Tag: #Cadangan Nikel

  • Menuju Produsen Baterai Kendaraan Listrik Terkuat di Dunia

    Menuju Produsen Baterai Kendaraan Listrik Terkuat di Dunia

    1. Oleh: Budiawan Sidik A

    Indonesia berpotensi besar menjadi produsen baterai kendaraan listrik terkuat di dunia.  Sejumlah bahan baku utama untuk memproduksi baterai mobil terdapat di negeri ini.

    Sebut saja nikel, kobalt, alumunium, mangan, tembaga, dan sejumlah unsur mineral penting lain untuk memproduksi baterai berlimpah di perut bumi Indonesia. Terbuka peluang sangat besar bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban moderen masa depan dunia.

    Menurut “The International Renewable Energy Agency” (IRENA), dunia di masa mendatang akan mengalami banyak perubahan menuju energi terbarukan. IRENA memiliki skenario perencanaan pada tahun 2030 nanti sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 38 persen.

    Besaran sumber pembangkitan listrik EBT ini diperkirakan kian meningkat lagi pada tahun 2050 menjadi sekitar 55 persen. Hal ini merupakan lonjakan yang sangat signifikan karena pada tahun 2018 jumlah pembangkit listrik EBT secara global masih berkisar 26 persen.

    Meningkatnya jumlah pembangkit listrik EBT tersebut direncanakan akan disertai dengan bertambahnya konsumsi energi final yang berwujud listrik. Konsumsi energi yang berasal dari sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara akan kian mengecil. Konsumsi energi final berupa listrik pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 24 persen dan pada tahun 2050 bertambah menjadi 30 persen.

    Bertambahnya konsumsi listrik di masa depan, salah satunya karena adanya pergeseran sejumlah teknologi secara masif. Salah satu yang paling revolusioner adalah penggunaan mobil bertenaga listrik yang perlahan-lahan menggeser penggunaan mobil berbahan bakar energi fosil.

    Pada tahun 2030 nanti direncanakan akan ada sekitar 269 juta unit kendaraan berbasis tenaga listrik di seluruh dunia. Jumlahnya akan terus berlipat-lipat pada dasawarsa berikutnya. Pada tahun 2050, diperkirakan jumlah mobil listrik akan mencapai lebih dari 600 juta unit kendaraan.

    Proyeksi jumlah kendaraan bebas emisi karbon di masa depan tersebut sangatlah fantastis karena hingga 2019 lalu, jumlah mobil listrik diperkirakan tidak lebih dari 8 juta unit kendaraan.

    Terkait dengan mobil listrik tersebut, Indonesia berpeluang sangat besar untuk turut serta menciptakan komponen terpentingnya, yakni baterai sebagai sumber penampungan energi. Berlimpahnya bahan tambang mineral nikel di Indonesia menyebabkan negeri ini berpeluang untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik terkuat di dunia.

    Berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia mencapai kisaran 800 ribu ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400 ribu ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

    Bila dibandingkan oleh produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya karena negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270 ribu ton setahun.

    Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit sekitar 72 juta ton. Menurut data USGS dan Badan Geologi, Kementerian ESDM, cadangan ini menempati posisi pertama di dunia dengan porsi hingga 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang berkisar 139 juta ton.

    Posisi selanjutnya, ditempati Australia dengan besaran 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari seluruh cadangan dunia. Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki ijin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter.

    Selain deposit cadangan tersebut, diperkirakan Indonesia masih memiliki potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

    Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya mencapai kisaran 4,5 miliar ton.

    Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini. Dengan jumlah cadangan sebesar itu maka produksi nikel di Indonesia baru akan habis dalam beberapa dekade mendatang. Dengan kata lain Indonesia memiliki komoditas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh banyak negara.

    Sebagai produsen terbesar dan sekaligus pemilik cadangan nikel terbanyak di dunia membuat Indonesia sangat menarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di industri baterai kendaraan listrik.

    Nikel yang dahulu kala hanya diekspor sebagai komoditas bahan mentah, kini berubah menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik kelas dunia. Hampir dapat dipastikan semua investor terkait energi baterai skala gobal akan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

    Untuk terus pengembangkan sumber daya nikel menjadi bernilai ekonomi tinggi guna memperkuat perekonomian bangsa maka sejak tahun 2018, pemerintah mulai membangun ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.

    Ada sejumlah agenda kegiatan yang menunjukkan Indonesia bersiap menuju transisi transportasi berbasis listrik. Dimulai dengan meresmikan electric vehicle charging station (EVCS) oleh BPPT; menghadirkan e-taksi jenis mobil listrik dengan bekerja sama dengan Blue Bird; pameran Indonesia Electrik Motor Show (IEMS 2019); serta peresmian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) oleh PLN di sejumlah lokasi.

    Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 100-an SPKLU yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia. Di antaranya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makasar, dan Sumba, NTT.

    Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.

    Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia.

    Berpijak pada aturan tersebut, pemerintah selanjutnya membuat roadmap terkait pengembangan industri KBLBB berikut manufakturing baterai listriknya. Dalam pengembangan  KBLBB pemerintah melibatkan segenap stakeholder agar program ini dapat terealisasi secara akseleratif.

    Mulai dari institusi yang merancang rekayasa teknologi seperti BPPT; LIPI; perguruan tinggi; kemenristekdikti; PLN; hingga institusi lainnya yang bersifat mendukung. Terdiri dari Kemenkeu, Kemendag, Kemenperin, KLHK, Kemenhub, Polri, Kementerian ESDM, hingga Badan Standarisasi Nasional (BSN).

    Demikian juga dalam pengembangan industri baterai listrik, pemerintah juga melibatkan sejumlah stakeholder penting. Mulai dari Batan; BPPT; LIPI; Pertamina; Antam; PLN; hingga industri otomotif seperti Toyota.

    Dalam penguatan struktur industri KBLBB itu pemerintah merancangnya dalam beberapa tahapan. Pada tahun 2020, investor KBLBB diperkenankan melaksanakan impor unit kendaraan dalam bentuk completely built up (CBU) dengan jumlah unit dan tempo tertentu.

    Pada tahun 2021, investor melakukan perakitan KLB BB secara completely knokn down (CKD) di Indonesia. Investor yang terlibat program KBLBB ini diwajibkan mengikuti komitmen realisasi investasi dengan melakukan perakitan mobil listrik yang di dalam negeri.

