Nikel dan Baterai Listrik: Analisis di Balik Batalnya Investasi Jumbo Tesla dan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Indonesia disebut sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, yakni mencapai 21 juta ton. Angka ini mengungguli Australia yang diperkirakan memiliki cadangan nikel sebesar 19 juta ton, Brasil 11 juta ton, dan Rusia 7,6 juta ton.

Dengan adanya potensi tersebut, pemerintah berupaya memaksimalkan penggunaan nikel lewat pengembangan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik. Targetnya, produksi EV pada 2030 dapat mencapai 600.000 unit untuk roda empat atau lebih, sedangkan roda dua 2,45 juta unit.

Tujuan pengembangan EV ini diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat atau lebih, dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua.

Selama ini, pertumbuhan rata-rata penggunaan nikel untuk baterai dapat dikatakan cukup cepat, yakni 20%-30% selama lima tahun terakhir. Penggunaan nikel untuk bahan baku baterai juga diperkirakan naik lima kali lipat menjadi 1,7 juta ton pada 2030. Seperti diketahui, pada tahun lalu penggunaan nikel untuk produk ini baru sebesar 0,2 juta ton.

Genjot Potensi, Manfaatkan Peluang

Maka, tak heran jika pemerintah terus berupaya menjalankan strategi agar dapat mendatangkan investasi di sektor ini. Beberapa waktu lalu, negosiasi dengan sejumlah perusahaan telah dilakukan, seperti Tesla Inc dan Tsingshan Steel.

Semula, kerja sama yang akan dijalin dengan Tesla berkaitan dengan battery energy storage system (BESS). Teknologi ini merupakan penyimpanan sumber energi skala besar dengan kapasitas puluhan hingga ratusan mega watt.

BESS juga dapat digunakan sebagai stabilisator dan berguna untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik masyarakat. Rencananya, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat tersebut akan mengambil bahan baku nikel sekaligus membangun bisnisnya di Indonesia.

Sementara itu, proyek bersama perusahaan asal China, Tsingshan pada awalnya bakal dijalin dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Keduanya ingin membangun smelter copper di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Tak main-main, investasi yang diprediksi saat itu mencapai US$2,5 miliar setara Rp36 triliun. Dalam pembiayaannya, 92,5% akan diambil oleh Tsingshan, sedangkan Freeport hanya mendanai sebesar 7,5%.

Kesepakatan Gagal Tercapai, Investor Putar Haluan

Namun, perundingan kerja sama antara keduanya terpaksa menghasilkan pil pahit. Pasalnya, baik Tesla maupun Tsingshan memilih untuk membatalkan rencana investasi.

Dalam perundingan, Tesla disebut lebih menginginkan potensi energy storage system (ESS), salah satu proyek rantai pasok ekosistem industri baterai di Indonesia. Dengan kata lain, arahnya lebih kepada pengganti pembangkit listrik.

Bahkan, diketahui belum lama ini Tesla telah meneken kerja sama dengan perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia. Elon musk sebagai pemilik Tesla, memutuskan untuk membeli nikel di perusahaan tersebut sebagai bahan baku mobil listriknya. Keduanya juga akan berkolaborasi dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan.

Sementara itu, batalnya rencana investasi dengan Tsingshan disebut oleh Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama, hanya karena kedua belah pihak tidak menemukan kesepakatan

“Freeport Indonesia dan Tsingshan Steel tidak mencapai kesepakatan,” mengutip Reuters, beberapa waktu lalu.

Freeport, ungkapnya, lebih memilih opsi untuk membangun smelter tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur. Menurutnya, fasilitas listrik dan pengolahan limbah di lokasi tersebut lebih baik ketimbang di Weda Bay.

Kesiapan Industri Hulu Hingga Hilir

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengakui, Indonesia memang dilirik sebagai pemegang penting peranan sumber bahan baku baterai.

