Miliki Cadangan Nikel Terbesar, Kadin Optimistis RI Kuasai Pasar Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai akan menjadi produsen baterai lithium dan mobil listrik terbesar di dunia, seiring besarnya pasokan nikel untuk pembuatan baterai lithium yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

“Indonesia punya kandungan nikel yang luar biasa banyak. Seharusnya Indonesia bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Arsjad yang juga calon ketua umum Kadin Indonesia periode 2021-2026, menyatakan bahwa pengembangan mobil listrik akan menimbulkan efek domino dan meningkatkan peran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada industri otomotif dalam negeri.

“Apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik adalah ide yang luar biasa. Kita harus siap kalau ingin berkembang dan berkompetisi. Kita bisa leading,” ujar Arsjad.

Namun, ia mengingatkan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain terdepan dalam industri mobil listrik dunia.

Selain memiliki sumber daya alam melimpah berupa nikel, Indonesia juga harus memperlengkapi diri dengan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi, memanfaatkan komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan membeli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia.

“Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. Yang penting, di akhirnya adalah intellectual property milik Indonesia. TKDN, komponennya banyak di Indonesia dan cost baterai buatan Indonesia akan lebih kompetitif. Kita berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang kokoh,” ujar Arsjad.

Presiden Joko Widodo, telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2017, Indonesia mampu menghasilkan 2,12 juta ton nikel pig iron (NPI) dan 482.400 ton feronikel (FeNi) pada tahun 2017.

Data Badan Geologi menyebutkan bahwa per tahun 2012, Indonesia memiliki 1,02 miliar ton dari total cadangan nikel, terutama berlokasi di Sulawesi dan Maluku.

Sumber: ANTARA

Read More

Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik

Oleh: Ahmad Yani *)

Indonesia Battery Corp seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat.

NIKEL.CO.ID – Ditandatanganinya shareholder agreement oleh empat BUMN energi dan tambang pada 16 Maret 2021 menandai terbentuknya Indonesia Battery Corporation (IBC). Keempat BUMN tersebut adalah PT Pertamina, PT PLN, PT MIND ID, dan PT ANTAM.

Korporasi ini akan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kepemilikannya sama rata, masing-masing 25%.

Dengan semakin menuanya bumi, keberadaan IBC ini sangat mendesak dan menjadi solusi bagi isu pemanasan global dan efek rumah kaca. Bahan bakar fosil kelak akan habis. Lahirnya mobil listrik menjadi tumpuan harapan jutaan umat manusia dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baterai electric vehicle (EV) akan menjadi penentu kualitas kehidupan manusia ke depan. Kabar baiknya, Indonesia adalah negara terbesar penghasil bahan bakunya, yaitu nikel. Porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.

Indonesia juga unggul dari sisi demand. Potensi kendaraan roda dua mencapai 8,8 juta unit dan 2 juta unit untuk roda empat pada 2025. Competitive advantage dari supply chain yang ada, setidaknya 35% komponen EV dapat bersumber dari dalam negeri.

Tumpah ruahnya nikel sebagai potensi bisnis dunia tidak luput dari pantauan big fish company di bidang EV. Siapa yang tidak mengenal Tesla. Pemerintah dan Tesla berencana bekerjasama dalam produksi baterai EV.

Perusahaan baterai EV lainnya juga tidak mau kalah agresif mengambil kesempatan ini. Ada LG dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dari China. Tawaran menggiurkan membanjiri pasar EV Indonesia. Indonesia bebas mau kerja sama seperti apa.

Keberadaan IBC selaras dengan aturan main yang sebenarnya sudah ada. Industri ini merupakan bagian percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2019. Perpres ini juga mengamanatkan bahwa pabrik harus dibangun di Indonesia.

Cadangan nikel sebagai penggerak utama bisnis juga melimpah sejak bijih nikel dilarang untuk diekspor oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian.

Sebagai perusahaan yang mengemban amanah dan tugas yang strategis, IBC perlu mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki. Dukungan empat BUMN besar dan warisan sumber daya yang melimpah perlu dilaksanakan secara efektif.

Penulis menawarkan lima faktor yang perlu diperhatikan, yakni operating company, demand-based product, kontrak penjualan, kerja sama teknologi, dan gap funding.