    Selanjutnya, pada tahun 2022, para investor diperkenankan mendatang investasi baru dengan menggandeng partner lokal perakitan kendaraan listrik. Beberapa komponen KBLBB wajib menggunakan kandungan lokal dalam negeri.

    Pada kurun 2023-2025, investor wajib melakukan penguatan dan pendalaman struktur industri komponen kendaraan listrik. Pada fase ini merupakan tahapan penting untuk pembuatan komponen utama dan pendukung untuk memperkuat struktur industri KBLBB dalam negeri.

    Industri komponen utama itu terdiri dari baterai listrik (sel, modul, dan pack); serta power train berupa traksi motor dan transmisi. Untuk industri pendukungnya berupa perusahaan platform seperti chasis kendaraan, struktur body eksterior dan interior kendaraan. Selain itu, juga didukung oleh industri produk controller kendaraan.

    Terkait baterai kendaraan listrik, pemerintah Indonesia sudah melakukan perancanaan yang relatif baik agar komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi negara.

    Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat produksi dan juga sumber cadangan nikel terbesar di dunia. Jadi, keunggulan absolut ini harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin agar dapat mendorong Indonesia tampil sebagai negara penting bagi kemajuan teknologi kendaraan listrik secara global di masa mendatang.

    Menurut Kementerian BUMN, roadmap industri baterai diproyeksikan akan berkembang secara bertahap mulai tahun 2020 hingga 2027. Pada tahun 2020, pemerintah akan memilih partner bisnis dalam konsorsium baterai nasional.

    Tahun 2021, membangun energy storage system (ESS) atau penyimpanan energi berskala besar di sejumlah daerah yang diprioritaskan. Tahun 2022, produsen peralatan asli (OEM) diharapkan sudah memulai produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

    Tahun 2023, pilot project memproduksi cell baterai 200 MWh dalam bentuk pack. Selanjutnya, tahun 2024, pemurnian high pressure acid leaching (HPAL) untuk prekursor dan katoda mulai beroperasi.

    Tahun 2025, direncanakan akan menjadi fase pertama produksi cell baterai 8-10 GWh dalam bentuk pack. Tahun berikutnya, 2026, ibu kota negara yang baru ditargetkan menggunakan 100 persen transportasi kendaraan listrik. Terakhir pada tahun 2027, industri daur ulang baterai listrik sudah dioperasikan.

    Realisasi Roadmap

    Pada tahun 2021 ini, roadmap pengembangan industri KBLBB dan manufakturing baterai listrik tersebut tampaknya menunjukkan realisasi perkembangan yang positif. Terutama yang terkait dengan industrialisasi baterai kendaraan berbasis listrik.

    Pada April lalu, Indonesia membentuk perusahaan holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC). IBC ini merupakan perusahaan kerjasama antar-BUMN energi seperti MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Masing-masing institusi ini memiliki besaran saham yang sama, yakni 25 persen.

    Keempat BUMN ini memiliki tugas yang beragam. PT Antam bertugas membangun smelter HPAL; PT Pertamina dan MIND ID memproduksi prekursor dan katoda mulai tahun 2024; dan pabrik cell to pack oleh PT Pertamina dan PT PLN yang mulai beroperasi pada tahun 2025.

    Keempat BUMN yang tergabung dalam IBC tersebut akan menjadi mitra kerjasama dengan sejumlah perusahan yang berinvestasi di bidang baterai kendaraan berbasis listrik di Indonesia. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada dua investor yang berkomitmen membangun industri baterai di Indonesia mulai dari hulu hingga hilir.

    Perusahaan itu adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai kisaran lebih dari Rp 200 triliun. Terdiri dari Rp 142 triliun yang berasal dari LG Energy Solution dan kisaran Rp 65 triliun dari CATL.

    LG Energi Solution merupakan salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Investor Korea ini menggandeng investor lainnya seperti LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding membentuk konsorsium untuk berinvestasi di Indonesia terkait industrailisasi baterai kendaraan listrik.

    Ada kemungkinan jumlah investor yang tertarik bekerjasama di bidang baterai listrik akan bertambah lagi. Pada Maret lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa perusahaan asal Jerman, “Badische Anilin-und Soda-Fabrik” (BASF) juga dilaporkan sudah siap menanamkan modalnya di Indonesia.

    Pun demikian dengan produsen mobil listrik dari Amerika, Tesla, kemungkinan besar akan tetap melangsungkan investasinya di Indonesia pada sektor ESS untuk mendukung penyimpanan energi skala besar.

    Para investor tersebut secara tidak langsung akan membuat jalinan utuh yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir industri baterai berbasis listrik. Akan terjalin integrasi seluruh rantai pasok baterai mulai dari pertambangan, smelter, prekursor, katoda, mobil, hingga fasilitas daur ulang yang semuanya dibangun di Indonesia.

    Tentu saja, konsorsium LG merupakan investor yang paling lengkap sistem supply chain-nya mulai dari hulu hingga hilir karena investasi yang digelontorkan relatif sangat besar yakni sekitar 9,8 miliar dollar AS atau kisaran Rp 142 triliun. Kabarnya investasi ini merupakan yang terbesar di Indonesia pasca era reformasi.

    Tentu saja langkah bisnis kerja sama tersebut juga disertai dengan MoU yang juga mengedepankan kepentingan nasional Indonesia. Di antaranya, investor tersebut diwajibkan untuk mengolah setidaknya 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik harus diproses di Indonesia. Pemerintah tidak ingin para investor itu membawa nikel keluar wilayah Indonesia dan mengolahnya di luar negeri.

    Apabila rencana tersebut terwujud maka Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang mengintegrasikan industri baterai listrik mulai dari pertambangan hingga memproduksi baterai kendaraan listrik. Bahkan, berlanjut hingga perakitan unit kendaraan listrik berikut proses daur ulang baterainya sehingga tidak mencemari lingkungan.

    Proses Industrialisasi

    Terbentuknya BUMN holding baterai, IBC dan sudah hadirnya investor dari luar negeri membuat rencana program industrialisasi komponen baterai listrik segera terealisasi dalam waktu dekat.

    PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan konsorsium LG akan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Bekasi, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan akan menempati lahan seluas 33 hektar dan menyerap sekitar seribu tenaga kerja Indonesia.

    Pada pembangunan tahap pertama nanti diperkirakan memiliki kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWH) untuk memenuhi suplai kendaraan listrik Hyundai.

    Dengan terbangunnya industri kendaraan listrik tersebut tentu saja akan memberikan konstribusi yang relatif signifikan bagi perekonomian nasional. Bila dibandingkan saat menjual nikel dalam bentuk mentah dengan sudah menjadi battery pack nilainya sangat jauh berbeda.

