Indonesia Kaya Nikel, Siap Produksi Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan Indonesia sangat siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik. Hal ini mengacu ketersediaan berlimpah nikel, material inti pembuatan baterai, yang merupakan salah satu komponen termahal di kendaraan listrik.

Menurut Agus Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup untuk itu, bahkan dia bilang Indonesia adalah negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

 

“Ini didukung kemampuan Indonesia dalam menyiapkan sumber daya cadangan nikel terbesar di dunia,” kata Agus di seminar online Investor Daily Summit 2021, Rabu (14/7/2021).

Saat ini permintaan kendaraan listrik terus meningkat dan diperkirakan tumbuh sekitar 55 juta unit di dunia pada 2040. Sejalan itu kebutuhan baterai lithium juga meningkat yang diramalkan akan ada kapasitas lebih dari 500 GWh untuk kendaraan listrik pada 2030.

Ia mengatakan dari sana terlihat permintaan baterai akan semakin besar, begitu pula dengan bahan baku pembuatannya. Dari situlah Indonesia dianggap berpeluang menjadi pemain industri besar.

“Melalui program ini baterai akan jadi komponen paling berharga yang mewakili 35 persen dari biaya pembuatan EV,” katanya.

“Dan meningkatnya penggunaan baterai juga mendorong permintaan bahan bakunya, ada nikel, kobalt, hingga mangan. Dan pemilik sumber baku baterai akan memegang peranan penting untuk ekosistem pengembangan EV,” kata Agus.

Agus menambahkan saat ini juga sudah ada sembilan perusahaan di Indonesia yang berkonsentrasi terhadap industri kendaraan listrik, empat di antaranya adalah produsen baterai dan lima pemasok bahan baku.

“Dengan demikian Indonesia mampu mendukung rantai pasokan baterai mulai bahan baku, kilang, manufaktur perakitan dan manufaktur EV, hingga daur ulang,” kata Agus.

4 produsen baterai:

ABC Everbright
International Chemical Industry
Panasonic Gobel
Energizer PP

5 pemasok bahan baku baterai:

Huayue Nickel Cobalt
– Pure Ni: 60 ribu ton per tahun
– Pure Co: 7.800 ton per tahun

QMB New Energy Material
– Pure Ni 50 ribu ton per tahun
– Pur Co 4 ribu ton per tahun

Weda Bay Nickel
– NiCo Hydroxide 60 ribu ton per tahun
– FeNi 120 ribu ton per tahun
– FeCr 300 ribu ton per tahun

Halmahera Persada Lygend
– MHP (Mixed Hydroxide Precipitate)
– Pure Ni 37 ribu ton per tahun
– Pur Co 4 ribu ton per tahun

Smelter Nikel Indonesia:
– MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) 76.500 ton per tahun

Baca artikel CNN Indonesia “Indonesia Kaya Nikel, Siap Produksi Baterai Mobil Listrik

Read More

RI Punya Pabrik Bahan Baku Baterai, Tapi Produknya Diekspor

NIKEL.CO.ID – Indonesia setidaknya punya enam proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Diperkirakan, investasi keenam proyek HPAL ini mencapai US$ US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Produk dari smelter HPAL ini merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik, seperti Mix Sulphide Precipitate (MSP) atau Mix Hydroxide Precipitate (MHP).

Dari enam proyek HPAL tersebut, satu diantaranya telah beroperasi, yakni milik PT Halmahera Persada Lygend, anak usaha Harita Group. Berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, HPAL ini telah beroperasi sejak diresmikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada Rabu, 23 Juni 2021 lalu.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), target produksi dari HPAL di Pulau Obi ini yaitu sekitar 246 ribu ton per tahun NiSO4 dan sekitar 32 ribu ton per tahun CoSO4 dengan perkiraan kebutuhan bijih nikel sekitar 8,3 juta ton per tahun.

Namun sayangnya, produk dari smelter HPAL ini belum bisa diserap dalam negeri karena belum ada pabrik turunannya yang mampu mengolah NiSO4 dan CoSO4 ini.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto mengatakan, hampir semua produksi dari smelter HPAL ini masih diekspor, hanya sedikit produksi yang bisa diserap di dalam negeri.

“Hampir semua produk diekspor, hanya sebagian kecil yang diolah lebih lanjut di dalam negeri,” paparnya kepada CNBC Indonesia.

Dia pun menyayangkan produksi smelter HPAL ini masih diekspor. Menurutnya, produk ini mestinya bisa diserap di dalam negeri, sehingga hilirisasi ini bisa berkembang menjadi produk yang semakin bernilai tambah lebih tinggi lagi.

“Nah yang perlu disuarakan adalah produk smelter tersebut seharusnya diolah di dalam negeri, sehingga hilirisasi dan nilai tambah menjadi bermakna dan nyata,” tegasnya.

Akan tetapi, kewenangan tersebut menurutnya berada pada Kementerian Perindustrian.

“Namun ini kewenangan Perindustrian,” lanjutnya.

Untuk kelima proyek smelter HPAL lainnya, menurutnya ditargetkan bisa beroperasi paling telat pada 2023.

“Ada yang sudah selesai, namun terkendala biaya,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan operasi produksi smelter HPAL di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Rabu (23/06/2021).

Smelter HPAL ini dioperasikan oleh PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan diperkirakan memakan biaya mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per US$).

Luhut mengatakan bahwa teknologi pengolahan untuk bijih nikel bisa melalui jalur RKEF (pirometalurgi) maupun HPAL (hidrometalurgi) seperti yang ada di Pulau Obi ini.

Proyek smelter nikel dengan teknologi HPAL ini akan banyak memanfaatkan bijih nikel dengan kadar yang lebih rendah (nikel limonit), yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Ini merupakan bagian dari optimasi atau peningkatan nilai tambah dari sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia.

Proses HPAL dapat menghasilkan produk nikel kelas satu, yakni Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai.

Produk-produk ini bernilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dari jalur tungku elektrik atau Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

“Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan nikel serta cobalt yang cukup, didukung oleh mineral lain seperti tembaga, alumunium, dan timah yang akan menjadi modal besar untuk bermain dalam industri kendaraan listrik,” jelas Luhut, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Rabu (23/06/2021).

PT Halmahera Persada Lygend merupakan anak usaha Harita Group. Harita mengatakan, smelter HPAL ini memiliki kapasitas produksi MHP sebesar 365 ribu ton per tahun dan merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik.

Adapun produknya berupa MHP yaitu campuran padatan hidroksida dari nikel dan cobalt. MHP merupakan produk antara dari proses pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat. Saat ini Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

“Halmahera Persada Lygend merupakan fasilitas pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah (limonit) dengan teknologi hidrometalurgi yang dikenal dengan HPAL. Konstruksi HPAL dimulai pada Agustus 2018 dan siap berproduksi secara komersial. Ini menjadi pabrik HPAL pertama di Indonesia,” jelas Stevi Thomas selaku Komisaris Utama Halmahera Persada Lygend, seperti dikutip dari keterangan resmi perusahaan, Kamis (24/06/2021).