Pertama, operating company. Industri ini akan diorkestrasi dan dimobilisasi oleh IBC dari hulu sampai hilir. Mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Ada baiknya IBC menjalin kerja sama dengan perusahaan penguasa pangsa pasar di setiap lini bisnis. Misalnya perusahaan pengolahan nikel, scope ini dikuasai salah satu swasta dengan market share terbesar. Ini selaras dengan Pasal 6 Ayat (3) Perpres 55/2019 yang mengamanatkan gotong royong pemerintah dan swasta.

Kedua, produk harus sesuai demand. IBC perlu memilih baterai apa yang akan dibuat sekarang dan nanti. Saat ini produk yang paling laku hybrid electric vehicle (HEV). Maklum, harganya yang murah sesuai kocek masyarakat Indonesia.

Kalau mau dijual keluar, baterai full listrik atau battery electric vehicle (BEV) dapat menjadi pilihan. Secara global, Tesla adalah market leader mobil listrik yang menjadikan produk ini laku di pasar dunia.

Ketiga, kontrak penjualan. IBC perlu mengadakan kontrak dimaksud dengan pemilik market share mobil listrik terbesar di dunia. Misalnya Tesla Model 3 yang mencetak sales terbesar 2019. Kepastian penjualan ini mendukung keberlangsungan bisnis.

Keempat, kerja sama teknologi. Hal ini krusial karena membuat baterai EV tidak mudah. Produk ini menghadapi permasalahan seperti degradasi baterai dan perlu standarisasi kualitas.

Kebetulan, dua perusahaan baterai EV top dunia (LG dan CATL) sudah menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Momen ini dapat digunakan IBC untuk menggandeng keduanya dalam peningkatan teknologi.

Kelima, gap funding. Investasi baterai EV membutuhkan dana yang tidak ‘kaleng-kaleng’. Bayangkan saja, membuat baterai di lumbung nikel terbesar di dunia. Momennya pas sekali. Indonesia baru saja melahirkan Sovereign Wealth Fund bernama Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Investment vehicle bermahzab equity financing ini sangat jauh dari isu utang. Nantinya investor besutan LPI akan patungan dengan IBC dan mitra lain di anak perusahaan yang butuh suntikan.

Sebagai operating company yang futuristik dengan mitra teknologi yang mumpuni, IBC seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat. Korporasi ini diharapkan dapat mewujudkan baterai EV yang kompetitif dan berkualitas.

*) Ahmad Yani adalah Tenaga Pengkaji Restrukturisasi, Privatisasi, dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan, Kementerian Keuangan

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik“.

Read More

Sinyal Negatif dari China untuk Emiten Nikel

Harga nikel diprediksi masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan.

NIKEL.CO.ID – Tekanan tambahan datang untuk emiten nikel seiring dengan upaya China menekan inflasi komoditas dan prospek penambahan pasokan.

Perdana Menteri China Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi di pasar bahan mentah untuk menekan biaya yang ditanggung perusahaan di tengah reli harga komoditas.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial juga mengatakan hal serupa. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah inflasi harga produsen naik 4 persen atau laju inflasi tercepat dalam hampir 3 tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, harga nikel turun 2,8 persen menjadi US$16.134 per ton di London Metal Exchange, Selasa (13/4). Harga komoditas logam itu sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton. Nikel mencetak penurunan berturut-turut selama 5 hari perdagangan.

Pada saat yang sama, harga nikel kontrak Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen ke level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton akhir Februari.

Broker Komoditas Anna Stablum menjelaskan komentar kedua Li Keqiang mengenai pengendalian biaya memunculkan tekanan tambahan bagi harga nikel.

Sementara itu, laporan BMO menyebut komentar Liu He merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi yang menjadi perhatian pemerintah China, terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan itu menjelaskan Pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mencakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” tulis laporan BMO.

Sentimen lain yang menekan harga nikel adalah prospek pemulihan produksi MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Perusahaan asal Rusia tersebut melaporkan kegiatan produksi di tambang Oktyabrsky telah berjalan normal setelah sempat terhambat banjir.

Manajemen Nornickel menjelaskan jumlah output tambang Oktyabrsky akan pulih ke level normal pada April. Sementara itu, tambang lain yang terdampak masalah banjir, Taimyrsky, akan beroperasi penuh pada Juni.

“Kapasitas tambang di Oktyabrsky saat ini sudah mencapai 60 persen dari target,” kata manajemen Nornickel dalam siaran pers yang dikutip dari Bloomberg.