    Berdasarkan laporan kementerian BUMN menunjukkan terjadi pertambahan nilai hingga kisaran 90-160 kali dari harga bahan mentah. Ketika suadah menjadi battery pack diperkirakan harganya berkisar antara 130 ribu-220 ribu dolar AS per ton.

    Sangat timpang dengan harga nikel mentah yang hanya berkisar 1.100-1.700 dollar AS per ton. Nilai akan jauh lebih timpang lagi ketika berubah menjadi kendaraan listrik. Diperkirakan nilai tambahnya melonjak menjadi kisaran 470-780 kalinya dari harga nikel mentah.

    Dari ilustrasi tersebut dapat dibayangkan betapa besarnya nilai tambah produksi dari perakitan battery pack yang tengah dilakukan IBC dan partner kerjasamanya.

    Diperkirakan sekitar 30-40 persen biaya pembuatan mobil listrik diperuntukkan hanya untuk penyediaan baterainya saja. Jadi, dapat dibayangkan betapa besarnya nilai manfaat ekonomi yang diterima holding BUMN baterai dan juga para investornya.

    Bila diasumsikan harga keseluruhan mobil listrik senilai Rp 300 juta, maka harga baterainya saja berkisar Rp 100-an juta. Nilai perkiraan ini tentu saja akan berdampak sangat signifikan bagi perekonomian nasional.  Tentu saja, nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan semakin meroket.

    Bila diasumsikan Indonesia pada tahun 2030 mampu menyuplai sekitar 10 persen kebutuhan baterai kendaraan listrik secara global maka kontribusi bagi perekonomian nasional sangatlah besar.

    Mengacu pada proyeksi IRENA yang memperkirakan jumlah kendaraan listrik pada tahun 2030 berkisar 260 juta unit maka ada kemungkinan Indonesia mampu menyuplai sekitar 10 persen atau  26 juta unit baterai kendaraan. Jumlah ini akan menghasilkan kontribusi bagi PDB Indonesia kisaran Rp 2.600 triliun. Nilai ini hampir setara dengan nilai APBN tahun ini yang berkisaran Rp 2.700-an triliun. Luar biasa.

    Oleh sebab itu, roadmap yang sudah dibuat oleh pemerintah semaksimal mungkin diupayakan untuk dapat terealisasi. Apabila berhasil melewati sejumlah tahapan rencana itu maka harapannya akan tercipta alih teknologi dari sejumlah investor yang menguasai teknologi kepada SDM dalam negeri. Selain itu, ada peluang terciptanya inovasi teknologi karya anak bangsa dalam proses transisi alih teknologi tersebut.

    Riset yang mengarah pada hilirisasi industri baterai kendaraan listrik harus terus diperkuat guna menunjang akselerasi penguasaan teknologi baterai kendaraan listrik itu. Akan lebih maksimal lagi hasilnya apabila juga mengembahkan teknologi penyimpanan energi untuk keperluan energi baru terbarukan (EBT) sehingga manfaatnya lebih luas lagi di masyarakat.

    Jadi, riset dan pengembangan dari dalam negeri sangat penting peranannya dalam masa awal kolaborasi industrialisasi baterai kendaraan listrik ini. Semakin cepat menguasai alih teknologi maka akan semakin cepat pula tercipta inovasi karya anak bangsa. Semakin besar inovasi yang dihasilkan maka nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian nasional akan semakin lebih besar.

    Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang akan tercipta baterai kendaraan listrik yang 100 persen adalah buatan Indonesia. Demikian juga dengan unit kendaraan listriknya, Indonesia berpeluang besar memiliki mobil atau kendaraan nasional bertenaga listrik yang membanggakan.

    Sangat besar peluangnya, suatu saat nanti mobil bermerek nama-nama khas Indonesia akan berseliweran di seluruh dunia. Jadi, roadmap yang sudah dibuat sebisa mungkin harus terealisasi dan sekaligus menerapkan dengan tegas ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh pemerintah.

    Jangan sampai, potensi sumber daya nikel yang besar ini justru hanya menguntungkan bagi para investor besar yang menguasai teknologi. Sudah saatnya, Indonesia harus bertransisi dan menguasai teknologi peradaban moderen ini. Mimpi menjadi negara besar yang menguasai teknologi bukan angan-angan belaka, tetapi kenyataan yang bakal terwujud beberapa saat lagi. Semoga. (LITBANG KOMPAS)

    Sumber: Kompas.id

  • RI Punya Harta Karun Tambang Terbesar di Dunia, Ini Faktanya

    RI Punya Harta Karun Tambang Terbesar di Dunia, Ini Faktanya

    NIKEL.CO.ID – Indonesia dianugerahi “harta karun” di sektor komoditas tambang, yakni nikel. Tak tanggung-tanggung, Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia untuk besaran jumlah sumber daya nikel. Indonesia disebut memiliki sumber daya nikel sebesar 23,7% dari total sumber daya nikel dunia.

    Menyusul Indonesia yaitu Australia dengan persentase 21,5%, lalu Brazil 12,4%, Rusia 8,6%, dan lainnya.

    Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey. Dia juga mengatakan, Indonesia memproduksi bijih nikel tahunan terbesar di dunia.

    “Bangsa ini dikenal memiliki volume cadangan nikel terbesar di dunia, 23,7% dari dunia,” ungkapnya dalam diskusi ‘Battery Electric Vehicles Outlook‘, Kamis (06/05/2021).

    Lebih lanjut dia mengatakan, Indonesia memiliki dua daerah endapan nikel primer, terletak di Pulau Sulawesi dan Halmahera. Namun, sebelum adanya kebijakan larangan ekspor bijih nikel pada tahun lalu, sebagian besar bijih mentah nikel diekspor untuk peleburan di luar negeri.

    “Seperti banyak bijih mineral lainnya di Indonesia, sebagian besar bijih mentah nikel secara tradisional diekspor untuk peleburan ke luar negeri,” tuturnya.

    Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyebutkan bahwa cadangan nikel yang dimiliki Indonesia mencapai 21 juta ton. Indonesia menduduki peringkat pertama soal cadangan nikel, mengalahkan Australia di peringkat kedua dengan total cadangan 20 juta ton.

    Lalu, disusul Brazil dengan cadangan sebesar 16 juta ton dan posisi keempat adalah Rusia dengan cadangan nikel sebesar 7 juta ton.

