Hilirisasi Nikel dan Kisah SDA Kita

Oleh: Kwik Kian Gie *)

Tuhan memberi kekayaan SDA untuk rakyat Indonesia,tetapi oleh para penguasa diberikan ke korporat asing dan beberapa partikelir. Semoga kali ini titik awal dari koreksi atas kesalahan yang terjadi sejak 1967 hingga kini.

Pemerintah menyatakan bahan baku nikel di perut bumi Indonesia tak boleh lagi dikeduk para korporat asing dan langsung diangkut ke negara mereka masing-masing.

Pemerintah melalui Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan mengatakan, nikel harus digarap di dalam negeri sampai menjadi bahan mentah buat pembuatan bahan baku siap pakai untuk, antara lain baterai. Sayang kesadaran soal ini baru muncul sekarang. Harapannya, bukan hanya nikel yang diperlakukan demikian, tetapi semua mineral di dalam perut bumi Indonesia.

Sejak 1967, sumber daya mineral kita sudah ”dihabisi” korporat-korporat raksasa asing dan perorangan Indonesia swasta (istilah Bung Hatta, orang partikelir). Selama Bung Karno presiden RI, Istana dibanjiri pimpinan perusahaan raksasa asing yang minta konsesi untuk eksplorasi dan eksploitasi SDA kita, terutama mineral yang sangat mahal harganya.

Bung Karno menolak semuanya sambil memerintahkan Wakil Perdana Menteri Chairul Saleh yang ketika itu membidangi ESDM, agar sedikit saja izin diberikan pada korporat asing untuk memperoleh devisa yang sangat kita butuhkan. Ketika ditanya oleh Megawati, Bung Karno menjawab: “Nanti akan dieksploitasi oleh insinyur-insinyur kita sendiri.” Ceritera ini saya peroleh langsung dari Megawati.

Bung Karno lantas “mengemis” beasiswa dari negara manapun di dunia buat para siswa Indonesia agar bisa belajar di universitas-universitas di negara mereka. Di 1967, sudah sangat banyak insinyur di segala bidang, termasuk geologi lulusan universitas terbaik di seluruh dunia, ditambah ITB yang sejak era penjajahan sudah ada. Namun apa yang terjadi?

Mereka bekerja pada perusahaan-perusahaan asing sebagai tenaga gajian yang melakukan eksploitasi besar-besaran SDA mineral kita. Yang ditakutkan Bung Karno terjadi, yaitu walaupun sudah merdeka, Indonesia menjadi ”Een natie van koelies en een Koelie onder de naties.” (Bangsa yang terdiri dari kuli-kuli dan bangsa kuli di antara bangsa-bangsa lain.”

Kutipan proklamator Ir Soekarno tertulis di dinding di kawasan Kedaung, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (8/6/2021). Kutipan-kutipan Bung Karno terkait berbangsa dan bernegara masih relevan hingga kini dan menjadi inspirasi lintas generasi.

Peran “Mafia Berkeley”

Buku Economists With Guns, Authoritarian Development and US-Indonesian Relations”, 1960-1968 yang ditulis Bradley Simpson dan diterbitkan Stanford University Press (2008) membeberkan cerita itu. Saya yakin semua yang ditulisnya benar dan otentik. Simpson meraih gelar PhD dari North Western University dengan disertasi yang mempelajari dokumen-dokumen otentik hubungan RI-AS. Hampir semua dokumen yang dipelajarinya dokumen yang classified.

Setelah disertasinya terbit, dia diangkat jadi direktur Arsip Nasional oleh Pemerintah AS, sehingga punya akses lebih besar dan langsung ke dokumen-dokumen otentik. Hampir tak ada kalimat yang tak didukung dokumen otentik. Di bab “Reference Matter”, dokumen pendukung 73 halaman, dengan isi buku 259 halaman.

Saya akan mengutip yang relevan dalam aspek penguasaan Indonesia oleh negara-negara maju/kuat, terutama AS, secara kronologis. Halaman 19 mengungkapkan, Ford Foundation (FF) mendanai pendidikan para ilmuwan sosial Indonesia, yang secara langsung membentuk jalan pikiran tentang pembangunan.

Hampir tak ada kalimat yang tak didukung dokumen otentik.

