Freeport Nyatakan Belum Putus Kerja Sama Tsingshan untuk Bangun Smelter di Maluku

Freeport menegaskan diskusi dengan Tsingshan terkait proyek smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera hingga saat ini masih berlangsung.

NIKEL.CO.ID –  Freeport Indonesia (Freeport) menepis isu batalnya kerja sama dengan Tsingshan Steel dalam pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Kabar batalnya kerjasama Freeport dengan Tsingshan disebutkan karena berdasarkan hasil kajian, proyek smelter di Halmahera tidak lebih baik dibandingkan dengan proyek smelter di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang sudah berlangsung.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menegaskan bahwa diskusi kemitraan kedua belah pihak terkait proyek smelter di Halmahera hingga kini masih terus berlangsung.

Meski demikian, Riza tak membeberkan secara rinci sejauh apa diskusi telah berkembang.

“Belum diputuskan, masih dibicarakan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5/2021).

Juru Bicara Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi juga turut membantah kabar tersebut. Menurut dia proses diskusi antara MIND ID, PTFI dan Tsingshan masih berlangsung. Namun ia juga tak membeberkan perkembangan dari rencana kerja sama tersebut.

“Coba klarifikasi ke Dirjen Minerba,” ujarnya.

Katadata.co.id, pun mencoba meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin. Namun, hingga berita ini terbit, yang bersangkutan enggan merespon.

Sementara, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto tak ingin berkomentar lebih jauh mengenai polemik tersebut. Dia hanya menegaskan, jika smelter yang dibangun Freeport harus dapat selesai pada 2023.

“Itu kan business to business tolong ditanya ke para pihak,” kata Sugeng.

Freeport memiliki izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sejak 2018 dengan durasi 2 x 10 tahun. Kendati demikian, ada kesepakatan dimana Freeport diberikan waktu 5 tahun sejak pemberian IUPK untuk menyelesaikan proyek smelter jika tidak akan menerima sanksi sampai berupa pencabutan IUPK.

Freeport saat ini memiliki dua opsi lokasi. Awalnya berada di Gresik, Jawa Timur. Namun, kini pemerintah juga membuka peluang membangunnya di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso sebelumnya menilai perkembangan pembangunan smelter Freeport di Gresik akan tertunda dengan berlarutnya keputusan kerja sama Freeport dengan Tsingshan. Apalagi pembangunan proyek smelter Freeport sebelumnya selalu menemui kendala.

“Kenapa kok terjadi hambatan kalau memang niat kerja sama? Apakah ada hambatan karena ada kepentingan pemerintah Amerika,” ujar Budi.

Menurut dia jika memang Freeport bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam pembangunan smelter, seharusnya tidak ada yang rumit. Kecuali jika perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut tidak berniat membangun dan mempunyai kepentingan lain dibaliknya.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Freeport Batal Kerjasama Bangun Smelter Dengan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia dan perusahaan asal China, Tsingshan Group untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, ternyata berakhir tidak seperti yang digadang-gadangkan sebelumnya.

PT Freeport Indonesia dikabarkan batal melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan terkait pembangunan smelter baru di Weda Bay ini.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin.

Dia mengatakan, batalnya rencana Freeport untuk kerja sama dengan Tsingshan ini dikarenakan setelah dikaji, pembangunan smelter di Weda Bay ini tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang kini memang tengah diproses Freeport.

“Tidak jadi,” ungkap Ridwan kepada CNBC Indonesia saat ditanyakan apakah Freeport jadi join dengan Tsingshan di smelter Weda Bay.

Saat ditanya apa yang jadi pertimbangan batalnya rencana tersebut, dia pun menjawab.

“Tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di JIIPE,” ungkapnya, Jumat (30/04/2021).

Sebelumnya, rencana kerja sama Freeport dan Tsingshan ini digadang-gadang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pada bulan lalu, Luhut bahkan sempat mengatakan bahwa Freeport dan Tsingshan akan melakukan penandatanganan perjanjian untuk pembangunan smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 31 Maret 2021. Luhut menyebut, ini akan menjadi suatu proses peningkatan nilai tambah buat Indonesia.

“Mudah-mudahan tanggal minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Weda Bay antara Freeport dengan Tsingshan,” tuturnya dalam “Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia”, Rabu (24/03/2021).

