

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi mineral menjadi salah satu pendorong utama investasi dan strategi pemerintah untuk memperkuat fondasi industri nasional. Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dengan mengembangkan rantai nilai mineral secara terintegrasi, mulai dari sektor pertambangan hingga pengolahan menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan, salah satu sektor yang berkontribusi pada investasi nasional adalah hilirisasi mineral. Hilirisasi mineral dapat menyumbang senilai 30% dari total investasi di Indonesia.
“Kita adalah rumah bagi beberapa cadangan paling penting di dunia untuk nikel, bauksit, tembaga, dan mineral kritis strategis lainnya. Tujuan kita adalah membangun industri. Itulah sebabnya hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita,” kata Rosan dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan terdapat tiga bidang yang menonjol salah satunya yaitu elektrifikasi, yang mencakup seluruh rantai industri, mulai dari pertambangan, produksi sel baterai, hingga kendaraan listrik.
“Ada tiga bidang yang menonjol. Pertama, elektrifikasi (electrification), mulai dari tambang hingga sel baterai (battery cells) hingga mobil listrik. Indonesia kini memproduksi sel baterai di dua pabrik besar bersama Hyundai dan dengan CATL serta IBC, perusahaan BUMN kita, yang mulai beroperasi secara bertahap pada bulan Agustus,” jelasnya.

Kebijakan hilirisasi Indonesia kini tidak lagi terbatas pada pembangunan fasilitas pengolahan mineral, tetapi juga berfokus pada pengembangan ekosistem industri yang terintegrasi. Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, hingga teknologi, guna meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral secara lebih optimal.
Pengembangan rantai nilai mineral strategis tersebut salah satunya dilakukan oleh Grup MIND ID. Strategi hilirisasi perusahaan mencakup sejumlah komoditas utama, seperti nikel, bauksit, alumina, aluminium, dan tembaga.
Melalui strategi tersebut, pengolahan mineral diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan penambangan maupun produksi bahan setengah jadi. Sebaliknya, pengembangan industri didorong untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. Upaya ini juga mencakup persiapan industri daur ulang sebagai bagian dari komitmen dalam membangun ekosistem industri sirkular di Indonesia.

Kemudian, pada komoditas nikel, hilirisasi difokuskan untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Melalui Indonesia Battery Corporation (IBC), Grup MIND ID turut berperan dalam membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik yang mengintegrasikan sumber daya mineral domestik dengan industri baterai dan manufaktur kendaraan listrik.
Penguatan rantai nilai juga dilakukan pada komoditas bauksit dan aluminium melalui pengembangan industri pengolahan yang terintegrasi. Rantai produksi tersebut mencakup tahapan pengolahan bauksit menjadi alumina hingga aluminium yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur nasional. Sementara itu, hilirisasi tembaga diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan mineral strategis dalam mendukung berbagai sektor industri, termasuk kelistrikan, elektronik, dan manufaktur. Dengan demikian, pengembangan hilirisasi diharapkan mampu memperluas pemanfaatan sumber daya mineral sekaligus memperkuat basis industri nasional. (Fi Yun)


