Antara 1952 dan 1962, FF – di samping AID – memberikan program pendidikan dan pelatihan kepada seluruh generasi ahli ekonomi Indonesia melalui pembentukan kemitraan antara UI dengan University of California at Berkeley, dan pendanaan studi S2 bidang ekonomi pada MIT, Cornell University dan institusi lainnya.

Dua tahun kemudian FF melaporkan bahwa program pendidikan dan pelatihan ekonominya berpengaruh besar pada pembangunan Indonesia.

Halaman 20 mengungkapkan, para guru besar ekonomi UI yaitu Widjojo Nitisastro, Mohammed Sadli, Subroto, Ali Wardhana dan Emil Salim memainkan peran krusial setelah jatuhnya Soekarno 1966, dengan menata ulang kebijakan ekonomi Indonesia dengan memusnahkan ekonomi terpimpin Soekarno, yang membuat mereka terkenal dengan sebutan “The Berkeley Mafia”.

Pada 16 Desember beberapa pejabat tinggi Indonesia berkumpul membicarakan usulan Chaerul Saleh tentang pengambilalihan Caltex dan Stanvac. Di tengah pertemuan, Soeharto datang dengan helikopter secara dramatis, masuk ke kamar perundingan dengan pemberitahuan sangat jelas: TNI tak akan melakukan pengambilalihan perusahaan minyak. Ia hanya mengatakan itu dan langsung meninggalkan ruangan.

Di halaman 219 diungkapkan, Soeharto memahami, dia butuh para teknokrat jika ingin menyelamatkan ekonomi. Maka segera ia pekerjakan mereka. Widjojo, Salim dan Wardhana memberitahu Edward Master, selama musim gugur 1966 mereka melakukan berbagai pertemuan dengan KOGAM, BI dan Sultan HB IX dengan pesan perekonomian dalam kondisi sangat buruk dan butuh penyelamatan.

Halaman 227, FF membiayai satu generasi ekonom UI untuk belajar di AS. “You cannot have a modernizing country without a modernizing elite”, demikian Frank Sutton, deputy vice president bagian internasional FF. Pada awal 1960 UI menyelenggarakan Executive Development Program model AS untuk melatih pimpinan tentara dan sipil. Tahun 1966 Robert McNamara mengatakan program itu terbukti punya nilai tinggi.

Halaman 231, sangat ilustratif soal kasus Freeport Sulphur. Di 1959 Freeport memperoleh laporan dari ahli geologi Belanda tentang deposito tembaga di Irian Barat. April 1965 Freeport memperoleh persetujuan prinsip (preliminary) dari Kementerian ESDM untuk eksplorasi tembaga dan nikel.

Soekarno menutup pintu Indonesia dari investor asing. Awal September, James Moyer, direktur Informasi Freeport jadi staf Gedung Putih, di mana saudaranya, Bill Moyer bekerja. Dua bulan kemudian, ketika tentara melakukan pembunuhan terhadap pendukung PKI, Freeport membuka perundingan dengan para jenderal untuk masuk kembali ke Indonesia.

Beberapa hari setelah Supersemar, teknisi Freeport berbondong-bondong masuk ke hutan-hutan Irian Barat, berlomba dengan Mitsui dari Jepang.

Beberapa hari setelah Supersemar, teknisi Freeport berbondong-bondong masuk ke hutan-hutan Irian Barat, berlomba dengan Mitsui dari Jepang. Yang ditemukan Freeport gunung setinggi 600 kaki menjulang, penuh biji tembaga berkualitas tinggi. Penemuan Ertsberg, gunung dengan kandungan tembaga terbesar dunia, meyakinkan mereka untuk gerak cepat memperoleh konsesi.

Halaman 244, misi perdagangan pertama tiba di Jakarta dari Oregon dan San Francisco April 1967, mewakili perusahaan-perusahaan skala menengah yang melakukan penjajakan di bidang kayu, plywood, kimia, pertambangan, dan minyak. Misi perdagangan dari Belgia, Belanda, Australia, Perancis dan Korea Utara menyusul. Dilaporkan harian Belanda De Volkskrant, terjadi kompetisi sengit untuk dapatkan pasar yang menguntungkan di Indonesia.

