Beranda Berita International Tahun 2034, Pasar Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik (EV) Diprediksi Mencapai US$3,15...

Tahun 2034, Pasar Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik (EV) Diprediksi Mencapai US$3,15 Miliar

Baterai EV yang sudah habis masa pakainya masih bisa berguna setelah didaur ulang. Kandungan nikel dan kobalt di dalamnya dapat dimanfaatkan kembali (Foto: Istimewa)
Oleh Momon Tarmono

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Selama ini, industri kendaraan listrik berfokus pada pengembangan kendaraannya¸belum banyak yang menyentuh pada daur ulang baterai kendaraan listrik jika sudah tidak digunakan lagi.

Menurut Polaris Market Research, pasar daur ulang baterai kendaraan listrik bernilai USD 0,55 miliar pada tahun 2025 dan diproyeksikan mencapai USD 3,15 miliar pada tahun 2034. Meskipun saat ini skalanya masih kecil, sektor ini berada pada titik temu antara industri otomotif, keamanan mineral kritis, dan regulasi lingkungan.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Baterai yang sudah tidak terpakai serta limbah produksi pabrik kini menjadi sumber bahan baku yang tidak bisa diabaikan oleh produsen otomotif, produsen sel baterai, maupun pemerintah. Persoalan yang menunggu jauh lebih luas daripada sekadar pengelolaan limbah. Siapa yang akan mengendalikan litium, nikel, dan kobalt yang menjadi tumpuan bagi kendaraan masa depan?

Dilansir dari Timestech.in yang dikutip, Rabu, (4/11/2026), ada dua kekuatan yang saling bertemu. Pertama adalah volume. Seiring dengan meningkatnya penjualan kendaraan listrik, jumlah baterai yang perlu diproses daur ulang pun turut bertambah, ini sebagai potensi pengembangan industri daur ulang baterai kendaraan listrik untuk memperluas kapasitas serta menyempurnakan teknik pemulihan material hasil daur ulangnya.

Kedua adalah regulasi. Berdasarkan Regulasi Baterai Uni Eropa (EU Batteries Regulation), industri daur ulang baterai EV diwajibkan untuk memulihkan 90% kobalt, tembaga, dan nikel, serta 50% litium paling lambat pada akhir tahun 2027. Menjelang akhir tahun 2031, angka tersebut akan meningkat menjadi 95% untuk kobalt, tembaga, dan nikel, serta 80% untuk litium. Selain itu, penerapan paspor baterai digital akan diwajibkan mulai Februari 2027, disusul dengan ketentuan mengenai ambang batas minimum kandungan material daur ulang untuk baterai baru pada tahun 2031. Oleh karenanya, penggunaan material hasil daur ulang akan segera menjadi persyaratan kepatuhan, bukan sekadar langkah sukarela.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Bagi produsen, daur ulang kini menjadi persoalan strategi pasokan. Logam hasil daur ulang menawarkan sumber sekunder yang dapat mengurangi ketergantungan pada kegiatan penambangan dan pemurnian yang terkonsentrasi di beberapa negara.

Dari sumber yang sama dikabarkan pada September 2026, General Motors beserta para mitranya mencapai tonggak penting dengan merampungkan proyek percontohan pembuatan sel baterai kendaraan listrik (EV). Sel tersebut menggunakan material katoda aktif yang sepenuhnya berasal dari nikel, kobalt, dan mangan hasil daur ulang.

Namun, dalam proses daur ulang aspek ekonominya tergolong sangat menantang. Membutuhkan peralatan khusus, menerapkan protokol keselamatan yang ketat, membutuhkan tenaga kerja terampil, serta memerlukan pengangkutan baterai bekas dari jarak jauh, semuanya membutuhkan biaya.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Komposisi kimia pun berpengaruh; baterai litium besi fosfat (LFP) yang tidak mengandung nikel maupun kobalt, sehingga pihak pendaur ulang harus mengandalkan proses pemulihan litium yang efisien untuk memperoleh keuntungan.

Peluang juga mulai muncul di sektor-sektor pendukung. Pemanfaatan baterai untuk tujuan lain (second-life applications) – seperti sistem penyimpanan energi stasioner untuk bangunan atau proyek energi terbarukan—memberikan keuntungan bagi perusahaan yang mampu menguji dan mengklasifikasikan baterai bekas secara akurat. Limbah produksi juga menjadi peluang tersendiri; pada tahun 2025, limbah jenis ini mencakup 38,5% dari total pasokan karena pabrik menghasilkan material yang jelas dan dapat dilacak sejak awal. Sementara itu, baterai yang benar-benar habis masa pakainya—yang diproyeksikan tumbuh sebesar 24,3% per tahun—akan membutuhkan waktu lebih lama untuk tersedia dan sangat bergantung pada kemampuan untuk melacak baterai tersebut setelah dilepas dari perangkat asalnya.

Dinamika Pasar Regional

Asia Pasifik menguasai 61,66% pangsa pasar pada tahun 2025, yang didorong oleh faktor-faktor struktural. Tiongkok memadukan pasar kendaraan listrik (EV) yang luas dengan basis manufaktur baterai yang matang serta jaringan pemulihan baterai yang mapan, sementara armada kendaraan roda dua listrik yang terus berkembang di India turut membangun pasokan untuk masa depan.