Secara rinci, berdasarkan data yang dipaparkan Luhut, penandatanganan perjanjian kerja sama dijadwalkan akan dilakukan pada 31 Maret 2021. Lalu, pada 1 April 2021 Freeport dan pemerintah Indonesia akan menyepakati revisi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengenai ekspor konsentrat dan persyaratan pembangunan smelter.

Smelter baru bersama Tsingshan ini disebutkan akan mengolah sekitar 2,4 juta ton konsentrat tembaga menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga.

Dalam proyek baru ini, Freeport disebutkan cukup berinvestasi sebesar 7,5% dari total nilai proyek sekitar US$ 2,5 miliar dan selebihnya ditanggung oleh perusahaan China tersebut.

Saat ini Freeport juga tengah membangun smelter tembaga baru di JIIPE Gresik dengan kapasitas olahan sekitar 2 juta ton konsentrat tembaga. Namun per Januari 2021 realisasinya baru sekitar 5,86% dari target seharusnya 10,5%. Adapun biaya yang telah dikeluarkan baru sebesar US$ 159,92 juta.

Sesuai aturan pemerintah dan komitmen awal, Freeport seharusnya menuntaskan proyek ini pada 2023. Namun karena adanya pandemi Covid-19, Freeport mengatakan bahwa proyek smelter akan mengalami keterlambatan selama satu tahun menjadi 2024.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Luhut Pastikan Kerja Sama Freeport dan Tsingshan Rampung Minggu Depan

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan perusahaan asal China, Tsingshan Steel tengah menjajaki kerja sama pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kedua perusahaan ini akan melakukan penandatanganan secara resmi minggu depan.

“Minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Wedabe, Freeport dengan Tsingshan,” katanya dalam live streaming CNBC TV Prospek Industri Minerba 2021, Rabu (24/3/2021).

Luhut menerangkan, kerja sama kedua perusahaan ini menunjukkan adanya nilai tambah tembaga yang selama 52 tahun lebih tidak ada hilirisasi.

“Freeport itu 52 tahun Indonesia mana ada nilai tambah yang kita dapat. Mereka hanya ekspor raw material,” ungkapnya.

Menurut catatan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Freeport hanya akan mendanai 7,5 persen dari total kebutuhan investasi smelter tembaga tersebut senilai USD 2,5 miliar. Sementara itu, kapasitas smelter tembaga itu diperkirakan mencapai 2,4 juta ton konsentrat tembaga (input).

Nantinya Tsingshan Steel tak hanya membangun smelter tembaga saja, melainkan memiliki kewajiban membangun hilirisasi. Proyek smelter tembaga ini akan menjadi bagian produksi lithium battery Indonesia pada tahun 2023.

“Kita tahun 2023 akan memproduksi litium baterai dengan teknologi mutakhir NMC811,” tegas Luhut.

Luhut menjelaskan lebih rinci mengenai pembangunan smelter yang berada di Halmahera Tengah yaitu smelter nikel dan smelter tembaga. Secara keseluruhan terdapat lahan seluas 12.000 hektare (ha). Luhut berharap untuk smelter tambang mulai produksi tahun 2023, sementara untuk smelter nikel, “sekarang sudah produksi,” tutupnya.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Tsingshan Teken Kontrak Pembelian Bijih Nikel dari Tambang Morowali Senilai Rp1,3 Triliun

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Cina, Tsingshan Holding Group, akan menerima pasokan 2,7 juta ton bijih nikel kadar tinggi dari Silkroad Nickel Ltd. Suplai bijih nikel itu didapat dari tambang nikelnya di Indonesia sampai dengan akhir 2022.

Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura ini memiliki tambang bijih nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Seperti dikutip dari Kitco.com dari Reuters, Senin, 15 Maret 2021, Silkroad sebelumnya telah menandatangani kontrak dengan unit Tsingshan, PT Ekasa Yad Resources, senilai US$ 90 juta atau setara dengan Rp 1,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.393 per dolar AS).

Silkroad akan mengirim pasokan bijih nikel minimum sebesar 50.000 ton per bulan mulai dari Maret 2021 sampai dengan Desember 2022.

Selain itu, Silkroad juga akan menggunakan bijih nikel untuk membuat bahan baku nickel pig iron (NPI) di Indonesia. Perusahaan tersebut juga tengah menjajaki proyek pengolahan nikel yang menghasilkan bahan kimia untuk produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

“Kami sedang menyiapkan pengiriman pertama (ke Tsingshan) dalam dua pekan ke depan dan menargetkan secara bertahap produksinya dari April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen baru tersebut,” ujar Chief Executive Silkroad Hong Kah Ing.