Penguasa Baru Dunia

Kedubes AS memuji Soeharto yang menerima investasi asing sebagai sumber utama membangun luar Jawa. Tetapi para teknokrat prihatin karena perusahaan-perusahaan multinasional raksasa yang dianggap engine of development belum ambil inisiatif. Yang datang hanya perusahaan kecil seperti Freeport dan IAPCO. Halaman 245, dua bulan kemudian pertemuan yang jauh lebih penting berlangsung di Geneva.

Sebelum Simpson menerbitkan Economists With Guns, ia bersama Jeffrey Winters memberikan wawancara kepada wartawan senior John Pilger, yang ditulisnya di bukunya The New Rulers Of The World. Halaman 37 mengungkapkan: “Pada November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (baca: jatuhnya Bung Karno), hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Geneva yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia”. Para pesertanya para kapitalis paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller.

Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja, orang- orang Soeharto yang disebut Rockefeller “ekonom-ekonom Indonesia yang top”.

“Di Geneva, tim Sultan terkenal dengan sebutan the Berkeley Mafia, karena beberapa pernah menikmati beasiswa dari Pemerintah AS untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan: … buruh murah yang melimpah, … cadangan besar dari SDA, … pasar yang besar.”

Halaman 39: “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor”. “Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler”, kata Winters. Simpson telah pelajari dokumen-dokumen konferensi.

Para pesertanya para kapitalis paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller.

“Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: “ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini”, dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri”.

Freeport dapat bukit dengan tembaga di Papua Barat. Sebuah konsorsium Eropa dapat nikel Papua Barat. Raksasa Alcoa dapat bagian terbesar bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan AS, Jepang dan Perancis dapat hutan-hutan tropis di Sumatera, Papua Barat dan Kalimantan.

Sebuah UU tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan ke Soekarno membuat “perampokan” (plunder) ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali ekonomi Indonesia pindah ke IGGI, yang anggota intinya adalah AS, Kanada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, IMF dan Bank Dunia.”

Jadi, sejak 1967 Indonesia sudah dikapling-kapling, dengan tuntunan elite bangsa sendiri yang saat itu berkuasa.

Kemudian ada beberapa catatan John Perkins dalam bukunya, Confessions of An Economic Hitman yang kontroversial. Ia bekerja untuk MAIN, perusahaan konsultan AS. Penugasan pertamanya di Indonesia. Ia bagian dari tim terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk membuat cetak biru rencana pembangunan pembangkit listrik di Jawa. Ia harus membuat model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa.

Halaman 13: “Saya tahu statistik bisa dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki analis atas dasar statistik yang dibuatnya.” Halaman 15: “Pertama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan utang yang sangat besar jumlahnya, yang akan disalurkan kembali ke MAIN dan perusahaan AS lain (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa di bidang rekayasa dan konstruksi”.

“Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman itu (tentunya setelah MAIN dan kontraktor AS lain dibayar), agar negara target itu selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara pengutang (baca: Indonesia) jadi target empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan SDA lainnya.”

Halaman 15-16: “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek itu ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara penerima utang yang sudah kaya dan berpengaruh di negara masing-masing. Dengan demikian, ketergantungan keuangan negara penerima utang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan kepada pemerintah pemberi utang.

Maka semakin besar jumlah utang semakin baik. Kenyataan bahwa beban utang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya di bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”

Halaman 15: “Faktor yang paling menentukan adalah PDB. Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.”

Halaman 16: “Claudia (Claudia Martin, pejabat CIA yang diberi tugas memberikan perintah ke Perkins) dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walau hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani utang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.”

Kekayaan suatu bangsa bisa dibagi ke dua kategori, kekayaan yang dibuat manusia, dan kekayaan yang sudah ada (God Given Wealth) seperti SDA di perut bumi Indonesia, flora dan fauna di lautan, iklim yang kondusif untuk sangat banyak jenis makanan dan obat-obatan, tanah yang luas, dsb.

