NIKEL.CO.ID – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sangat optimistis terhadap masa depan sektor nikel dimana tingginya pembangunan smelter menjadi masa depan bagi penyerapan hasil tambang nikel baik nikel ore rendah hingga tinggi. Sekjen APNI, Meidy Katrin Lengkey menyebutkan dari 31 smelter yang fix akan dibangun membutuhkan 150 juta ton bijih nikel per tahun, sehingga proyeksi over demand masih sangat besar.
Seperti apa optimisme di sektor nikel? Selengkapnya saksikan dialog Savira Wardoyo dengan Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey Dalam Closing Bell, CNBCIndonesia yang telah tayang pada Rabu, 10/03/2021.
NIKEL.CO.ID – Tak ada yang mengelak bahwa Indonesia adalah rajanya nikel di dunia. Pada tahun 2020 produksi nikel Indonesia diestimasi mencapai 760 ribu ton dan berkontribusi terhadap total 30% dari output global.
Menurut U.S. Geological Survey, produksi nikel Indonesia di tahun 2019 sebesar 853 ribu ton. Artinya ada penurunan hampir 11% (yoy) pada 2020 dibandingkan tahun 2019.
Sementara itu produksi nikel secara global di tahun 2020 diperkirakan mencapai 2,5 juta ton. Output nikel dunia juga menurun 4,2 % (yoy) dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 2,61 juta ton.
Pandemi Covid-19 memang membuat harga logam nikel sempat anjlok ke US$ 11.000/ton di London Metal Exchange (LME) sehingga produksi pun ikut menurun. Namun di tahun ini harga logam nikel diperkirakan bakal menguat dan tembus US$ 20.000/ton berdasarkan riset DBS maupun Goldman Sachs.
Salah satu pemicunya adalah semakin pesatnya pertumbuhan penjualan mobil listrik. Jika sebelum pandemi penjualan kendaraan listrik mencapai 2,26 juta unit. Maka tahun lalu volume penjualannya naik 43% (yoy) menjadi 3,24 juta unit. Padahal penjualan mobil secara umum justru sedang ambles parah.
Ke depan tren penggunaan baterai dari nikel akan semakin pesat sehingga permintaan untuk nikel jenis tertentu akan semakin tinggi. Sementara defisit pasokan bakal membuat harga nikel terus melesat.
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Tak terkecuali nikel. Cadangan logam nikel Indonesia ditaksir mencapai 21 juta ton atau setara dengan 22% dari total cadangan nikel global.
Cadangan nikel Indonesia mengalahkan cadangan Australia yang mencapai 20 juta ton dan Brazil yang sebesar 16 juta ton. Total cadangan logam nikel dunia tahun lalu mencapai 94 juta ton.
Apabila menggunakan harga mineral acuan (HMA) nikel bulan Februari 2021 di mana untuk 1 ton kering (dry metric ton/dmt) logam nikel harganya dibanderol sebesar US$ 17.434 maka valuasi cadangan logam nikel di Indonesia yang terbukti mencapai US$ 366,1 miliar. Fantastis bukan?
Eh tunggu dulu! Itu baru logam belum berbicara tentang bijihnya. Data Kementerian ESDM menunjukkan cadangan bijih nikel Indonesia pada 2019 mencapai US$ 1,085 miliar ton.
Apabila digunakan harga acuan bijih nikel 1,8% sebesar US$ 30/ton, maka akan diperoleh nilai cadangan bijihnya setara dengan US$ 32,55 miliar. Sehingga total nilai cadangan nikel RI baik dalam bentuk logam dan bijih mencapai hampir US$ 400 miliar setara 5.705.,76 triliun.
Luar biasa bukan?
Tentu saja angka tersebut keluar dari estimasi dan kalkulasi kasar dengan mengalikan cadangan yang terbukti (proven) dengan harga di pasar, tanpa melihat nilai keekonomian proyek yang seharusnya dihitung dengan menggunakan financial modelling untuk menghitung net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR).
Namun angka tersebut setidaknya bisa menjadi salah satu gambaran kasar untuk menunjukkan bahwa Indonesia memang kaya sekali akan nikel yang menjadi komoditas primadona era sekarang.
Ketika harga nikel naik terus, sehingga dilakukan eksplorasi secara lebih agresif dan ditemukan cadangan baru maka valuasi nikel di Indonesia akan semakin besar. Per 2019 saja cadangan bijih nikel yang terkira mencapai 3,5 miliar ton sementara untuk logamnya mencapai 54,3 juta ton.
Bisa dibayangkan bukan seberapa kayanya Indonesia akan nikel?
Faktor inilah yang membuat pemerintah gencar untuk menggaet investor seperti Tesla untuk menanamkan modalnya ke Tanah Air supaya RI bisa ikut menjadi salah satu bagian dari rantai pasok dan ekosistem mobil listrik global bahkan sumber energi terbarukan dunia mengingat bahan baku utamanya yaitu nikel sangat melimpah di dalam negeri.
Tesla menyebut tanpa produksi nikel yang mencukupi, perusahaan akan beralih ke material besi dalam produk baterai mobil listriknya.