Pasalnya, kesediaan nikel di Indonesia cukup melimpah. Namun, soal kesiapan industrinya, ia bilang hal ini berhubungan dengan banyak hal, seperti bagaimana dukungan pemerintah, penataan unsur bahan baku, serta spesifikasi nikel, mangan, kobalt untuk kebutuhan baterai itu sendiri.

“Bahan baku siap, tapi ekosistemnya yang betul-betul harus diatur dulu,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Agustus 2021.

Ia menyebutkan, terdapat 96 badan usaha industri hilir nikel yang nanti akan terbangun pada 2024 atau 2025. Artinya, dari 96 usaha yang sudah terdata itu, ada kebutuhan kurang lebih 250 juta ton bijih nikel di Indonesia.

Selain itu, Meidy mengungkapkan perlunya menciptakan good meaning practice di industri hulu.

“Apapun itu, hilir tidak akan berjalan tanpa ada bahan baku dari hulu. Artinya, supply chain stabil atau tidak, baik secara kuantitas maupun kualitas,” tambahnya.

Selama ini, kata dia, masih banyak spesifikasi nikel yang tidak sesuai dengan kondisi tambang yang ada. Rasio silikon magnesium pada nikel yang tidak sesuai, akhirnya membuat pengiriman ke smelter terpaksa di-reject.

Ekosistem Belum Berjalan

Maka, dibutuhkan pengelolaan dan manajerial yang tepat dan cepat, termasuk sinergi pelayanan publik dari kementerian terkait.

“Kondisi ini yang betul-betul harus kita cermati, ekosistemnya sudah berjalan atau belum? kenapa Tesla atau negara-negara penghasil baterai, baik di Eropa maupun Amerika malah berpindah haluan?” ujarnya.

Menurutnya, kondisi nikel di Indonesia pun tak kalah kualitasnya. Namun, tak dimungkiri bahwa investor seperti Tesla bukan hanya melihat kondisi dan bahan bakunya saja, melainkan juga mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Medy bilang, secara tidak langsung penambangan di Indonesia memang masih ada yang belum memperhatikan kondisi dan penataan lingkungan. Bagaimana penambangan baik yang tidak menghancurkan lingkungan.

“Di industri hilir masih banyak area pencemaran lingkungan, seperti pada penggunaan bahan baku batu bara sehingga emisi karbon cukup tinggi,” ujarnya.

Jadi, apakah fasilitas pengolahan nikel di Indonesia itu sudah menggunakan energi bersih? Hal ini mesti dicermati. Meidy mengatakan, mayoritas smelter yang beroperasi pun belum menggunakan renewable energi. Upaya ke depan agar produksi nikel ini lebih bermanfaat dari sisi lingkungan, perlu dikembangkan renewable energi, seperti hidroenergi atau geothermal.

Komitmen Kelola Lingkungan

Hal ini juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM periode 2016-2019. Ia sempat menganalisis sejumlah faktor mengapa Tesla lebih memilih nikel dari perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia.

Menurutnya, pertama adalah tekanan dari pemegang saham agar Tesla berpartisipasi mengurangi dampak dari perubahaan iklim.

“BHP selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Perusahaan ini juga berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil,” ujarnya dalam sebuah acara daring pekan lalu.

Oleh karena itu, komitmen yang kuat dalam mengelola tambang telah dibuktikan oleh BHP melalui penggunaan energi terbarukan.

Faktor kedua adalah kesamaan visi antara Tesla dengan BHP. Tak asing lagi, keduanya ingin mengatasi masalah lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi pada energi bersih. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. Pandangan jauh ke depan itulah yang akan menguatkan posisi mereka di mata investor.

Kemudian faktor ketiga, kerja sama ini dianggap mampu menaikkan nilai saham kedua perusahaan.

“Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerja sama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan,” tambahnya.

Kendati Tesla bisa mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka menjadi kerugian yang besar pula.

Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi apabila BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan? Nilai saham BHP bisa turun. Fakta inilah yang disebut Arcandra sebagai fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia berstatus go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan apabila tidak ingin ditinggal investor.

Terakhir, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah Australia untuk membantu perusahaan-perusahan tambang dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Pemerintah setempat dinilai hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan.

Sejumlah Tantangan

Meskipun demikian, komitmen saja rupanya tak cukup. Upaya pengembangan EV tak luput dari sejumlah tantangan. Arcandra menyebut, EV memiliki harga lebih mahal. Selain itu, ia juga memiliki jarak tempuh yang terbatas.

“Seseorang bisa menjadi ragu menggunakan mobil listrik,” ujarnya.

Kemudian, kuantitas charging station atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dibutuhkan juga harus tersedia. Baterai EV pun harus diganti setiap beberapa tahun. Dibutuhkan 6000-7000 cycle untuk bisa diganti.

Terakhir, waktu pengisian dan costnya lebih lama dibandingkan dengan kendaraan umum lainnya. Seperti diketahui, pengisian daya (cas baterai) mobil listrik atau sepeda motor battery electric vehicle (BEV) juga dikenai tarif biaya di SPKLU.

Sumber: trenasia.com

Read More

Kelanjutan Investasi Smelter Tsingshan Belum Pasti

NIKEL.CO.ID – Nasib rencana investasi smelter perusahaan asal China, Tsingshan kini belum menemui kepastian pasca tak jadi menggandeng PT Freeport Indonesia (PTFI).

Freeport Indonesia memastikan tidak akan melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan usai tak mencapai kata sepakat.

Menanggapi kondisi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun belum bisa memastikan kelanjutan investasi smelter Tsingshan yang sedianya bakal dibangun di Weda Bay, Halmahera tengah.

“Belum ada informasi ke (Ditjen) Minerba,” ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin, Jumat (23/7/2021).

Seperti diketahui, PTFI memastikan bakal melanjutkan proyek smelter di Manyar, Gresik. PTFI  telah meneken kontrak kerja sama untuk kegiatan engineering, procurement, dan construction (EPC) proyek smelter Manyar dengan PT Chiyoda International Indonesia pada Kamis (15/7/2021) lalu. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 2,7 miliar.

Dalam catatan Kontan, Freeport tertarik untuk kerjasama dengan Tsingshan lantaran perusahaan asal China itu akan membiayai sebagian investasi (capex) yang diperlukan untuk membangun smelter.

Tsingshan pun disebut memiliki teknologi yang bisa menekan capex sehingga lebih efisien. Hal ini dapat mengatasi keluhan Freeport yang selama ini digembar-gemborkan proyek smelter yang merugikan secara keekonomian.

Dari sisi pembiayaan, Tsingshan disebut siap untuk menanggung 92,5% biaya proyek, sedangkan 7,5% sisanya akan ditanggung oleh Freeport.  Adapun, kapasitas yang akan dibangun sebanyak 2,4 juta ton dengan biaya sekitar US$ 2,5 miliar.

Sumber: KONTAN

Read More

Ini Alasan Freeport Batal Kerja Sama dengan Tsingshan

Pasokan listrik dan penanganan limbah juga menjadi pertimbangan Freeport dalam memutuskan untuk membangun smelter di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pembangunan smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, dan batal melakukan kerja sama dengan investor asal China, Tsingshan Steel.

Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan bahwa rencana kerja sama dengan Tsingshan untuk membangun smelter di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, tidak berlanjut karena tidak tercapai kesepakatan.

“Ada term dengan Tsingshan yang tidak ketemu deal-nya. Lebih baik bangun sendiri di Gresik,” kata Riza kepada Bisnis, Kamis (15/7/2021).

Selain itu, kata Riza, pasokan listrik dan penanganan limbah juga menjadi pertimbangan Freeport dalam memutuskan untuk membangun smelter di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

“Lebih baik bangun di JIIPE, karena kami sudah punya lokasi. Smelter pertama kami kan di Gresik juga. Fasilitasnya lebih baik, dari listriknya dan untuk penanganan waste-nya juga lebih baik,” ujarnya.

