Bahlil: Pabrik Baterai Mobil Listrik Dibangun Agustus

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan groundbreaking tahap satu pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG asal Korea Selatan (Korsel) dimulai Agustus 2021.

“Insyaallah di bulan Agustus ini groundbreaking tahap pertama untuk pabrik baterai mobilnya. Ini menjadi yang pertama di Indonesia, bukan kacang goreng,” kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/7/2021).

Selain itu, Bahlil juga mengungkap pabrik mobil listrik yang dibangun perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Group ditargetkan pada Februari 2022 sudah mulai produksi.

“Pabrik mobil Hyundai yang nilai investasinya US$ 1,5 miliar ini dibangun terus, bulan dua atau tiga tahun 2022 itu sudah menghasilkan mobil listrik,” jelas Bahlil.

Sebagai informasi, Bahlil sebelumnya pernah mengungkap pabrik baterai mobil listrik mulai dibangun Juli 2021. Namun memang disebutkan pula paling lambat Agustus akan dibangun.

“LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal kita sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan,” jelasnya dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Sementara pabrik mobil listrik Hyundai akan menjadi pusat basis produksi pertama Hyundai di kawasan ASEAN. Sales Director Hyundai Mobil Indonesia Erwin Djajadiputra pernah mengungkap pihaknya bisa mulai produksi mobil listrik akhir tahun ini.

“Sudah hampir mencapai 90% dan akan selesai kurang lebih di bulan Juli ini di mana di akhir tahun ini kita sudah bisa mulai memproduksi,” ujar dia Senin (12/4/2021).

Sumber: detik.com

Read More

Kementerian Investasi Gandeng UI Kembangkan Industri Baterai Nasional

NIKEL.CO.ID – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (BKPM RI) menggandeng Universitas Indonesia guna mengembangkan industri baterai nasional.‎

Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia berpeluang memperoleh keuntungan ekonomi karena memiliki bahan baku baterai tersebut.

Hal tersebut terkuak dalam ‎kegiatan penandatanganan kerja sama dalam Nota Kesepahaman antara Kementerian Investasi/BKPM dan UI oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dan Rektor UI Prof. Ari Kuncoro S.E, M.A, Ph.D secara daring pada Kamis 24 Juni 2021.‎

Ruang lingkup kerjasama meliputi program magang dan beasiswa antarkedua lembaga, kolaborasi riset, penyelenggaraan seminar bersama, dan bentuk-bentuk potensi kerja sama lainnya.

Penandatangan kerja sama dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan seminar daring dengan tema ‘Prospek dan Tantangan Industri Baterai Nasional”

Dalam sambutannya, Rektor UI Prof Ari Kuncoro berharap seminar dan penandatanganan tersebut menjadi momentum awal kolaborasi antara UI, pemerintah, dan industri dalam rangka membangun ekosistem industri mobil listrik nasional.

“Kerja sama dan kegiatan seminar ini penting untuk memahami pergeseran industri otomotif dunia, dari industri berbasis bahan bakar fossil menjadi industri kendaraan berbahan dasar listrik (electric vehicle/EV),” katanya dalam keterangan tertulis Humas UI.

Sementara itu, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan salah satu visi besar Presiden RI Joko Widodo adalah mewujudkan transformasi ekonomi.

Ilustrasi baterai mobil listrik. Industri baterai nasional tengah dikembangkan Kementerian Investasi/BKPM RI bersama UI demi mengelola sumber daya nikel dalam negeri. /MYEV.com

Salah satunya melalui hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah. Pada tahun 2030 mendatang, sebanyak 70% bahan bakar kendaraan sudah beralih dari fosil menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT).

Dalam hal ini, Indonesia beruntung karena memiliki cadangan sumber daya alam nikel sebesar 25% dari total cadangan di seluruh dunia.

“Indonesia menurut saya sudah saatnya untuk keluar menjadi pemain terbesar dunia, sehingga dunia mengenal Indonesia bukan hanya sekedar Bali, yaitu pariwisatanya. Tapi dunia harus mengenal Indonesia sebagai negara industrialis yang menghasilkan baterai modern,” ujar Bahlil.

Pada sesi seminar daring, hadir Agus Tjahajana Wirakusumah selaku Komisaris Utama PT Industri Baterai Indonesia sebagai salah seorang pembicara.

Dalam pemaparannya, ia mengatakan kendaraan listrik akan mendominasi permintaan pasar otomotif pada tahun 2040.