Saat ini menurutnya Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

Harita Group merupakan pengelola Kawasan Industri Pulau Obi yang merupakan salah satu bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Peraturan Presiden No.109 tahun 2020 tentang Perubahan Perpres No.3 tahun 2016 tentang Percepatan Proyek Strategis Nasional.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Banjir Proyek Bahan Baku Baterai, Pengusaha Nikel Ikutan Cuan

NIKEL.CO.ID – Pemerintah terus mendorong hilirisasi di sektor mineral, salah satunya nikel untuk bahan baku pembuatan baterai. Proyek smelter nikel banyak bermunculan dari yang hanya menyerap kadar tinggi 1,7% ke atas sampai kadar rendah di bawah 1,7%.

Banyaknya smelter nikel yang bermunculan membuat penambangnya ikut kecipratan cuan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan, pihaknya menyambut baik atas banyaknya smelter nikel yang bakal beroperasi pada beberapa tahun ke depan.

Pasalnya, ini juga akan berdampak pada peningkatan permintaan bijih nikel. Apalagi, lanjutnya, dengan hadirnya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memproduksi bahan baku baterai, smelter ini juga bisa menyerap bijih nikel kadar rendah. Dengan demikian, ke depannya tidak hanya nikel kadar tinggi atau di atas 1,7% yang diserap perusahaan smelter.

“Kalau kami dari hulu sisi pertambangan tentu menyambut baik karena otomatis demand bijih nikel akan naik, apalagi HPAL akomodir bijih nikel kadar rendah,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (02/07/2021).

Dia meminta agar smelter nikel ini mau menyerap limonit atau nikel kadar rendah tanpa syarat lain. Karena jika diberi syarat lain, maka menurutnya ini akan berujung pada tidak terserapnya bijih nikel kadar rendah.

Dia menjelaskan, struktur mineral di Indonesia memiliki unsur magnesium. Menurutnya ada beberapa penambang yang terkena penolakan karena ada syarat kadar magnesium silika di bawah 2,5%, sementara banyak tambang yang memiliki kadar magnesium di atas 2,5%, sehingga kena penalti.

“Ada unsur magnesium dari struktur mineral Indonesia. Untuk saprolite (nikel kadar tinggi) untuk pirometalurgi masih ambil kadar tinggi 1,8 up, tapi banyak area kena reject karena syaratkan silika magnesium di bawah 2,5%,” jelasnya.

Lebih lanjut dia kembali menegaskan agar smelter nikel HPAL bisa mengakomodasi nikel tanpa spesifikasi kadar magnesium tertentu.

“Kami minta juga pabrik HPAL untuk akomodir bijih nikel yang spesifikasi magnesium, sudah apa adanya, jangan banyak mempersyaratkan, sehingga kena penalti atau reject lagi,” pintanya.

Meidy memproyeksikan ke depan kebutuhan nikel akan meningkat signifikan. Salah satu pabrik yang kini telah berproduksi menurutnya akan menyerap 8 juta ton bijih nikel per tahun. Belum ditambah dengan pabrik lainnya, sehingga akan akomodir 20-30 juta ton bijih nikel kadar rendah per tahunnya.

“Akan signifikan (peningkatan) karena kapasitas HPAL salah satu pabrik yang commissioning 8 juta ton setahun, belum termasuk tiga pabrik lain, akan akomodir 20-30 juta ton bijih nikel kadar rendah,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, adapun smelter HPAL yang membutuhkan bijih nikel sekitar 8 juta ton per tahun yaitu proyek smelter yang dikelola PT Halmahera Persada Lygend, anak usaha Harita Group. Berlokasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, proyek ini baru saja diresmikan operasionalnya oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada pekan lalu, tepatnya Rabu (23/06/2021).

Adapun target produksi yaitu sekitar 246 ribu ton per tahun NiSO4 dan sekitar 32 ribu ton per tahun CoSO4 dengan perkiraan kebutuhan bijih nikel sekitar 8,3 juta ton per tahun.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menuju Produsen Baterai Kendaraan Listrik Terkuat di Dunia

  1. Oleh: Budiawan Sidik A

Indonesia berpotensi besar menjadi produsen baterai kendaraan listrik terkuat di dunia.  Sejumlah bahan baku utama untuk memproduksi baterai mobil terdapat di negeri ini.

Sebut saja nikel, kobalt, alumunium, mangan, tembaga, dan sejumlah unsur mineral penting lain untuk memproduksi baterai berlimpah di perut bumi Indonesia. Terbuka peluang sangat besar bagi Indonesia untuk menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban moderen masa depan dunia.

Menurut “The International Renewable Energy Agency” (IRENA), dunia di masa mendatang akan mengalami banyak perubahan menuju energi terbarukan. IRENA memiliki skenario perencanaan pada tahun 2030 nanti sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 38 persen.

Besaran sumber pembangkitan listrik EBT ini diperkirakan kian meningkat lagi pada tahun 2050 menjadi sekitar 55 persen. Hal ini merupakan lonjakan yang sangat signifikan karena pada tahun 2018 jumlah pembangkit listrik EBT secara global masih berkisar 26 persen.

Meningkatnya jumlah pembangkit listrik EBT tersebut direncanakan akan disertai dengan bertambahnya konsumsi energi final yang berwujud listrik. Konsumsi energi yang berasal dari sumber daya fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara akan kian mengecil. Konsumsi energi final berupa listrik pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 24 persen dan pada tahun 2050 bertambah menjadi 30 persen.

Bertambahnya konsumsi listrik di masa depan, salah satunya karena adanya pergeseran sejumlah teknologi secara masif. Salah satu yang paling revolusioner adalah penggunaan mobil bertenaga listrik yang perlahan-lahan menggeser penggunaan mobil berbahan bakar energi fosil.

Pada tahun 2030 nanti direncanakan akan ada sekitar 269 juta unit kendaraan berbasis tenaga listrik di seluruh dunia. Jumlahnya akan terus berlipat-lipat pada dasawarsa berikutnya. Pada tahun 2050, diperkirakan jumlah mobil listrik akan mencapai lebih dari 600 juta unit kendaraan.

Proyeksi jumlah kendaraan bebas emisi karbon di masa depan tersebut sangatlah fantastis karena hingga 2019 lalu, jumlah mobil listrik diperkirakan tidak lebih dari 8 juta unit kendaraan.

Terkait dengan mobil listrik tersebut, Indonesia berpeluang sangat besar untuk turut serta menciptakan komponen terpentingnya, yakni baterai sebagai sumber penampungan energi. Berlimpahnya bahan tambang mineral nikel di Indonesia menyebabkan negeri ini berpeluang untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik ataupun industri perakitan kendaraan listrik terkuat di dunia.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM tahun 2019, produksi bijih nikel Indonesia mencapai kisaran 800 ribu ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400 ribu ton dari produsen kedua dunia yang diduduki oleh Filipina.

