NIKEL.CO.ID – Pemerintah tengah mewacanakan untuk pembatasan pembangunan smelter nikel kelas dua yakni untuk feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI). Salah satu alasan pembatasan ini adalah untuk menjaga ketahanan cadangan bijih nikel. (lebih…)
Tag: #Cadangan Nikel
-

Fakta-Fakta Rencana Pembatasan Pembangunan Smelter Nikel RI
NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikabarkan mengusulkan agar pembangunan smelter nikel kelas dua yakni smelter feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI) dibatasi.
Berdasarkan informasi yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (22/06/2021), alasan dari pembatasan ini salah satunya karena nilai tambah.
Nilai Tambah
Estimasi harga ekspor untuk FeNi diperkirakan akan berada di kisaran US$ 15.500 per ton pada 2025 mendatang, lalu nikel matte kisaran US$ 14.000 per ton, cukup jauh jika dibandingkan dengan nikel sulfat yang harganya diperkirakan bisa mencapai US$ 20.500 per ton.
Dengan asumsi penjualan feronikel pada 2025 mencapai 100 ribu ton dan estimasi harga di atas, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 1,55 miliar dan penerimaan negara sekitar US$ 135,63 juta.
Sementara untuk nikel sulfat, dengan perkiraan penjualan sebanyak 100 ribu ton, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 2,05 miliar dan penerimaan negara sebesar US$ 153,75 juta.
Dengan demikian, ada perkiraan tambahan penerimaan negara sebesar US$ 18,12 juta atau sekitar Rp 263 miliar (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) bila menjual nikel sulfat.
Sehingga, pemerintah berencana membatasi pembangunan smelter dan ekspor feronikel dan NPI. Di sisi lain, akan mendorong pembangunan smelter kelas satu seperti nikel sulfat atau pabrik stainless steel.
Bahan Baku Pabrik Sel Baterai
Sebagai informasi, nikel sulfat bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk memproduksi katoda sel baterai. Indonesia pun berencana membangun dan mengembangkan pabrik baterai guna mendukung program kendaraan listrik di masa depan.
Nikel sulfat bisa menggunakan bijih nikel kadar rendah, tidak seperti feronikel dan NPI yang menggunakan bijih nikel kadar tinggi (saprolit).
Menjaga Ketahanan Cadangan Bijih Nikel
Tidak hanya soal nilai tambah, alasan lain pemerintah membatasi pembangunan smelter kelas dua untuk FeNi dan NPI juga disebutkan untuk menjaga ketahanan cadangan bijih saprolit yang rendah.
Pasalnya, cadangan bijih saprolit lebih sedikit dibandingkan cadangan nikel kadar rendah atau limonit. Nikel saprolit ini memiliki kandungan nikel tinggi yakni 1,5%-2,5%. Biasanya, produksi feronikel dan NPI ini menggunakan bijih nikel kadar tinggi.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, sumber daya nikel dengan kadar nikel lebih dari 1,7% atau nikel saprolit mencapai 3,93 miliar ton, lebih rendah dibandingkan sumber daya bijih nikel kadar rendah kurang dari 1,7% mencapai 4,33 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Anggota DPR Mendukung
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS Mulyanto angkat bicara mengenai usulan pembatasan smelter feronikel dan NPI ini. Dia mengaku sepakat dengan usulan ini agar Indonesia semakin bergerak ke industri yang semakin hilir, terlebih bila pembangunan smelter nikel sulfat hingga baterai terus didorong.
“Saya setuju program ini, kita benar-benar bergerak semakin ke hilir,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/06/2021).
Demi terus mendorong hilirisasi nikel ini, menurutnya peran aktif dari Kementerian Perindustrian harus terus didorong.
“Untuk itu, peran aktif kementerian perindustrian harus didorong. Kita bersyukur karena hari ini diputuskan dalam paripurna DPR, bahwa Kementerian Perindustrian menjadi mitra komisi VII,” ujarnya.
Sumber: CNBC IndonesiaCNBC Indonesia
-

Kementerian ESDM Akan Batasi Pembangunan Smelter Nikel Kelas Dua
NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan agar pembangunan smelter nikel kelas dua berupa smelter feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI) dibatasi. Salah satu alasannya adalah permasalahan nilai tambah.