Seiring dengan hal ini, permintaan akan kebutuhan baterai akan semakin meningkat, karena baterai merupakan salah satu komponen utama dalam EV yang mewakili 12-25 persen dari total bobot komponen kendaraan listrik.

“Di sinilah Indonesia dapat mencari celah keuntungan ekonomi, karena nikel merupakan komponen pembentuk utama katoda baterai, dan Indonesia adalah negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia,” katanya menjelaskan.

Saat ini, potensi ekonomi ini telah ditangkap pemerintah dengan membentuk suatu konsorsium industri baterai nasional, yaitu Indonesia Battery Corporation (IBC) yang terdiri dari PT ANTAM Tbk, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan Perusahaan Holding Mining Industry Indonesia (MIND ID).

Ilustrasi baterai mobil listrik. Industri baterai nasional tengah dikembangkan Kementerian Investasi/BKPM RI bersama UI demi mengelola sumber daya nikel dalam negeri.

Selain itu, saat ini pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) sebagai upaya menumbuhkan ekosistem industri EV di Indonesia.

Dalam konteks UI, pengembangan teknologi EV telah dimulai pada tahun 2012 oleh Fakultas Teknik UI (FTUI) dengan diluncurkannya MOLINA-UI (Mobil Listrik Nasional Universitas Indonesia) serta pengembangan baterai ion-lithium yang hemat energi oleh Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI.

Hal ini terus dikembangkan sampai saat ini dengan melakukan riset terkait sistem motor listrik, sistem charging baterai, serta kajian sosial ekonomi terkait perubahan perilaku konsumen otomotif.

Narasumber lain yang hadir dalam acara ini adalah Dr. Ir. Hendri DS Budiono, M.Eng (Dekan FTUI), Normansyah Duliar (Direktur Pengembangan Bisnis dan Transformasi MIND ID), Makmur (Chief Operating Officer PT Hyundai Motor Indonesia), Toto Nugroho (Direktur Utama PT Industri Baterai Nasional), dan Darmawan Junaidi (Direktur Utama PT Bank Mandiri).

Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian seminar daring yang diprakarsai oleh Direktorat Kerjasama UI berkolaborasi dengan mitra-mitra UI untuk mewujudkan konsep kerjasama penta helix yang terdiri dari akademisi, pemerintah, industri, media massa, dan masyarakat.

Sumber: Pikiran Rakyat

Read More

Bahlil Ungkap Pabrik Baterai Mobil Listrik RI Rp 142 T Dibangun Juli

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia membeberkan pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG asal Korea Selatan (Korsel) dibangun pada Juli 2021.

“LG ini sudah mulai groundbreaking bulan Juli, paling lambat Agustus awal kita sudah kita bangun, ini bukan cerita dongeng, ini sudah kita lakukan,” jelasnya dalam Rakornas dengan HIPMI secara virtual, Sabtu (19/6/2021).

Pabrik baterai mobil listrik ini akan menjadi yang pertama di Asia bahkan di dunia. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun. Bahlil juga menyebut investasi ini menjadi yang pertama kali dan terbesar pasca reformasi.

“Kita sudah membangun kerja sama dengan LG sebesar US$ 9,8 billion atau Rp 142 triliun. Ini investasi terbesar pasca reformasi baru kali ini,” katanya.

Bahlil mengungkap bahan-bahan untuk pembuatan baterai mobil listrik 50% ada Indonesia, terutama nikel. Dia tegaskan pemerintah telah melarang ekspor nikel agar bisa menjadi menjadi produsen baterai terbesar di dunia.

“Kenapa Indonesia melarang ekspor nikel? Agar Indonesia menjadi produsen terbesar untuk baterai dunia. Jadi kita tidak boleh hanya menjadi ekspor-ekspor bahan baku terus,” tegasnya.

“50% kompenen dari baterai mobil listrik adalah baterai, dan baterai itu bahan bakunya paling besar itu adalah nikel dan nikel 25% total cadangan dunia itu ada di Indonesia, mangan ini paling banyak di Sulawesi Tenggara, lalu Kobalt yang merupakan produk turunan dari nikel. Hanya litiumnya kita impor dari Australia,” tambahnya.

Bahlil berharap pengusaha tambang nikel yang sudah berizin khususnya di daerah ikut andil dalam proyek besar tersebut. Dia juga tegaskan pengusaha besar dan investor asing harus melibatkan pengusaha daerah.