Elon Musk bakal mengganti nikel dengan besi untuk baterai kendaraan listriknya.
Substitusi ini berpotensi menurunkan posisi tawar RI dalam negosiasi industri baterai dengan Tesla.
Momentum baterai lihtium-ion masih akan berlanjut dalam 15 hingga 20 tahun ke depan.
NIKEL.CO.ID – Pendiri dan bos Tesla, Elon Musk, kembali menyatakan kekhawatirannya pada komoditas nikel. Barang tambang ini menjadi bahan baku utama untuk memproduksi baterai. Namun, ketersediaanya tak sesuai dengan keinginan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu.
Apabila kondisi tak berubah, Musk bakal mengganti nikel dengan katoda berbahan dasar besi. “Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!,” cuitnya dalam akun Twitter @elonmusk, Jumat (26/2/2021).
Mengutip dari Reuters, pada tahun lalu sebenarnya Musk pernah memberi sinyal pada penambang nikel dunia untuk menggenjot produksinya dalam skala besar. Bahkan Tesla menjanjikan kontrak besar untuk jangka panjang yang dapat menjamin pasokan perusahaan.
Satu hal yang menjadi syarat utama bagi para pemasok adalah para penambangnya harus memperhatikan faktor lingkungan. Syarat ini juga yang Tesla berikan kepada pemerintah Indonesia, selaku produsen nikel terbesar dunia, dalam negosiasi bisnis baterai.
Dibandingkan besi, nikel menyimpan energi listrik lebih padat. Mobil dapat berjalan lebih jauh dengan sekali pengisian daya. Tesla membutuhkan logam mineral itu tak hanya untuk kendaraan listrik, tapi juga proyek tenaga surya.
Beberapa analis menyebut volume yang dibutuhkan Tesla tidak menarik bagi penambang untuk meningkatkan produksi. Jumlahnya sedikit sehingga tidak akan menaikkan harga dalam jangka menengah.
Perusahaan saat ini mendapatkan produk baterai nikel-kobalt-mangan (NCM) dari LG Chem asal Korea Selatan. Untuk baterai nikel-kobalt-aluminium, pasokannya dari Panasonic Corp, Jepang.
Kedua perusahaan itu secara tidak langsung membeli nikel dari perusahaan tambang dalam rantai pasok yang panjang. Tesla, yang sangat menekankan penambangan berkelanjutan, pun tidak dapat mengungkapkan sumber nikel dalam rantai pasokannya.
Nah, Indonesia tengah menanti calon mitra untuk masuk dalam bisnis baterai. Pemerintah berencana membentuk induk usaha atau holding bernama Indonesia Battery Corporation (IHC).
Di dalam induk itu terdapa empat badan usaha milik negara alias BUMN. Keempatnya adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk alias Antam.
Ada tujuh perusahaan global yang tertarik masuk dalam proyek itu. Dua perusahaan yang serius, yakni Contemporary Amperex Technology (CATL asal Tiongkok dan LG Chem. Sedangkan Tesla masih melakukan penjajakan dengan pemerintah.
Diskusi dengan Tesla Masih Berlanjut
Pemerintah terus bernegosiasi dengan Tesla. Namun saat disinggung mengenai progresnya, Deputi Investasi & Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto enggan membeberkan lebih lanjut.
Penyebabnya, Indonesia telah mengantongi non-disclosure agreement (NDA) alias perjanjian larangan pengungkapan informasi.
“Saya masih ada NDA dengan Tesla. Tidak bisa berbicara banyak,” kata dia, Selasa (2/3).
Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia alias Perhapi Rizal Kasli mengatakan saat ini, sejumlah perusahaan memang sedang terus melakukan studi dan riset untuk pengembangan penyimpanan daya (energy storage) dan baterai mobil listrik.
Kehadiran produk-produk itu untuk menciptakan baterai yang aman, efisien, murah, andal, dan ramah lingkungan. Baterai mobil listrik yang saat ini paling banyak digunakan adalah jenis lithium-ion. Komponen katoda atau kutub positifnya merupakan campuran nikel, kobalt dan mangan. Sedangkan anodanya (kutub negatif) berbahan baku lithium.
Sejumlah perusahaan sedang mengembangkan dan mencari subtitusi nikel dan kobalt. Kedua komoditas ini harganya mahal dan cadangannya tidak terlalu besar di dunia.
“Apapun bahan bakunya, Indonesia sebagai negara yang memiliki sejumlah cadangan mineral strategis harus segera memanfaatkan momentumnya,” kata Rizal.
Indonesia menguasai 30% cadangan nikel dunia, bahan baku baterai EV. Jumlahnya setara dengan 21 juta ton. Negara kepulauan ini juga memiliki 1,2 miliar ton aluminium, 51 juta ton tembaga, dan 43 juta ton mangan.
Tak hanya di penyediaan bahan baku saja, Indonesia juga dapat tampil sebagai produsen baterai mobil listrik.
“Bahkan hingga ke industri mobil listrik, sehingga sumber daya alam negara ini mendapat nilai tambah yang optimal,” ujarnya.