Tahun lalu, Nornickel juga menghadapi masalah pada tambangnya. Nornickel yang merupakan penghasil paladium dan nikel terbesar di dunia harus membayar kompensasi US$2 miliar akibat tumpahan diesel pada salah satu tangki bahan bakarnya di wilayah Arktik. Bulan lalu, tiga orang pekerja tewas akibat atap salah satu fasilitas pemrosesan milik perusahaan runtuh saat sedang diperbaiki.

Pemulihan AS

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan harga nikel dipicu oleh tren positif yang dinikmati dolar Amerika Serikat seiring dengan laju pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang berada di atas ekspektasi.

Selain itu, penguatan imbal hasil US Treasury juga ikut menekan pergerakan harga komoditas, termasuk nikel. Hal ini membuat daya tarik komoditas sebagai lawan dari mata uang dolar AS menurun di mata para investor.

“Sentimen perbaikan ekonomi AS pascastimulus sebesar US$1,9 triliun dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan profit taking,” jelasnya saat dihubungi.

Menurutnya, tren koreksi harga nikel saat ini terbilang wajar. Dia menilai level harga nikel saat ini sudah terlalu tinggi sehingga koreksi akan terjadi agar pasar dapat mengambil posisi beli pada harga yang lebih rendah.

Ibrahim memperkirakan harga nikel masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan. Harga nikel berpotensi menyentuh US$15.600 per ton dengan level tertinggi di kisaran US$17.000 per ton.

Kendati tengah melemah, Ibrahim meyakini peluang penguatan harga nikel masih terbuka seiring dengan rencana paket stimulus sektor infrastruktur yang tengah dibahas AS. Saat ini, perdebatan tentang stimulus Biden tengah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Republik menolak rencana kenaikan pajak korporasi untuk menopang stimulus itu.

Rencana paket stimulus senilai US$2,25 triliun itu mencakup sejumlah program, mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi energi terbarukan, hingga pajak korporasi.

“Apabila stimulus infrastruktur ini berhasil direalisasi, harga nikel berpotensi kembali menguat. Saat ini pasar nikel memang belum memiliki sentimen positif yang signifikan,” jelasnya.

Faktor pendukung prospek harga nikel lainnya adalah kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Permintaan ini seiring dengan pengembangan mobil listrik di sejumlah negara.

Ibrahim memprediksi harga nikel akan bergerak di kisaran US$13.000-US$19.000 per ton hingga paruh pertama tahun ini.

Senada, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan koreksi harga nikel terbilang wajar mengingat pergerakannya yang telah mencapai level tertinggi beberapa waktu lalu. Selain itu, tren apresiasi dolar AS juga ikut menekan harga komoditas, termasuk nikel.

“Sejumlah sentimen, seperti refationary trade, isu vaksin virus corona, dan stimulus Pemerintah AS sudah diperhitungkan [priced-in] oleh pasar. Harga nikel sebelumnya menguat didorong oleh berbagai ekspektasi yang sudah berlangsung sejak kuartal II/2020,” katanya.

Wahyu melanjutkan, saat ini pasar nikel berada pada fase tarik-menarik antarsentimen. Di satu sisi, penguatan dolar AS yang didukung oleh prospek pemulihan ekonomi serta kekhawatiran akselerasi inflasi menjadi faktor penurun harga. Di sisi lain, rebound ekonomi global akan memicu pemulihan permintaan nikel.

Wahyu melihat peluang penguatan harga nikel sepanjang 2021 masih cukup terbuka. Meskipun demikian, level harga nikel yang tinggi dan sentimen pasar yang didera kecemasan inflasi berpotensi memicu koreksi cukup dalam.

“Untuk jangka menengah, harga nikel akan berada di level US$14.000-US$18.000 per ton. Sementara itu, untuk 2021, kisaran harganya di US$13.000-US$21.000 per ton,” katanya.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan emiten produsen nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah kurang bertenaga. Laju saham ANTM serta INCO telah terkoreksi 12,69 persen dan 32,77 persen dalam 3 bulan terakhir.

Manajemen Aneka Tambang (Antam) menyatakan akan fokus ekspansi di bisnis penghiliran mineral seperti tecermin dari upaya perseroan untuk terus mengejar penyelesaian proyek smelter feronikel dan SGAR agar dapat segera berkontribusi terhadap kinerja perseroan di tengah outlook nikel yang semakin positif.

