Tag: #Cadangan Nikel

  • Posisi Industri Nikel Indonesia Sulit Tersaingi

    Harga nikel berangsur pulih di pasar ekspor. Produksi nikel olahan Indonesia tetap tumbuh di tengah pandemi. Pabrik smelter nikel di Indonesia tumbuh tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.

    NIKEL.CO.ID – Indonesia adalah raja nikel dunia. Predikat itu tersandang sejak 2018, setelah merebutnya dari tangan Filipina. Pada 2019, ekspor nikel Indonesia mencapai USD1,7 miliar atau 37,2 persen dari nilai ekspor dunia. Juara bertahan Filipina terperosok ke posisi ketiga, dengan market share 13 persen, karena disalip oleh pendatang baru Zimbabwe yang dapat meraih 16 persen dari nilai ekspor nikel di pasar global.

    Pandemi Covid-19 membuat pelambatan pada pertumbuhan industri nikel di tanah air. Diperkirakan, pada 2020 ini pertumbuhannya masih positif meskipun tipis. Pada semester I-2020, misalnya, produksi feronikel dari pabrik smelter yang ada di Indonesia dapat mencapai 667 ribu ton, sekitar 60 persen dari produksi tahun 2019.

    Feronikel adalah produk terbesar di Indonesia yang digunakan sebagai pelapis produk besi antikarat. Produk lainnya adalah nickel pig iron (NPI), yakni feronikel dengan kandungan nikel lebih rendah dan ada pula nickelmatte, yaitu produk antara (dengan kadar nikel 78 persen) untuk diproses lebih lanjut menjadi feronikel, atau bahan khusus untuk campuran logam di mesin jet, turbin gas industri, kawat resistor listrik, dan banyak produk lainnya. Adapun nikel-sulfat digunakan sebagai anoda-katoda pada baterai isi ulang.

    Tidak semua produk olahan dari batuan nikel (nickel ore) dan bijih nikel itu diekspor. Dari 667 ribu ton produk feronikel, misalnya, sekitar 75 persen diekspor dan selebihnya diserap industri domestik. Pada produk nickel pig iron yang pada 2019 mencapai 419 ribu ton, justru hanya 25 persen untuk ekspor, dan 75 persen lainnya untuk konsumsi industri lokal.

    Indonesia pun sedang bergerak untuk makin mengukuhkan posisinya sebagai raja nikel. Sejak Januari 2020, pemerintah secara resmi melarang ekspor nikel mentah, baik sebagai batuan nikel (nickel ore) maupun bijih nikel, yang kadar nikelnya di bawah tiga persen. Kapasitas industri smelter nikel domestik juga terus meningkat. Diharapkan devisa ekspor nikel olahan ini juga akan semakin berkibar.

    Harga Menguat  

    Di pasar internasional, produk nikel ini mengalami pertumbuhan yang mengesankan. Dalam lima tahun, yakni sejak 2015 hingga 2019, industri ini tumbuh 61 persen. Penggunaan terbesar adalah untuk baja antikarat (stainless steel), pipa air, besi magnet, elektroda pada baterai isi ulang, dan uang koin pun mengambil porsi besar.

    Persaingan cukup ketat di pasar global. Sampai 2015, Indonesia, Filipina, Australia, dan Caledonia Baru (negara kepulauan di Pasifik Barat) masih baku saing. Namun, berkat adanya aliran investasi besar, produksi nikel di Indonesia mengalami lonjakan tajam. Nikel Indonesia menguasai pasar, meninggalkan para pesaing Zimbabwe, Filipina, New Calidonia, dan seterusnya.

    Setidaknya sampai dua dekade ke depan Indonesia berpotensi terus memimpin di pasar ekspor dunia. Cadangan Indonesia yang sudah teregister sekitar 21 juta ton setara nikel murni. Pesaing terdekatnya Australia (20 juta ton), Brazil (11 juta ton), Rusia (6,9 juta ton), Kuba (5,5 juta ton), dan Filipina (4,8 juta ton). Zimbabwe belum merilis cadangannya. Situasi bisa berubah bila ada eksplorasi baru.

    Harga nikel olahan (rata-rata semua jenis produk) sempat mengalami penurunan sejak Oktober 2019, dan mencapai titik terbawah pada Maret-April 2020 akibat pandemi Covid-19. Bila pada September 2019 harganya masih berjaya pada level USD17.600 per metrik ton, tiba-tiba merosot ke posisi USD16.300 pada Oktober. Turun lagi ke USD15.200 pada Desember 2019, lantas terhempas oleh pandemi sampai kisaran USD11.200 pada Maret 2020.

    Akhir September 2020 harganya sudah kembali ke kisaran USD14.800 per metrik ton. Optimistis bahwa industri nikel ini akan cepat pulih terlihat pada pasar berjangka di LME (London Metal Exchange), harga nikel sudah mencapai USD15.400 untuk penyerahan Desember nanti.