    Hal tersebut diungkapkan Luhut dalam CNBC Indonesia Mining Forum dengan Tema “Prospek Industri Minerba 2021”, Rabu (24/3/2021). Dia mengatakan bahwa data tersebut merupakan data antar negara di tahun 2019.

    “Ini cadangan menurut negara di 2019. Ini akan membawa Indonesia ke era industrialisasi,” kata Luhut, Rabu (24/3/2021).

    Lebih lanjut dia mengatakan, melalui industrialisasi ini Indonesia akan bergerak ke arah energi baru terbarukan (EBT). Apalagi, Indonesia punya potensi besar dalam mengembangkan baterai lithium.

    “Betul-betul dengan industrialisasi, energi baru terbarukan kita punya potensi,” tegas Luhut.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Ekonom: Punya Nikel Tak Otomatis Kuasai Pasar Mobil Listrik

    Ekonom: Punya Nikel Tak Otomatis Kuasai Pasar Mobil Listrik

    NIKEL.CO.ID – Ekonom senior Faisal Basri mengatakan meskipun Indonesia memiliki tambang nikel tetapi tidak secara otomatis menguasai pasar karena yang dibutuhkan industri mobil listrik dan komponen pendukungnya adalah iklim bisnis yang memungkinkan untuk memperoleh nilai tambah lebih banyak.

    “Ada kesan kalau bikin electric vehicle mesti produksi semua, seperti lokal konten. Tidak ada negara yang tiba-tiba menjadi negara industri yang unggul di otomotif, Jepang dan Jerman butuh ratusan tahun untuk menghasilkan kondisi sekarang,” katanya dalam diskusi daring Peluang Ekonomi Pasca Leaders Summit on Climate yang dipantau di Jakarta, Selasa (27/4/2021).

    Dia menyarankan agar Indonesia menjadi bagian dari global supply chain dengan memilih komponen yang dapat memberikan nilai tambah paling tinggi.

    “Kalau tiba-tiba ingin menjadi negara produsen utama mobil listrik, mimpi seperti itu mendekati ngawur,” kelakar Faisal.

    Dia mengungkapkan bahwa China kini sudah tobat menjadi pusat manufaktur terbesar di dunia, karena nilai tambah yang dinikmati oleh negara itu paling sedikit. Produk Apple iPod misalnya, China hanya mendapatkan 7 persen dari total nilai perangkat tersebut.

    Sementara keuntungan terbesar justru dinikmati Korea Selatan yang memasok layar dan Taiwan yang menyuplai prosesor.

    “Kalau kita siapkan infrastrukturnya, maka niscaya opportunity lebih banyak daripada ancaman. Tugas negara membawa transisi energi ini agar tidak menimbulkan shock dan pengangguran,” kata Faisal.

    Lebih lanjut dia meminta pemerintah agar fokus terhadap komponen-komponen kendaraan listrik yang bisa dikembangkan di dalam negeri, bukan industri mobil listrik secara keseluruhan.

    “Doktor ahli electric car relatif terbatas. Kita harus tentukan pilihan dan sejak sekarang kita bangun infrastrukturnya supaya memberikan hasil yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat,” tutup Faisal.

    Sumber: republika.co.id

  • Menimbang Potensi Besar Nikel Indonesia

    Menimbang Potensi Besar Nikel Indonesia

    Konsekuensi apakah yang penting dicermati Indonesia sebagai negara produsen nikel bijih nikel terbesar dunia?

    NIKEL.CO.ID – Sebagai negara dengan kekayaan bahan tambang nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang kunci penting bagi kelangsungan produksi kendaraan listrik di masa depan.

    Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia sekitar 800.000 ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400.000 ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

    Jika dibandingkan dengan produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya. Negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270.000 ton setahun.

    Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit 72 juta ton. Berdasarkan data United State Geological Survey (USGS) dan Badan Geologi Kementerian Ekonomi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan ini menempati posisi pertama di dunia.

    Proporsi cadangan nikel Indonesia mencapai 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang sebesar 139 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati Australia dengan porporsi cadangan nikel lebih kurang 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari total cadangan nikel global.

    Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki izin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter. Padahal, masih ada potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

    Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya 4,5 miliar ton. Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini.

    Berumur panjang

    Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia memiliki usia produksi nikel hingga beberapa dekade mendatang. Seberapa panjangkah usia produksi nikel Indonesia?

    Hal tersebut bergantung pada pemilihan proses ekstraksi bijih nikel. Apabila bijih nikel dipisahkan dengan proses pyrometallurgy atau pemisahan logam dari bijihnya dengan cara pemanasan pada temperatur tinggi, diperkirakan umur cadangannya mampu diproduksi hingga sekitar 27 tahun ke depan.

    Namun, jika ekstraksi bijih nikel menggunakan proses hydrometallurgy atau menggunakan reagen pelarut yang dilakukan pada temperatur relatif rendah, diperkirakan cadangan nikel Indonesia mampu berproduksi hingga 73 tahun ke depan hingga kisaran tahun 2093.

    Perbedaan proses ekstaksi bijih nikel pada endapan laterit tersebut menghasilkan output produksi yang berbeda. Pada rencana industri hilir nikel di Indonesia, proses pyrometallurgy akan menghasilkan anekan produk stainless steel.

    Proses hydrometallurgy akan menghasilkan sejumlah produk, seperti campuran logam berbasis nikel, pelapisan logam, dan baterai. Dari rencana industri hilir ini dapat diindikasi bahwa proses ekstraksi hydrometallurgy adalah yang memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional.

    Dengan proses hydrometallurgy, Indonesia berpeluang besar untuk menghasilkan bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan. Artinya, Indonesia berpeluang menjadi produsen terbesar baterai kendaraan listrik di dunia di masa mendatang. Peluang itu terutama ada pada baterai Lithium tipe Nickel Cobalt Aluminum Oxide (NCA) dan Nickel Manganese Cobalt Oxide (NMC) yang mengutamakan penggunaan material nikel.

    Kebijakan akseleratif

    Melihat besarnya potensi sumber daya nikel tersebut mendorong pemerintah membangun kebijakan yang revolusioner. Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

    Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia. Pemerintah pun segera membentuk konsorsium BUMN untuk menangani proyek hilirisasi nikel menjadi baterai.

    Konsorsium ini terdiri dari PT Aneka Tambang yang merupakan anak perusahaan MIND ID berkolaborasi dengan PT Pertamina dan PT PLN. Ketiga perusahaan ini selanjutnya membentuk perusahaan holding  PT Indonesia Battery agar lebih leluasa dalam mengembangkan usaha dan juga menggandeng mitra-mitra investornya.