Bila dibandingkan oleh produsen ketiga dunia yang diduduki Rusia lebih jauh lagi selisihnya karena negara beruang merah itu hanya mampu memproduksi sekitar 270 ribu ton setahun.

Dari segi cadangan nikelnya, Indonesia diperkirakan memiliki deposit sekitar 72 juta ton. Menurut data USGS dan Badan Geologi, Kementerian ESDM, cadangan ini menempati posisi pertama di dunia dengan porsi hingga 52 persen dari total cadangan dunia saat ini yang berkisar 139 juta ton.

Posisi selanjutnya, ditempati Australia dengan besaran 15 persen dan Rusia sekitar 5 persen dari seluruh cadangan dunia. Cadangan sekitar 72 juta ton di Indonesia itu berada di wilayah tambang yang sudah memiliki ijin usaha produksi operasi pertambangan (IUP OP) dan smelter.

Selain deposit cadangan tersebut, diperkirakan Indonesia masih memiliki potensi cadangan lainnya di luar wilayah IUP atau kontrak karya (KK) yang jumlahnya sangat besar.

Berdasarkan laporan Kementerian ESDM tahun 2020, daerah yang memiliki potensi cadangan nikel di luar wilayah operasi pertambangan di Indonesia itu jumlahnya mencapai kisaran 4,5 miliar ton.

Jumlah ini sangatlah besar karena lebih dari 30 kali lipatnya cadangan nikel dunia saat ini. Dengan jumlah cadangan sebesar itu maka produksi nikel di Indonesia baru akan habis dalam beberapa dekade mendatang. Dengan kata lain Indonesia memiliki komoditas yang sangat penting dan dibutuhkan oleh banyak negara.

Sebagai produsen terbesar dan sekaligus pemilik cadangan nikel terbanyak di dunia membuat Indonesia sangat menarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di industri baterai kendaraan listrik.

Nikel yang dahulu kala hanya diekspor sebagai komoditas bahan mentah, kini berubah menjadi komponen penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik kelas dunia. Hampir dapat dipastikan semua investor terkait energi baterai skala gobal akan mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Untuk terus pengembangkan sumber daya nikel menjadi bernilai ekonomi tinggi guna memperkuat perekonomian bangsa maka sejak tahun 2018, pemerintah mulai membangun ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia.

Ada sejumlah agenda kegiatan yang menunjukkan Indonesia bersiap menuju transisi transportasi berbasis listrik. Dimulai dengan meresmikan electric vehicle charging station (EVCS) oleh BPPT; menghadirkan e-taksi jenis mobil listrik dengan bekerja sama dengan Blue Bird; pameran Indonesia Electrik Motor Show (IEMS 2019); serta peresmian stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) oleh PLN di sejumlah lokasi.

Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 100-an SPKLU yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia. Di antaranya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makasar, dan Sumba, NTT.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pada Agustus 2019, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 Tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan.

Dengan terbitnya kebijakan ini, pemerintah berupaya akseleratif secepat mungkin agar mampu memproduksi baterai kendaraan listrik dan juga merakit unit kendaraan berbasis baterai listrik (KBL) di Indonesia.

Berpijak pada aturan tersebut, pemerintah selanjutnya membuat roadmap terkait pengembangan industri KBLBB berikut manufakturing baterai listriknya. Dalam pengembangan  KBLBB pemerintah melibatkan segenap stakeholder agar program ini dapat terealisasi secara akseleratif.

Mulai dari institusi yang merancang rekayasa teknologi seperti BPPT; LIPI; perguruan tinggi; kemenristekdikti; PLN; hingga institusi lainnya yang bersifat mendukung. Terdiri dari Kemenkeu, Kemendag, Kemenperin, KLHK, Kemenhub, Polri, Kementerian ESDM, hingga Badan Standarisasi Nasional (BSN).

Demikian juga dalam pengembangan industri baterai listrik, pemerintah juga melibatkan sejumlah stakeholder penting. Mulai dari Batan; BPPT; LIPI; Pertamina; Antam; PLN; hingga industri otomotif seperti Toyota.

Dalam penguatan struktur industri KBLBB itu pemerintah merancangnya dalam beberapa tahapan. Pada tahun 2020, investor KBLBB diperkenankan melaksanakan impor unit kendaraan dalam bentuk completely built up (CBU) dengan jumlah unit dan tempo tertentu.

Pada tahun 2021, investor melakukan perakitan KLB BB secara completely knokn down (CKD) di Indonesia. Investor yang terlibat program KBLBB ini diwajibkan mengikuti komitmen realisasi investasi dengan melakukan perakitan mobil listrik yang di dalam negeri.

Selanjutnya, pada tahun 2022, para investor diperkenankan mendatang investasi baru dengan menggandeng partner lokal perakitan kendaraan listrik. Beberapa komponen KBLBB wajib menggunakan kandungan lokal dalam negeri.

Pada kurun 2023-2025, investor wajib melakukan penguatan dan pendalaman struktur industri komponen kendaraan listrik. Pada fase ini merupakan tahapan penting untuk pembuatan komponen utama dan pendukung untuk memperkuat struktur industri KBLBB dalam negeri.

Industri komponen utama itu terdiri dari baterai listrik (sel, modul, dan pack); serta power train berupa traksi motor dan transmisi. Untuk industri pendukungnya berupa perusahaan platform seperti chasis kendaraan, struktur body eksterior dan interior kendaraan. Selain itu, juga didukung oleh industri produk controller kendaraan.

Terkait baterai kendaraan listrik, pemerintah Indonesia sudah melakukan perancanaan yang relatif baik agar komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi negara.

Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat produksi dan juga sumber cadangan nikel terbesar di dunia. Jadi, keunggulan absolut ini harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin agar dapat mendorong Indonesia tampil sebagai negara penting bagi kemajuan teknologi kendaraan listrik secara global di masa mendatang.

Menurut Kementerian BUMN, roadmap industri baterai diproyeksikan akan berkembang secara bertahap mulai tahun 2020 hingga 2027. Pada tahun 2020, pemerintah akan memilih partner bisnis dalam konsorsium baterai nasional.

Tahun 2021, membangun energy storage system (ESS) atau penyimpanan energi berskala besar di sejumlah daerah yang diprioritaskan. Tahun 2022, produsen peralatan asli (OEM) diharapkan sudah memulai produksi kendaraan listrik di dalam negeri.

Tahun 2023, pilot project memproduksi cell baterai 200 MWh dalam bentuk pack. Selanjutnya, tahun 2024, pemurnian high pressure acid leaching (HPAL) untuk prekursor dan katoda mulai beroperasi.

Tahun 2025, direncanakan akan menjadi fase pertama produksi cell baterai 8-10 GWh dalam bentuk pack. Tahun berikutnya, 2026, ibu kota negara yang baru ditargetkan menggunakan 100 persen transportasi kendaraan listrik. Terakhir pada tahun 2027, industri daur ulang baterai listrik sudah dioperasikan.

Realisasi Roadmap

Pada tahun 2021 ini, roadmap pengembangan industri KBLBB dan manufakturing baterai listrik tersebut tampaknya menunjukkan realisasi perkembangan yang positif. Terutama yang terkait dengan industrialisasi baterai kendaraan berbasis listrik.

