Beranda Berita Nasional Perminas Incar Monasit dan Slag Nikel untuk Perkuat Pasokan Logam Tanah Jarang

Perminas Incar Monasit dan Slag Nikel untuk Perkuat Pasokan Logam Tanah Jarang

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis PT Perminas, La Ode Tarifin Jaya. (Foto: MNI/Lili Handayani)
Oleh Momon Tarmono

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) Persero membidik pemanfaatan mineral sekunder, seperti monasit, red mud dari pengolahan bauksit, dan nickel slag, untuk memperkuat pasokan bahan baku industri logam tanah jarang (LTJ).

Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis PT Perminas (Persero), La Ode Tarifin Jaya, mengatakan material hasil samping pertambangan dan pengolahan mineral tersebut memiliki potensi kandungan LTJ yang dapat dipulihkan. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi kendala karena regulasi yang berlaku dinilai belum mengakomodasi sumber mineral sekunder secara memadai.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Hal itu disampaikan La Ode dalam sesi bertajuk “Optimalisasi Mineral Kritis & Strategis dan Secondary Mineral untuk Memperkuat Industrialisasi dan Ketahanan Cadangan Nasional” pada Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Menurut La Ode, regulasi pengusahaan mineral selama ini lebih berfokus pada sumber mineral primer. Padahal, Indonesia memiliki sejumlah material sekunder yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung ketersediaan bahan baku industri LTJ.

“Perlu ada penyesuaian di dalam regulasi kita yang sangat fokusnya ke primary source. Sementara kita punya banyak yang secara resource, mulai dari monasite ke red mud dari bauksit ataupun dari nickel slag, itu semuanya memiliki potensi untuk logam tanah jarang yang bisa kita recover,” ujarnya.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

La Ode menjelaskan, Perminas justru lebih memilih sumber sekunder karena materialnya telah terkonsentrasi sehingga relatif lebih mudah diolah. Salah satu sumber yang menjadi perhatian perusahaan adalah hasil samping pengolahan timah atau secondary tin.

“Kalau boleh memilih, sebenarnya perminas, kami akan lebih memilih yang secondary source, yang itu sudah terkapasi, mudah untuk kami olah. Paling tinggal kita berputaran dengan PT. Timah atau para iuk timah di luar PT. Timah,” katanya.

Ia berharap terdapat penyesuaian terhadap regulasi pengusahaan mineral, termasuk kemungkinan perubahan terhadap Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018, agar pemanfaatan sumber sekunder dapat diakomodasi.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Menurut La Ode, ketergantungan pada sumber primer juga memiliki tantangan dari sisi kadar. Ia menyebut kandungan LTJ pada sumber primer yang tengah menjadi perhatian Perminas berada pada kisaran 2.000–4.000 ppm. Kondisi tersebut membutuhkan material dalam jumlah besar untuk memperoleh hasil pengolahan yang memadai.

Di sisi lain, Perminas telah melakukan eksplorasi sumber primer di Mamuju, Sulawesi Barat. Perusahaan juga menyiapkan pengembangan sumber sekunder di Bangka sebagai bagian dari strategi pengamanan pasokan bahan baku.

Pengembangan Rantai Industri Magnet Permanen

La Ode menjelaskan, pengembangan sumber primer dan sekunder tersebut akan diarahkan untuk membangun rantai industri LTJ hingga produk magnet permanen. Perminas merancang pengolahan material di Mamuju dan Bangka hingga menghasilkan produk single oxide.

Selanjutnya, pengembangan industri magnet permanen direncanakan berada di Subang, Jawa Barat, agar lebih dekat dengan calon pengguna atau off-taker, terutama program mobil nasional dan motor listrik nasional.

Menurut dia, kebutuhan magnet permanen berpotensi meningkat seiring pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri. Setiap kendaraan listrik membutuhkan magnet permanen untuk mendukung penggunaan motor listrik.

Perminas menargetkan pengembangan industri magnet permanen dengan skala sekitar 5.000 ton pada 2028. Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun rantai pasok LTJ sekaligus mendukung kebutuhan industri kendaraan listrik nasional.

La Ode menilai 2028 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mulai bergerak dari pasar konsumen kendaraan listrik menuju negara yang mampu memproduksi kendaraan listrik sendiri beserta komponen pendukungnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya dukungan regulator untuk mempercepat pengamanan sumber bahan baku, khususnya mineral sekunder yang berada di Bangka dan wilayah sekitarnya.

“Sehingga kami berharap mudah-mudahan jika regulasi ini bisa segera terbit maka itu akan membuat feedstock kita menjadi lebih besar,” ujarnya. Dengan dukungan regulasi dan penguatan pasokan bahan baku, Perminas berharap pengembangan industri LTJ nasional dapat dipercepat, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi magnet permanen untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. (Lili Handayani)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik #LTJ →

  1. Perminas Incar Monasit dan Slag Nikel untuk Perkuat Pasokan Logam Tanah Jarang sedang Anda baca
  2. Tak Cukup Andalkan Bahan Baku, Indonesia Perlu Kuasai Teknologi Pengolahan Logam Tanah Jarang
  3. Selain Nikel, LTJ Diburu Dunia untuk Transisi Energi

Agenda industri terdekat

Semua agenda →