Estimasi harga ekspor untuk FeNi diperkirakan akan berada di kisaran US$ 15.500 per ton pada 2025 mendatang, lalu nikel matte kisaran US$ 14.000 per ton, cukup jauh jika dibandingkan dengan nikel sulfat yang harganya diperkirakan bisa mencapai US$ 20.500 per ton.
Dengan asumsi penjualan feronikel pada 2025 mencapai 100 ribu ton dan estimasi harga di atas, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 1,55 miliar dan penerimaan negara sekitar US$ 135,63 juta. Sementara untuk nikel sulfat, dengan perkiraan penjualan sebanyak 100 ribu ton, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 2,05 miliar dan penerimaan negara sebesar US$ 153,75 juta.
Dengan demikian, ada perkiraan tambahan penerimaan negara sebesar US$ 18,12 juta atau sekitar Rp 263 miliar (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).
Berdasarkan perkiraan tersebut, maka hilirisasi nikel akan didorong ke pembangunan smelter nikel sulfat yang lebih memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Untuk diketahui, nikel sulfat bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk memproduksi katoda sel baterai. Indonesia pun berencana membangun dan mengembangkan pabrik baterai guna mendukung program kendaraan listrik di masa depan.
Selain masalah nilai tambah, pembatasan smelter nikel kelas dua untuk FeNi dan NPI juga karena untuk menjaga ketahanan cadangan bijih saprolit yang rendah.
Pasalnya, cadangan bijih saprolit lebih sedikit dibandingkan cadangan nikel kadar rendah atau limonit. Nikel saprolit ini memiliki kandungan nikel tinggi yakni 1,5%-2,5%. Biasanya, produksi feronikel dan NPI ini menggunakan bijih nikel kadar tinggi.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, sumber daya nikel dengan kadar nikel lebih dari 1,7% atau nikel saprolit mencapai 3,93 miliar ton, lebih rendah dibandingkan sumber daya bijih nikel kadar rendah kurang dari 1,7% mencapai 4,33 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS Mulyanto angkat bicara mengenai usulan pembatasan smelter feronikel dan NPI ini. Dia pun mengaku sepakat dengan usulan ini agar Indonesia semakin bergerak ke industri yang semakin hilir, terlebih bila pembangunan smelter nikel sulfat hingga baterai terus didorong.
“Saya setuju program ini, kita benar-benar bergerak semakin ke hilir,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/06/2021).
Demi terus mendorong hilirisasi nikel ini, menurutnya peran aktif dari Kementerian Perindustrian harus terus didorong.
“Untuk itu, peran aktif kementerian perindustrian harus didorong. Kita bersyukur karena hari ini diputuskan dalam paripurna DPR, bahwa Kementerian Perindustrian menjadi mitra komisi VII,” ujarnya.
Sumber: CNBC Indonesia
-

Pemerintah Bakal Batasi Proyek Smelter Feronikel-NPI
NIKEL.CO.ID – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikabarkan mengusulkan agar pembangunan smelter nikel kelas 2 yakni untuk feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI) dibatasi.
Berdasarkan informasi yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (22/06/2021), pembatasan ini diusulkan karena terkait nilai tambah yang rendah untuk dua produk FeNi dan NPI ini.
Jika dibandingkan, estimasi harga ekspor untuk FeNi sebesar US$ 15.500 per ton. Sementara nikel sulfat US$ 20.500 per ton. Oleh karena itu, pemerintah berencana membatasi pembangunan smelter dan ekspor feronikel dan NPI, dan akan mendorong pembangunan smelter kelas satu seperti nikel sulfat atau pabrik stainless steel.
Bahkan, smelter nikel kelas dua tersebut diusulkan untuk dikonversi menjadi smelter nikel kelas satu. Tujuannya tak lain yaitu agar nilai tambah yang diperoleh negara bisa meningkat.
Selain karena persoalan nilai tambah yang rendah, pembatasan pembangunan smelter feronikel dan NPI juga dikabarkan karena dipicu ketahanan cadangan bijih saprolit yang rendah. Nikel saprolit ini memiliki kandungan nikel tinggi yakni 1,5%-2,5%. Biasanya, produksi feronikel dan NPI ini menggunakan bijih nikel kadar tinggi.