Momentum baterai lihtium-ion ini masih akan berlanjut dalam 15 hingga 20 tahun ke depan. Pemerintah dapat menerapkan kewajiban memasok untuk kebutuhan pasar dometik atau DMO, seperti komoditas batu bara. P
erhapi menyarankan agar riset dan kajian tentang pengembangan teknologi berbasis mineral dikembangkan dengan serius.
”Sehingga Indonesia bisa tampil sebagai pemain utama dalam pengembangan mobil listrik,” kata dia.
Posisi Tawar Indonesia Dinilai Akan Berkurang
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan berpendapat posisi nilai tawar Indonesia akan berkurang karena ketergantungan akan nikel mulai menurun. Negara ini dapat dianggap tak lagi menarik untuk masuk dalam industri baterai global.
Apalagi Tesla mulai mengalihkan fokusnya menggunakan besi ketimbang nikel.
“Kita bukan lagi menjadi prioritas dalam pengembangan baterai,” ujarnya.
Untuk itu, perlu adanya antisipasi agar iklim investasi menarik kembali. Kemudahan dan insentif harus tetap diberikan agar tidak ada perubahan rencana investasi dari penanam modal.
Indonesia masih berpeluang mengembangkan nikel untuk industri energi dan baja nirkarat (stainless steel). Namun, untuk baterai diperkirakan akan segera ada substitusi bahan bakunya.
Jepang kini mengembangkan baterai tidak berbasis nikel. Dengan pertimbangan harga komoditas ini akan semakin mahal karena permintaannya meningkat. Sedangkan Tesla, selain mempertimbangkan jumlah, juga menyoroti masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam berinvestasi.
Cadangan bijih besi Indonesia, menurut Ketua Umum Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo, relatif kecil. Angkanya di bawah 1% secara global. Australia, Brazil, Rusia dan Tiongkok pemilik cadangan bijih besi besar dunia saat ini.
Indonesia memang bisa masuk ke bisnis baterai melalui komoditas nikel. Cadangannya terbesar dunia sehingga memainkan peranan dalam pemanfaatan bahan nikel dunia. Grafik Databoks di bawah ini menampilkan perbandingannya.
Dari sebaran bijih nikel, cadangannya sebanyak 4.5 miliar ton tersebar di Sulawesi dan Maluku.
“Pengembangannya sangat menjanjikan untuk membangun industri hilir ke depan,” kata dia.
Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah harus mampu memperkirakan tujuan investor dari awal sampai pasarnya terbangun. Baru setelah itu, memberikan kemudahan fiskal dan nonfiskal untuk menarik investasi.
NIKEL.CO.ID – Investasi smelter nikel dinilai memberikan kontribusi besar terhadap Penanaman Modal Asing (PMA) Indonesia dalam enam tahun terakhir. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi tambang yang tengah didorong oleh pemerintah sehingga memerlukan pembangunan pabrik pemurnian atau smelter.
Menurut dia, porsi investasi smelter nikel yang relatif besar menegaskan bahwa industri nikel menjadi salah satu yang terpenting.
“Indonesia memang berupaya menjadi hub global dalam rantai pasokan industri kendaraan listrik dan itu diharapkan dapat melampaui industri minyak sawit sebagai ekspor terbesar kedua negara dalam jangka menengah,” ujar Analis PT Pefindo Martin Pandiangan mengatakan, pada Market Review IDX Channel, Senin (22/2/2021).
Dia melanjutkan, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan 53 smelter terbangun di tahun 2024. Hingga saat ini sudah ada sekitar 41 proyek pemurnian nikel yang sedang dikerjakan tersebar dari Sulawesi, Maluku Utara dan beberapa daerah lainnya.
“Dari jumlah tersebut, 11 proyek telah selesai pada akhir tahun 2019, 8 proyek masih dalam proses penyelesaian dengan kemajuan proyek sekitar 40% hingga 99% dan 22 proyek lainnya masih mencatatkan kemajuan proyek di bawah 40%. Beberapa proyek dalam tahap konstruksi awal memang cenderung mengalami keterlambatan akibat pandemi,” jelasnya.
Martin menuturkan, mayoritas pasokan nikel di masa mendatang akan bersumber dari kolaborasi antara perusahaan China dan perusahaan Indonesia. Pembangunan smelter dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) juga didorong agar bisa menyerap nikel kadar rendah.
Dari dalam negeri, dua emiten tambang nikel yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga turut ambil bagian dalam pembangunan HPAL.
“Para emiten saat ini fokus untuk mengembangkan pabrik pemurnian nikel dan juga melakukan kemitraan strategis serta mengamankan pasokan bahan baku mereka,” tandasnya.
NIKEL.CO.ID – Nikel dan bauksit menjadi salah satu komoditas mineral andalan Indonesia. Nilai dari kedua komoditas itu bakal semakin strategis seiring dengan prospek baterai dan mobil listrik di masa depan.