    Untuk sementara, ada dua investor yang berkomitmen untuk membangun industri baterai di Indonesia, mulai dari hulu hingga hilir. Perusahaan tersebut adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai Rp 174 triliun.

    Meskipun investasi dari kedua perusahaan asing itu besar, pemerintah tetap berkomitmen untuk optimalisasi produksi di dalam negeri. Pemerintah memastikan jika perusahaan tersebut diwajibkan mengolah 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik, harus diproses di Indonesia.

    Daya saing

    Hanya saja, keunggulan komoditas nikel tersebut harus mampu meningkatkan daya saing Indonesia secara luas. Artinya, jangan sampai potensi besar nikel itu hanya menjadi komoditas yang memberikan keuntungan besar bagi pemodal asing yang memiliki kemampuan teknologi pengolahan mutakhir. Produsen dalam negeri juga harus dilibatkan dan diberikan stimulan agar mampu bersinergi dengan para investor asing dan konsorsium baterai Indonesia.

    Program percepatan program KBL berbasis baterai untuk transportasi yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 55/2019 tersebut bisa sangat menguntungkan investor besar. Dalam perpes itu disebutkan ada lima program KBL berbasis baterai untuk transportasi.

    Program itu mencakup percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai dalam negeri, pemberian insentif, dan penyediaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik untuk KBL berbasis baterai. Selain itu, ada juga program pemenuhan terhadap ketentuan teknis KBL berbasis baterai dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

    Melalui program tersebut ada harapan besar bagi Indonesia untuk tumbuh menjadi produsen baterai listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik. Hanya saja, jika dicermati dari langkah-langkah kebijakannya, ternyata sangat besar peluangnya bagi industri luar negeri untuk dapat terlibat dalam kegiatan hulu hingga hilirnya.

    Dalam program percepatan pengembangan industri KBL berbasis listrik ada sejumlah butir yang berpotensi menguntungkan investor besar. Salah satunya adalah tentang ”Industri kendaraan dan industri komponen kendaraan bermotor yang telah memiliki izin usaha industri dan fasilitas manufaktur dan perakitan dapat mengikuti program percepatan KBL berbasis baterai untuk transportasi jalan”.

    Aturan ini berpeluang sangat menguntungkan investor besar manufakturing kendaraan di Indonesia yang notabene milik prinsipal asing. Perusahaan-perusahan ini hampir bisa dipastikan dapat mengikuti progam KBL berbasis baterai ini tanpa memiliki kendala yang berarti.

    Berbeda halnya dengan industri di dalam negeri yang relatif sangat jauh tertinggal dari sisi teknologi ataupun permodalan. Jadi, perlu peranan pemerintah agar industri di dalam negeri dapat terlibat dalam percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai tersebut.

    Dalam konteks tersebut, bagian lain dari isi Perpres No 55/2019 yang menekankan penguatan industri domestik menjadi kunci. Dalam perpres itu disebutkan bahwa ”perusahaan industri komponen kendaraan bermotor dan/atau perusahaan industri komponen KBL berbasis baterai dalam negeri wajib mendukung dan melakukan kerja sama dengan industri KBL berbasis baterai dalam negeri”.

    Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan industri kendaraan ataupun komponen kendaraan listrik berbasis baterai harus melibatkan industri domestik dalam proses rantai supply chain-nya. Hal ini harus menjadi pemicu bagi semua pemangku kepentingan di dalam negeri untuk bersama-sama menangkap kesempatan besar ini. (LITBANG KOMPAS)

    Sumber: KOMPAS.ID

  • Miliki Cadangan Nikel Terbesar, Kadin Optimistis RI Kuasai Pasar Mobil Listrik

    Miliki Cadangan Nikel Terbesar, Kadin Optimistis RI Kuasai Pasar Mobil Listrik

    NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai akan menjadi produsen baterai lithium dan mobil listrik terbesar di dunia, seiring besarnya pasokan nikel untuk pembuatan baterai lithium yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

    “Indonesia punya kandungan nikel yang luar biasa banyak. Seharusnya Indonesia bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

    Arsjad yang juga calon ketua umum Kadin Indonesia periode 2021-2026, menyatakan bahwa pengembangan mobil listrik akan menimbulkan efek domino dan meningkatkan peran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada industri otomotif dalam negeri.

    “Apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik adalah ide yang luar biasa. Kita harus siap kalau ingin berkembang dan berkompetisi. Kita bisa leading,” ujar Arsjad.

    Namun, ia mengingatkan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain terdepan dalam industri mobil listrik dunia.

    Selain memiliki sumber daya alam melimpah berupa nikel, Indonesia juga harus memperlengkapi diri dengan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi, memanfaatkan komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan membeli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia.

    “Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. Yang penting, di akhirnya adalah intellectual property milik Indonesia. TKDN, komponennya banyak di Indonesia dan cost baterai buatan Indonesia akan lebih kompetitif. Kita berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang kokoh,” ujar Arsjad.

    Presiden Joko Widodo, telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

    Selain itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2017, Indonesia mampu menghasilkan 2,12 juta ton nikel pig iron (NPI) dan 482.400 ton feronikel (FeNi) pada tahun 2017.

    Data Badan Geologi menyebutkan bahwa per tahun 2012, Indonesia memiliki 1,02 miliar ton dari total cadangan nikel, terutama berlokasi di Sulawesi dan Maluku.

    Sumber: ANTARA

  • Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

    Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

    oleh: Dwi Suryo Abdullah *)

    NIKEL.CO.ID – Nikel adalah elemen logam dengan nomor atom: 28 dan berat atom: 58.6934 berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit pada umumnya terbentuk secara alami yang merupakan elemen paling umum kelima di bumi dan muncul secara luas di kerak dan inti bumi. Nikel juga disebut sebagai logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam yang dikenal memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi, sehingga nikel sering digunakan sebagai lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak karena mempunyai kemampuan untuk menahan suhu yang sangat tinggi.

    Mayoritas nikel yang ditambang saat ini sekitar 60 persen digunakan untuk membuat baja campuran nikel (baja nikel) seperti baja tahan karat, kuat dan tahan korosi. Nikel sering dicampur dengan besi dan logam lain untuk membuat magnet yang kuat yang dikenal sebagai magnet Alnico, merupakan bahan campuran dari aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Campuran nikel lainnya digunakan pada poros baling-baling kapal dan sudu turbin gas, kubah, suku cadang mesin, pipa yang digunakan di pabrik desalinasi merupakan campuran nikel dengan tembaga , sering juga digunakan untuk pelapis produk kran air sehingga memberikan efek yang kilap /kemilau.