“Harapannya, teman-teman yang sudah mempunyai Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di daerah bisa berkolaborasi dengan investor-investor yang masuk di Indonesia maupun pengusaha dalam negeri,” terangnya.

Sistem kolaborasi itu telah tertuang dalam UU Cipta Kerja. Bahlil menyebutkan dalam UU itu dijelaskan setiap investasi yang masuk ke Indonesia wajib melibatkan pengusaha daerah.

“Investasi yang masuk wajib bergandengan dengan pengusaha daerah kalau nggak bisa bagaimana caranya biar bisa dengan cara kita, nggak boleh pengusaha daerah hanya jadi penonton, pengusaha daerah harus ikut, dan harus ikut mengambil bagian,” tandanya.

Sebagai informasi, pabrik baterai mobil listrik PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Konsorsium LG berada di Kota Deltamas, Karawang, Jawa Barat.

Pembangunan tahap pertama ini memiliki kapasitas produksi baterai mencapai 10 gigawatt hours (GWh), yang akan dipakai untuk kendaraan listrik dari Hyundai.

Sumber: detik.com

Read More

Bahlil Tak Mau Ekspor Indonesia Tiru Zaman VOC

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menuturkan pemerintah tengah mendorong hilirisasi sumber daya alam (SDA) sehingga bisa menciptakan nilai tambah pada produk ekspor. Ia mengatakan Indonesia harus menghindari ekspor bahan mentah seperti pada zaman Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dulu kala.

“Yang penting adalah tidak boleh lagi bahan baku kita dibawa keluar. Ini nilai tambahnya kita tidak dapat. Indonesia harus betul-betul dikenal dengan kemampuan hilirisasi pada SDA. Jangan ekspor sama seperti zaman VOC. Ini menurut kami tidak bagus ke depan,” ujarnya dalam acara Investor Lokal Anak Kandung yang Perlu Didukung, Selasa (15/6/2021).

Ia menambahkan agar ekspor tak seperti zaman VOC, pemerintah sudah melakukan banyak upaya. Salah satunya, melarang ekspor ore nikel supaya bahan tambang itu bisa diolah pada smelter dalam negeri dan memberikan nilai tambah baru diekspor.

Upaya ini juga sejalan dengan target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara produsen baterai listrik terbesar di dunia. Pasalnya, bahan baku utama pembuatan baterai listrik tersebut berada di Tanah Air yakni nikel itu sendiri.

Ia menuturkan 80 persen komponen baterai listrik adalah nikel. Sementara, sebesar 25 persen cadangan nikel dunia berada di tanah Indonesia.

“Bagaimana caranya kita harus jadi negara produsen terbesar baterai mobil listrik di dunia sekarang sudah kami dorong ore nikel tidak boleh ekspor,” ucapnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga menggenjot pembangunan fasilitas pengolahan smelter di dalam negeri. Beriringan, pemerintah juga akan menarik investasi masuk pada industri baterai mobil listrik untuk mendukung target produksi baterai listrik.

Ia menuturkan sudah ada pemain global yang berkomitmen untuk menanamkan investasi di Indonesia yakni LG dengan nilai investasi US$9,8 miliar dan CATL sebesar US$5,2 miliar.

“Investasi sudah masuk di Batang (Kawasan Industri Batang) nanti pemain besar baterai itu kan LG sama CATL. LG sudah investasi nanti konsorsium dengan BUMN nilainya US$9,8 miliar atau Rp142 triliun. Itu investasi terbesar pasca reformasi dalam sejarah Indonesia tidak pernah kita sebesar itu,” katanya.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Menteri Bahlil Cerita Soal RI Jual Hasil Alam Mentah Karena Tergoda Dapat Uang Cepat

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi dan Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia sangat berlimpah. Mulai dari hutan, tambang hingga hasil laut. Namun sayangnya, Indonesia belum bisa melakukan hilirisasi. Tergoda mendapatkan uang dengan cepat, sehingga kekayaan alam dijual masih mentah tanpa diolah.

“Ini kita tergiur uang cepat, makanya jual saja bahan baku,” kata Bahlil, di Jakarta, Selasa (15/6/2021).

Bahlil menceritakan, dahulu Indonesia kaya akan kayu sehingga kayu yang tumbuh di Indonesia langsung diekspor ke Malaysia, China hingga Jepang. Indonesia sempat mengalami masa kejayaan tambang, namun karena tidak memiliki kemampuan mengelola sendiri, maka bekerja sama dengan Freeport.