Indonesia pun menempati posisi penting dalam penguasaan nikel dan bauksit dunia, baik dari sisi produksi maupun potensi cadangan yang dimiliki. Kajian Badan Geologi Kementerian ESDM dan laporan United States Geological Survey (USGS) mengkonfirmasi potensi besar nikel dan bauksit Indonesia.
Kepala Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMP) Kementerian ESDM Iman Sinulingga mengungkapkan, dari seluruh negara yang diidentifikasi memiliki potensi nikel, berdasarkan data USGS 2020 Indonesia mendominasi hampir 24% cadangan nikel dunia.
Angka itu membuat Indonesia menduduki peringat pertama secara global. “Ini memang relevan dengan kondisi negara kita yang memiliki jalur zonasi ofiolit yang tersebar di beberapa lokasi di Sulawesi, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua,” jelas Iman kepada Kontan.co.id, Minggu (14/2/2021).
Berdasarkan data dari PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM, hingga Desember 2020, secara umum total sumber daya bijih sebanyak 14 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi sumber daya tereka. Sedangkan cadangan bijih tercatat sebanyak 4,4 miliar ton yang didominasi klasifikasi cadangan terkira.
“Untuk sumber daya logam total adalah 204 juta ton, baru sebagian kecil dengan status terukur. Sedangkan total cadangan logam sekitar 69 juta ton didominasi dengan klasifikasi cadangan terkira,” terang Iman.
Dari sisi sebaran, jalur ultrabasa/ofiolit nikel laterit yang sudah dieksplorasi dan memberikan kontribusi sumberdaya-cadangan nasional berada di lengan timur pulau Sulawesi, lengan timur Halmahera, Pulau Obi, Gag, Gebe, Waigeo, Papua Barat dan Papua.
Iman menyampaikan, lima besar provinsi dengan sumber daya besar adalah Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua.
Adapun dari sisi produksi pertambangan nikel, Indonesia juga menduduki peringkat pertama di dunia, di atas Filipina dan Rusia. Sebagai gambaran pada 2019, produksi nikel dunia tercatat 2.668.000 ton Ni.
Dari jumlah tersebut, sekitar 800.000 ton Ni tercatat diproduksi Indonesia. Di bawahnya ada Filipina dengan produksi pertambangan nikel sekitar 420.000 ton Ni dan Rusia 270.000 ton Ni.
Bergeser ke komoditas bauksit, berdasarkan data USGS tahun 2020, dari seluruh negara yang memiliki potensi, Indonesia memiliki 4% cadangan bauksit. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia.
Berdasarkan data dari PSDMP-Badan Geologi Kementerian ESDM, per Desember 2020, secara umum total sumber daya bijih sebesar 5,5 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi sumber daya tertunjuk. Sedangkan cadangan bijih tercatat 2,96 miliar ton yang didominasi klasifikasi cadangan terkira.
Sumber daya logam ditaksir sebanyak 2,1 miliar ton, sedangkan total cadangan logam sekitar 1,1 miliar ton yang didominasi dengan klasifikasi cadangan terkira.
Dari sisi sebaran yang sudah dilakukan eksplorasi dan memberikan kontribusi sumber daya-cadangan nasional berada di Kepualauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan ada juga potensi di Bangka Belitung.
Dari sisi produksi, Indonesia menempati posisi kelima secara global pada tahun 2019 dengan produksi 16 juta ton bijih bauksit. Lalu dari produk turunannya, produksi alumina Indonesia berada di posisi 11 dunia dengan 1 juta ton alumina. Selanjutnya produksi aluminium Indonesia sebanyak 253.000 ton atau posisi 27 secara global.
Tiga Komoditas Strategis
Sebelumnya Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Septian Hario Seto mengungkapkan tiga komoditas mineral yang ke depan akan berperan strategis. Hal itu didorong oleh pengembangan mobil listrik dan juga energi terbarukan (ET).
Ketiga komoditas itu adalah nikel, tembaga, serta bauksit-aluminium. Nikel, akan berperan besar dalam rantai pasok bahan baku baterai lithium. Sedangkan tembaga dan bauksit akan berperan strategis dalam industri mobil listrik serta komponen pembangkit ET seperti solar panel dan wind power.
“Jadi tembaga, nikel, bauksit, aluminium akan berperan sangat signifikan ke depannya dalam pengembangan renewable energy. Beberapa bulan terakhir pun harganya naik signifikan,” ungkap Septian dalam acara virtual yang digelar, Jumat (5/2/2021).
Oleh sebab itu, pemerintah bakal mendorong investor untuk melakukan hilirisasi dan industrialisasi pada ketiga komoditas tersebut. Tak hanya sampai ke smelter yang menghasilkan produk intermediate saja, namun juga ke produk-produk turunannya.
“Jadi kita nggak mau hanya sekadar bikin (smelter) saja. Mereka (investor) harus bangun hilirisasinya,” pungkas Septian.
NIKEL.CO.ID – Wakil Menteri BUMN, Pahala Mansury mengatakan Indonesia memiliki posisi kuat untuk membangun industri baterai yang terintegrasi. Sebab, Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia.