Segmen kendaraan roda dua diproyeksikan tumbuh sebesar 23,7% per tahun, didukung oleh penggunaan komersial yang intensif serta sistem penukaran baterai yang memungkinkan unit baterai dikembalikan ke titik pusat.

Amerika Utara diproyeksikan tumbuh sebesar 22,6% per tahun, menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat di antara wilayah-wilayah utama lainnya. Di kawasan ini, daur ulang baterai tidak hanya bertujuan untuk keberlanjutan, tetapi juga untuk menjamin keamanan pasokan—memberikan akses domestik bagi produsen otomotif dan produsen baterai terhadap litium serta nikel.

Eropa, Jerman dan Prancis sebagai penggerak utamanya sangat dipengaruhi oleh regulasi namun mampu mencakup pangsa pasar 11,4% pada tahun 2025.

Bagi pelaku bisnis, pelajaran pentingnya adalah tidak ada satu strategi tunggal yang berlaku secara global. Keunggulan Asia terletak pada volume pasar, Eropa didorong oleh tekanan kebijakan, sementara Amerika Utara digerakkan oleh upaya mencapai otonomi strategis.

Persaingan di sektor ini bergantung pada efisiensi pemulihan, akses terhadap bahan baku, dan kualitas material yang dipulihkan. Para pelaku industri mencakup perusahaan spesialis seperti Redwood Materials, Ascend Elements, dan Cirba Solutions; grup perusahaan material seperti Umicore, Fortum, dan Glencore; serta perusahaan asal Asia seperti Guangdong Brunp dan GEM.

Pemilihan proses menjadi faktor pembeda. Metode hidrometalurgi diproyeksikan tumbuh sebesar 22,8% per tahun karena mampu menghasilkan logam dengan standar kualitas baterai (battery-grade), sementara pendekatan langsung (direct) dan mekanis—yang tumbuh sebesar 22,4%—berfokus pada upaya mempertahankan struktur katoda serta meminimalkan kehilangan material.

Langkah-langkah terkini menunjukkan arah strategi perusahaan-perusahaan tersebut. R3 Lithium mulai memproduksi litium karbonat dari material yang sepenuhnya didaur ulang di Georgia. Aqua Metals menandatangani nota kesepahaman terkait pemulihan aluminium dan tembaga dari fasilitas yang direncanakan di wilayah Midwest. Fortum dan Talga sepakat untuk menguji daur ulang grafit guna menghasilkan material anoda baru. Tren yang terlihat adalah upaya untuk memulihkan lebih banyak komponen baterai, bukan sekadar logam-logam utamanya saja.

Namun, kemitraan tidak selalu terjamin. Usaha patungan yang sempat diumumkan oleh Stellantis dan Orano ternyata tidak pernah terealisasi; hal ini menjadi pengingat bahwa kelayakan komersial tetaplah tantangan yang paling berat.

Beberapa tahun ke depan akan menguntungkan para pelaku industri yang mampu mengamankan pasokan secara stabil dan menjaga biaya pemrosesan tetap terkendali. Litium—yang pada tahun 2025 mencakup 35,6% dari nilai material yang berhasil dipulihkan—akan menjadi semakin penting seiring dengan meluasnya penggunaan kimia baterai LFP (litium besi fosfat). Pemulihan grafit, yang saat ini masih dalam tahap awal, berpotensi memperluas cakupan nilai material yang dapat dipulihkan.

Regulasi yang terfragmentasi tetap menjadi sebuah risiko. Perusahaan yang beroperasi di berbagai wilayah harus memenuhi ketentuan pengumpulan, pengangkutan, dan pemulihan yang berbeda-beda; aturan dan regulasi yang tidak seragam ini dapat menggerus margin keuntungan.

Gambaran Bisnis yang Lebih Luas

Pentingnya daur ulang baterai kendaraan listrik (EV) jauh melampaui sekadar ukuran pasarnya. Hal ini mencerminkan pergeseran industri otomotif dari model linear—yakni mengekstraksi, memproduksi, lalu membuang—menuju model sirkular, di mana produk yang telah mencapai akhir masa pakainya diolah kembali menjadi bahan baku. Perusahaan yang menganggap daur ulang hanya sebagai pertimbangan sekunder berisiko terkendala oleh tenggat waktu regulasi serta volatilitas biaya material. Sebaliknya, perusahaan yang sejak dini membangun kemitraan untuk pengumpulan, sistem pelacakan baterai, dan kapasitas pemulihan akan berada dalam posisi yang lebih baik saat baterai bekas mulai tersedia dalam jumlah besar. (Momon)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik #Baterai Berbasis Nikel →

  1. Tahun 2034, Pasar Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik (EV) Diprediksi Mencapai US$3,15 Miliar sedang Anda baca
  2. Kemarau Yang Berkepanjangan di Indonesia Berakibat Industri Kendaraan Listrik China Terganggu
  3. Dewan Energi Nasional Dorong Hilirisasi Nikel untuk Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Agenda industri terdekat

Semua agenda →