Hingga akhir 2020, smelter Feronikel Haltim mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98 persen. Pabrik Feronikel Haltim line-1 nantinya memiliki kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Setelah rampung, smelter itu akan menambah portofolio kapasitas produksi total Antam menjadi 40.500 TNi per tahun dari kapasitas saat ini 27.000 TNi.

Di sisi lain, ANTM telah resmi tergabung dalam Indonesia Battery Corporation yang merupakan holding BUMN yang menaungi industri baterai kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir bersama dengan MIND ID, PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dalam rantai industri tersebut, ANTM berkomitmen untuk memasok bahan baku baterai kendaraan listrik, yaitu nikel.

Sejalan dengan itu, perseroan juga mematok target produksi dan penjualan bijih nikel secara agresif pada tahun ini. Padahal, pada 2020 perolehan produksi bijih nikel ANTM hanya sebesar 4,6 juta wmt dengan penjualan 3,3 juta wmt.

Sumber: bisnis.com

Read More

Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

oleh: Dwi Suryo Abdullah *)

NIKEL.CO.ID – Nikel adalah elemen logam dengan nomor atom: 28 dan berat atom: 58.6934 berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit pada umumnya terbentuk secara alami yang merupakan elemen paling umum kelima di bumi dan muncul secara luas di kerak dan inti bumi. Nikel juga disebut sebagai logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam yang dikenal memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi, sehingga nikel sering digunakan sebagai lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak karena mempunyai kemampuan untuk menahan suhu yang sangat tinggi.

Mayoritas nikel yang ditambang saat ini sekitar 60 persen digunakan untuk membuat baja campuran nikel (baja nikel) seperti baja tahan karat, kuat dan tahan korosi. Nikel sering dicampur dengan besi dan logam lain untuk membuat magnet yang kuat yang dikenal sebagai magnet Alnico, merupakan bahan campuran dari aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Campuran nikel lainnya digunakan pada poros baling-baling kapal dan sudu turbin gas, kubah, suku cadang mesin, pipa yang digunakan di pabrik desalinasi merupakan campuran nikel dengan tembaga , sering juga digunakan untuk pelapis produk kran air sehingga memberikan efek yang kilap /kemilau.

Selain Itu nikel juga digunakan untuk bahan utama baterai, uang koin, senar gitar, dan pelat baja. Sebagai contoh banyak baterai berbasis nikel dapat diisi ulang seperti baterai NiCad (nickel cadmium) dan baterai NiMH (nickel-metal hydride) yang digunakan pada kendaraan hibrida. Bahkan dikembangkan sebagai material pembuat chip, pada tahun 1881 nikel murni digunakan untuk koin di Swiss meskipun uang koin di AS pertama kali menggunakan nikel yang dicampur dengan tembaga pada tahun 1857.

Beberapa sifat nikel adalah sebagai logam yang keras namun mudah dibentuk dan ulet serta menjadi konduktor panas dan listrik yang baik. Disamping Itu nikel disebut bivalen yaitu memiliki valensi dua, merupakan logam yang larut perlahan dalam asam encer dengan titik leleh pada temperatur 1.453 ° C dan titik didih 2.913 °C. Nikel memiliki sifat fisik dan kimia yang luar biasa, dapat menjadikan banyak produk yang meningkat valuenya apabila dicampurkan dengan nikel seperti berbagi jenis baterai kendaraan listrik dengan bahan utama dari Nikel termasuk pelapis baling-baling kapal, mesin jet maupun sudu turbin gas bahkan juga sering dijumpai pada ribuan produk lainnya.

Nikel bersama dengan besi juga merupakan elemen umum dalam meteorit sehingga banyak dijumpai namun tidak banyak ditemukan pada tumbuhan, hewan dan air laut. Sehingga banyak ilmuwan meiyakini bahwa deposit besar bijih nikel ini adalah hasil dari tabrakan meteor purba, karena itulah Nikel merupakan logam yang keras dan tahan korosi.

Negara yang merupakan penghasil tambang nikel terbesar antara lain : Indonesia, Filipina, Rusia, Kanada, Brazil, Australia dan Kaledonia Baru dengan cadangan lebih dari 50 % sumber daya nikel global yang saat ini hampir mencapai 300 juta ton dengan deposit terbesar nikel di wilayah Sudbury di Ontario, Kanada .