*) Kwik Kian Gie, adalah Menteri Koordinator Ekonomi 1999-2000 dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas 2001-2004

Sumber: kompas.id

Read More

Keganjilan di RUU Energi Baru dan Terbarukan

  • DPR sedang merumuskan regulasi terkait enegi baru dan terbarukan (EBT) yang dinilai peneliti tidak menjawab mitigasi dampak perubahan iklim.
  • Dalam RUU EBT, porsi yang banyak dibahas adalah pengembangan PLTN dan produk turunan batu bara sebagai “energi baru”.
  • Para peneliti hukum lingkungan dan energi juga menilai masih ada tumpang tindih kebijakan terkait EBT.
  • Energi terbarukan juga perlu dikritisi terutama jika berdampak lebih masif pada kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

NIKEL.CO.IDDewan Perwakilan Rakyat (DPR) membuat naskah akademik dan draft Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) sejak 25 Januari 2021 dan ditargetkan jadi Undang-undang pada Oktober 2021. Peneliti membuka sejumlah keganjilan dan paradoks di regulasi ini yang fokus membahas nuklir dan produk turunan batu bara.

Hal ini dibahas dalam workshop daring Meliput Isu Energi Terbarukan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Yayasan WWF Indonesia pada 29-30 Agustus 2021.

Pemanfaatan energi di Indonesia masih didominasi oleh bahan bakar fosil, terutama batu bara yang menghasilkan emisi gas rumah kaca besar. Sementara itu, sumber daya energi terbarukan yang melimpah di Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target bauran EBT menjadi 23% pada tahun 2025.

Satrio Swandiko Prilianto, Renewable Energy Campaigner Greenpeace South East Asia menyimpulkan Indonesia memanfaatkan energi-energi baru yang dinilai solusi semu. Rekomedasinya adalah mengeluarkan proyek-proyek energi fosil dalam pipeline, meningkatkan ambisi/target energi terbarukan, dan melakukan pengembangan dalam penentuan harga. Caranya, mencabut subsidi ke energi fosil dan dialihkan ke energi terbarukan. Teknologi yang direkomendasikan adalah surya, bayu, dan minihidro/mikrohidro karena fleksibilitas penggunaannya dan mendorong pengembangan energi terbarukan yang terdistribusi.

Ia memaparkan perbedaan energi baru dan terbarukan adalah teknologi. Sedangkan RUU EBT ini dibuat untuk merespon mitigasi dampak krisis iklim. Apakah benar bisa menyasar krisis iklim?

Pasal 9 draft RUU EBT menyebutkan sumber energi baru adalah nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed methane/CBM), batu bara tercairkan (liquefied coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Kenapa masih banyak mengurus sumber energi fosil?

Pasal 30 menyebutkan sumber energi terbarukan adalah panas bumi, angin, biomassa, sinar matahari, aliran dan terjunan air, sampah, limbah produk pertanian, limbah atau kotoran hewan ternak, gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut, dan sumber lainnya.

Nuklir diklaim energi baru walau termasuk teknologi lama, di Indonesia sudah dimulai pada 1965. Secara global malah ada 13 reaktor nuklir (PLTN) tutup permanen di Jepang, Amerika Serikat, Swis, Jerman, Korea, Rusia, Swedia, dan Taiwan dengan total daya 9,4 GW. Ada sejumlah alasan penutupan, misalnya berusia lebih 40 tahun atau misalnya Jepang merevisi keamanan dan tidak bisa mengikuti regulasi terbaru. Satrio menyebut PLTN di Amerika tutup karena kondisi pasar yaitu kalah saing dengan energi terbarukan.

Satrio menyebut saat pandemi terjadi penurunan permintaan listrik dunia 2020 dan berpengaruh pada pembangkit nuklir yang turun 4%. Karena kapasitasnya rata-rata besar di atas 1 GW, maka untuk mencapai nilai ekonomi tinggi, load factor di atas 90%, PLTN harus berjalan dengan kapasitas penuh karena biayanya mahal.

Di sisi lain, waktu konstruksi reaktor nuklir tidak pasti, sehingga banyak yang mangkrak. Misalnya dari 37 reaktor terakhir di 9 negara sejak 2004, waktu pembangunannya 3,8 hingga 36 tahun. “Lama sekali, ada banyak hal yang bisa dikembangkan selama durasi waktu tersebut,” lanjut Satrio.

Dari jejak karbon, nukir termasuk terendah tapi jejak airnya besar. Air yang digunakan untuk mendinginkan pasca bencana bocornya reaktor nuklir Fukushima menyebutkan air yang telah terkontaminasi 1,25 juta ton.