“Kandungan utamanya nikel dan kita punya cadangan nomor 1 terbesar di dunia,” kata Pahala dalam BUMN Media Talk berjudul EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia, secara virtual, Jakarta, Selasa (02/02/2021).
Karena itu, kata Pahala, sudah waktunya Indonesia memastikan sumber daya yang ada sebagai modal menjadi pemain kuat. Dia tak ingin berbagai sumber daya alam Indonesia hanya diekspor mentah-mentah dan kembali dibeli masyarakat saat sudah menjadi produk siap pakai.
“Jangan sampai kesalahan di abad yang dulu terus berlanjut sampai sekarang. Kita punya bahan bakunya dan harus terlibat dalam pemanfaatan nilai tambahnya,” kata Pahala.
Sebab, sambung dia, adanya pemanfaatan nilai tambah ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Sehingga dampaknya akan terasa lebih luas karena Indonesia bukan hanya sebagai negara pemilik sumber daya dan pasar, tetapi juga memaksimalkan potensi yang ada.
“Indonesia ini jangan hanya menjadi pasar dan punya kandungan (sumber daya) yang kaya,” kata dia.
Dibangunnya industri kendaraan listrik berbasis baterai ini akan dinilai dapat menciptakan banyak peluang. Diperkirakan penjualan motor listrik pada tahun 2025 mencapai 10 juta unit dan 2 juta unit untuk mobil listrik.
Untuk itu, demi memanfaatkan peluang yang ada, Pemerintah akan membangun rantai pasok yang kompetitif. Sehingga para pemain dan pemilik teknologi batre ini mau datang ke Indonesia untuk bekerja sama dan memproduksinya di Indonesia.
“Sehingga para pemain dan pemilik teknologi baterai ini bisa dan dipastikan membawa teknologinya dan memproduknya di Indonesia dibandingkan harus membuatnya di luar Indonesia,” kata Pahala mengakhiri.
NIKEL.CO.ID – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis angka realisasi investasi tahun 2020. Di tahun pandemi itu Indonesia berhasil memperoleh investasi Rp826,3 triliun. Angka tersebut melampaui target sebesar Rp817,2 triliun sekaligus capaian 2019 sebanyak Rp809,6 triliun.
Kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) bergeser. Jika pada 2019 komposisi investasi PMDN Rp423,1 triliun (52,3%) sementara PMA Rp423,1 triliun (52,3%), tahun 2020 komposisinya adalah PMDN Rp413,5 triliun (50,1%) dan PMA Rp412,8 triliun (49,9%).
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan mengapa PMA hanya turun 2,4 persen padahal prediksi beberapa lembaga keuangan dunia mengatakan bahwa Foreign Direct Investment akan anjlok sampai 30-40 persen. “Artinya kepercayaan ini ada,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Senin (25/1/2021).
Bahlil membanggakan capaian kuartal IV-2020 yang kuat, dengan PMA yang lebih mendominasi. Realisasi investasi pada kuartal IV 2020 terdiri dari PMA Rp111,1 triliun (51,7%) dan PMDN Rp103,6 triliun (48,3%).
“Kuartal IV, kasus pandemi sudah ada vaksinasi. Ada rasa percaya diri investor asing. Kedua pengesahan UU Ciptaker [yang] memberikan pengaruh positif untuk kelangsungan investor asing di Indonesia,” ungkap Bahlil.
PMA Global Turun Tajam
Penurunan PMA di Indonesia sejalan dengan tren global. Berdasarkan catatan United Nations (UNCTAD), PMA secara global anjlok 42 persen selama 2020 ke posisi $859 miliar. Angka itu berarti 30 persen lebih rendah ketimbang posisi terparah pada krisis ekonomi 2008-2009.
Cina masih menjadi negara dengan capaian positif, yakni naik 4% menjadi 163 miliar dolar AS. Sebaliknya, PMA ke AS anjlok 49% jadi $134 miliar dolar AS.
Sebagian negara Asia Tenggara juga mengalami penurunan, kecuali Filipina yang malah naik 29% menjadi 6,4 miliar dolar AS. Singapura turun 37% menjadi 58 miliar dolar AS, Vietnam turun 10% menjadi 14 miliar dolar AS, Malaysia turun 68% menjadi 2,5 miliar dolar AS, dan Thailand turun 50% menjadi 1,5 miliar dolar AS. Sementara PMA Indonesia turun 24% menjadi 18 miliar dolar AS (berbeda dengan versi BKPM).
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andy Satrio Nugroho menjelaskan realisasi yang cukup stabil di masa pandemi memang ditopang oleh keseriusan pemerintah mewujudkan iklim kemudahan izin investasi.
“Pemerintah sudah mulai jemput bola untuk investasi asing,” kata dia, Senin (25/1/2021).
Namun pekerjaan pemerintah belum selesai. Usai berhasil memboyong investor asing, baiknya pemerintah lebih serius untuk menekan angka penularan virus COVID-19 di dalam negeri. Menekan angka COVID-19 penting agar investor asing yang tanam modal di Indonesia mampu melakukan usaha yang berkelanjutan.