Cadangan nikel di Kanada diperkirakan berasal dari meteorit raksasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun yang lalu, selama ini sebagian besar nikel diperoleh dari mineral pentlandite (NiS · 2FeS), yang konsentrasi ekonomis nikel terjadi di sulfida dan di deposit bijih tipe laterit. Produsen nikel terbesar sàat ini adalah Rusia sedangkan Cina memimpin dalam hal penggunaan karena hampir 60 persen konsumsinya dikaitkan dengan produksi baja tahan karat.

Konsumsi nikel terbesar beberapa tahun ini adalah untuk campuran baja, baterai dan uang koin.

Seiring dengan penemuan batarai lithium ion oleh tiga ilmuwan kimia yaitu John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino peraih nobel tahun 2019 menjadikan nikel sebagai logam yang paling banyak untuk digunakan dalam Industri baterai terutama untuk baterai kendaraan listrik, baterai surya, gadget, laptop, tablet dan banyak perkakas portable yang membutuhkan baterai sebagai penggerak motor listrik .

Tentunya ini akan mendongkrak konsumsi nikel global apalagi kendaraan listrik dan baterai surya menjadi backbone menurunkan emisi gas karbon dioksida (efek rumah kaca). Banyak mata pengusaha dan penguasa negara berusaha mengamankan cadangan nikel yang dimiliki agar dapat di ekplorasi untuk kemajuan negara sehingga membawa kemakmuran bagi rakyatnya,seperti Indonesia dengan menyiapkan Industri Baterai Nasional yang diinisiai oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara melalui Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium dari PT Pertamina (Persero) , PT PLN (Persero) , PT Inalum dan PT Aneka Tambang.

*) Dwi Suryo Abdullah adalah Pemerhati Kelistrikan

Sumber: ruangenergi.com

Read More

BYD Akan Gantikan Nikel dengan Lithium Untuk Baterai

NIKEL.CO.ID – BYD akan meninggalkan teknologi nikel, kobalt, dan mangan (NCM) sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Produsen mobil listrik terbesar asal China tersebut lebih memilih lithium, baja, dan fosfat (LFP).

Dikutip dari Mining.com, Senin (12/4/2021), BYD merupakan perusahaan mobil listrik yang dibekingi oleh Warren Bufett. Investor legendaris asal AS itu memiliki 21 persen saham di perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla itu.

Chairman BYD, Wang Chuanfu mengatakan, teknologi FLP bukan hanya lebih murah bila dibandingkan NCM, melainkan juga lebih aman. Dia menilai, kombinasi nikel dan kobalt rawan memicu kebakaran pada mesin.

“Beberapa pelaku industri bertindak tak rasional mengejar baterai NCM untuk menjangkau jarak tempuh lebih tinggi namun mengorbankan stabilitas dan keamanan,” katanya.

Baterai mobil listrik berbasis lithium yang digunakan BYD memiliki kepadatan yang cukup tinggi. Sistem ini untuk mengatasi kelemahan lithium yang memiliki jarak tempuh lebih rendah dan pengisian lebih lama dibandingkan nikel.

Saat ini, mobil SUV Tang terbaru buatan BYD mengklaim mampu menempuh jarak 505 kilometer untuk satu kali pengisian dalam kondisi penuh (full charging). Selain itu, proses pengisian dari 30 persen menjadi 80 persen membutuhkan waktu 30 menit.

Laporan BMO Capital Markets menunjukkan pergeseran baterai dari nikel menjadi lithium tak mengejutkan. Namun, teknologi ini masih perlu penyempurnaan agar bisa digunakan industri mobil listrik dalam tahun-tahun mendatang. Jika sukses, maka ini menjadi kabar buruk bagi nikel yang selama ini menjadi komoditas utama yang diburu pabrikan.

Sumber: Inews.id

Read More

Ini Alasan Industri Baterai Jadi Peluang Emas Bagi Indonesia

NIKEL.COID – Dunia tengah bertransisi ke energi baru terbarukan (EBT). Di sektor transportasi kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) mulai ditinggalkan dengan beralih ke kendaraan listrik.