Pada April lalu, Indonesia membentuk perusahaan holding baterai bernama Indonesia Battery Corporation (IBC). IBC ini merupakan perusahaan kerjasama antar-BUMN energi seperti MIND ID, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Masing-masing institusi ini memiliki besaran saham yang sama, yakni 25 persen.

Keempat BUMN ini memiliki tugas yang beragam. PT Antam bertugas membangun smelter HPAL; PT Pertamina dan MIND ID memproduksi prekursor dan katoda mulai tahun 2024; dan pabrik cell to pack oleh PT Pertamina dan PT PLN yang mulai beroperasi pada tahun 2025.

Keempat BUMN yang tergabung dalam IBC tersebut akan menjadi mitra kerjasama dengan sejumlah perusahan yang berinvestasi di bidang baterai kendaraan berbasis listrik di Indonesia. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada dua investor yang berkomitmen membangun industri baterai di Indonesia mulai dari hulu hingga hilir.

Perusahaan itu adalah LG Energy Solution dari Korea Selatan dan China’s Contemporary Amperex Technology (CATL) dari Tiongkok. Investasi yang digelontorkan kedua perusahaan itu mencapai kisaran lebih dari Rp 200 triliun. Terdiri dari Rp 142 triliun yang berasal dari LG Energy Solution dan kisaran Rp 65 triliun dari CATL.

LG Energi Solution merupakan salah satu produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Investor Korea ini menggandeng investor lainnya seperti LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding membentuk konsorsium untuk berinvestasi di Indonesia terkait industrailisasi baterai kendaraan listrik.

Ada kemungkinan jumlah investor yang tertarik bekerjasama di bidang baterai listrik akan bertambah lagi. Pada Maret lalu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa perusahaan asal Jerman, “Badische Anilin-und Soda-Fabrik” (BASF) juga dilaporkan sudah siap menanamkan modalnya di Indonesia.

Pun demikian dengan produsen mobil listrik dari Amerika, Tesla, kemungkinan besar akan tetap melangsungkan investasinya di Indonesia pada sektor ESS untuk mendukung penyimpanan energi skala besar.

Para investor tersebut secara tidak langsung akan membuat jalinan utuh yang menghubungkan proses dari hulu hingga hilir industri baterai berbasis listrik. Akan terjalin integrasi seluruh rantai pasok baterai mulai dari pertambangan, smelter, prekursor, katoda, mobil, hingga fasilitas daur ulang yang semuanya dibangun di Indonesia.

Tentu saja, konsorsium LG merupakan investor yang paling lengkap sistem supply chain-nya mulai dari hulu hingga hilir karena investasi yang digelontorkan relatif sangat besar yakni sekitar 9,8 miliar dollar AS atau kisaran Rp 142 triliun. Kabarnya investasi ini merupakan yang terbesar di Indonesia pasca era reformasi.

Tentu saja langkah bisnis kerja sama tersebut juga disertai dengan MoU yang juga mengedepankan kepentingan nasional Indonesia. Di antaranya, investor tersebut diwajibkan untuk mengolah setidaknya 60 persen nikel yang akan digunakan untuk memproduksi baterai listrik harus diproses di Indonesia. Pemerintah tidak ingin para investor itu membawa nikel keluar wilayah Indonesia dan mengolahnya di luar negeri.

Apabila rencana tersebut terwujud maka Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang mengintegrasikan industri baterai listrik mulai dari pertambangan hingga memproduksi baterai kendaraan listrik. Bahkan, berlanjut hingga perakitan unit kendaraan listrik berikut proses daur ulang baterainya sehingga tidak mencemari lingkungan.

Proses Industrialisasi

Terbentuknya BUMN holding baterai, IBC dan sudah hadirnya investor dari luar negeri membuat rencana program industrialisasi komponen baterai listrik segera terealisasi dalam waktu dekat.

PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan konsorsium LG akan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Bekasi, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan akan menempati lahan seluas 33 hektar dan menyerap sekitar seribu tenaga kerja Indonesia.

Pada pembangunan tahap pertama nanti diperkirakan memiliki kapasitas produksi baterai hingga 10 gigawatt hour (GWH) untuk memenuhi suplai kendaraan listrik Hyundai.

Dengan terbangunnya industri kendaraan listrik tersebut tentu saja akan memberikan konstribusi yang relatif signifikan bagi perekonomian nasional. Bila dibandingkan saat menjual nikel dalam bentuk mentah dengan sudah menjadi battery pack nilainya sangat jauh berbeda.

Berdasarkan laporan kementerian BUMN menunjukkan terjadi pertambahan nilai hingga kisaran 90-160 kali dari harga bahan mentah. Ketika suadah menjadi battery pack diperkirakan harganya berkisar antara 130 ribu-220 ribu dolar AS per ton.

Sangat timpang dengan harga nikel mentah yang hanya berkisar 1.100-1.700 dollar AS per ton. Nilai akan jauh lebih timpang lagi ketika berubah menjadi kendaraan listrik. Diperkirakan nilai tambahnya melonjak menjadi kisaran 470-780 kalinya dari harga nikel mentah.

Dari ilustrasi tersebut dapat dibayangkan betapa besarnya nilai tambah produksi dari perakitan battery pack yang tengah dilakukan IBC dan partner kerjasamanya.

Diperkirakan sekitar 30-40 persen biaya pembuatan mobil listrik diperuntukkan hanya untuk penyediaan baterainya saja. Jadi, dapat dibayangkan betapa besarnya nilai manfaat ekonomi yang diterima holding BUMN baterai dan juga para investornya.

Bila diasumsikan harga keseluruhan mobil listrik senilai Rp 300 juta, maka harga baterainya saja berkisar Rp 100-an juta. Nilai perkiraan ini tentu saja akan berdampak sangat signifikan bagi perekonomian nasional.  Tentu saja, nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan semakin meroket.

Bila diasumsikan Indonesia pada tahun 2030 mampu menyuplai sekitar 10 persen kebutuhan baterai kendaraan listrik secara global maka kontribusi bagi perekonomian nasional sangatlah besar.

Mengacu pada proyeksi IRENA yang memperkirakan jumlah kendaraan listrik pada tahun 2030 berkisar 260 juta unit maka ada kemungkinan Indonesia mampu menyuplai sekitar 10 persen atau  26 juta unit baterai kendaraan. Jumlah ini akan menghasilkan kontribusi bagi PDB Indonesia kisaran Rp 2.600 triliun. Nilai ini hampir setara dengan nilai APBN tahun ini yang berkisaran Rp 2.700-an triliun. Luar biasa.

Oleh sebab itu, roadmap yang sudah dibuat oleh pemerintah semaksimal mungkin diupayakan untuk dapat terealisasi. Apabila berhasil melewati sejumlah tahapan rencana itu maka harapannya akan tercipta alih teknologi dari sejumlah investor yang menguasai teknologi kepada SDM dalam negeri. Selain itu, ada peluang terciptanya inovasi teknologi karya anak bangsa dalam proses transisi alih teknologi tersebut.

