
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi nikel di Indonesia perlu diperkuat melalui integrasi rantai pasok dari pertambangan, pengolahan bahan baku baterai, produksi baterai, hingga manufaktur kendaraan listrik. Langkah ini dinilai penting agar nilai tambah sumber daya nikel dapat dinikmati secara optimal di dalam negeri.

Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) & Founder National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. Evvy Kartini mengatakan, pasokan nikel domestik belum terintegrasi dengan kebutuhan pabrik baterai di Indonesia. Padahal, Indonesia telah memiliki industri pengolahan nikel dan fasilitas produksi baterai yang dapat menjadi fondasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
“Apakah nikel yang diproduksi di Indonesia ini sampai kepada pabrik baterai yang ada di Indonesia? Belum. Itu PR kita,” kata Prof. Evvy, di Jakarta, dikutip Kamis (29/10/2026).

Ia menegaskan, pemerintah perlu memastikan sebagian produksi nikel yang selama ini diekspor dapat diolah lebih lanjut menjadi material baterai di dalam negeri. Material tersebut selanjutnya dapat dipasok untuk memenuhi kebutuhan pabrik baterai nasional.
“Sebagian nikel yang kita ekspor harus dibuat menjadi material baterai di Indonesia, kemudian disuplai kepada pabrik baterai di Indonesia. Jadi, rangkaiannya berkelanjutan dan nilai tambahnya ada di kita,” tegasnya.

Penguatan keterhubungan rantai pasok tersebut, menurutnya, menjadi salah satu tugas pemerintah. Hilirisasi perlu dilanjutkan dengan membangun keterkaitan yang kuat antara industri pertambangan, pengolahan, dan manufaktur.
Selain itu, dia menjelaskan, nilai tambah komoditas nikel akan semakin besar ketika diolah menjadi produk hilir, seperti baterai dan kendaraan listrik. Maka, Indonesia perlu memastikan pengembangan industri tidak berhenti pada produksi bahan baku maupun produk antara.
“Ketika sudah menjadi baterai, nilai tambahnya bisa mencapai 150 kali. Apalagi ketika sudah menjadi kendaraan listrik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi industri kendaraan listrik nasional yang masih bergantung pada produk impor. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang melimpah serta mulai membangun industri baterai untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik.
“Kalau kita bicara downstream, kita bicara elektrifikasi dan baterai yang ada di mobil atau kendaraan listrik. Namun, kita masih mengimpor kendaraan listrik dalam jumlah besar dari luar negeri,” ucapnya.
Kondisi tersebut, kata Prof. Evvy, perlu adanya menyambungkan industri baterai dengan manufaktur kendaraan listrik di dalam negeri. Dengan demikian, produksi nikel nasional tidak hanya mendukung kebutuhan industri pengolahan, tetapi juga menjadi bagian dari rantai produksi kendaraan listrik Indonesia.

Pengembangan baterai berbasis nikel, menurut dia, perlu diikuti dengan peningkatan produksi kendaraan listrik di Indonesia agar keterkaitan industri hulu dan hilir semakin kuat. Upaya tersebut juga perlu dilengkapi dengan pembangunan industri daur ulang baterai untuk mendukung pemanfaatan kembali material yang terkandung di dalamnya.
“Yang perlu dilengkapi adalah pabrik baterai berbasis nikel untuk kendaraan listrik yang dibuat di Indonesia. Kemudian, daur ulangnya juga harus ada di sini,” pungkasnya.

Ia menambahkan, integrasi seluruh tahapan industri tersebut akan membantu Indonesia memperkuat posisi dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Dengan memaksimalkan pengolahan dan manufaktur di dalam negeri, Indonesia berpeluang memperoleh nilai tambah lebih besar dari sumber daya mineral yang dimiliki. Karena itu, lanjutnya, keberlanjutan kebijakan hilirisasi perlu diarahkan untuk membangun ekosistem industri yang menyeluruh, mulai dari pertambangan nikel, produksi material baterai, manufaktur baterai, kendaraan listrik, hingga daur ulang. (Fi Yun)
