Indonesia bercita-cita menjadi bagian dari transisi ini, dengan menjadi raja baterai dengan membangun industri baterai. Karena baterai menjadi komponen paling berharga dalam kendaraan bermotor listrik.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahjana Wirakusumah mengatakan komponen baterai mewakili 35% dari biaya produksi.

“Baterai kira-kira 35% dari biaya kendaraan. Kami melihat ini sesuatu yang bagus,” paparnya dalam Katadata Indonesia Data and Economic Conference 2021, Kamis, (25/03/2021).

Pada 2040 mendatang kira-kira 57%, imbuhnya, dunia beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Dia berharap agar Indonesia tidak ketinggalan momentum ini.

“Kita harapkan Indonesia tidak diam saja, dan siapkan era itu jangan terlambat,” tegasnya.

Cadangan nikel Indonesia menjadi nomor satu dunia, sayang jika tidak dimanfaatkan untuk dibuat produksi baterai. Dengan sumber daya alam yang ada ini menjadi kesempatan emas bagi Indonesia.

“Nikel ini adalah nomor satu kalau gak dimanfaatkan kembali hanya buat stainless steel, ini kesempatan emas dan kita manfaatkan sumber daya alam kita,” paparnya.

Pembangunan ekosistem industri baterai listrik secara terintegrasi dari hulu sampai hilir bakal membutuhkan investasi mencapai US$ 13-17 miliar atau sekitar Rp 182 triliun-Rp 238 triliun (asumsi kurs Rp 14.000 per US$).

Selain investasi yang besar tantangan lainnya adalah teknologi baterai yang digunakan masih bergantung pada pemain global baterai dan OEM sebagai pembeli (offtaker), sementara Indonesia belum memiliki pengalaman memadai dalam membangun industri baterai listrik.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Untuk Pasokan Kebutuhan Nikel, Elon Musk Deal Dengan Vale di Brasil

NIKEL.CO.ID – Tesla Inc., pabrikan mobil listrik yang tercatat di Bursa Nasdaq AS dengan kode saham TSLA, mendapatkan pasokan nikel untuk digunakan dalam baterai kendaraan listriknya setelah pemerintah Kaledonia Baru mencapai kesepakatan dengan perusahaan pertambangan Brasil, Vale, untuk penjualan Tambang Goro miliknya.

Dalam laporan Reuters, dengan kesepakatan ini maka Tesla telah mengamankan kendali yang lebih besar atas rantai pasokan logam baterai listriknya dengan deal membeli nikel dari Tambang Goro di Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru adalah negara berstatus eks jajahan Prancis. Wilayah ini terletak di sub-benua Melanesia di Samudra Pasifik sebelah barat daya. Negeri ini juga dinamai Kanaki yang berasal dari nama penduduk asli kepulauan tersebut.

Kesepakatan itu sah setelah para pemimpin politik di Kaledonia Baru pada Kamis pekan lalu (4/3) menyetujui persyaratan baru untuk penjualan tambang nikel Vale di sana, termasuk kepemilikan mayoritas bagi kepentingan lokal.

Selain itu, kesepakatan ini juga sebagai solusi dalam menyelesaikan keresahan atas rencana penjualan tambang nikel tersebut yang sempat diprotes warga.

Deal yang ditandatangani oleh para pemimpin pro-kemerdekaan dan loyalis di wilayah negara pasifik Prancis itu, termasuk ditekennya “kemitraan teknis dan industri” dengan Tesla yang memang tengah mencari bahan mentah untuk baterainya.

Tahun lalu, keputusan Vale menjual tambang nikel dan pabrik pengolahan (smelter) ke konsorsium perusahaan komoditas asal Swiss Trafigura memicu perlawanan sengit dari kelompok pro-kemerdekaan di wilayah tersebut.

Protes yang disertai kekerasan membuat Vale menutup tambang tersebut pada Desember 2020.

Berdasarkan perjanjian yang diteken pada Kamis lalu, kelompok politik mengusulkan agar 51% saham tambang operasi Vale di sana dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan investor lokal lainnya.

Sementara itu, Trafigura akan memiliki 19% saham, kurang dari 25% yang direncanakan dalam kesepakatan penjualan awal dengan Vale.

Vale dan Trafigura menyambut baik kesepakatan politik tersebut.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi selesai secara resmi,” kata Vale dalam pernyataan yang dikirim melalui email, dilansir Reuters, Selasa (9/3/2021).