Riset yang mengarah pada hilirisasi industri baterai kendaraan listrik harus terus diperkuat guna menunjang akselerasi penguasaan teknologi baterai kendaraan listrik itu. Akan lebih maksimal lagi hasilnya apabila juga mengembahkan teknologi penyimpanan energi untuk keperluan energi baru terbarukan (EBT) sehingga manfaatnya lebih luas lagi di masyarakat.

Jadi, riset dan pengembangan dari dalam negeri sangat penting peranannya dalam masa awal kolaborasi industrialisasi baterai kendaraan listrik ini. Semakin cepat menguasai alih teknologi maka akan semakin cepat pula tercipta inovasi karya anak bangsa. Semakin besar inovasi yang dihasilkan maka nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian nasional akan semakin lebih besar.

Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang akan tercipta baterai kendaraan listrik yang 100 persen adalah buatan Indonesia. Demikian juga dengan unit kendaraan listriknya, Indonesia berpeluang besar memiliki mobil atau kendaraan nasional bertenaga listrik yang membanggakan.

Sangat besar peluangnya, suatu saat nanti mobil bermerek nama-nama khas Indonesia akan berseliweran di seluruh dunia. Jadi, roadmap yang sudah dibuat sebisa mungkin harus terealisasi dan sekaligus menerapkan dengan tegas ketentuan-ketentuan yang sudah diatur oleh pemerintah.

Jangan sampai, potensi sumber daya nikel yang besar ini justru hanya menguntungkan bagi para investor besar yang menguasai teknologi. Sudah saatnya, Indonesia harus bertransisi dan menguasai teknologi peradaban moderen ini. Mimpi menjadi negara besar yang menguasai teknologi bukan angan-angan belaka, tetapi kenyataan yang bakal terwujud beberapa saat lagi. Semoga. (LITBANG KOMPAS)

Sumber: Kompas.id

Read More

2030, 20% Nikel Dunia Diserap untuk Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Pada 2030 mendatang sebanyak 20% dari total konsumsi nikel global diperkirakan akan digunakan untuk baterai mobil listrik maupun baterai sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ ESS) . Persentasenya bahkan masih akan terus berkembang sampai dengan 2040 mendatang menjadi sebesar 37%.

Adapun pada 2030 konsumsi nikel untuk baterai kendaraan listrik maupun ESS ini diperkirakan mencapai 800 ribu ton dari 2020 masih di bawah 200 ribu ton.

Hal tersebut berdasarkan laporan Wood Mackenzie, lembaga analisis energi global, yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey dalam diskusi ‘Battery Electric Vehicles Outlook’, Kamis (06/05/2021).

Meidy mengatakan, berdasarkan laporan Wood Mackenzie ini, konsumsi nikel di China pada 2020 tercatat mencapai sebesar 106 ribu ton, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan adanya perubahan subsidi dan pandemi Covid-19.

“Tapi ini akan menjadi lebih dari dua kali lipat pada 2025,” paparnya mengutip laporan tersebut.

Dia mengatakan, ekspansi terbesar setelah tahun 2025 diperkirakan akan terjadi di China dan sisanya Asia, meski belum diketahui spesifik negaranya.

“Peran Eropa sebagai pembuat bahan aktif prekursor dan katoda akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan,” paparnya mengutip laporan tersebut.

Transisi penggunaan kendaraan dari berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke listrik akan meningkatkan permintaan pada bahan baku baterai seperti nikel sulfat.

“Dominasi Asia dan khususnya China di segmen ini akan terus berlanjut,” ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto memperkirakan dalam waktu dekat akan terjadi tren super siklus komoditas tambang.

Beberapa jenis komoditas tambang diperkirakan bakal menjadi primadona di masa depan, terutama seiring dengan tren dunia berganti menuju energi bersih dari energi fosil.

Khusus di sektor transportasi, masyarakat ke depan diperkirakan bakal beralih dari mobil berbasis bahan bakar fosil ke mobil listrik. Mobil listrik membutuhkan baterai di mana bahan bakunya merupakan produk tambang.

Dia menjelaskan super siklus komoditas tambang ini adalah suatu periode yang cukup panjang dimana permintaan pada satu komoditas atas beberapa komoditas lainnya jauh lebih tinggi dari rata-rata permintaan tahunan secara historis. Dengan demikian, suplai tidak bisa memenuhi semua permintaan.

“Akibatnya, harga komoditas tersebut akan naik signifikan,” ujarnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (03/03/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel Diproyeksi Bakal Naik Hingga Akhir Tahun

NIKEL.CO.ID – Prospek kenaikan harga nikel dunia membuat perusahaan pertambangan nikel menjadi primadona. Adapun beberapa sentimen tersebut karena naiknya kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel.

Hal ini terjadi karena pengembangan mobil listrik atau electric vehicle (EV) dari sejumlah negara di dunia. Nikel memegang peran penting dalam pembuatan baterai lithium, yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

Direktur Utama Nice Nickel Indonesia (NNI), Rusman, mengatakan kinerja perusahaan akan mendapatkan sentimen positif karena kenaikan ini. Hingga saat ini pihaknya telah mengantongi perjanjian penjualan nikel dalam jumlah besar dengan pihak smelter.

“Kami akan merilis dalam waktu dekat saat pengiriman diawal bulan (Mei),” ujar Rusman di Jakarta, Senin (26/4/2021).

Pada kesempatan yang sama Direktur Keuangan Tri Safri Family, Hendri Vertiwel mengatakan pihaknya optimis dengan kenaikan harga Nikel dalam beberapa waktu mendatang akan berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan.

“Permintaan yang datang pada kami sejauh ini cukup tinggi. Dalam proyeksi kami, kenaikan harga akan berlangsung konsisten hingga akhir tahun,” jelasnya pada wartawan.

Adapun Tri Safri Family merupakan perusahaan nikel berbasis di Buton Utara, Sulawesi Tenggara, yang merupakan anak perusahaan Nice Nickel Indonesia.

Sementara itu, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengutarakan hal yang sama. Menurutnya pemulihan ekonomi nasional dan global serta masifnya produksi mobil listrik membuat harga nikel cenderung bergerak naik. Ia memprediksi perusahaan nikel akan meningkatkan kapasitas produksi.

“Secara jangka pendek karena ada kenaikan pasokan membuat harga bergerak fluktuatif, namun ini hanya efek sementara,” jelasnya.

Indonesia berkontribusi sekitar 30 persen dari produksi nikel dunia dan 22 persen dari cadangan global. Pada 2020 Indonesia memproduksi 760 ribu ton nikel dengan cadangan sekitar 21 juta ton. Pada Januari 2020, pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel yang belum diolah. Hal ini mendorong investasi smelter dalam negeri yang membuat kapasitas produksi nikel tetap stabil.

