

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menghadiri focus group discussion (FGD) yang membahas penyusunan dan penyelarasan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola environmental, social, and governance (ESG) untuk industri nikel.
Director of Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, mengatakan, perancangan standar ESG ini merupakan bagian dari kolaborasi Perhapi, APNI dan FINI dalam merumuskan standar ESG yang sesuai dengan karakteristik industri nikel.
“Ini adalah kolaborasi PERHAPI, APNI dan FINI. Makanya kenapa kita khusus nikel, nggak lain-lain,” kata Tonny kepada nikel.co.id, di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Pembahasan standar ini telah melalui serangkaian diskusi kelompok kecil dan pelibatan para ahli selama hampir dua tahun. Berdasarkan pembahasan dalam forum tersebut, draf standar ESG telah diselesaikan, mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Tahapan yang berlangsung saat ini difokuskan pada pembahasan dan penyelarasan substansi standar sebelum proses selanjutnya. Ia menjelaskan pembahasan aspek lingkungan dan sosial telah dilakukan sebelumnya.
“Kalau standarnya, drafnya sudah selesai, baik environmental, sosial, maupun governance. Tinggal pembahasan,” jelasnya.

Penyusunan standar, katanya, dilakukan melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil dengan melibatkan para ahli selama hampir dua tahun. Proses tersebut bertujuan untuk membahas berbagai aspek yang diperlukan dalam penyusunan standar ESG industri nikel.
Kehadiran APNI dalam forum yang diadakan di Kantor PERHAPI, Jakarta tersebut diwakilkan oleh Dewan Penasihat Pertambangan APNI, Djoko Widajatno. Selain APNI, turut hadir Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusuma, dan sejumlah perwakilan dari PERHAPI. (Fi Yun)


