“Freeport itu 90 persen cadangannya ada di Indonesia. Tidak ada industri yang seperti itu,” kata dia.

Pun dengan batu bara. Indonesia langsung menjual produk batu bara tanpa diolah terlebih dahulu. Ironisnya, kata Bahlil Indonesia mengimpor gas LPG setiap tahun dengan volume hingga 7 juta per tahun.

“Setiap tahun kita ekspor baru bara jutaan ton, tapi kita malah mengimpor gas 6 sampai 7 juta per tahun,” kata dia.

Produk Perikanan

Begitu juga dengan sektor perikanan. Indonesia sebagai negara maritim memiliki aset perikanan yang tidak berbatas. Namun, Indonesia tetap kalah dari Vietnam dan Thailand dalam hal efisiensi.

“Kita ini terlena dengan menangkap ikan lalu langsung kirim. Tapi kita kalah dari Vietnam dan Thailand dalam hal efisiensi,” kata Bahlil.

Saat ini kata Bahlil, Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar di dunia. Tak mau mengulangi kesalahan yang sama, dalam pengelolaan nikel, pemerintah akan membangun industri dari hulu ke hilir.

Bahlil mengatakan semua produk nikel ore tidak boleh langsung di ekspor, tetapi harus diolah terlebih dulu di Indonesia. Dalam proyek ini pemerintah akan menggandeng produsen kelas kakap di masing-masing bidang untuk bekerja sama dengan Indonesia.

Sumber: merdeka.com

Read More

Kunjungi KEK Bitung, Bahlil Bawa Calon Investor Hilirisasi Perikanan

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/BKPM Bahlil Lahadalia melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung, Sulawesi Utara dan menyampaikan siap membawa masuk calon investor di bidang hilirisasi perikanan.

“Saya sudah dapat calon investor, terutama di bidang hilirisasi perikanan, makanya saya datang untuk mengecek, tapi kepastiannya akan bagaimana setelah kami kembali ke Jakarta untuk memformulasikannya,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Bahlil menuturkan, kedatangannya ke KEK Bitung dilakukan sebagai tindak lanjut atas arahan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk melihat permasalahan dan hambatan yang dialami KEK Bitung.

“Dalam kedatangan ini saya ingin melihat secara dekat, sehingga kita bisa membangun suatu formulasi yang cepat dan tepat untuk mempercepat masuknya tenant-tenant ke KEK Bitung,” ujarnya.

Beberapa kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan KEK Bitung ini di antaranya adalah pengusahaan lahan, juga belum optimalnya fungsi pelabuhan Bitung dan infrastruktur penunjang lainnya di sekitar kawasan.

“Dari hasil yang kami tinjau, permasalahan tanah sudah akan selesai dan terkait konektivitas pelabuhan dan jalan tol sudah bagus, pulang dari sini saya akan melakukan koordinasi dengan kementerian untuk mempercepat proses pengembangannya,” kata Bahlil.

Dalam kesempatan yang sama, Walikota Bitung Maurits Mantiri yang ikut mendampingi kunjungan Bahlil menyampaikan harapan adanya dukungan dari pemerintah pusat dalam pengembangan KEK Bitung.

“Kami berharap dukungan dari pemerintah pusat dalam mendorong investor-investor potensial agar banyak masuk di KEK Bitung ini, sehingga bisa berdampak terhadap perekonomian di sekitar kawasan,” tutur Maurits.

KEK Bitung merupakan Kawasan Ekonomi Khusus yang mulai beroperasi 1 April 2019. Kawasan tersebut memiliki luas wilayah 534 hektare dan dikelola oleh PT Membangun Sulut Hebat yang merupakan badan usaha milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

Sumber: ANTARA

Read More

Gubernur Olly Dampingi Menteri Investasi Tinjau Lokasi KEK Bitung

NIKEL.CO.ID – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey, mendampingi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, meninjau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung, Sabtu (12/6/2021).

Pada kesempatan itu, Bahlil menuturkan kedatangannya untuk melihat berbagai persoalan yang menghambat pembangunan KEK Bitung.

“Saya kemari menjalankan arahan bapak Presiden untuk mengecek langsung Kawasan Ekonomi Khusus Bitung yang hari ini kami sudah melakukan kunjungan bahwa kemarin memang ada terjadi suatu proses dimana dalam rangka percepatan, tenan-tenan masuk dan hari ini saya datang melihat secara dekat sehingga bisa membangun suatu formulasi yang cepat, tepat untuk proses KEK ini bisa berjalan,” ujarnyq.