Bijih nikel tersebut, kata Hong Kah Ing, juga diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi peningkatan permintaan dari berkembangnya industri baterai mobil listrik.

Sebelumnya, Silkroad pada Januari lalu telah menandatangani perjanjian penjualan bijih nikel selama 10 tahun ke Ganfeng Lithium. Perusahaan itu ingin menggunakan sebagian dari hasil kesepakatan dengan Tsingshan untuk membangun smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk produksi NPI.

Sumber: tempo.co

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

Freeport – Thingshan Pastikan Bakal Bangun Pabrik Smelter Senilai USD1,8 Miliar di Halmahera Maret 2021

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara memasuki babak baru.

Freeport dan investor asal China, Tshingshan Steel tampaknya telah menemui kesepakatan baru untuk membangun smelter di Teluk Weda, Halmahera senilai USD 1,8 miliar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaiatan dalam sebuah wawancara bersama Asia Times, beberapa waktu lalu.
Luhut memproyeksikan kesepakatan tersebut dapat ditandatangani sebelum Maret 2021.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut. Tapi kedua pihak (Freeport dan Tshingshan) masih dalam tahap pembahasan rinci,” kata Luhut seperti dikutip Asia Times, Senin (14/12/2020).

Menurut laporan Asia Times, Luhut dan sumber lainnya yang mengetahui kesepakatan tersebut menyatakan, Tshingshan telah sepakat untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan.

Saat ini, tersedia beberapa opsi untuk lokasi smelter tembaga PT Freeport Indonesia. Pertama, memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi Material Corporation yang ada di Gresik, Jawa Timur.

Pilihan lainnya yakni membangun smelter tembaga yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau memindahkan seluruh proyek ke Halmahera.

Sumber: industry.co.id

Read More

Untung atau Buntung? Luhut Senang dengan Kesepakatan, China Akan Bangun Smelter Freeport

NIKEL.CO.ID – Tsingshan Steel China telah setuju untuk membangun smelter tembaga yang dimandatkan pemerintah Indonesia. Raksasa pertambangan Freeport Indonesia (PTFI) mengusulkan smelter tembaga baru, namun berlarut-larut hingga kini

Kabar terbaru China Tsingshan Steel setuju untuk membangun fasilitas senilai US $ 1,8 miliar di kompleks pengolahan nikel Teluk Weda di Halmahera, Indonesia timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal Luhut Panjaitan dalam wawancara dengan Asia Times mengungkapkan bahwa kesepakatan itu diharapkan bisa ditandatangani sebelum Maret Mendatang Sebagaimana dilansir dari Asia Times 29 November 2020.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut,” katanya,

Namun, kedua belah pihak masih dalam pembahasan rinci. Hingga saat ini, pilihannya adalah memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi yang ada di Gresik, Jawa Timur, membangun peleburan baru yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau mengalihkan seluruh proyek ke Halmahera sebagai bagian dari pusat peleburan terintegrasi.

Luhut Panjaitan dan sumber lain yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan bahwa Tsingshan telah setuju untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan

Meninggalkan Freeport untuk membangun perpanjangan $ 250 juta untuk pabrik Mitsubishi dalam apa yang dapat dilihat sebagai isyarat komitmennya untuk pemrosesan di dalam negeri. dari semua bijinya.

Mitsubishi dan Freeport menandatangani perjanjian pada 13 November untuk menambah 300.000 ton ke kapasitas satu juta ton fasilitas saat ini. Freeport masih siap, walaupun masih enggan untuk membangun smelter baru jika kesepakatan Tsingshan gagal.

Perusahaan juga berkomitmen untuk pembangunan kilang logam mulia di lokasi yang sama sekarang setelah izin ekspornya telah berakhir untuk lendir anoda, sedimen yang kaya akan emas, perak, selenium dan telurium yang tersisa dari proses peleburan.

Kebingungan masalah smelter selama dua tahun terakhir adalah  dengan birokrat senior dan politisi tampaknya berbeda di mana seharusnya lokasinya. Setelah kesepakatan Tsingshan disepakati, masih membutuhkan persetujuan pemerintah.