    Selain Itu nikel juga digunakan untuk bahan utama baterai, uang koin, senar gitar, dan pelat baja. Sebagai contoh banyak baterai berbasis nikel dapat diisi ulang seperti baterai NiCad (nickel cadmium) dan baterai NiMH (nickel-metal hydride) yang digunakan pada kendaraan hibrida. Bahkan dikembangkan sebagai material pembuat chip, pada tahun 1881 nikel murni digunakan untuk koin di Swiss meskipun uang koin di AS pertama kali menggunakan nikel yang dicampur dengan tembaga pada tahun 1857.

    Beberapa sifat nikel adalah sebagai logam yang keras namun mudah dibentuk dan ulet serta menjadi konduktor panas dan listrik yang baik. Disamping Itu nikel disebut bivalen yaitu memiliki valensi dua, merupakan logam yang larut perlahan dalam asam encer dengan titik leleh pada temperatur 1.453 ° C dan titik didih 2.913 °C. Nikel memiliki sifat fisik dan kimia yang luar biasa, dapat menjadikan banyak produk yang meningkat valuenya apabila dicampurkan dengan nikel seperti berbagi jenis baterai kendaraan listrik dengan bahan utama dari Nikel termasuk pelapis baling-baling kapal, mesin jet maupun sudu turbin gas bahkan juga sering dijumpai pada ribuan produk lainnya.

    Nikel bersama dengan besi juga merupakan elemen umum dalam meteorit sehingga banyak dijumpai namun tidak banyak ditemukan pada tumbuhan, hewan dan air laut. Sehingga banyak ilmuwan meiyakini bahwa deposit besar bijih nikel ini adalah hasil dari tabrakan meteor purba, karena itulah Nikel merupakan logam yang keras dan tahan korosi.

    Negara yang merupakan penghasil tambang nikel terbesar antara lain : Indonesia, Filipina, Rusia, Kanada, Brazil, Australia dan Kaledonia Baru dengan cadangan lebih dari 50 % sumber daya nikel global yang saat ini hampir mencapai 300 juta ton dengan deposit terbesar nikel di wilayah Sudbury di Ontario, Kanada .

    Cadangan nikel di Kanada diperkirakan berasal dari meteorit raksasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun yang lalu, selama ini sebagian besar nikel diperoleh dari mineral pentlandite (NiS · 2FeS), yang konsentrasi ekonomis nikel terjadi di sulfida dan di deposit bijih tipe laterit. Produsen nikel terbesar sàat ini adalah Rusia sedangkan Cina memimpin dalam hal penggunaan karena hampir 60 persen konsumsinya dikaitkan dengan produksi baja tahan karat.

    Konsumsi nikel terbesar beberapa tahun ini adalah untuk campuran baja, baterai dan uang koin.

    Seiring dengan penemuan batarai lithium ion oleh tiga ilmuwan kimia yaitu John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino peraih nobel tahun 2019 menjadikan nikel sebagai logam yang paling banyak untuk digunakan dalam Industri baterai terutama untuk baterai kendaraan listrik, baterai surya, gadget, laptop, tablet dan banyak perkakas portable yang membutuhkan baterai sebagai penggerak motor listrik .

    Tentunya ini akan mendongkrak konsumsi nikel global apalagi kendaraan listrik dan baterai surya menjadi backbone menurunkan emisi gas karbon dioksida (efek rumah kaca). Banyak mata pengusaha dan penguasa negara berusaha mengamankan cadangan nikel yang dimiliki agar dapat di ekplorasi untuk kemajuan negara sehingga membawa kemakmuran bagi rakyatnya,seperti Indonesia dengan menyiapkan Industri Baterai Nasional yang diinisiai oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara melalui Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium dari PT Pertamina (Persero) , PT PLN (Persero) , PT Inalum dan PT Aneka Tambang.

    *) Dwi Suryo Abdullah adalah Pemerhati Kelistrikan

    Sumber: ruangenergi.com

  • Calon Investor Proyek Baterai Mulai Teliti Cadangan Nikel RI

    Calon Investor Proyek Baterai Mulai Teliti Cadangan Nikel RI

    ”Ini langkah besar dibanding investor lain,” kata Ketua Tim Percepatan Pengembangan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahjana Wirakusumah.

    NIKEL.CO.ID – Pencarian mitra asing untuk proyek baterai di Indonesia masih berlangsung. Ketua Tim Percepatan Pengembangan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahjana Wirakusumah menyebut, satu perusahaan tengah memulai penelitan untuk memetakan cadangan nikel yang dimiliki RI.

    Namun, ia enggan membeberkan lebih lanjut.

    ”Saya tidak bisa sebut namanya. Tapi (perusahaan itu) sudah mulai meneliti cadangan yang kita miliki. Ini langkah besar dibanding investor lain,” kata Agus dalam acara IDE Katadata 2021, Kamis (25/3/2021).

    Sebelumnya, terdapat tujuh perusahaan global yang tertarik masuk dalam proyek itu. Sebanyak tiga perusahaan berasal dari Tiongkok, yaitu Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), BYD Auto Co Ltd, dan Farasis Energy Inc.

    Lalu, dua dari Korea Selatan, yaitu LG Chem Ltd dan Samsung SDI. Ada pula perusahaan asal Jepang, Panasonic. Terakhir adalah Tesla asal Amerika Serikat yang tertarik bergabung.

    Dari ketujuh perusahaan tersebut, ada dua perusahaan yang serius, yakni CATL dan LG Chem. Sedangkan Tesla masih melakukan penjajakan.

    Untuk investasi dengan skala jumbo, menurut Agus, investor sebenarnya tidak hanya melulu memandang soal cadangan nikel yang dimiliki. Yang tak kalah penting adalah peraturan yang mendukung para investor.

    Nikel merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium-ion, terutama pada kendaraan listrik (EV). Dengan memakai nikel pada kutub positifnya (katoda), energi dalam baterai menjadi lebih padat. Kendaraan listrik dapat menempuh jarak lebih jauh.

    Pemerintah kerap menyebut Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Angkanya mencapai 21 juta ton, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.
    Dengan cadangan tersebut, pemerintah percaya diri masuk ke bisnis baterai, terutama untuk kendaraan listrik. Nikel merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium ion.

    Sejak 1 Januari 2020, pemerintah telah melarang ekspor bijih nikel. Perusahaan tambang wajib mengolahnya di dalam negeri.