Vale, yang telah mencoba menjual aset tambang di Kaledonia Baru selama bertahun-tahun itu, mengatakan sekitar 3.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung sangat bergantung pada dimulainya kembali aktivitas penambangan di sana.

“Kami menantikan operasi dilanjutkan dan penyelesaian akhir transaksi secepat mungkin,” kata juru bicara Trafigura.

Namun Tesla tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Kaledonia Baru adalah penghasil nikel terbesar keempat di dunia. Kaledonia Baru menambang 25% nikel dunia dan tambang Goro memiliki salah satu cadangan terbesar, yang mampu menghasilkan sekitar 40.000 ton nikel per tahun.

Industri nikel di Kaledonia Baru juga mencakup operasional dari dua perusahaan nikel dunia yakni Société Le Nickel atau SLN, perusahaan nikel grup pertambangan Prancis Eramet dan Koniambo Nickel SAS, yang 51% sahamnya dimiliki oleh Société Minière du Sud Pacifique (SMSP) Provinsi Kaledonia Baru Utara dan 49% dimiliki oleh Glencore.

Vale yang dulu bernama Companhia Vale do Rio Doce (the Sweet River Valley Company) adalah raksasa nikel di dunia. Di Indonesia, perusahaan memiliki anak usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang 20% sahamnya juga dipegang PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), atau MIND ID.

Pada 19 Juni 2020, Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd (SMM) telah menandatangani perjanjian definitif pembelian saham untuk penjualan 20% saham INCO kepada Inalum, sesuai dengan kewajiban divestasi Perseroan berdasarkan Amandemen KK 2014. Transaksi ini selesai pada akhir tahun 2020.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Vale Indonesia menjadi Vale Group 44,34%, MIND ID 20,00%, SMM 15,03%, Sumitomo Corporation 0,14%, dan publik 20,49%.

Tesla Dapat Suplai Nikel

Nikel adalah logam penting dalam produksi baterai lithium-ion yang digunakan dalam kendaraan listrik dan CEO Tesla Elon Musk baru-baru ini sudah menyatakan keprihatinannya atas ketersediaan komoditas mineral ini.

Nah, sebagai bagian dari perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru, Tesla akan memiliki akses ke pasokan nikel jangka panjang dari tambang dan akan duduk sebagai penasihat teknis dalam proyek tersebut.

Dalam penggarapan tambang ini, Reuters melaporkan, Tesla akan terlibat dalam “kemitraan teknis dan industri” untuk membantu mengambil nikel untuk produksi baterainya dan menyesuaikan produk sesuai standar dan keberlanjutan bersama, menurut perjanjian keduanya.

Vale mengatakan kesepakatan itu akan “memungkinkan operasi untuk melanjutkan jalur yang berkelanjutan untuk masa depan, melestarikan pekerjaan dan memberikan nilai ekonomi bagi negara”.

Tesla tidak akan memiliki saham di tambang Goro tetapi kemitraannya di tambang memberikannya kendali yang lebih besar atas rantai pasokan baterai listriknya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ketika Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial di Kaledonia Baru

NIKEL.CO.ID – Kabar Tesla Inc. setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru menyisakan banyak pertanyaan termasuk alasan perusahaan Elon Musk belum kunjung membuat kesepakatan dengan Indonesia.

Dilansir dari Tempo.co Senin (8/3/2021), Tesla disebut telah setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru pada Kamis (4/3/2021). Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya untuk mengamankan lebih banyak sumber daya nikel yang menjadi kunci dalam produksi baterai lithium-ion di mobil listrik.

Tesla akan membantu tambang di Kaledonia Baru dengan produk dan standar keberlanjutan. Perseroan akan membeli nikel untuk produksi baterai menurut sebuah perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru merupakan produsen nikel terbesar keempat di dunia. Tesla diperkirakan akan menjadi penasihat industri di Tambang Goro, yang dimiliki oleh raksasa pertambangan asal Brasil, Vale.

Kabar Tesla bermitra dengan Kaledonia Baru ini seolah menjadi jawaban kegelisahan Elon Musk yang disampaikan lewat akun Twitter resminya akhir Februari 2021. Bos Tesla itu mengungkapkan nikel menjadi perhatian terbesar dalam meningkatkan produksi baterai lithium-ion.

Dengan pertimbangan keterbatasan itu, Elon Musk memilih beralih menggunakan katoda berbahan baku besi untuk mobil keluaran Tesla tipe standard range.

