Nikel dan Baterai Listrik: Analisis di Balik Batalnya Investasi Jumbo Tesla dan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Indonesia disebut sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, yakni mencapai 21 juta ton. Angka ini mengungguli Australia yang diperkirakan memiliki cadangan nikel sebesar 19 juta ton, Brasil 11 juta ton, dan Rusia 7,6 juta ton.

Dengan adanya potensi tersebut, pemerintah berupaya memaksimalkan penggunaan nikel lewat pengembangan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik. Targetnya, produksi EV pada 2030 dapat mencapai 600.000 unit untuk roda empat atau lebih, sedangkan roda dua 2,45 juta unit.

Tujuan pengembangan EV ini diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat atau lebih, dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua.

Selama ini, pertumbuhan rata-rata penggunaan nikel untuk baterai dapat dikatakan cukup cepat, yakni 20%-30% selama lima tahun terakhir. Penggunaan nikel untuk bahan baku baterai juga diperkirakan naik lima kali lipat menjadi 1,7 juta ton pada 2030. Seperti diketahui, pada tahun lalu penggunaan nikel untuk produk ini baru sebesar 0,2 juta ton.

Genjot Potensi, Manfaatkan Peluang

Maka, tak heran jika pemerintah terus berupaya menjalankan strategi agar dapat mendatangkan investasi di sektor ini. Beberapa waktu lalu, negosiasi dengan sejumlah perusahaan telah dilakukan, seperti Tesla Inc dan Tsingshan Steel.

Semula, kerja sama yang akan dijalin dengan Tesla berkaitan dengan battery energy storage system (BESS). Teknologi ini merupakan penyimpanan sumber energi skala besar dengan kapasitas puluhan hingga ratusan mega watt.

BESS juga dapat digunakan sebagai stabilisator dan berguna untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik masyarakat. Rencananya, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat tersebut akan mengambil bahan baku nikel sekaligus membangun bisnisnya di Indonesia.

Sementara itu, proyek bersama perusahaan asal China, Tsingshan pada awalnya bakal dijalin dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Keduanya ingin membangun smelter copper di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Tak main-main, investasi yang diprediksi saat itu mencapai US$2,5 miliar setara Rp36 triliun. Dalam pembiayaannya, 92,5% akan diambil oleh Tsingshan, sedangkan Freeport hanya mendanai sebesar 7,5%.

Kesepakatan Gagal Tercapai, Investor Putar Haluan

Namun, perundingan kerja sama antara keduanya terpaksa menghasilkan pil pahit. Pasalnya, baik Tesla maupun Tsingshan memilih untuk membatalkan rencana investasi.

Dalam perundingan, Tesla disebut lebih menginginkan potensi energy storage system (ESS), salah satu proyek rantai pasok ekosistem industri baterai di Indonesia. Dengan kata lain, arahnya lebih kepada pengganti pembangkit listrik.

Bahkan, diketahui belum lama ini Tesla telah meneken kerja sama dengan perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia. Elon musk sebagai pemilik Tesla, memutuskan untuk membeli nikel di perusahaan tersebut sebagai bahan baku mobil listriknya. Keduanya juga akan berkolaborasi dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan.

Sementara itu, batalnya rencana investasi dengan Tsingshan disebut oleh Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama, hanya karena kedua belah pihak tidak menemukan kesepakatan

“Freeport Indonesia dan Tsingshan Steel tidak mencapai kesepakatan,” mengutip Reuters, beberapa waktu lalu.

Freeport, ungkapnya, lebih memilih opsi untuk membangun smelter tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur. Menurutnya, fasilitas listrik dan pengolahan limbah di lokasi tersebut lebih baik ketimbang di Weda Bay.

Kesiapan Industri Hulu Hingga Hilir

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengakui, Indonesia memang dilirik sebagai pemegang penting peranan sumber bahan baku baterai.

Pasalnya, kesediaan nikel di Indonesia cukup melimpah. Namun, soal kesiapan industrinya, ia bilang hal ini berhubungan dengan banyak hal, seperti bagaimana dukungan pemerintah, penataan unsur bahan baku, serta spesifikasi nikel, mangan, kobalt untuk kebutuhan baterai itu sendiri.

“Bahan baku siap, tapi ekosistemnya yang betul-betul harus diatur dulu,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Agustus 2021.

Ia menyebutkan, terdapat 96 badan usaha industri hilir nikel yang nanti akan terbangun pada 2024 atau 2025. Artinya, dari 96 usaha yang sudah terdata itu, ada kebutuhan kurang lebih 250 juta ton bijih nikel di Indonesia.