Hingga akhir pekan lalu, Menteri Pertambangan dan Energi Arifin Tasrif masih terus membahas masalah ini.

“Yang penting bagi pemerintah, pengolahan konsentrat tembaga itu berlangsung di dalam negeri,” ujarnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Luhut Panjaitan telah menjadi pendukung utama perpindahan ke Halmahera yang kaya nikel, membuat Freeport dan komunitas pertambangan Indonesia sama sekali tidak sadar pada Juni lalu dengan mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah menyetujui rencana tersebut.

Dia juga penggerak utama di balik industri kendaraan listrik yang direncanakan, dengan produsen mobil Korea Selatan Hyundai sebagai investor awal $ 1,5 miliar dan LG Chemical tertarik untuk membangun pabrik baterai lithium di lokasi yang sama di dekat Jakarta.

Dengan Tsingshan juga berencana untuk menyelesaikan pabrik baterai lithium di Weda Bay pada tahun 2023, pabrik peleburan tembaga baru akan menyediakan asam sulfat yang dibutuhkan untuk memproduksi feronikel kualitas rendah untuk pasar baja tahan karat dan juga untuk memulihkan kobalt dari baterai lithium bekas.

Indonesia memiliki 80% elemen yang dibutuhkan untuk produksi baterai litium, termasuk kobalt, mangan, aluminium, bahkan elemen tanah jarang. Tapi di cakrawala juga adalah pabrik daur ulang di Halmahera yang pada akhirnya dapat menghilangkan kebutuhan mineral baru dalam proses produksi.

Tembaga Freeport akan menjadi sumber kabel dan suku cadang lainnya untuk industri mobil listrik rumahan yang dibayangkan oleh Luhut Panjaitan.

Menurut salah satu perkiraan ahli, kendaraan listrik baterai menggunakan tembaga sebanyak 83 kilogram, dibandingkan dengan 23 kilogram untuk mesin pembakaran internal.

Layanan investasi Seeking Alpha mengatakan baru-baru ini bahwa perusahaan induk anak perusahaan Indonesia, Freeport McMoRan Copper & Gold (FCX), memiliki peluang unik di dunia dengan harga tembaga yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai kendaraan listrik yang terus meningkat.

Jika hal itu terus berjalan,, kesepakatan dengan Tsingshan akan menyelamatkan pemerintah Indonesia dan FCX ​​sekitar $ 3 miliar, perkiraan biaya pembangunan smelter mereka sendiri di Kawasan Industri Gresik, sebelah utara kota pelabuhan Surabaya.

Sebagai pemilik mayoritas baru PTFI, pemerintah sudah harus membayar setengah dari biaya ekspansi bawah tanah besar-besaran di tambang Grasberg di Dataran Tinggi Tengah Papua, cadangan emas terbesar dunia dan tambang tembaga terbesar kedua.

Dianggap sebagai salah satu operasi penambangan paling menguntungkan di dunia, berkat simpanan emasnya yang kaya, cadangan terbukti di dataran tinggi Grasberg berkontribusi sekitar sepertiga dari total portofolio FCX, yang juga mencakup tambang tembaga di Amerika Serikat dan Chili.

Tidak seperti nikel, pemurnian tembaga adalah bisnis yang terkenal marjinal ketika proses akhir pengubahan konsentrat menjadi katoda tembaga hanya menambahkan 5% dari nilai keseluruhan. Diperkirakan, setiap smelter Gresik baru akan kehilangan $ 10 miliar selama 20 tahun ke depan.

Asia Times memahami bahwa Freeport telah melakukan pembayaran biaya perawatan dan pemurnian (TCs / RCs) kepada Tsingshan yang lebih tinggi dari harga pasar dengan jumlah yang sama dengan pajak ekspor 5% yang saat ini dibayarkan oleh perusahaan untuk setengah dari konsentrasinya saat ini. ekspor ke Jepang dan Spanyol.

Meskipun hal itu akan menjadi subsidi untuk biaya operasi Tsingshan dan keseluruhan sinergi tampak menarik, para ahli keuangan masih mempertanyakan kelayakan ekonomi pembangunan peleburan tembaga di tempat terpencil seperti Halmahera, sebuah proposisi yang tidak akan pernah dipertimbangkan Freeport.

Mereka mengatakan bahwa menggantungkan pajak ekspor sebagai subsidi mungkin merupakan ide yang cerdas, tetapi bahkan hal itu mungkin tidak menghasilkan arus kas yang positif di lingkungan saat ini.