“Jumlah besi (dan lithium) sangat melimpah,” ujarnya dalam cuitan yang diunggah lewat akun Twitter-nya 26 Februari 2021.

Dilansir melalui electrek.co, Kaledonia Baru merupakan wilayah teritori kecil Prancis di Samudra Pasifik. Lokasi itu diyakini memiliki sebanyak 25 persen nikel dunia.

Tambang Goro dimiliki dan dioperasikan oleh Vale. Perusahaan asal Brazil itu mengambil alih pada 2007 dengan nilai transaksi miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Vale berharap dapat meningkatkan produksi hingga 40.000 ton nikel per tahun. Sayangnya, ambisi itu harus terhalang konflik.

Tambang Goro dikabarkan menghadapi masalah dengan penduduk setempat. Konflik berujung kepada sabotase tehadap tumpahan limbah lingkungan karena penggunaan teknologi high-pressure acid leach (HPAL).

Vale dikabarkan merugi karena konflik itu karena produksi tidak stabil dan masa depan yang tidak pasti. Dengan demikian, perseroan mencari pembeli selama setahun lebih.

Berbagai laporan juga menyebut telah terjadi kerusuhan besar di wilayah Tambang  Goro sejak Vale dan Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke Trafigura pada Desember 2020. Keputusan itu memicu mogok dan protes dari kelompok pro-kemerdekaan sehingga Vale harus menutup situs tersebut.

Berdasarkan kesepakatan yang diteken Kamis (4/3/2021), 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas Provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal lainnya. Adapun, Trafigura diperkirakan memiliki 19 persen saham atau kurang dari 25 persen yang direncanakan dalam perjanjian penjualan awal dengan Vale.

Tesla tidak akan memiliki saham. Produsen mobil listrik hanya akan mengamankan rantai pasokan baterai listriknya saat meningkatkan produksi.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan,” kata Vale dilansir dari Tempo.co.

Rayu Tesla

Di lain pihak, pemerintah terus mengejar komitmen perusahaan-perusahaan multinasional seperti Tesla dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) battery di Indonesia. Sebelumnya, Indonesia Battery Holding (IBH) telah mencapai kesepakatan awal dengan LG Chem dan CATL.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menuturkan pengembangan industri EV battery sebagai bagian dari program Indonesia tumbuh. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi kebutuhan EV battery tinggi di masa depan sekaligus negara penghasil bahan-bahannya.

“Kami tak lupa menjaga potensi daripada pengembangan EV battery, Indonesia salah satu negara yang punya kebutuhan EV battery ini, menjadi yang sangat dibutuhkan. Indonesia juga salah satu produsen nikel terbesar, juga salah satu produsen terbesar untuk bauksit, copper juga termasuk,” katanya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian, melihat berbagai komponen dasar membuat EV battery dapat ada di Indonesia membuat pemerintah agresif mengejar pengembangan industri baterai mobil listrik dalam negeri. Pemerintah juga sudah mencapai kesepakatan dan melakukan penandatanganan kerja sama konsorsium BUMN dalam pengembangan EV battery.

“Kami juga terus mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya dari Jepang dari Amerika Serikat, termasuk juga yang sering dibicarakan di publik Tesla,” urainya.

Sementara itu, Indonesia sudah membuat konsorsium bentukan BUMN yang dinamai Indonesia Battery Corporation dan menandatangani komitmen kerja sama pengembangan EV battery di Indonesia bersama dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) produsen baterai asal China dan LG Chem produsen baterai asal Korea Selatan.

“Hal-hal ini dapat membuat Indonesia tumbuh dengan program yang jelas seperti EV battery ini juga pertumbuhan Indonesia tak hanya untuk 1 tahun tapi untuk 20 tahun yang akan datang berdasarkan kekuatan sumber daya alam Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik. Di sisi lain, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik.

Menurutnya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kami enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sebagai gambaran, ESS bekerja layaknya powerbank raksasa yang dapat menyimpan tenaga listrik dalam skala besar, bahkan mencapai ratusan megawatt (MW).

Tesla memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan ESS di Australia. Fasilitas baterai raksasa milik Tesla di Negeri Kanguru sudah berjalan sejak 1 Desember 2017, tepatnya di Hornsdale, Australia.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Kala Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial

Read More