“Ini yang harus diwaspadai. Kalau dia (investor) tetap jalan, business as usual, tapi kondisi pandemi belum selesai saya rasa hanya jadi bom waktu saja. Kondisinya kan kelihatannya ekonomi duluan yang diselamatkan, tapi itu semu,” jelas dia.
Bukan mustahil jika investor asing lebih memilih pindah pabrik jika pandemi tidak lagi tertangani.
“Sekarang urusan health security sudah jadi urusan nomor satu,” lanjutnya.
Waspada Investasi Tambang PMA
Berdasarkan paparan BKPM, proyek-proyek yang didanai PMA selama 2020 didominasi proyek tambang. Dalam tabel ‘Industri logam dasar dan barang logam’, pada 2020 RI menerima 1.669 proyek baru dengan total nilai $5,96 miliar. Disusul listrik, gas, dan air sebanyak 846 proyek dengan nilai $4.61 miliar; serta transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak 1.588 proyek dengan nilai $3,58 miliar.
Berdasarkan data BKPM, negara asal aliran modal didominasi oleh Singapura yaitu sebesar $9,77 miliar, kemudian Cina sebesar 4,84 miliar dolar AS, Hong Kong 3,5 miliar dolar AS, Jepang 2,6 miliar dolar AS, dan Korea Selatan 1,8 miliar dolar AS.
Tingginya minat investor asing terutama Cina untuk menggarap hasil tambang perlu diwaspadai, kata peneliti dari Indef Bhima Yudistira. Ada potensi mereka akan menghabiskan cadangan nikel dengan timbal balik yang tidak sepadan. Oleh karena itu menurutnya pencapaian PMA yang hanya turun 2,4 persen bukan prestasi.
“China, kan, ke depan butuh bahan setengah jadi terkait kebutuhan industri baterai industri elektronik. Bisa risiko bencana jadi sebenarnya usaha [dari investor asing]. Enggak berkelanjutan,” kata Bhima, Senin (25/1/2021).
Menurutnya hal ini dapat terjadi karena terutama di luar Jawa “proyek-proyek yang khususnya smelter nikel itu digencarkan sekali.”
“Enggak ada hubungannya sama UU Cipta Kerja. Ada pembatasan WNA, tapi TKA asal Cina itu tetap datang ke Konawe untuk jalankan proyek. Jadi pandemi enggak ngaruh,” tambahnya.
Bhima berharap pemerintah lebih selektif menerima investor. Perlu dipilah mana yang menguntungkan mana yang bikin rugi.
“Harusnya diseleksi, bukan obral murah,” tandas Bhima.
Seleksi lebih mungkin dilakukan ketika pilihan investor beragam. Oleh karena itu menurutnya pemerintah juga perlu melirik negara lain.
“Indonesia harus mulai mengambil langkah keseimbangan untuk menarik investasi dari negara lain di luar Cina, misalnya AS. Jadi ada investasi yang lebih selektif dari banyak pilihan investor,” terangnya.
Oleh karena investor asing sudah kadung masuk, maka pilihan terdekat adalah mengoptimalisasinya, kata Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual. Caranya dengan memastikan hilirisasi mineral terwujud. Jangan sampai derasnya investasi asing hanya menyebabkan cadangan mineral habis terkuras tapi negara tak mendapat nilai tambah.
“Komoditas mineral arahnya green energy. Bikin kincir listrik, solar sel, baterai, butuh tembaga, nikel, bauksit, aluminium. RI merupakan salah satu pemilik cadangan terbesar dan produsen terbesar juga, jadi kita buat mereka investasi ke hilirisasi, jangan sampai kirim mentahnya saja,” tandas dia.
NIKEL.CO.ID – Jika di tahun 2000-an batu bara adalah komoditas tambang yang menjadi ‘primadona’ bagi Indonesia. Kendati pesona batu bara belum redup di Tanah Air, tetapi status ‘primadona’ telah diambil alih oleh komoditas tambang lainnya yaitu nikel.
Nikel merupakan salah satu jenis logam dasar yang digadang-gadang jadi komoditas masa depan. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan.
Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.
Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.
Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini. Indonesia juga menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27% dari total produksi global.
Jika di tahun 2000-an batu bara adalah komoditas tambang yang menjadi ‘primadona’ bagi Indonesia. Kendati pesona batu bara belum redup di Tanah Air, tetapi status ‘primadona’ telah diambil alih oleh komoditas tambang lainnya yaitu nikel.
Nikel merupakan salah satu jenis logam dasar yang digadang-gadang jadi komoditas masa depan. Nikel merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan.
Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II. Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.
Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton. Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.
Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini. Indonesia juga menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dengan menyumbang 27% dari total produksi global.
Kendati memiliki banyak kegunaan terutama untuk industri masa depan (mobil listrik), selama ini Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk mentah (bijih) yang harganya murah.
Rencana awal pemerintah akan menghentikan ekspor bijih nikel di tahun 2022. Namun pada akhir Agustus 2019, pemerintah resmi melakukan moratorium ekspor bijih nikel yang efektif per 1 Januari 2020, atau dua tahun lebih cepat dari target.