Karena keterbatasan cadangan ini, maka eksploitasi nikel saprolit dinilai tidak boleh jor-joran.
Ekspor nikel pun diusulkan hanya dilakukan untuk produk logam nikel yang memiliki nilai tambah tinggi karena selisih nilai tambahnya cukup besar.
Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Sumber: CNBC Indonesia
-

Menko Luhut: Nikel RI Punya Posisi Tawar yang Kuat
NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia kini telah mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan Nikel untuk memproduksi baterai listrik.
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton setahun, Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).
“Dengan ini potensi Nikel yang besar kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” kata Luhut di situs Kemenko Marves, Senin, 21 Juni 2021.
Menurut Luhut, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.
“Kita juga ngga boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” katanya.
Dia pun menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia diproyeksikan memasok 50 persen pasokan dunia, dibandingkan dengan 28 persen pada tahun 2020.
“Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP),” ujar Luhut.
Dengan ini potensi Nikel yang besar kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat.
Khusus tentang penanganan Covid-19 dan penguatan investasi, Menko Luhut menegaskan bahwa pemerintah berupaya untuk menangani dengan seimbang.
“Tapi penanganan Covid dan investasi is just like two sides of the coin, artinya kedua-duanya sama-sama penting. Jadi strategi pemerintah agar ekonomi tetap berjalan adalah dengan mempercepat proses vaksinasi,” tambahnya.
Membahas soal investasi, Menko Luhut menyampaikan bahwa pemerintah saat ini fokus pada lima hal, yakni hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), pengembangan baterai lithium, sektor kesehatan, infrastruktur konektifitas maritim dan penurunan emisi karbon.
Sumber: tagar.id
-

RI Punya ‘Harta Karun’ Nikel Miliaran Ton, Segini Produksinya
NIKEL.CO.ID – Indonesia dikarunia ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton. Melalui Holding BUMN Industri Baterai atau Indonesia Battery Corporation (IBC), Indonesia juga bercita-cita menjadi raja baterai.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pun mengatakan bahwa Indonesia memiliki posisi daya tawar yang kuat untuk menggaet investor.
Hal ini terutama karena Indonesia dianugerahi sumber daya nikel hingga miliaran ton dan produksi bijih nikel hingga 21 juta ton per tahun, serta menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).
“Dengan potensi (nikel) yang besar, kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” ungkap Luhut dalam acara ‘Pembekalan Kunjungan Lapangan Isu Strategis Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-61’ kemarin, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Jumat (18/6/2021).
Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.
“Kita juga nggak boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” sambungnya.
Lantas, dengan besaran cadangan miliaran ton, berapa besar produksi logam nikel RI?
Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dikutip CNBC Indonesia, Jumat (18/06/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) pada tahun ini ditargetkan mencapai 901.080 ton, naik tipis dari realisasi produksi pada 2020 yang mencapai 860.484,35 ton.
Hingga Mei 2021, tercatat produksi Nickel Pig Iron mencapai 327.387,86 ton. Artinya, baru sekitar 36% dari target produksi pada tahun ini.
Adapun rinciannya, yakni bulan Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi sebesar 74.801,70 ton, Maret kembali naik menjadi sebesar 77.923,55 ton, kemudian di bulan April turun menjadi 73.371,16 ton, dan kembali turun menjadi pada bulan Mei menjadi 32.363,43 ton.
Sedangkan untuk produksi feronikel pada 2021 ini ditargetkan mencapai 2,11 juta ton, melonjak 42% dari realisasi produksi pada 2020 yang sebesar 1,48 juta ton.
Sampai Mei 2021, produksi feronikel mencapai 645.251,36 ton atau sekitar 31% dari target tahun ini. Adapun rincian produksinya yaitu pada bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, turun pada bulan Februari menjadi 124.247,79 ton. Kemudian naik pada bulan Maret menjadi 141.260,31 ton, kembali turun pada bulan April menjadi sebesar 133.470,11 ton, dan kembali turun pada bulan Mei menjadi 108.105,39 ton.
Untuk produksi nickel matte, pada tahun ini ditargetkan mencapai 78 ribu ton, turun dibandingkan realisasi produksi pada 2020 yang mencapai 91,70 ribu ton.
