
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Wacana pemangkasan produksi produk antara nikel di Indonesia menguat setelah beredar kabar rencana pengurangan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) sebesar 50%, nikel matte 50%, dan nickel pig iron (NPI) 20%. Sentimen tersebut mendorong kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 3,05% pada 21 Oktober 2026.
Meski demikian, hingga laporan Shanghai Metals Market (SMM) terbit pada 22 Oktober 2026, belum ada konfirmasi resmi dari produsen maupun pejabat terkait mengenai rencana pemangkasan tersebut.

Dalam analisisnya, SMM menilai alasan dan peluang pemangkasan berbeda di setiap segmen rantai pasok nikel. Produsen MHP menghadapi tekanan biaya dan kerugian produksi, sedangkan produsen nikel matte telah mengurangi produksi secara signifikan. Di sisi lain, smelter NPI masih menikmati margin kas sehingga insentif untuk melakukan pemangkasan sukarela relatif terbatas.
MHP menjadi segmen paling berpeluang mengalami pemangkasan. SMM mencatat, pasar MHP Indonesia beralih dari defisit pada kuartal II menjadi surplus setelah pasokan meningkat, sementara permintaan dari industri hilir melemah.

“Tekanan semakin besar karena harga jual spot MHP berada di bawah US$13.000 per ton nikel, sedangkan biaya tunai produksi teoretis setelah dikurangi kredit kobalt mencapai sekitar US$14.500 per ton nikel pada pertengahan Oktober,” seperti di lansir laman SMM, Senin (26/10/2026).
Menurut perhitungan SMM, apabila pemangkasan sebesar 50% dari produksi saat ini benar-benar diterapkan, pasokan MHP dapat berkurang sekitar 15.000–18.000 ton nikel per bulan. Skenario tersebut berpotensi memperketat pasokan dan menahan penurunan harga, meskipun pemulihan pasar masih membutuhkan pengurangan persediaan atau peningkatan permintaan.

Sementara itu, ruang pemangkasan produksi nikel matte dinilai lebih terbatas. Produksi Indonesia tercatat turun 21,3% secara bulanan menjadi 16.600 ton nikel pada September, dari 21.100 ton pada Agustus. SMM memperkirakan produksi kembali turun menjadi 15.800 ton pada Oktober.
Penurunan tersebut terjadi di tengah melemahnya keekonomian pengolahan NPI menjadi matte. SMM menghitung margin konversi rata-rata negatif US$522 per ton nikel pada Agustus, negatif US$377 pada September, dan negatif US$467 pada paruh pertama Oktober.

Jika produksi matte dipangkas lagi sebesar 50% dari perkiraan Oktober, pasokan berpotensi berkurang sekitar 7.900 ton nikel per bulan. Namun, SMM menilai dampaknya terhadap pasokan nikel secara keseluruhan relatif terbatas karena tingkat operasi sudah rendah dan sebagian produksi terikat kontrak jangka panjang.
“Adapun produksi NPI Indonesia diperkirakan mencapai 128.000 ton nikel pada Oktober. Wacana pemangkasan 20% berpotensi mengurangi pasokan lebih dari 20.000 ton nikel per bulan. Namun, besaran dasar pemangkasan dan volume aktualnya masih dalam pembahasan pasar,” ujar SMM dalam analisisnya.

SMM juga mencatat, produksi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), salah satu pusat pengolahan nikel utama Indonesia, telah turun lebih dari 20% akibat kekeringan terkait El Niño. Meski demikian, smelter NPI secara umum masih memperoleh margin kas positif, sehingga pemangkasan sukarela dalam skala besar dinilai sulit terjadi.
SMM memperkirakan harga NPI kadar tinggi berpeluang stabil dengan kecenderungan menguat pada November. Namun, kenaikan harga akan bergantung pada realisasi pengurangan pasokan dan respons pembelian industri baja tahan karat.

Secara keseluruhan, SMM menilai pergerakan harga nikel saat ini masih ditopang ekspektasi pemangkasan produksi, bukan keputusan yang telah dikonfirmasi. Jika pengurangan aktual lebih kecil daripada yang dirumorkan, harga nikel berisiko terkoreksi. Lembaga tersebut menegaskan bahwa estimasi volume pemangkasan masih bersifat hipotetis dan tidak dapat dijadikan acuan pasti. Kepastian dampaknya terhadap pasar baru dapat dinilai setelah produsen mengumumkan rencana produksi secara resmi. (Shiddiq)
























