
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Delegasi Institute of Market Economy – Development Research Centre (IME-DRC) mengunjungi kantor Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) untuk menjajaki potensi kerja sama bilateral Indonesia dan Tiongkok di sektor komoditas nikel, khususnya terkait mekanisme penetapan harga.
Kehadiran Research Fellow, Director General, Institute of Market Economy, DRC, DENG Yusong; Research Fellow, Division Head, Institute of Market Economy, DRC, CHEN Lifen; Research Fellow, Deputy Division Head, Institute of Market Economy, DRC, WANG Nian; Associate Research Fellow, Institute of Market Economy, DRC, Huang Qianyuan; Associate Research Fellow, Institute of Market Economy, DRC, FAN Chengming sebagai perwakilan IME-DRC disambut baik oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi IME-DRC menilai Indonesia dan Tiongkok memiliki peluang kerja sama yang besar di sektor nikel. Hal ini didukung oleh posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok utama nikel bagi pasar Tiongkok, sementara Tiongkok memiliki kebutuhan nikel yang besar untuk mendukung aktivitas industrinya.
Research Fellow, Director General, Institute of Market Economy, DRC, DENG Yusong, mengatakan, kunjungan ke Indonesia bertujuan untuk memahami lebih jauh hubungan bilateral kedua negara di sektor komoditas, termasuk peluang kolaborasi dalam penetapan harga nikel.

“Kami ingin menjajaki dan mengetahui lebih jauh hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok di bidang komoditas. Kali ini, salah satu hal yang kami bahas adalah penetapan harga nikel,” kata Yusong, di Kantor DPP APNI, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, potensi kerja sama kedua negara sangat besar mengingat Indonesia memiliki peran penting dalam memasok nikel, sedangkan Tiongkok merupakan salah satu negara dengan kebutuhan nikel yang tinggi.
“Kami mengetahui bahwa Indonesia merupakan pemasok nikel terbesar bagi Tiongkok, sementara Tiongkok memiliki kebutuhan nikel yang besar. Karena itu, peluang kerja sama di bidang ini sangat luas,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai, dinamika harga nikel menjadi perhatian penting bagi kedua negara. Sebagai negara yang berperan besar dalam produksi dan konsumsi nikel global, Indonesia dan Tiongkok memiliki kepentingan untuk memahami perkembangan harga serta mekanisme pembentukan harga komoditas tersebut. Harga nikel, menurutnya, memiliki arti strategis bagi kedua negara, terutama dalam mendukung kepastian perdagangan dan keberlanjutan hubungan bilateral di sektor komoditas. Penjajakan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara Indonesia dan Tiongkok dalam industri nikel, sekaligus membuka ruang pembahasan lebih lanjut mengenai mekanisme penetapan harga yang relevan bagi kedua negara. (Fi Yun)



