Sampai Mei 2021 tercatat produksi nickel matte sebesar 33.580,92 ton atau sekitar 43% dari target tahun ini. Rinciannya, pada Januari produksi sebesar 6.088,82 ton, lalu turun pada Februari menjadi sebesar 5.304,95 ton. Lalu Maret naik signifikan menjadi 7.703,24 ton, dan kembali turun pada April menjadi 6.826,61 ton, dan kembali naik pada bulan Mei menjadi 7.657,30 ton.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.
Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.
Untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.
Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.
Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.
Sumber: CNBC Indonesia
-

Beberkan Nikel RI Berlimpah, Luhut: Posisi Tawar Kuat!
NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan produksi nikel Indonesia saat ini. Dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton/tahun, Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).
Pemerintah kini mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan Nikel untuk memproduksi baterai listrik.
“Dengan ini (potensi Nikel) yang besar kita lihat bahwa Indonesia punya bargaining position yang kuat,” tegas Luhut saat memberikan ceramah dalam Pembekalan Kunjungan Lapangan Isu Strategis Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-61, di Jakarta Kamis (17/6/2021), dikutip dari keterangan tertulis Kemenko Kemaritiman & Investasi.
Oleh sebab itu, menurut Luhut, Indonesia memiliki hak untuk berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan.
“Kita juga nggak boleh baik-baik amat. Kita harus mainkan peran kita,” kata Luhut.
Dalam paparan yang disampaikan secara virtual, Luhut menyampaikan pada 2025 Indonesia diproyeksikan memasok 50 persen pasokan dunia, dibandingkan dengan 28 persen pada tahun 2020. Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP).
Peningkatan produksi bahan baku baterai lithium tersebut merupakan salah satu dari materi yang disampaikannya kepada para peserta pembekalan Lemhanas. Topik lain yang juga dijelaskan Menko Luhut antara lain soal implementasi Undang-Undang Omnibus Cipta Kerja, penanganan Covid 19, dan peningkatan investasi.
Khusus tentang penanganan COVID-19 dan penguatan investasi, Luhut menegaskan pemerintah berupaya untuk menangani dengan seimbang.
“Tapi penanganan COVID dan investasi is just like two sides of the coin, artinya kedua-duanya sama-sama penting. Jadi strategi pemerintah agar ekonomi tetap berjalan adalah dengan mempercepat proses vaksinasi,” tambahnya.
Membahas soal investasi, Luhut menjelaskan pemerintah saat ini fokus pada lima hal, yakni hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA), pengembangan baterai lithium, sektor kesehatan, infrastruktur konektifitas maritim dan penurunan emisi karbon.
Luhut memaparkan beberapa kawasan industri yang mengembangkan produk turunan nikel dan bauksit. Ketujuh kawasan tersebut antara lain kawasan Galang Batang dengan nilai total investasi sebesar US$ 2,5 miliar (target operasi tahun 2021), kawasan industri Morowali Utara dengan nilai total investasi sebesar US$ 4.19 miliar (target operasi pada kuartal keempat tahun 2021), dan kawasan industri Tanah Kuning dengan nilai total investasi yang akan dikucurkan secara bertahap sebesar US$ 60 miliar (target operasi tahun 2022).
Selain kawasan-kawasan itu, Menko Luhut juga menyebutkan nilai investasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park yang masing-masing sebesar US$ 10 miliar. Dengan membangun kawasan industri yang terintegrasi, menurutnya ongkos produksi menjadi semakin murah. “In the end, cost kita jadi sangat murah, otomatis harga jual nikel olahan kita jadi bersaing sehingga China menerapkan kebijakan dumping ke Indonesia,”bebernya.
Hal baru yang juga disampaikan oleh Menko Luhut kepada peserta kegiatan pembekalan Lemhanas adalah tindak lanjut dari pembicaraan via Zoom antara dirinya dengan Menteri Investasi Arab Saudi Khalid Al-Falih pada Hari Rabu (16-6-2021).
“Tanggal 24 (Juni) kami janjian akan zoom call dan fokus mendiskusikan mengenai investasi pada Sovreign Wealth Fund, pembangunan ibu kota baru, fokus penanaman 11 juta pohon di Aran Saudi, penanganan perubahan iklim dan investasi di sektor energi terbarukan,” katanya.