Bahlil mengatakan, hasil peninjauannya dilapangan sudah menunjukkan progres yang baik.

“Hasil peninjauan ternyata dari urusan tanah sudah hampir selesai, kemudian satu hal lagi mengenai konektivitas antara pelabuhan dengan kawasan ekonominya begitu juga dengan Jalan Tol, tadi saya lihat sudah bagus,” jelasnya.

Disampaikan Bahlil, pihaknya akan berkoordinasi dengan menteri terkait seperti menteri perdagangan untuk mempercepat proses KEK.

“Nah tugas kami disini adalah mencari tenannya agar ada yang melakukan investasi disini (KEK Bitung),” pungkasnya.

Sumber: manadotoday.co.id

Read More

Menteri Investasi Targetkan Tahun 2022 Investasi Menjadi 1.200 Triliun

NIKEL.CO.ID – Kementerian Investasi menargetkan realisasi investasi pada tahun depan sebesar Rp 1.200 triliun. Angka tersebut meningkat 33,3% dari target tahun ini sebesar Rp 900 triliun.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, mengatakan, target tersebut merupakan mandat dari Presiden RI Joko Widodo, setelah sebelumnya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menetapkan outlook di kisaran Rp 985 triliun hingga Rp 1.127 triliun.

Kendati demikian, Bahlil menyebut pihaknya optimistis amanat Presiden dapat tercapai. Sebab, pihaknya telah merumuskan sejumlah strategi untuk meningkatkan pundi-pundi investasi baik yang berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMI) atau foreign direct investment (FDI).

“Untuk mencapai ini dibutuhkan gizi dan pelumas yang paten punya. Karena kalau tidak ini akan berdampak sistemik dalam pengelolaan dalam menyelesaikan investasi,” kata Bahlil saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (31/5/2021).

Bahlil menyampaikan hingga Mei 2021 total ada Rp 2.964,9 triliun nilai komitmen investasi yang sudah mendapatkan izin dan dapat insentif fiskal, tapi belum tereksekusi. Sehingga, uang para investor tersebut belum direalisasikan di dalam negeri.

Untuk itu Bahlil mengatakan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja pihaknya akan segera menyelesaikan investasi mangkrak tersebut, terutama masalah kendala perizinan di daerah.

Komitmen investasi itu pula yang menjadi bekal Kementerian Investasi untuk mencapai target akhir 2022. Bahlil optimistis, dari tahun ini hingga akhir tahun depan nilai investasi tersebut bisa terealisasikan.

Strategi selanjutnya, Kementerian Investasi akan melakukan pengembangan sektor investasi berdasarkan kawasan. Pertama, Maluku didorong sebagai pusat industri nikel, baterai, dan perikanan.

Kedua, Papua akan diarahkan kepada usaha smelter, perkebunan pala, dan pupuk. Ketiga, Kalimantan sebagai pusat sektor hilirisasi baskuit dan batubara.

Keempat, Sumatera di bisang karet, ban, kertas, baskuit, hingga hilirisasi kelapa sawit. Kelima, Jawa bakal dikembangkan sebagai kawasan pusat baterai mobil, prelursor, dan pabrik kaca. Keenam, Bali dan Nusa Tenggara sebagai kawasan pariwisata dan kawasan kesehatan untuk lansia.

Sejalan dengan itu, Bahlil mengatakan dengan adanya Satgas Investasi yang mulai bekerja di awal bulan ini, pemerintah akan mempercepat realisasi investasi. Pe,bentukan Satgas itu sebagaimana diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan Investasi.

Struktur Satgas Percepatan Investasi antara lain Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia ditunjuk menjadi ketua satgas, dengan dua wakil yaitu Wakil Jaksa Agung dan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Bahlil menegaskan satgas Investasi dibentuk untuk melakukan pengawalan end to end dan penyelesaian hambatan pelaksanaan berusaha. Dengan demikian akan meningkatkan investasi dan kemudahan berusaha dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja.

Sumber: Kontan

 

Read More

Agustus 2021,Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Pertama di Indonesia Bakal Dibagun di Jawa Barat

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menarangkan pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia akan dibangun di Jawa Barat nanti Agustus 2021.

“Pembangunan (pabrik) 10 giga pertama untuk baterai mobil (listrik) di Jawa Barat. Kita bikin lagi juga di Jawa Tengah,” ujar Bahlil di Jakarta, (23/5).

