Beranda Asosiasi Pertambangan Geopolitik Global Hambat Pasokan Bahan Tambahan Pengolahan Limonit

Geopolitik Global Hambat Pasokan Bahan Tambahan Pengolahan Limonit

Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno (doc. MNI/fi yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Keterbatasan pasokan bahan baku tambahan dan dinamika geopolitik global menjadi tantangan bagi perusahaan pengolahan limonit dalam menjaga keberlangsungan produksi. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk menyesuaikan kapasitas produksi sekaligus memperkuat strategi pengembangan usaha dan pengelolaan lingkungan.

Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, mengatakan, kebutuhan bahan tambahan untuk mengolah limonit menjadi salah satu kendala utama operasional. Setiap ton limonit membutuhkan sekitar 900 kilogram material sulfuric acid.

“Setiap ton limonit membutuhkan sekitar 900 kilogram material tersebut. Namun, saat ini kami mengalami kesulitan mendapatkan pasokan tambahan akibat situasi geopolitik global,” kata Djoko, di Jakarta, dikutip Senin (19/10/2026).

Keterbatasan pasokan tersebut, menurutnya, turut memengaruhi kegiatan produksi, sehingga produksi tahun ini mengalami penurunan sekitar 30%. Selain kendala bahan baku, persoalan pembangunan dan keterbatasan anggaran pemerintah juga disebut memengaruhi kondisi operasional.

“Seperti yang anda tahu, duplikasi operasi pembangunan masih berkurang. Tapi tahun ini, kekurangan tersebut karena masalah pembangunan dan budget dari pemerintahan,” ujarnya.

Menghadapi situasi tersebut, ia menyebutkan tengah berupaya memperkenalkan kapasitas yang dimiliki sekaligus mengembangkan kemampuan produksi untuk memenuhi kebutuhan pada masa mendatang. Upaya itu dilakukan melalui pengintegrasian proses pengolahan dengan fasilitas yang tersedia.

“Kami mencoba untuk memperkenalkan beberapa kapasitas, sehingga kami masih berkembang. Tujuan kami adalah bagaimana untuk memperkenalkan kapasitas di masa depan. Jadi, apa yang kami lakukan? Kami mencoba untuk menghubungkan semuanya dengan prosesnya,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengembangan usaha yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Menurutnya, kegiatan pertambangan kerap mendapat sorotan karena berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan. Tetapi, dia menilai kegiatan pertambangan harus dijalankan dengan memperhatikan ketentuan dan tanggung jawab lingkungan pada setiap tahapan, mulai dari eksplorasi hingga penutupan tambang.

“Kami berhak untuk menjaga lingkungan. Dari eksplorasi hingga penutupan tambang, kami juga mempertimbangkan lingkungan dan berupaya menjaganya,” pungkasnya.

Ia menyampaikan saat ini pihaknya terus mengupayakan untuk mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Kerja sama tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan operasional sekaligus memastikan kegiatan usaha berjalan secara bertanggung jawab. Tantangan dalam pengembangan industri, menurutnya, tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, kolaborasi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dan mendorong perbaikan proses produksi. (Fi Yun)