    Pembangunan Rendah Karbon

    Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pemerintah tengah mengutamakan pembangunan rendah karbon atau berkelanjutan. Hal ini seiring dengan komitmen Indonesia menurunkan emisi karbonnya, sesuai dengan Perjanjian Paris 2015.

    Ada beberapa fokus yang menjadi prioritas pemerintah untuk ekonomi berkelanjutan. Salah satunya adalah peningkatan ekonomi hijau di sektor industri. Kemudian, pengembangan energi baru terbarukan. Terakhir, investasi hijau.

    “Kami akan memberikan insentif investasi baru yang lebih hijau. Ini akan mendukung daya saing yang lebih baik,” kata dia.

    Pemerintah juga mendorong transisi menuju ekonomi sirkular. Hal ini akan menjadi penyeimbang antara keuntungan ekonomi, lingkungan sosial, sumber daya, dan meminimalkan limbah. Ekonomi sirkular nantinya bakal berkontribusi untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

    Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Calon Investor Proyek Baterai Mulai Teliti Cadangan Nikel RI“

  • Pemerintah Dorong Eksplorasi Guna Tingkatkan Cadangan Nikel

    Pemerintah Dorong Eksplorasi Guna Tingkatkan Cadangan Nikel

    NIKEL.CO.ID – Indonesia dianugerahi sumber daya nikel yang saat ini banyak diburu dunia untuk dijadikan komponen baterai lithium untuk kendaraan listrik.

    Deputi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan, semakin banyak nikel yang digunakan, maka kepadatan energi akan semakin tinggi, sehingga semakin jauh jarak tempuhnya.

    “Jadi, nikel ini akan menjadi komoditas yang sangat penting. Data Badan Geologi Amerika Serikat menyatakan cadangan nikel Indonesia paling besar,” paparnya dalam sambutan di Webinar Forum Geologi Nasional, Selasa (23/03/2021).

    Meski cadangan nikel Indonesia besar, namun dirinya meyakini masih banyak peluang dari sisi geologi untuk meningkatkan cadangan nikel ini.

    Berdasarkan data Badan Geologi status Juli 2020, sumber daya nikel Indonesia mencapai 11,9 miliar ton dan cadangan 4,35 miliar ton.

    “Masih banyak lagi peluang dari sisi geologi untuk meningkatkan cadangan dari nikel ini,” ujarnya.

    Oleh karena itu, dia meminta Badan Geologi untuk terus mendorong eksplorasi demi meningkatkan cadangan nikel ini.

    “Peran Badan Geologi untuk mineral nikel ini sangat penting untuk bagaimana bisa mendorong eksplorasi guna meningkatkan cadangan nikel,” pintanya.

    Transisi energi dunia yang mengarah pada energi baru terbarukan (EBT) dan sebagai respons pada kebijakan iklim, maka penggunaan kendaraan listrik dunia akan terus meningkat. Artinya, permintaan pada nikel juga akan terus melonjak.

    Dia mencontohkan Uni Eropa mulai tahun lalu menerapkan batas emisi kendaraan di 95 gram per kilo meter (km). Kondisi yang hampir sama juga dilakukan di China.

    “Kebijakan-kebijakan seperti ini selain yang tadi mobil listrik, mungkin juga kebijakan untuk transisi kepada solar (energi matahari), gas bumi, tenaga angin, itu mendorong permintaan terhadap banyak sekali komoditas unggulan Indonesia,” jelasnya.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Badan Geologi Verifikasi Data Besarnya Cadangan Nikel Indonesia

    Badan Geologi menyebut dari 301 sampai 302 pemegang izin usaha pertambangan dan kontrak karya nikel, baru 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

    NIKEL.CO.ID – Data cadangan nikel di Indonesia disebut tak sebesar pemaparan pemerintah. Kepala Bidang Mineral Pusat Sumber Daya Mineral Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Moehamad Awaludin pun buka suara.

    Cadangan nikel setiap tahun selalu dipublikasikan. Sebagian besar data yang disusun Badan Geologi bersumber dari laporan kegiatan perusahaan. Dengan begitu, sumber datanya dapat dipertanggungjawabkan. “Kami ada verifikasi data. Kalau angkanya tidak masuk akal, kami tidak ambil,” kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (22/3/2021).

    Isi laporan itu adalah data eksplorasi, laporan studi kelayakan, serta laporan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah pusat dan daerah.

    Awaludin menyebut terdapat 301 hingga 302 pemegang izin usaha pertambangan (IUP), izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan kontrak karya (KK) nikel. Dari angka itu, hanya 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

    Hanya saja, dari semua pelaporan tersebut tidak semua menggunakan competent person. Padahal perannya cukup strategis dalam memvalidasi neraca cadangan pada suatu wilayah izin usaha pertambangan.

    “Baru 60% yang menggunakan competent person,” kata dia.

    Persoalannya, semua pelaporan yang masuk telah disetujui pemerintah, baik pemda maupun Direktorat Jenderal Minerba. Apabila tidak disetujui karena tidak kompeten, seharusnya tidak menjadi laporan yang bisa diambil oleh Badan Geologi dan dijadikan sumber data.

    “Kami mengacunya di situ kalau data sudah detail,” ujarnya.
    Dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor (ESDM) 1806 K/30/MEM/2018, perusahaan tambang wajib mendapatkan pengesahan dari competent person Indonesia alias CPI untuk jumlah cadangan di lokasi izin usaha pertambangan atau IUP. Tanpa itu, pemerintah tidak akan mengesahkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan.

    Melansir dari situs Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), ada lima syarat untuk menjadi competent person. Pertama, anggota Perhapi, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), atau Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI).

    Kedua, lulusan teknik pertambangan atau geologi dari perguruan tinggi yang terakreditasi. Ketiga, memiliki pengalaman kerja yang cukup dalam industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Termasuk, minimal lima tahun di bidang yang relevan.

    Keempat, telah melalui verifikasi yang diselenggarakan oleh komite (khusus) impelementasi CPI. Terakhir, memenuhi kewajiban administrasi sebagai CPI.

    Data Cadangan Nikel

    Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso berpendapat cadangan nikel Indonesia selama ini memang tidak sebesar dengan apa yang dipaparkan pemerintah.

    Pasalnya, cadangan yang disebutkan selama ini belum semuanya memenuhi ketentuan dan diverifikasi sesuai dengan Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI) 2017 dan standar nasional Indonesia (SNI) 2019.