Sebelumnya, pembangunan smelter Freeport yang ditargetkan harus selesai pada 2023, sempat terhambat akibat pandemi Covid-19. Karena alasan ini, Freeport pun mengajukan penundaan pembangunan selama 12 bulan kepada Kementerian ESDM pada April 2020.

Di tengah usulan penundaan tersebut, sempat muncul opsi alternatif bahwa pembangunan smelter akan dilakukan di Weda Bay melalui kerja sama dengan Tsingshan. Dalam opsi kerja sama ini, sebagian besar biaya investasi pembangunan smelter rencananya akan ditanggung oleh Tsingshan.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, pembiayaan pembangunan smelter di Gresik sepenuhnya akan dilakukan oleh Freeport melalui pinjaman. Nilai investasi pembangunan smelter di Gresik diperkirakan mencapai US$3 miliar.

Sumber: bisnis.com

Read More

Freeport Nyatakan Belum Putus Kerja Sama Tsingshan untuk Bangun Smelter di Maluku

Freeport menegaskan diskusi dengan Tsingshan terkait proyek smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera hingga saat ini masih berlangsung.

NIKEL.CO.ID –  Freeport Indonesia (Freeport) menepis isu batalnya kerja sama dengan Tsingshan Steel dalam pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Kabar batalnya kerjasama Freeport dengan Tsingshan disebutkan karena berdasarkan hasil kajian, proyek smelter di Halmahera tidak lebih baik dibandingkan dengan proyek smelter di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang sudah berlangsung.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menegaskan bahwa diskusi kemitraan kedua belah pihak terkait proyek smelter di Halmahera hingga kini masih terus berlangsung.

Meski demikian, Riza tak membeberkan secara rinci sejauh apa diskusi telah berkembang.

“Belum diputuskan, masih dibicarakan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5/2021).

Juru Bicara Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi juga turut membantah kabar tersebut. Menurut dia proses diskusi antara MIND ID, PTFI dan Tsingshan masih berlangsung. Namun ia juga tak membeberkan perkembangan dari rencana kerja sama tersebut.

“Coba klarifikasi ke Dirjen Minerba,” ujarnya.

Katadata.co.id, pun mencoba meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin. Namun, hingga berita ini terbit, yang bersangkutan enggan merespon.

Sementara, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto tak ingin berkomentar lebih jauh mengenai polemik tersebut. Dia hanya menegaskan, jika smelter yang dibangun Freeport harus dapat selesai pada 2023.

“Itu kan business to business tolong ditanya ke para pihak,” kata Sugeng.

Freeport memiliki izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sejak 2018 dengan durasi 2 x 10 tahun. Kendati demikian, ada kesepakatan dimana Freeport diberikan waktu 5 tahun sejak pemberian IUPK untuk menyelesaikan proyek smelter jika tidak akan menerima sanksi sampai berupa pencabutan IUPK.

Freeport saat ini memiliki dua opsi lokasi. Awalnya berada di Gresik, Jawa Timur. Namun, kini pemerintah juga membuka peluang membangunnya di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso sebelumnya menilai perkembangan pembangunan smelter Freeport di Gresik akan tertunda dengan berlarutnya keputusan kerja sama Freeport dengan Tsingshan. Apalagi pembangunan proyek smelter Freeport sebelumnya selalu menemui kendala.

“Kenapa kok terjadi hambatan kalau memang niat kerja sama? Apakah ada hambatan karena ada kepentingan pemerintah Amerika,” ujar Budi.

Menurut dia jika memang Freeport bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam pembangunan smelter, seharusnya tidak ada yang rumit. Kecuali jika perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut tidak berniat membangun dan mempunyai kepentingan lain dibaliknya.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Freeport Batal Kerjasama Bangun Smelter Dengan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia dan perusahaan asal China, Tsingshan Group untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, ternyata berakhir tidak seperti yang digadang-gadangkan sebelumnya.