Selain itu, Meidy mengungkapkan perlunya menciptakan good meaning practice di industri hulu.

“Apapun itu, hilir tidak akan berjalan tanpa ada bahan baku dari hulu. Artinya, supply chain stabil atau tidak, baik secara kuantitas maupun kualitas,” tambahnya.

Selama ini, kata dia, masih banyak spesifikasi nikel yang tidak sesuai dengan kondisi tambang yang ada. Rasio silikon magnesium pada nikel yang tidak sesuai, akhirnya membuat pengiriman ke smelter terpaksa di-reject.

Ekosistem Belum Berjalan

Maka, dibutuhkan pengelolaan dan manajerial yang tepat dan cepat, termasuk sinergi pelayanan publik dari kementerian terkait.

“Kondisi ini yang betul-betul harus kita cermati, ekosistemnya sudah berjalan atau belum? kenapa Tesla atau negara-negara penghasil baterai, baik di Eropa maupun Amerika malah berpindah haluan?” ujarnya.

Menurutnya, kondisi nikel di Indonesia pun tak kalah kualitasnya. Namun, tak dimungkiri bahwa investor seperti Tesla bukan hanya melihat kondisi dan bahan bakunya saja, melainkan juga mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Medy bilang, secara tidak langsung penambangan di Indonesia memang masih ada yang belum memperhatikan kondisi dan penataan lingkungan. Bagaimana penambangan baik yang tidak menghancurkan lingkungan.

“Di industri hilir masih banyak area pencemaran lingkungan, seperti pada penggunaan bahan baku batu bara sehingga emisi karbon cukup tinggi,” ujarnya.

Jadi, apakah fasilitas pengolahan nikel di Indonesia itu sudah menggunakan energi bersih? Hal ini mesti dicermati. Meidy mengatakan, mayoritas smelter yang beroperasi pun belum menggunakan renewable energi. Upaya ke depan agar produksi nikel ini lebih bermanfaat dari sisi lingkungan, perlu dikembangkan renewable energi, seperti hidroenergi atau geothermal.

Komitmen Kelola Lingkungan

Hal ini juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM periode 2016-2019. Ia sempat menganalisis sejumlah faktor mengapa Tesla lebih memilih nikel dari perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia.

Menurutnya, pertama adalah tekanan dari pemegang saham agar Tesla berpartisipasi mengurangi dampak dari perubahaan iklim.

“BHP selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Perusahaan ini juga berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil,” ujarnya dalam sebuah acara daring pekan lalu.

Oleh karena itu, komitmen yang kuat dalam mengelola tambang telah dibuktikan oleh BHP melalui penggunaan energi terbarukan.

Faktor kedua adalah kesamaan visi antara Tesla dengan BHP. Tak asing lagi, keduanya ingin mengatasi masalah lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi pada energi bersih. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. Pandangan jauh ke depan itulah yang akan menguatkan posisi mereka di mata investor.

Kemudian faktor ketiga, kerja sama ini dianggap mampu menaikkan nilai saham kedua perusahaan.

“Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerja sama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan,” tambahnya.

Kendati Tesla bisa mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka menjadi kerugian yang besar pula.

Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi apabila BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan? Nilai saham BHP bisa turun. Fakta inilah yang disebut Arcandra sebagai fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia berstatus go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan apabila tidak ingin ditinggal investor.

Terakhir, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah Australia untuk membantu perusahaan-perusahan tambang dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Pemerintah setempat dinilai hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan.

Sejumlah Tantangan

Meskipun demikian, komitmen saja rupanya tak cukup. Upaya pengembangan EV tak luput dari sejumlah tantangan. Arcandra menyebut, EV memiliki harga lebih mahal. Selain itu, ia juga memiliki jarak tempuh yang terbatas.

“Seseorang bisa menjadi ragu menggunakan mobil listrik,” ujarnya.

Kemudian, kuantitas charging station atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dibutuhkan juga harus tersedia. Baterai EV pun harus diganti setiap beberapa tahun. Dibutuhkan 6000-7000 cycle untuk bisa diganti.

Terakhir, waktu pengisian dan costnya lebih lama dibandingkan dengan kendaraan umum lainnya. Seperti diketahui, pengisian daya (cas baterai) mobil listrik atau sepeda motor battery electric vehicle (BEV) juga dikenai tarif biaya di SPKLU.

Sumber: trenasia.com