Namun, Bahlil bekum bisa menerangkan secara detail perusahaan mana yang dipilih di Jawa Barat.

“Investasi pabrik baterai kendaraan listrik yang sedang berjalan berasal dari perusahaan LG sebesar US$9,8 miliar dan Contemporary Amperex Technology Co (CATL) sebesar US$5,2 miliar,” terangnya.

Tentang pembangunan tersebut, kata Bahlil, adalah tindak lanjut dari kebijakan pemerintah melarang ekspor nikel 2019 lalu. Karena hal tersbut, Ia mengaku banyak yang memprotes kebijakan itu.

“Semua orang demo, saya bilang nggak apa-apa mau didemo. Satu setengah bulan saya dihajar. Tapi kalau bukan sekarang kita selesaikan, kapan lagi? Dan apa yang terjadi? Hari ini Indonesia akan jadi satu negara terbesar dalam menyiapkan kepada negara di dunia untuk kontribusi pabrik baterai untuk mobil listrik,” cetusnya.

Bahlil melanjutkan alasan pelarangan ekspor harus diterapkan sebab Indonesia kurang cermat dalam memanfaatkan daya alam yang dimiliki.

Adapun digadang-gadang LG Energy Solution mengerahkan investasi untuk pembangunan pabrik kendaraan listrik di Batang, Jawa Tengah.

Sumber: industry.co.id

 

Read More

Menteri Bahlil Bongkar Banyak Kekayaan Alam RI Hilang, Ini Penyebabnya

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mengakui bahwa banyak kekayaan alam di Indonesia yang hilang akibat tidak adanya hilirisasi. Salah satu contohnya adalah kayu.

Dia mengatakan masa keemasan Indonesia pada saat itu adalah kayu. Namun sekarang semua hutan-hutan di Indonesia ditebang baik yang ada di Pulau Kalimantan maupun Sumatera sehingga sudah habis.

“Pertanyaan berikut apakah ada perusahaan 10 besar berasal dari Indonesia yang menguasai dunia untuk hilarisasi kayu? Tidak ada. Karena kayu kita ekspor kirim barang mentah negara lain yang mendapatkan nilai tambah,” kata Menteri Bahlil dalam kuliah umum di Universitas Citra Bangsa Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (22/5/2021).

Kemudian masa keemasan kedua adalah emas. Saat ini tambang emas terbesar di Indonesia yakni Freeport sebentar lagi akan berakhir, namun tidak ada hilirisasi yang memberikan nilai tambah. Oleh karena itu, pemerintah mengambil alih untuk mengakuisisi 51 persen saham Freeport yang selama ini dikuasai oleh asing

“Ini baru dipaksa-paksa bangun smelter di masa pemerintahan Pak Jokowi mengakuisisi 51 persen saham Freeport yang selama ini dikuasai oleh asing bayangkan,” tegasnya.

Selain itu kekayaan alam yang hilang adalah ikan. Indonesia memiliki perairan laut yang cukup luas, akan tetapi masih kalah saing untuk membangun industri ikan dengan Vietnam dan Thailand.

“Kenapa karena kita tidak pernah memikirkan hilirisasi. Batubara kita sudah hampir habis kita kirim terus padahal kita masih impor gas 5,4 juta dan itu pertahun dan kita tidak pernah memikirkan hilirisasi kita impor padahal itu bisa menjadi substitusi impor,” jelasnya.

Nikel

Satu-satunya yang tersisa yang ada adalah nikel. Oleh sebab itu, ketika dirinya dilantik menjadi Kepala BKPM pada 2019 lalu tidak butuh waktu lama dirinya langsung membuat gebrakan melarang ekspor barang mentah nikel. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan adanya hilirisasi.

“Ketika saya dilantik menjadi kepala BPKP empat hari langsung menggumumkan untuk melarang ekspor nikel. Ketika itu semua orang mendemo saya, saya bilang tidak papa mau didemo tidak papa. Satu setengah bulan saya di hajar tapi kalau bukan sekarang kita menyelesaikan kapan lagi,” jelasnya.

Adanya larangan ekspor barang mentah nikel ini lantas membuat Indonesia digugat di pengadilan internasional atau WTO. Karena sejumlah negara tetap menginginkan agar Indonesia mengirimkan barang mentah tersebut untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang bernilai tambah.

Sumber: liputan6.com

Read More