PT Freeport Indonesia dikabarkan batal melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan terkait pembangunan smelter baru di Weda Bay ini.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin.

Dia mengatakan, batalnya rencana Freeport untuk kerja sama dengan Tsingshan ini dikarenakan setelah dikaji, pembangunan smelter di Weda Bay ini tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang kini memang tengah diproses Freeport.

“Tidak jadi,” ungkap Ridwan kepada CNBC Indonesia saat ditanyakan apakah Freeport jadi join dengan Tsingshan di smelter Weda Bay.

Saat ditanya apa yang jadi pertimbangan batalnya rencana tersebut, dia pun menjawab.

“Tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di JIIPE,” ungkapnya, Jumat (30/04/2021).

Sebelumnya, rencana kerja sama Freeport dan Tsingshan ini digadang-gadang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pada bulan lalu, Luhut bahkan sempat mengatakan bahwa Freeport dan Tsingshan akan melakukan penandatanganan perjanjian untuk pembangunan smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 31 Maret 2021. Luhut menyebut, ini akan menjadi suatu proses peningkatan nilai tambah buat Indonesia.

“Mudah-mudahan tanggal minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Weda Bay antara Freeport dengan Tsingshan,” tuturnya dalam “Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia”, Rabu (24/03/2021).

Secara rinci, berdasarkan data yang dipaparkan Luhut, penandatanganan perjanjian kerja sama dijadwalkan akan dilakukan pada 31 Maret 2021. Lalu, pada 1 April 2021 Freeport dan pemerintah Indonesia akan menyepakati revisi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengenai ekspor konsentrat dan persyaratan pembangunan smelter.

Smelter baru bersama Tsingshan ini disebutkan akan mengolah sekitar 2,4 juta ton konsentrat tembaga menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga.

Dalam proyek baru ini, Freeport disebutkan cukup berinvestasi sebesar 7,5% dari total nilai proyek sekitar US$ 2,5 miliar dan selebihnya ditanggung oleh perusahaan China tersebut.

Saat ini Freeport juga tengah membangun smelter tembaga baru di JIIPE Gresik dengan kapasitas olahan sekitar 2 juta ton konsentrat tembaga. Namun per Januari 2021 realisasinya baru sekitar 5,86% dari target seharusnya 10,5%. Adapun biaya yang telah dikeluarkan baru sebesar US$ 159,92 juta.

Sesuai aturan pemerintah dan komitmen awal, Freeport seharusnya menuntaskan proyek ini pada 2023. Namun karena adanya pandemi Covid-19, Freeport mengatakan bahwa proyek smelter akan mengalami keterlambatan selama satu tahun menjadi 2024.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Luhut Pastikan Kerja Sama Freeport dan Tsingshan Rampung Minggu Depan

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan perusahaan asal China, Tsingshan Steel tengah menjajaki kerja sama pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kedua perusahaan ini akan melakukan penandatanganan secara resmi minggu depan.

“Minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Wedabe, Freeport dengan Tsingshan,” katanya dalam live streaming CNBC TV Prospek Industri Minerba 2021, Rabu (24/3/2021).

Luhut menerangkan, kerja sama kedua perusahaan ini menunjukkan adanya nilai tambah tembaga yang selama 52 tahun lebih tidak ada hilirisasi.

“Freeport itu 52 tahun Indonesia mana ada nilai tambah yang kita dapat. Mereka hanya ekspor raw material,” ungkapnya.

Menurut catatan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Freeport hanya akan mendanai 7,5 persen dari total kebutuhan investasi smelter tembaga tersebut senilai USD 2,5 miliar. Sementara itu, kapasitas smelter tembaga itu diperkirakan mencapai 2,4 juta ton konsentrat tembaga (input).

