
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menghadiri serta menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama Indonesia-Polandia. Penandatanganan tersebut meliputi kerja sama pendidikan, pelatihan, dan riset pertambangan serta pengolahan mineral.
Dari Pihak Indonesia, selain APNI, Mou juga melibatkan PERIKLINDO (Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia), PERHAPI (Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia), Dewata Group serta dari institusi-institusi Perguruan Tinggi antara lain Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, sedangkan dari Polandia adalah KOMAG Institute of Mining Technology, serta terdapat juga Institute for Global Entrepreneurship & Innovation(IGEI), Berlin .
Sebagai salah satu perwakilan Indonesia, CEO Dewata Group, Paulus Warsono Broto mengatakan, kerja sama dengan sejumlah pihak dari Polandia tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi di sektor pertambangan. Salah satu fokus utamanya adalah penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan bagi tenaga ahli atau expert di bidang pertambangan.
“MoU dengan beberapa pihak Polandia ini fokus di industri pertambangan. Mereka ingin melakukan kerja sama, mulai dari pelatihan-pelatihan atau training untuk tenaga ahli di bidang pertambangan,” kata Paulus kepada nikel.co.id saat ditemui setelah acara MoU Kerja sama Indonesia-Polandia, di Kantor Dewata Group, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, Polandia memiliki pengalaman dan tradisi panjang dalam industri pertambangan. Meskipun negara tersebut tidak memiliki sumber daya nikel, Polandia mempunyai kompetensi yang dapat dipelajari Indonesia, khususnya dalam pengelolaan mineral, teknologi pemrosesan, dan pengembangan industri hilir.
“Kami berharap banyak belajar dari Polandia tentang bagaimana pertambangan bisa dikelola dengan baik. Salah satu negara yang memiliki kekayaan alam cukup bagus di Eropa adalah Polandia,” ujarnya.
Selain memiliki pengalaman di sektor batu bara dan tembaga, Polandia dinilai mempunyai kemampuan pengolahan mineral dan hilirisasi yang telah berkembang. Bahkan, pengembangan industri tembaga di negara tersebut telah mencapai tahap produksi komponen dan peralatan, termasuk motor listrik.
Pengalaman tersebut, dinilai, dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk memperluas cakupan hilirisasi mineral. Ia menjelaskan, pengolahan tembaga di Indonesia saat ini dinilai masih berfokus pada pembangunan smelter dan produksi konsentrat, sehingga perlu didorong menuju industri manufaktur yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
“Indonesia juga punya tambang tembaga yang besar di dunia, tetapi saat ini hilirisasinya belum sampai pada peralatan. Sekarang masih sampai konsentrat dan smelter. Seharusnya Indonesia memiliki hilirisasi sampai pada peralatan karena di situlah nilai tambah yang paling besar,” jelasnya.
Dia menambahkan, perkembangan industri Polandia menjadi contoh bahwa penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan teknologi dapat mendorong kemajuan industri nasional. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mengoptimalkan potensi sumber daya mineral.
Selain itu, kerja sama ini juga berpotensi membuka peluang pasar bagi produk-produk teknologi dan peralatan pertambangan asal Polandia di Indonesia. Menurutnya, peralatan buatan Polandia memiliki kualitas yang baik dengan harga yang relatif kompetitif dibandingkan produk dari negara-negara Eropa yang telah memiliki merek kuat, seperti Jerman dan Prancis.
“Secara teknologi, saya melihat peralatan-peralatan mereka juga sangat bagus kualitasnya. Harganya masih bisa terjangkau dan mungkin bisa bersaing dengan produk dari China maupun India,” ungkapnya.
Melalui kerja sama tersebut, ia berharap hubungan industri pertambangan Indonesia dan Polandia tidak hanya berhenti pada pelatihan SDM, tetapi juga berkembang menjadi kolaborasi teknologi, peningkatan kapasitas pengolahan mineral, serta penguatan rantai nilai industri pertambangan nasional.
Sebagai informasi, penandatanganan MoU kerja sama Indonesia-Polandia, pihak APNI Ditandatangani angsung oleh Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Nanan Soekarna. Selain itu, kegiatan tersebut juga turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey dan Dewan Penasihat Pertambangan APNI, Djoko Widajatno, dari PERHAPI hadir Rizal Kasli. Untuk ITB yang hadir adalah Ketua Program Studi (Kaprodi) Sarjana Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2026 adalah Dr. Eng. Ginting Jalu Kusuma, S.T., M.T.; KaprodiTeknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ir. Tria Laksana Achmad, S.T., M.T., Ph.D.; Prof. Ir. Edy Sanwani, MT., Ph.D., IPU. Institut Teknologi Bandung, UPN Yogyakarta diwakili oleh Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi, Prof. Dr. Ir. R.M. Basuki Rahmad, M.T., IPU.; Koordinator Program Studi Teknik Pertambangan, Ir. Oktarian Wisnu Lusanto, S.T.,M.Eng.,IPP; dan Koordinator Program Studi Teknik Metalurgi, M. Syukron, S.T., M.Eng., Ph.D. (Fi Yun)
Perkembangan cerita ini
Topik Periklindo →
- APNI Tandatangani MoU Indonesia-Polandia, Bidik Penguatan SDM dan Hilirisasi Mineral sedang Anda baca
- Bamsoet: Hilirisasi Nikel Jangan Berhenti di Produk-Antara, harus Berlanjut hingga Industri EV
- PNE Expo 2024: Pameran Energi Baru Terbarukan Siap Digelar di Jakarta dengan Fasilitas Hotel Gratis untuk Peserta Luar Kota
Agenda industri terdekat
- 10Nov
- 11Nov
- 12NovKonferensi & Pameran SMM (11th) Annual Nickel Conference 2026 – Ni Cr Mn Stainless Steel Event12–13 November 2026 · OCEAN HOTEL SHANGHAI, CHINA


