    Hal tersebut terjadi karena biaya eksplorasi yang mahal.

    “Tanpa cadangan yang sesuai dengan KCMI atau SNI, maka desain smelter-nya pakai asumsi dan tentu saja tidak bankable,” kata dia.
    Smelter merupakan pabrik pengolahan dan pemurnian barang tambang menjadi produk jadi. Pemerintah sedang mendorong perusahaan tambang melakukan nilai tambah tersebut. Kewajibannya pun tertulis pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 atau UU Minerba pasal 102 ayat 1.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey sebelumnya juga membeberkan mengenai beberapa sengkarut yang terjadi pada tata niaga nikel di Indonesia. Salah satunya yakni tidak tersedianya detail data cadangan deposit nikel.

    Sejauh ini hanya PT Vale Indonesia Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang sudah melakukan kegiatan eksplorasi menyeluruh.

    “Karena besarnya biaya eksplorasi sehingga sulit untuk mengukur berapa detail cadangan nikel Indonesia,” ujarnya.

    Pemerintah kerap menyebut Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Angkanya mencapai 21 juta ton, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.
    Dengan cadangan tersebut, pemerintah percaya diri masuk ke bisnis baterai, terutama untuk kendaraan listrik. Nikel merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium ion.

    Dengan memakai nikel pada kutub positifnya (katoda), energi dalam baterai menjadi lebih padat. Kendaraan listrik dapat menempuh jarak lebih jauh.

    Sejak 1 Januari 2020, pemerintah telah melarang ekspor bijih nikel. Perusahaan tambang wajib mengolahnya di dalam negeri.

    Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Badan Geologi Verifikasi Data Besarnya Cadangan Nikel Indonesia“

  • Data Cadangan Nikel Diragukan, Badan Geologi Buka Suara

    Data Cadangan Nikel Diragukan, Badan Geologi Buka Suara

    Badan Geologi menyebut dari 301 sampai 302 pemegang izin usaha pertambangan dan kontrak karya nikel, baru 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

    NIKEL.CO.ID – Data cadangan nikel di Indonesia disebut tak sebesar pemaparan pemerintah. Kepala Bidang Mineral Pusat Sumber Daya Mineral Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Moehamad Awaludin pun buka suara.

    Cadangan nikel setiap tahunnya selalu dipublikasikan. Data yang disusun Badan Geologi sebagian besar bersumber dari laporan kegiatan perusahaan. Dengan begitu, sumber datanya dapat dipertanggungjawabkan.

    “Kami ada verifikasi data. Kalau angkanya tidak masuk akal, kami tidak ambil,” kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (22/3/2021).

    Isi laporan itu adalah data eksplorasi, laporan studi kelayakan, serta laporan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui pemerintah pusat dan daerah.

    Awaludin menyebut terdapat 301 hingga 302 pemegang izin usaha pertambangan (IUP), izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan kontrak karya (KK) nikel. Dari angka itu, hanya 199 perusahaan yang melaporkan datanya.

    Hanya saja, dari semua pelaporan tersebut tidak semua menggunakan competent person. Padahal perannya cukup strategis dalam memvalidasi neraca cadangan pada suatu wilayah izin usaha pertambangan.

    “Baru 60% yang menggunakan competent person,” kata dia.

    Persoalannya, semua pelaporan yang masuk telah disetujui pemerintah, baik pemda maupun Direktorat Jenderal Minerba. Apabila tidak disetujui karena tidak kompeten, seharusnya tidak menjadi laporan yang bisa diambil oleh Badan Geologi dan dijadikan sumber data.

    “Kami mengacunya di situ kalau data sudah detail,” ujarnya.
    Dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor (ESDM) 1806 K/30/MEM/2018, perusahaan tambang wajib mendapatkan pengesahan dari competent person Indonesia alias CPI untuk jumlah cadangan di lokasi izin usaha pertambangan atau IUP. Tanpa itu, pemerintah tidak akan mengesahkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan.

    Melansir dari situs Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), ada lima syarat untuk menjadi competent person. Pertama, anggota Perhapi, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), atau Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI).

    Kedua, lulusan teknik pertambangan atau geologi dari perguruan tinggi yang terakreditasi. Ketiga, memiliki pengalaman kerja yang cukup dalam industri pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Termasuk, minimal lima tahun di bidang yang relevan.

    Keempat, telah melalui verifikasi yang diselenggarakan oleh komite (khusus) impelementasi CPI. Terakhir, memenuhi kewajiban administrasi sebagai CPI.

    Data Cadangan Nikel

    Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso berpendapat cadangan nikel Indonesia selama ini memang tidak sebesar dengan apa yang dipaparkan pemerintah.

    Pasalnya, cadangan yang disebutkan selama ini belum semuanya memenuhi ketentuan dan diverifikasi sesuai dengan Komite Cadangan Mineral Indonesia (KCMI) 2017 dan standar nasional Indonesia (SNI) 2019.

    Hal tersebut terjadi karena biaya eksplorasi yang mahal.

    “Tanpa cadangan yang sesuai dengan KCMI atau SNI, maka desain smelter-nya pakai asumsi dan tentu saja tidak bankable,” kata dia.
    Smelter merupakan pabrik pengolahan dan pemurnian barang tambang menjadi produk jadi. Pemerintah sedang mendorong perusahaan tambang melakukan nilai tambah tersebut. Kewajibannya pun tertulis pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 atau UU Minerba pasal 102 ayat 1.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey sebelumnya juga membeberkan mengenai beberapa sengkarut yang terjadi pada tata niaga nikel di Indonesia. Salah satunya yakni tidak tersedianya detail data cadangan deposit nikel.

    Sejauh ini hanya PT Vale Indonesia Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang sudah melakukan kegiatan eksplorasi menyeluruh.

    “Karena besarnya biaya eksplorasi sehingga sulit untuk mengukur berapa detail cadangan nikel Indonesia,” ujarnya.

    Pemerintah kerap menyebut Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Angkanya mencapai 21 juta ton, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.

    Dengan cadangan tersebut, pemerintah percaya diri masuk ke bisnis baterai, terutama untuk kendaraan listrik. Nikel merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium ion.

    Dengan memakai nikel pada kutub positifnya (katoda), energi dalam baterai menjadi lebih padat. Kendaraan listrik dapat menempuh jarak lebih jauh.

    Sejak 1 Januari 2020, pemerintah telah melarang ekspor bijih nikel. Perusahaan tambang wajib mengolahnya di dalam negeri.

    Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Data Cadangan Nikel Diragukan, Badan Geologi Buka Suara“