Nantinya Tsingshan Steel tak hanya membangun smelter tembaga saja, melainkan memiliki kewajiban membangun hilirisasi. Proyek smelter tembaga ini akan menjadi bagian produksi lithium battery Indonesia pada tahun 2023.

“Kita tahun 2023 akan memproduksi litium baterai dengan teknologi mutakhir NMC811,” tegas Luhut.

Luhut menjelaskan lebih rinci mengenai pembangunan smelter yang berada di Halmahera Tengah yaitu smelter nikel dan smelter tembaga. Secara keseluruhan terdapat lahan seluas 12.000 hektare (ha). Luhut berharap untuk smelter tambang mulai produksi tahun 2023, sementara untuk smelter nikel, “sekarang sudah produksi,” tutupnya.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Tsingshan Teken Kontrak Pembelian Bijih Nikel dari Tambang Morowali Senilai Rp1,3 Triliun

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Cina, Tsingshan Holding Group, akan menerima pasokan 2,7 juta ton bijih nikel kadar tinggi dari Silkroad Nickel Ltd. Suplai bijih nikel itu didapat dari tambang nikelnya di Indonesia sampai dengan akhir 2022.

Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura ini memiliki tambang bijih nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Seperti dikutip dari Kitco.com dari Reuters, Senin, 15 Maret 2021, Silkroad sebelumnya telah menandatangani kontrak dengan unit Tsingshan, PT Ekasa Yad Resources, senilai US$ 90 juta atau setara dengan Rp 1,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.393 per dolar AS).

Silkroad akan mengirim pasokan bijih nikel minimum sebesar 50.000 ton per bulan mulai dari Maret 2021 sampai dengan Desember 2022.

Selain itu, Silkroad juga akan menggunakan bijih nikel untuk membuat bahan baku nickel pig iron (NPI) di Indonesia. Perusahaan tersebut juga tengah menjajaki proyek pengolahan nikel yang menghasilkan bahan kimia untuk produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

“Kami sedang menyiapkan pengiriman pertama (ke Tsingshan) dalam dua pekan ke depan dan menargetkan secara bertahap produksinya dari April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen baru tersebut,” ujar Chief Executive Silkroad Hong Kah Ing.

Bijih nikel tersebut, kata Hong Kah Ing, juga diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi peningkatan permintaan dari berkembangnya industri baterai mobil listrik.

Sebelumnya, Silkroad pada Januari lalu telah menandatangani perjanjian penjualan bijih nikel selama 10 tahun ke Ganfeng Lithium. Perusahaan itu ingin menggunakan sebagian dari hasil kesepakatan dengan Tsingshan untuk membangun smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk produksi NPI.

Sumber: tempo.co

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

Freeport – Thingshan Pastikan Bakal Bangun Pabrik Smelter Senilai USD1,8 Miliar di Halmahera Maret 2021

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara memasuki babak baru.

Freeport dan investor asal China, Tshingshan Steel tampaknya telah menemui kesepakatan baru untuk membangun smelter di Teluk Weda, Halmahera senilai USD 1,8 miliar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaiatan dalam sebuah wawancara bersama Asia Times, beberapa waktu lalu.
Luhut memproyeksikan kesepakatan tersebut dapat ditandatangani sebelum Maret 2021.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut. Tapi kedua pihak (Freeport dan Tshingshan) masih dalam tahap pembahasan rinci,” kata Luhut seperti dikutip Asia Times, Senin (14/12/2020).

Menurut laporan Asia Times, Luhut dan sumber lainnya yang mengetahui kesepakatan tersebut menyatakan, Tshingshan telah sepakat untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan.

Saat ini, tersedia beberapa opsi untuk lokasi smelter tembaga PT Freeport Indonesia. Pertama, memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi Material Corporation yang ada di Gresik, Jawa Timur.

Pilihan lainnya yakni membangun smelter tembaga yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau memindahkan seluruh proyek ke Halmahera.

Sumber: industry.co.id

Read More