Seperti yang dikatakan salah satu sumber: “Secara realistis, satu-satunya cara untuk meningkatkan ekonomi adalah dengan memotong biaya modal, yang berarti tidak ada kontrol lingkungan.”

Pengangkutan konsentrat Freeport tidak dianggap sebagai faktor utama, namun jarak antara pelabuhan Freeport di Timika di pantai selatan Papua ke situs Halmahera hanya 2.660 kilometer, dibandingkan dengan jalur 4.000 kilometer ke Gresik.

Tsingshan dan perusahaan pertambangan Prancis Eramet memulai operasi peleburan nikel di Weda Bay Processing Park senilai $ 2,2 miliar pada bulan April tahun lalu, menambah kompleks perintis multi-miliar dolar yang dioperasikan oleh grup Cina di Morawali di pantai timur Sulawesi Tengah.

Meskipun smelter Gresik belum menarik industri pendukung selama 20 tahun terakhir beroperasi, Panjaitan masih yakin menarik investor luar negeri ke Halmahera, terutama perusahaan manufaktur China yang ingin pindah ke lepas pantai.

China sudah mencengkeram industri nikel Indonesia, memicu kontroversi dengan mendatangkan ribuan pekerjanya untuk membangun dua pusat pengolahan di Sulawesi Tengah dan sekarang Halmahera.

Di kompleks Morowali senilai $ 7,8 miliar di Sulawesi, Tsingshan dan mitra Indonesia PT Bintang Delepan mengoperasikan pabrik peleburan nikel pig iron tiga juta ton per tahun, fasilitas baja karbon 500.000 ton dan pabrik ferrokrom karbon tinggi 600.000 ton.

Lebih jauh ke pesisir, di Sulawesi Tenggara, Industri Nikel Naga Kebajikan China tahun lalu menyelesaikan tahap pertama senilai $ 1,4 miliar dari kompleks Konawe tiga fase, yang pada akhirnya akan memiliki kapasitas produksi tiga juta ton feronikel setahun.

Penasihat terdekat Presiden Widodo dalam berbagai topik, Luhut Panjaitan selalu memperlakukan pabrik peleburan Freeport sebagai ujian terakhir dari tekad pemerintah untuk menambah nilai pada mineralnya dan melindungi negara dalam rantai pasokan global.

FCX yang berbasis di Phoenix enggan membangun smelter baru karena biaya modal yang tinggi dan kenyataan, yang selalu diabaikan oleh pemerintah, bahwa peleburan tidak pernah menjadi bisnis yang menguntungkan.

Tetapi keadaan mungkin telah berubah dengan akuisisi 51% saham PTFI oleh pemerintah pada tahun 2018, sebagai imbalan atas perpanjangan kontrak FCX, dan merebaknya pandemi virus corona yang telah membebani keuangan negara.

Sumber: Jurnal Presisi

Read More

Freeport Gandeng Tsingshan Bangun Smelter Copper-Nickel

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, Freeport Indonesia akan bekerja sama dengan perusahaan baja asal Tiongkok, yaitu Tsingshan Steel Indonesia untuk membuat smelter copper-nickel.

“Tadi malam kami membahas soal kerja sama pembuatan smelter copper-nickel dengan Freeport dan Tsingshan, perusahaan dari Tiongkok,” ujarnya dalam acara diskusi virtual, Rabu (25/11/2020).

Menurutnya, pembuatan smelter tersebut akan segera dimulai dengan target penyelesaian pada 2023. Smelter ini akan memproduksi sulfida yang menjadi bahan baku baterai lithium.

“Mereka juga akan memproduksi sulfida yang bisa jadi bahan baku lithium battery,” ucapnya.

Luhut yakin, keberadaan smelter ini dapat membuat Indonesia menjadi pemain global di industri baterai listrik.

“Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok baterai listrik global,” imbuhnya.

Di sisi lain, pemerintah sendiri berencana membangun pabrik baterai lithium di Weda Bay, Halmahera. Menurutnya, di sana sudah ada kawasan industri nikel yang besar.

“Karena bijih nikel dan tembaga juga akan ada di sana. Saya pikir di sana ukurannya 10 ribu hektare, itu akan menjadi industri yang mega-integrated,” tuturnya.

Sumber: JawaPos.com

Read More