Terakhir, Luhut berpesan agar para peserta pembekalan yang terdiri dari 70-an orang tersebut dapat belajar dari pengalaman pemerintah.
“Dalam proses pengambilan keputusan di satuanmu jangan hanya lihat satu sisi saja, tapi harus mempertimbangkan dari berbagai angle (sudut), semua harus diselesaikan secara terintegrasi,”ingatnya.
Selain itu, sebagai pimpinan, Luhut juga mengatakan agar selalu mengecek implementasi kebijakan atau keputusan yang telah diambil dengan cara membentuk gugus tugas.
“Bikin task force (gugus tugas) untuk lihat ke bawah dengan time table yang jelas sehingga progres dapat dimonitor,”pintanya.
Kegiatan Pembekalan Studi lapangan mengenai industri Strategis Nasional Lemhanas ke-61 ini juga dihadiri oleh Wagub Lemhanas RI Wieko Syofyan, dan Deputi Bidang Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Lemhanas.
Sumber: detik.com
-

Cadangan Nikel RI Dapat Dukung Industri Baterai Selama 30 Tahun
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang cukup untuk mendukung industri baterai selama 30 tahun ke depan.
NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia optimistis melihat prospek industri baterai kendaraan listrik. Indonesia pun memiliki sumber daya nikel yang melimpah untuk mendukung industri kendaraan listrik. Cadangan nikel RI disebut cukup untuk mendukung industri baterai listrik selama 30 tahun ke depan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Tim Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana beberapa waktu lalu.
“Antam merupakan pemilik cadangan nikel yang akan digunakan dan sudah dihitung akan mampu hingga 30 tahun,” ujarnya dalam sebuah webinar, Senin (24/5/2021).
Seiring tren kendaraan listrik, masyarakat mulai beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil menggunakan kendaraan ramah lingkungan seperti motor atau mobil listrik, kebutuhan akan baterai listrik diperkirakan terus meningkat.
Dalam laporan tim EV Battery BUMN, alam Indonesia mengandung 21 juta ton cadangan nikel. Angka tersebut sekaligus menjadi yang terbesar di kancah internasional. Tak hanya itu, Indonesia juga mempunyai sejumlah material baterai lainnya, seperti aluminium, tembaga, dan mangan.
Simak databoks berikut:
Seperti diketahui, pemerintah telah resmi mengumumkan pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) pada 26 Maret 2021. IBC merupakan perusahaan patungan dari empat perusahaan, yakni Inalum, Antam, Pertamina, dan PLN dengan masing-masing kepemilikan saham sebesar 25%.
Korporasi pelat merah ini akan mengelola ekosistem industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.
“Kami berharap semua mendukung IBC. Ini cita-cita kami untuk mendapatkan paling tidak US$ 30 miliar menyumbang produk domestik bruto (PDB) Indonesia,” kata Agus.
Dalam industri tambangan nikel di dalam negeri, jumlah bijih nikel kadar rendah dan nikel kadar tinggi tersedia cukup banyak karena porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.
“Pengejawantahan hilirisasi tidak saja membangun industri tambang di hulu tetapi kami proses sampai menjadi baterai,” kata Agus.
Pada 2021, emiten tambang Antam berkode saham ANTM menganggarkan belanja modal senilai Rp 2,84 triliun dengan porsi terbesar untuk pengembangan usaha, salah satunya menyelesaikan proyek smelter feronikel di Halmahera Timur.
Proyek pembangunan smelter itu telah mencapai 98% dan ditargetkan rampung tahun ini agar bisa mengolah 40.500 ton nikel dalam bentuk feronikel. Secara keseluruhan, pemerintah telah menargetkan untuk membangun hingga 30 smelter nikel hingga 2030. Simak databoks berikut:
Antam menargetkan produksi bijih nikel dapat mencapai 8,44 juta metrik ton pada 2021, naik hampir dua kali lipat dari realisasi produksi sepanjang 2020 sebesar 4,67 metrik ton.
Sumber: katadata.co.id
-

Miliki Cadangan Nikel Miliaran Ton, RI Harusnya Udah Kaya Sejak Lama
NIKEL.CO.ID – Indonesia memiliki ‘harta karun’ di sektor pertambangan mineral. ‘Harta karun’ ini yaitu nikel. Indonesia memiliki sumber daya nikel hingga miliaran ton. Sumber daya ini tentunya akan menjadi sumber keuntungan bagi Indonesia bila dimanfaatkan dengan optimal dan memiliki nilai tambah tinggi.
