektor tersebut juga berasal dari produk kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar organik lainnya, aluminium, serta minyak kelapa sawit.
Sementara itu, jika dilihat khusus pada Juli 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$26,22 miliar atau meningkat 6,05% dibandingkan Juli 2025. Ekspor nonmigas pada bulan tersebut mencapai US$25,45 miliar dan tumbuh 6,84% secara tahunan. Kenaikan terutama berasal dari bahan bakar mineral yang meningkat 34,86%, besi dan baja yang naik 20,31%, serta mesin dan perlengkapan elektrik yang tumbuh 22,52%.
Dari sisi sektor, ekspor nonmigas Juli 2026 ditopang sektor industri pengolahan sebesar US$21,76 miliar, pertambangan dan lainnya US$3,10 miliar, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar US$0,57 miliar.
Sektor industri pengolahan tumbuh 6,03% secara tahunan dan memberikan andil 5,01% terhadap kenaikan ekspor. Produk yang mendorong pertumbuhan tersebut antara lain kimia dasar organik, aluminium, tembaga, besi dan baja, serta produk kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian.

Surplus
Di tengah peningkatan aktivitas impor, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan barang sepanjang Januari-Juli 2026.
BPS mencatat surplus neraca perdagangan mencapai US$3,70 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari sektor nonmigas yang mencatat surplus US$22,45 miliar, sementara neraca perdagangan migas mengalami defisit US$18,75 miliar.
Komoditas utama yang menjadi penyumbang surplus nonmigas adalah lemak dan minyak hewani atau nabati dengan surplus US$20,96 miliar, bahan bakar mineral US$16,39 miliar, serta besi dan baja US$10,32 miliar.
Ateng menyebut, perkembangan ekspor menunjukkan bahwa produk industri pengolahan, termasuk produk olahan nikel, memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia.
Kinerja tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya peningkatan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri agar ekspor tidak hanya mengandalkan bahan mentah, tetapi semakin bertumpu pada produk hasil pengolahan dan pemurnian. (Li Han)










