Hendri Vertiwel mengatakan, sebagai perusahaan yang menerapkan asas Good Corporate Governance (GCG) pihaknya mendukung kebijakan pemerintah yang akan mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik, dan pada akhirnya memiliki efek positif ke industri nikel.

Sumber: fin.co.id

Read More

Miliki Cadangan Nikel Terbesar, Kadin Optimistis RI Kuasai Pasar Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai akan menjadi produsen baterai lithium dan mobil listrik terbesar di dunia, seiring besarnya pasokan nikel untuk pembuatan baterai lithium yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

“Indonesia punya kandungan nikel yang luar biasa banyak. Seharusnya Indonesia bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Arsjad yang juga calon ketua umum Kadin Indonesia periode 2021-2026, menyatakan bahwa pengembangan mobil listrik akan menimbulkan efek domino dan meningkatkan peran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada industri otomotif dalam negeri.

“Apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik adalah ide yang luar biasa. Kita harus siap kalau ingin berkembang dan berkompetisi. Kita bisa leading,” ujar Arsjad.

Namun, ia mengingatkan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain terdepan dalam industri mobil listrik dunia.

Selain memiliki sumber daya alam melimpah berupa nikel, Indonesia juga harus memperlengkapi diri dengan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi, memanfaatkan komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan membeli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia.

“Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. Yang penting, di akhirnya adalah intellectual property milik Indonesia. TKDN, komponennya banyak di Indonesia dan cost baterai buatan Indonesia akan lebih kompetitif. Kita berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang kokoh,” ujar Arsjad.

Presiden Joko Widodo, telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada tahun 2017, Indonesia mampu menghasilkan 2,12 juta ton nikel pig iron (NPI) dan 482.400 ton feronikel (FeNi) pada tahun 2017.

Data Badan Geologi menyebutkan bahwa per tahun 2012, Indonesia memiliki 1,02 miliar ton dari total cadangan nikel, terutama berlokasi di Sulawesi dan Maluku.

Sumber: ANTARA

Read More

Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik

Oleh: Ahmad Yani *)

Indonesia Battery Corp seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat.

NIKEL.CO.ID – Ditandatanganinya shareholder agreement oleh empat BUMN energi dan tambang pada 16 Maret 2021 menandai terbentuknya Indonesia Battery Corporation (IBC). Keempat BUMN tersebut adalah PT Pertamina, PT PLN, PT MIND ID, dan PT ANTAM.

Korporasi ini akan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor yang terintegrasi dari hulu hingga hilir guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kepemilikannya sama rata, masing-masing 25%.

Dengan semakin menuanya bumi, keberadaan IBC ini sangat mendesak dan menjadi solusi bagi isu pemanasan global dan efek rumah kaca. Bahan bakar fosil kelak akan habis. Lahirnya mobil listrik menjadi tumpuan harapan jutaan umat manusia dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baterai electric vehicle (EV) akan menjadi penentu kualitas kehidupan manusia ke depan. Kabar baiknya, Indonesia adalah negara terbesar penghasil bahan bakunya, yaitu nikel. Porsi cadangan nikel Indonesia mencapai 24% dari total cadangan nikel dunia.

Indonesia juga unggul dari sisi demand. Potensi kendaraan roda dua mencapai 8,8 juta unit dan 2 juta unit untuk roda empat pada 2025. Competitive advantage dari supply chain yang ada, setidaknya 35% komponen EV dapat bersumber dari dalam negeri.

Tumpah ruahnya nikel sebagai potensi bisnis dunia tidak luput dari pantauan big fish company di bidang EV. Siapa yang tidak mengenal Tesla. Pemerintah dan Tesla berencana bekerjasama dalam produksi baterai EV.

Perusahaan baterai EV lainnya juga tidak mau kalah agresif mengambil kesempatan ini. Ada LG dari Korea Selatan dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dari China. Tawaran menggiurkan membanjiri pasar EV Indonesia. Indonesia bebas mau kerja sama seperti apa.

Keberadaan IBC selaras dengan aturan main yang sebenarnya sudah ada. Industri ini merupakan bagian percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi jalan berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2019. Perpres ini juga mengamanatkan bahwa pabrik harus dibangun di Indonesia.

Cadangan nikel sebagai penggerak utama bisnis juga melimpah sejak bijih nikel dilarang untuk diekspor oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2017 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian.

Sebagai perusahaan yang mengemban amanah dan tugas yang strategis, IBC perlu mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki. Dukungan empat BUMN besar dan warisan sumber daya yang melimpah perlu dilaksanakan secara efektif.

Penulis menawarkan lima faktor yang perlu diperhatikan, yakni operating company, demand-based product, kontrak penjualan, kerja sama teknologi, dan gap funding.

Pertama, operating company. Industri ini akan diorkestrasi dan dimobilisasi oleh IBC dari hulu sampai hilir. Mulai dari pengolahan nikel, material precursor dan katoda, hingga battery cell, pack, energy storage system (ESS), dan recycling.

Ada baiknya IBC menjalin kerja sama dengan perusahaan penguasa pangsa pasar di setiap lini bisnis. Misalnya perusahaan pengolahan nikel, scope ini dikuasai salah satu swasta dengan market share terbesar. Ini selaras dengan Pasal 6 Ayat (3) Perpres 55/2019 yang mengamanatkan gotong royong pemerintah dan swasta.

Kedua, produk harus sesuai demand. IBC perlu memilih baterai apa yang akan dibuat sekarang dan nanti. Saat ini produk yang paling laku hybrid electric vehicle (HEV). Maklum, harganya yang murah sesuai kocek masyarakat Indonesia.

Kalau mau dijual keluar, baterai full listrik atau battery electric vehicle (BEV) dapat menjadi pilihan. Secara global, Tesla adalah market leader mobil listrik yang menjadikan produk ini laku di pasar dunia.

Ketiga, kontrak penjualan. IBC perlu mengadakan kontrak dimaksud dengan pemilik market share mobil listrik terbesar di dunia. Misalnya Tesla Model 3 yang mencetak sales terbesar 2019. Kepastian penjualan ini mendukung keberlangsungan bisnis.

Keempat, kerja sama teknologi. Hal ini krusial karena membuat baterai EV tidak mudah. Produk ini menghadapi permasalahan seperti degradasi baterai dan perlu standarisasi kualitas.

Kebetulan, dua perusahaan baterai EV top dunia (LG dan CATL) sudah menjajaki kerja sama dengan Indonesia. Momen ini dapat digunakan IBC untuk menggandeng keduanya dalam peningkatan teknologi.

Kelima, gap funding. Investasi baterai EV membutuhkan dana yang tidak ‘kaleng-kaleng’. Bayangkan saja, membuat baterai di lumbung nikel terbesar di dunia. Momennya pas sekali. Indonesia baru saja melahirkan Sovereign Wealth Fund bernama Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Investment vehicle bermahzab equity financing ini sangat jauh dari isu utang. Nantinya investor besutan LPI akan patungan dengan IBC dan mitra lain di anak perusahaan yang butuh suntikan.