Salah satu yang bisa membuat nikel bisa terserap dan bernilai tinggi yaitu kendaraan listrik.
Rencana pemerintah Indonesia untuk terus mendorong pemakaian Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di masa depan bisa meningkatkan penyerapan nikel di dalam negeri. Apalagi, punya cita-cita menjadi pemain global baterai mobil listrik, sehingga kebutuhan nikel akan melonjak.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2020 serapan logam nikel (Ni) untuk kendaraan listrik di dalam negeri masih nol. Namun pada 2025 diperkirakan kebutuhan logam nikel akan meningkat menjadi 7.915 ton.
Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat selama lima tahun selanjutnya di mana pada 2030 diperkirakan logam nikel yang dibutuhkan untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) naik menjadi 49.953 ton.
Tidak berhenti di tahun 2030, pada tahun 2035 kebutuhan logam nikel diperkirakan bisa melonjak hingga 120.114 ton.
Perkiraan kebutuhan logam nikel tersebut dengan asumsi KBLBB roda empat di dalam negeri mencapai 30.915 unit dan kendaraan roda dua sebesar 739 unit pada 2025, mobil listrik 195/120 unit dan motor listrik 1/840 unit pada 2030 dan 469.177 unit mobil listrik dan 4.641 unit motor listrik pada 2035.
Adapun kebutuhan logam untuk satu mobil listrik terdiri dari tembaga (Cu) 83 kg, nikel (Ni) 256 kg, kobalt (Co) 48 kg, dan ditambah dengan alumunium (Al) sebesar 206 kg.
Sementara untuk setiap satu motor listrik dibutuhkan tembaga sekitar 4 kg, nikel 1 kg, kobalt 1 kg, dan aluminium 3 kg.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.
Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.
Sedangkan untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Sebelumnya, Ketua Tim Percepatan Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan pasar luar negeri menginginkan produk baterai kendaraan listrik berkualitas tinggi. Oleh karena itu, hal ini akan menjadi concern IBC dalam memproduksi baterai.
Dia menyebut perlu penguasaan teknologi yang tinggi dan juga riset dan pengembangan baterai yang berkelanjutan. Teknologi dalam negeri, imbuhnya, belum bisa secara mandiri untuk memproduksi baterai mobil listrik, sehingga diperlukan mitra strategis yang menjadi anggota konsorsium untuk mengadaptasi teknologinya.
Sumber: CNBC Indonesia
-
Mau Jadi Raja Baterai, Intip ‘Harta Karun’ Terbaru Nikel RI
NIKEL.CO.ID – Indonesia bercita-cita menjadi raja baterai dunia di masa depan. Dengan pembentukan Holding BUMN Industri Baterai atau yang dikenal Indonesia Battery Corporation (IBC), Indonesia akan memenuhi kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di dalam dan luar negeri.
Lalu, seberapa besar ‘harta karun’ nikel RI yang jadi bahan baku baterai?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.
Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.
Sementara untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.
Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.
Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.
Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.
Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.
Sebelumnya, Ketua Tim Percepatan Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan bahwa pasar luar negeri menginginkan produk baterai kendaraan listrik berkualitas tinggi, sehingga ini akan menjadi perhatian bagi IBC untuk memproduksi baterai.
Untuk itu, menurutnya dibutuhkan penguasaan teknologi yang tinggi dan juga riset dan pengembangan baterai yang berkelanjutan.
Dia mengakui bahwa teknologi dalam negeri belum bisa secara mandiri untuk memproduksi baterai mobil listrik. Oleh karena itu, dibutuhkan mitra strategis yang menjadi anggota konsorsium untuk mengadaptasi teknologinya.
“Teknologi dalam negeri belum bisa, kita harus cari partner. Ada 11 perusahaan yang kita dekati, paling tidak ada dua perusahaan yang intens berbicara dengan kita. Teknologi itu nanti berasal dari partner kita, di mana dalam perjanjian kerja sama ada transfer teknologi yang dilakukan,” kata Agus dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (24/5/2021).
Sumber: CNBC Indonesia