Saat awal pemerintah mengumumkan penghentian ekspor pada Juli 2019 harga nikel di London Metal Exchange (LME) mulai bergeliat. Kemudian saat rumor penghentian ekspor akan dimajukan jadi tahun 2020 pada pertengahan Agustus menyeruak, harga nikel semakin liar.
Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja harga nikel di LME naik dari US$ 12.000/ton menjadi US$ 18.000/ton, atau naik 50%. Namun akibat pandemi Covid-19 harga nikel langsung longsor ke bawah US$ 12.000/ton pada April tahun 2020.
an terutama untuk industri masa depan (mobil listrik), selama ini Indonesia masih mengekspor nikel dalam bentuk mentah (bijih) yang harganya murah.
Rencana awal pemerintah akan menghentikan ekspor bijih nikel di tahun 2022. Namun pada akhir Agustus 2019, pemerintah resmi melakukan moratorium ekspor bijih nikel yang efektif per 1 Januari 2020, atau dua tahun lebih cepat dari target.
Saat awal pemerintah mengumumkan penghentian ekspor pada Juli 2019 harga nikel di London Metal Exchange (LME) mulai bergeliat. Kemudian saat rumor penghentian ekspor akan dimajukan jadi tahun 2020 pada pertengahan Agustus menyeruak, harga nikel semakin liar.
Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja harga nikel di LME naik dari US$ 12.000/ton menjadi US$ 18.000/ton, atau naik 50%. Namun akibat pandemi Covid-19 harga nikel langsung longsor ke bawah US$ 12.000/ton pada April tahun 2020.
Kebijakan penghentian untuk menghentikan ekspor bijih nikel bukan tanpa pro-kontra. Uni Eropa (UE) yang bergantung pada pasokan nikel dari RI langsung membawa masalah ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Sebagai informasi, Indonesia mengekspor 98% nikelnya ke China dan sisanya ke UE. Blok kerja sama ekonomi di Benua Biru tersebut merasa dirugikan dengan kebijakan pemerintah RI.
Baru-baru ini Komisi UE meminta WTO untuk membentuk panel yang mengurusi perselisihan dagang antara kedua belah pihak. Berbeda dengan UE yang masuk ke jalur hukum lewat WTO, China justru memilih jalan lain dengan berinvestasi ke Indonesia.
Dengan kebijakan moratorium ekspor bijih nikel, Indonesia diharapkan mampu menjadi salah satu pemain global dalam industri stainless steel dan yang tak ketinggalan adalah mobil listrik.
Nikel akan menjadi bahan baku utama untuk komponen baterai di mobil listrik. Melihat Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ini, bos Tesla Elon Musk mulai melirik RI dan kabarnya akan berinvestasi dengan membangun pabrik baterai di kawasan industri Batang.
Analis dan ekonom pun memberikan outlook bullish untuk harga nikel akibat tren penjualan mobil listrik yang diramal bakal terus naik. Salah satu yang memberikan ramalan bullish tersebut adalah Goldman Sachs.
Bank investasi asal Wall Street itu memperkirakan target harga nikel akan menyentuh US$ 21.000/ton dalam periode 12 bulan ini. Goldman Sachs merevisi naik harga nikel dari sebelumnya US$ 16.000/ton.
Dalam update terbarunya Goldman Sachs memandang tren penjualan mobil listrik masih akan terus meningkat. Jika tidak dibarengi dengan upgrade penggunaan baterai dari nikel maka pasokan nikel diramal bakal defisit mulai dari 2023.
Namun jika adopsi baterai mobil listrik dari nikel mengalami peningkatan yang pesat maka akan semakin mendorong naik harga nikel. Sebelumnya DBS juga punya outlook positif untuk harga nikel.
DBS dalam laporannya menyebut harga nikel tahun ini bakal bullish dan tembus ke atas US$ 20.000/ton. Hal tersebut karena ditopang oleh adanya defisit pasokan nikel di saat permintaan sedang naik-naiknya. Tren ini terutama terjadi untuk nikel kelas I yang banyak digunakan untuk baterai mobil listrik.
Proyeksi DBS, permintaan nikel kelas I akan tumbuh 5,9% setiap tahunnya sampai 2025. Untuk periode yang sama pasokan nikel kelas I hanya tumbuh 3,3%.
Sementara itu, untuk nikel Kelas II keseimbangan di pasar tetap terjaga tahun ini, bahkan hingga 2025 seiring dengan kuatnya peningkatan kapasitas nikel pig iron (NPI) di Indonesia mengimbangi penurunan produksi Cina dan pertumbuhan permintaan nikel untuk stainless steel.
Lebih lanjut DBS memprediksi volume penjualan mobil listrik akan naik 24% per tahun secara compounding (CAGR) ke 22,3 juta unit pada tahun 2030. Kenaikan penjualan mobil listrik tentu akan mengerek permintaan nikel kelas I seiring dengan minat yang tinggi untuk penggunaan baterai yang menggunakan nikel.