    Kondisi Domestik

    Pada 2020 ini ada tiga industri smelter baru yang mulai mengolah nikel. Yang pertama, smelter PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara. Kapasitas input 1,21 juta ton bahan mentah dengan produksi 65 ribu ton feronikel per tahun. Kedua, PT Arthabumi Sentra Industri di Morowali, Sulawesi Tengah. Kapasitas inputnya 720.000 ton dan produksinya 73 ribu ton NPI per tahun.

    Yang ketiga PT Elit Kharisma Utama di Cikande, Banten, dengan kapasitas input (untuk dua line) sebesar 1,2 juta ton dan total kapasitas produksi dua line 97,45 ribu ton NPI ton per tahun. Saat ini baru satu line yang selesai.

    Dengan tambahan tiga unit itu, kini ada 22 unit smelter nikel yang beroperasi di Indonesia–dari rencana 29 unit pada 2022/2023. Pertumbuhan yang cepat mengingat pada 2016 baru ada tujuh semelter. Dengan tambahan tiga unit smelter itu, kapasitas produksi nikel olahan dari semua turunannya (feronikel, nikel matte, NPI, dan nikel-sulfat), sudah mendekati dua juta ton per tahun. Jumlah itu sulit ditandingi oleh negara manapun.

    Serapan nikel di pasar dalam negeri juga turut mengerek tumbuhnya berbagai industri berbasis logam. Berbagai produk perkakas, mesin, spareparts, kawat resistor listrik, pipa dan sejumlah produk stainless steel semakin banyak diproduksi di Indonesia. Industri smelter nikel pun menjadi andalan baru dalam deretan komoditas ekspor.

    Sebagian besar smelter baru ini, yang sentranya ada di Morowali, Sulawesi Tengah, dioperasikan oleh perusahaan hasil kongsian pengusaha lokal dan perusahaan dari Tiongkok. Investasi yang mengalir dari Tiongkok cukup besar untuk 29 smelter itu, karena tiap unitnya memerlukan modal antara USD1 miliar hingga USD1,5 miliar. Tiongkok memerlukan nikel dalam jumlah besar untuk mendukung penguasaan pasar global untuk produk baja antikarat.

    Sumber: INDONESIA.GO.ID

  • Neraca Cadangan Nikel Indonesia Saat Ini

    nikel.co.id – Indonesia menjadi produsen bijih nikel terbesar di dunia sepanjang tahun lalu. Merujuk pada data yang disampaikan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM, pada tahun 2019 lalu, total produksi nikel dunia mencapai 2.668.000 ton Ni. Dari jumlah itu, sebanyak 800.000 ton Ni berasal dari Indonesia.

    Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menyampaikan, produksi bijih nikel Indonesia sebanyak 800.000 ton Ni pada tahun lalu menjadi yang terbesar di dunia. Disusul oleh Filipina dengan 420.000 ton Ni dan Rusia sebanyak 270.000 ton Ni. New Caledonia sebesar 220.000 ton Ni dan negara lainnya dengan total 958.000 ton Ni.

    “Indonesia secara global menduduki sebagai produsen nikel terbesar pada tahun 2019, dari sekitar produksi nikel 2,6 juta ton, Indonesia menghasilkan sekitar 800 ribu ton nikel,” ungkap Eko dalam webinar yang digelar Selasa (13/10/1010).

    Berdasarkan data dari Badan Geologi, sumber daya dan cadangan nikel yang dimiliki Indonesia masih cukup tinggi. Eko memaparkan, hingga Juli 2020, total neraca sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai 11,88 miliar ton. Sedangkan total sumber daya logam nikel sebesar 174 juta ton.

    Adapun, neraca cadangan bijih nikel hingga Juli 2020 tercatat sebesar 4,34 miliar ton. Sementara total cadangan logam nikel sebesar 68 juta ton. Data tersebut dikumpulkan dari 328 lokasi di Indonesia.

    Menurut Eko, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara menjadi tiga provinsi dengan sumber daya dan cadangan nikel terbesar. “Tetap di Sulawesi ini menempati posisi tertinggi, di samping Maluku Utara.

    jadi dengan berbagai klasifikasi sumber daya, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan maluku utara memegang peran yang paling penting untuk eksplorasi nikel ke depannya,” ujar Eko.

    Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa pada tahun lalu, produksi nikel matte Indonesia sebesar 72.000 ton. Produksi FeroNikel 1,1 juta ton dan Nikel Pig Iron (NPI) sebanyak 781.000 ton.

    Badan Geologi menegaskan eksplorasi serta penyiapan dan penawaran Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUPK) diperlukan untuk menjaga pasokan cadangan bijih nikel dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, untuk mencegah inefisiensi pemanfaatan bijih nikel, diperlukan sinergi antara Kementerian ESDM melalui Ditjen Minerba dan Badan Geologi, bersama Kementerian Perindustrian.

    Sumber: KONTAN