Sebagai operating company yang futuristik dengan mitra teknologi yang mumpuni, IBC seyogyanya memiliki produk yang unggul dengan kontrak penjualan yang menguntungkan serta memiliki pendanaan kuat. Korporasi ini diharapkan dapat mewujudkan baterai EV yang kompetitif dan berkualitas.

*) Ahmad Yani adalah Tenaga Pengkaji Restrukturisasi, Privatisasi, dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan, Kementerian Keuangan

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Prospek Kongsi Baterai Mobil Listrik“.

Read More

Sinyal Negatif dari China untuk Emiten Nikel

Harga nikel diprediksi masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan.

NIKEL.CO.ID – Tekanan tambahan datang untuk emiten nikel seiring dengan upaya China menekan inflasi komoditas dan prospek penambahan pasokan.

Perdana Menteri China Li Keqiang menekankan pentingnya perbaikan regulasi di pasar bahan mentah untuk menekan biaya yang ditanggung perusahaan di tengah reli harga komoditas.

Wakil Perdana Menteri China Liu He yang mengepalai Komisi Pengembangan dan Stabilitas Finansial juga mengatakan hal serupa. Liu He mengingatkan pentingnya menjaga level harga setelah inflasi harga produsen naik 4 persen atau laju inflasi tercepat dalam hampir 3 tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, harga nikel turun 2,8 persen menjadi US$16.134 per ton di London Metal Exchange, Selasa (13/4). Harga komoditas logam itu sempat terkoreksi hingga 3,1 persen ke posisi US$16.087 per ton. Nikel mencetak penurunan berturut-turut selama 5 hari perdagangan.

Pada saat yang sama, harga nikel kontrak Juni 2021 di bursa Shanghai terkoreksi 3,6 persen ke level US$18.658 per ton. Koreksi harga ini terjadi setelah nikel sempat mendekati kisaran US$20.000 per ton akhir Februari.

Broker Komoditas Anna Stablum menjelaskan komentar kedua Li Keqiang mengenai pengendalian biaya memunculkan tekanan tambahan bagi harga nikel.

Sementara itu, laporan BMO menyebut komentar Liu He merupakan indikasi kekhawatiran kenaikan inflasi yang menjadi perhatian pemerintah China, terutama setelah kenaikan terjadi pada konsumen di sisi hilir.

Laporan itu menjelaskan Pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan kemampuan swasembada logam-logam dasar. Pengembangan ini juga mencakup akuisisi nikel dari luar negeri pada harga yang lebih rendah.

“Pemerintah China kemungkinan tidak akan melepas cadangan logamnya secara signifikan. Namun, sentimen ini diprediksi tetap bergaung untuk mengirimkan sinyal ke pasar,” tulis laporan BMO.

Sentimen lain yang menekan harga nikel adalah prospek pemulihan produksi MMC Norilsk Nickel PJSC atau Nornickel. Perusahaan asal Rusia tersebut melaporkan kegiatan produksi di tambang Oktyabrsky telah berjalan normal setelah sempat terhambat banjir.

Manajemen Nornickel menjelaskan jumlah output tambang Oktyabrsky akan pulih ke level normal pada April. Sementara itu, tambang lain yang terdampak masalah banjir, Taimyrsky, akan beroperasi penuh pada Juni.

“Kapasitas tambang di Oktyabrsky saat ini sudah mencapai 60 persen dari target,” kata manajemen Nornickel dalam siaran pers yang dikutip dari Bloomberg.

Tahun lalu, Nornickel juga menghadapi masalah pada tambangnya. Nornickel yang merupakan penghasil paladium dan nikel terbesar di dunia harus membayar kompensasi US$2 miliar akibat tumpahan diesel pada salah satu tangki bahan bakarnya di wilayah Arktik. Bulan lalu, tiga orang pekerja tewas akibat atap salah satu fasilitas pemrosesan milik perusahaan runtuh saat sedang diperbaiki.

Pemulihan AS

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan harga nikel dipicu oleh tren positif yang dinikmati dolar Amerika Serikat seiring dengan laju pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam yang berada di atas ekspektasi.

Selain itu, penguatan imbal hasil US Treasury juga ikut menekan pergerakan harga komoditas, termasuk nikel. Hal ini membuat daya tarik komoditas sebagai lawan dari mata uang dolar AS menurun di mata para investor.

“Sentimen perbaikan ekonomi AS pascastimulus sebesar US$1,9 triliun dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan profit taking,” jelasnya saat dihubungi.

Menurutnya, tren koreksi harga nikel saat ini terbilang wajar. Dia menilai level harga nikel saat ini sudah terlalu tinggi sehingga koreksi akan terjadi agar pasar dapat mengambil posisi beli pada harga yang lebih rendah.

Ibrahim memperkirakan harga nikel masih akan mengalami pelemahan selama beberapa pekan ke depan. Harga nikel berpotensi menyentuh US$15.600 per ton dengan level tertinggi di kisaran US$17.000 per ton.

Kendati tengah melemah, Ibrahim meyakini peluang penguatan harga nikel masih terbuka seiring dengan rencana paket stimulus sektor infrastruktur yang tengah dibahas AS. Saat ini, perdebatan tentang stimulus Biden tengah berlangsung antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Republik menolak rencana kenaikan pajak korporasi untuk menopang stimulus itu.

Rencana paket stimulus senilai US$2,25 triliun itu mencakup sejumlah program, mulai dari pembangunan infrastruktur, investasi energi terbarukan, hingga pajak korporasi.

“Apabila stimulus infrastruktur ini berhasil direalisasi, harga nikel berpotensi kembali menguat. Saat ini pasar nikel memang belum memiliki sentimen positif yang signifikan,” jelasnya.

Faktor pendukung prospek harga nikel lainnya adalah kenaikan permintaan baterai dan baja tahan karat yang berbahan dasar nikel. Permintaan ini seiring dengan pengembangan mobil listrik di sejumlah negara.

Ibrahim memprediksi harga nikel akan bergerak di kisaran US$13.000-US$19.000 per ton hingga paruh pertama tahun ini.

Senada, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan koreksi harga nikel terbilang wajar mengingat pergerakannya yang telah mencapai level tertinggi beberapa waktu lalu. Selain itu, tren apresiasi dolar AS juga ikut menekan harga komoditas, termasuk nikel.

“Sejumlah sentimen, seperti refationary trade, isu vaksin virus corona, dan stimulus Pemerintah AS sudah diperhitungkan [priced-in] oleh pasar. Harga nikel sebelumnya menguat didorong oleh berbagai ekspektasi yang sudah berlangsung sejak kuartal II/2020,” katanya.

Wahyu melanjutkan, saat ini pasar nikel berada pada fase tarik-menarik antarsentimen. Di satu sisi, penguatan dolar AS yang didukung oleh prospek pemulihan ekonomi serta kekhawatiran akselerasi inflasi menjadi faktor penurun harga. Di sisi lain, rebound ekonomi global akan memicu pemulihan permintaan nikel.