Permintaan nikel untuk baterai mobil listrik akan tumbuh sebesar 32% (CAGR ) pada 2019-2030 sehingga meningkatkan konsumsi nikel untuk baterai yang dapat diisi ulang hingga 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada tahun 2030.
“Oleh karena itu, kami memperkirakan kontribusi baterai isi ulang terhadap konsumsi nikel akan meningkat hingga 30% pada 2030 dari hanya 5% pada 2019.” tulis DBS dalam laporannya.
Kini harga nikel sudah kembali tembus ke level US$ 18.000/ton. Tren kenaikan harga nikel juga membuat saham-saham emiten pertambangan ikut beterbangan. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) bahkan melesat dengan sangat tinggi dan menjadi salah satu saham bagger dengan capital gain lebih dari 270% sejak awal 2020.
NIKEL.CO.ID – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong pembangunan hilirisasi industri nikel, sebab Indonesia menyimpan banyak sumber daya nikel. Sehingga pada masa depan, Indonesia bisa menjadi pemain penting dalam percaturan industri nikel dunia.
Hal itu seiring dengan akusisi 20 persen saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) atau MIND ID, dengan begitu kapasitas MIND ID dalam menggenjot hilirisasi produk nikel akan bertambah.
Selain itu, Erick Thohir mengungkapkan MIND ID akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku industri hilir nikel Indonesia baik untuk menjadi stainless steel maupun baterai kendaraan listrik.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menyambut positif langkah Erick Thohir untuk mengembangkan potensi nikel Indonesia, hal itu merupakan langkah strategis untuk industri minerba Indonesia.
“Saya menyambut baik pembelian (saham Vale) ini, saya kira dengan langkah ini menjadi langkah strategis industri mineral kita terutama dari Inalum, Dengan ini harapanya nanti kedepan bisa membantu keuangan Inalum dan juga setidaknya penerimaan negara dari sektor mineral pun meningkat, ini langkah strategis karena cadangannya juga kan masih cukup besar,” kata Mamit, Kamis (22/10/2020).
Mamit menambahkan hilirisasi indutri minerba ini diyakini juga akan meningkatkan nilai tambah seperti halnya kemampuan Indonesia untuk memproduksi electric vehicle (EV) Battery sendiri yang kemudian diekspor ke luar negri.
“Sangat mungkin sekali dan sekarang Vale sudah punya smelter, setidaknya ini bisa meningkatkan added value dari mineral yang dihasilkan begitu,” ungkapnya.
Lanjut Mamit, ditengah era elektrivikasi, salah satunya pengembangan kendaraan bermotor listrik, ke depan harapan Indonesia untuk menjadi produsen baterai kelas dunia bisa terwujud.
”Saya kira mimipinya kita, mimpi bangsa ini, kita menjadi produsen baterai di tengah elektrical ini mulai berkembang, memang untuk pasar dalam negeri masih kecil, tetapi kita harus melihat mungkin ke depan ketika kita menjadi pasar terbesar ataupun produsen terbesar kita bisa melakukan ekspor,” tuturnya.
Lebih lanjut, Mamit berharap Pemerintah dapat mengundang investor perusahaan mobil listrik internasional untuk menanamkan investasinya di Indoneisa, karena ketersediaan akan kandungan nikel yang dimiliki Indonesia.
“Jadi ada add value yang lain juga ke depan di lapangan, seperti lapangan pekerjaan terus juga program untuk menggunakan kendaraan listrik semakin berkembang, jadi ada banyak value positif yang didapatkan kalau memang ini sesuai dengan yang direncanakan,” tuntasnya.
Sebelumnya, Erick Thohir menyampaikan pembelian saham Vale Indonesia oleh MIND ID sesuai dengan mandat BUMN untuk mengelola cadangan mineral strategis Indonesia dan juga hilirisasi industri pertambangan nasional, terutama nikel domestik nikel sehingga akan menghasilkan produk domestik nilai ekonomis hingga 4-5 kali lipat lebih tinggi dari produk hulu.
“Dengan menjadi pemegang saham terbesar kedua, MIND ID akan memiliki akses strategis untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk industri hilir nikel Indonesia. Baik untuk hilirisasi industri nikel menjadi stainless steel, maupun menjadi baterai kendaraan listrik,” kata Erick.
Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen dan eksportir nikel, bahan baku utama EV Battery, terbesar dunia yang menguasai 27% kebutuhan pasar global.
Sejak kebijakan ekspor nikel dilarang per 1 Januari 2020, MIND ID ditantang untuk melakukan inovasi dan restrukturisasi model bisnis dalam industri ini, sekaligus meningkatkan value chain dari nikel nusantara yang berlimpah
Tak hanya pembangunan pabrik lithium-ion yang rencananya di dekat dua tambang nikel milik PT Antam di Tanjung Buli, Halmahera Timur dan di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara agar bisa berkompetisi di pasar EV Battery dunia yang 27,9%-nya dikuasai Tiongkok.
MIND ID juga akan fokus terhadap nikel sebagai core business dengan membangun ekosistem pengembangan industri jenis mineral ini demi hilirisasi produk dalam negeri serta membuka peluang untuk bekerja sama.