Wahyu melihat peluang penguatan harga nikel sepanjang 2021 masih cukup terbuka. Meskipun demikian, level harga nikel yang tinggi dan sentimen pasar yang didera kecemasan inflasi berpotensi memicu koreksi cukup dalam.

“Untuk jangka menengah, harga nikel akan berada di level US$14.000-US$18.000 per ton. Sementara itu, untuk 2021, kisaran harganya di US$13.000-US$21.000 per ton,” katanya.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan emiten produsen nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah kurang bertenaga. Laju saham ANTM serta INCO telah terkoreksi 12,69 persen dan 32,77 persen dalam 3 bulan terakhir.

Manajemen Aneka Tambang (Antam) menyatakan akan fokus ekspansi di bisnis penghiliran mineral seperti tecermin dari upaya perseroan untuk terus mengejar penyelesaian proyek smelter feronikel dan SGAR agar dapat segera berkontribusi terhadap kinerja perseroan di tengah outlook nikel yang semakin positif.

Hingga akhir 2020, smelter Feronikel Haltim mencapai kemajuan konstruksi sebesar 98 persen. Pabrik Feronikel Haltim line-1 nantinya memiliki kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Setelah rampung, smelter itu akan menambah portofolio kapasitas produksi total Antam menjadi 40.500 TNi per tahun dari kapasitas saat ini 27.000 TNi.

Di sisi lain, ANTM telah resmi tergabung dalam Indonesia Battery Corporation yang merupakan holding BUMN yang menaungi industri baterai kendaraan listrik mulai dari hulu hingga hilir bersama dengan MIND ID, PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Dalam rantai industri tersebut, ANTM berkomitmen untuk memasok bahan baku baterai kendaraan listrik, yaitu nikel.

Sejalan dengan itu, perseroan juga mematok target produksi dan penjualan bijih nikel secara agresif pada tahun ini. Padahal, pada 2020 perolehan produksi bijih nikel ANTM hanya sebesar 4,6 juta wmt dengan penjualan 3,3 juta wmt.

Sumber: bisnis.com

Read More

Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

oleh: Dwi Suryo Abdullah *)

NIKEL.CO.ID – Nikel adalah elemen logam dengan nomor atom: 28 dan berat atom: 58.6934 berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit pada umumnya terbentuk secara alami yang merupakan elemen paling umum kelima di bumi dan muncul secara luas di kerak dan inti bumi. Nikel juga disebut sebagai logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam yang dikenal memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi, sehingga nikel sering digunakan sebagai lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak karena mempunyai kemampuan untuk menahan suhu yang sangat tinggi.

Mayoritas nikel yang ditambang saat ini sekitar 60 persen digunakan untuk membuat baja campuran nikel (baja nikel) seperti baja tahan karat, kuat dan tahan korosi. Nikel sering dicampur dengan besi dan logam lain untuk membuat magnet yang kuat yang dikenal sebagai magnet Alnico, merupakan bahan campuran dari aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Campuran nikel lainnya digunakan pada poros baling-baling kapal dan sudu turbin gas, kubah, suku cadang mesin, pipa yang digunakan di pabrik desalinasi merupakan campuran nikel dengan tembaga , sering juga digunakan untuk pelapis produk kran air sehingga memberikan efek yang kilap /kemilau.

Selain Itu nikel juga digunakan untuk bahan utama baterai, uang koin, senar gitar, dan pelat baja. Sebagai contoh banyak baterai berbasis nikel dapat diisi ulang seperti baterai NiCad (nickel cadmium) dan baterai NiMH (nickel-metal hydride) yang digunakan pada kendaraan hibrida. Bahkan dikembangkan sebagai material pembuat chip, pada tahun 1881 nikel murni digunakan untuk koin di Swiss meskipun uang koin di AS pertama kali menggunakan nikel yang dicampur dengan tembaga pada tahun 1857.

Beberapa sifat nikel adalah sebagai logam yang keras namun mudah dibentuk dan ulet serta menjadi konduktor panas dan listrik yang baik. Disamping Itu nikel disebut bivalen yaitu memiliki valensi dua, merupakan logam yang larut perlahan dalam asam encer dengan titik leleh pada temperatur 1.453 ° C dan titik didih 2.913 °C. Nikel memiliki sifat fisik dan kimia yang luar biasa, dapat menjadikan banyak produk yang meningkat valuenya apabila dicampurkan dengan nikel seperti berbagi jenis baterai kendaraan listrik dengan bahan utama dari Nikel termasuk pelapis baling-baling kapal, mesin jet maupun sudu turbin gas bahkan juga sering dijumpai pada ribuan produk lainnya.

Nikel bersama dengan besi juga merupakan elemen umum dalam meteorit sehingga banyak dijumpai namun tidak banyak ditemukan pada tumbuhan, hewan dan air laut. Sehingga banyak ilmuwan meiyakini bahwa deposit besar bijih nikel ini adalah hasil dari tabrakan meteor purba, karena itulah Nikel merupakan logam yang keras dan tahan korosi.

Negara yang merupakan penghasil tambang nikel terbesar antara lain : Indonesia, Filipina, Rusia, Kanada, Brazil, Australia dan Kaledonia Baru dengan cadangan lebih dari 50 % sumber daya nikel global yang saat ini hampir mencapai 300 juta ton dengan deposit terbesar nikel di wilayah Sudbury di Ontario, Kanada .

Cadangan nikel di Kanada diperkirakan berasal dari meteorit raksasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun yang lalu, selama ini sebagian besar nikel diperoleh dari mineral pentlandite (NiS · 2FeS), yang konsentrasi ekonomis nikel terjadi di sulfida dan di deposit bijih tipe laterit. Produsen nikel terbesar sàat ini adalah Rusia sedangkan Cina memimpin dalam hal penggunaan karena hampir 60 persen konsumsinya dikaitkan dengan produksi baja tahan karat.

Konsumsi nikel terbesar beberapa tahun ini adalah untuk campuran baja, baterai dan uang koin.

Seiring dengan penemuan batarai lithium ion oleh tiga ilmuwan kimia yaitu John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino peraih nobel tahun 2019 menjadikan nikel sebagai logam yang paling banyak untuk digunakan dalam Industri baterai terutama untuk baterai kendaraan listrik, baterai surya, gadget, laptop, tablet dan banyak perkakas portable yang membutuhkan baterai sebagai penggerak motor listrik .

Tentunya ini akan mendongkrak konsumsi nikel global apalagi kendaraan listrik dan baterai surya menjadi backbone menurunkan emisi gas karbon dioksida (efek rumah kaca). Banyak mata pengusaha dan penguasa negara berusaha mengamankan cadangan nikel yang dimiliki agar dapat di ekplorasi untuk kemajuan negara sehingga membawa kemakmuran bagi rakyatnya,seperti Indonesia dengan menyiapkan Industri Baterai Nasional yang diinisiai oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara melalui Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium dari PT Pertamina (Persero) , PT PLN (Persero) , PT Inalum dan PT Aneka Tambang.

*) Dwi Suryo Abdullah adalah Pemerhati Kelistrikan

Sumber: ruangenergi.com

Read More