Satrio menambahkan, di Amerika, pembuangan limbah radioaktif nuklir sulit dikelola, dari 96 reaktor komersil yang beroperasi ada lebih 90 ribu ton limbah radioaktif tinggi. Perancis menghasilkan limbah nuklir tertinggi, karena menghidupi 72% sumber listriknya. Limbah masih disimpan dalam fasilitas temporer.

Sumber energi baru lain dalam RUU EBT adalah gasifikasi, proses produksi gas dari batu bara. Gas yang dihasilkan adalah Hidrogen (H2) untuk pembakaran dengan beragam teknologi. Walau hidrogen disebut rendah emisi namun hasil gasifikasi perlu energi dan menghasilkan emisi. “Ini buang-buang energi,” sebut Satrio. Dibanding energi terbarukan, Global Warming Potential (GWP) pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar gas dari gasifikasi masih lebih tinggi.

Kesimpulannya, dekarbonisasi dipertanyakan karena sedikitnya pengurangan emisi yang dicapai dengan teknologi  “energi baru” ini. RUU ini juga bukan untuk energi terbarukan karena fokus ke nuklir. “Menciptakan masalah lain yang jadi masalah baru. Tidak adanya justifikasi tegas kenapa harus menggunakan nuklir?,” tanya Satrio.

Chrisandini dari Energy Project Leader Yayasan WWF Indonesia menambah perspektif kritis pada proyek energi terbarukan. Tak serta merta energi terbarukan bersih, terutama skala besar. Secara global, dibandingkan fosil, jejak karbonnya jauh lebih sedikit dan bisa dikelola. Sedangkan dampak lokal, termasuk alat dan alih fungsi lahan.

Misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dari analisis keseluruhan siklusnya yang perlu dipertimbangkan adalah pengambilan bahan baku dan pembukaan lahan. Sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) membuat penggenangan lahan perlu lahan besar termasuk akses infrastruktur. Apalagi biasanya dibangun di daerah hulu seperti hutan dan sumber air.

Sedangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang perlu diperhatikan adalah energi untuk mengebor dan memompa air. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) disebut menggunakan lahan 12-57 ha per MW kapasitas terpasang dan putaran turbin mengancam satwa terbang.

Dampak pembangunan bendungan untuk PLTA menurut Chrisandini cukup serius. Misalnya sedimentasi tertahan di waduk, mengubah suhu sungai, ikan tidak bisa lewat atau melompati bendungan. Ini membatasi migrasi ikan, karena itu di beberapa negara ada akses ikan. Tapi masih sulit berenang ke hilir jika bendungannya banyak. Contoh lain, ikan sidat bertelur di laut, kemudian pindah ke sungai menuju hulu untuk jadi dewasa. Jika migrasinya terhambat, akan mengurangi populasi sidat. Namun belum banyak studi dampak bendungan pada populasi ikan.

Pun demikian, tetap butuh energi terbarukan sebagai transisi fosil. Kombinasi energi terbarukan dalam sistem jaringan listrik dilakukan dengan batasi jumlah PLTA, dan menentukan lokasi pembangkit yang lebih tepat untuk mengurangi dampak negatif. Tantangannya adalah membuat best practice untuk pengaman lingkungan dan sosial. Secara global sudah ada sejumlah panduan protokol penilaian misalnya Hydropower Sustainability Assesment.

Verena Puspawardani Program Director Coaction Indonesia menambahkan, tantangan menuju transportasi bersih sangat besar karena 91% konsumsi bahan bakar fosil untuk sektor transportasi. Pemerintah kini fokus di transportasi biodiesel dan kendaraan listrik (HEESI, 2020). Karena ada peluang bahan baku nikel produksi Indonesia. Sebanyak 27% emisi sektor transportasi dari total emisi sektor energi (Climate Transparency, 2020). Indonesia posisi 10 penyumbang emisi dan berkomitmen mengurangi emisi 29-41% pada 2030.

Biodiesel dipakai untuk transisi transportasi darat ke biodiesel dan listrik. Transportasi laut ke biodiesel, dan udara transisi ke bio-avtur. “Biasanya untuk aspek berkelanjutan, tapi Indonesia karena murni aspek ekonomi dan over supply,” sebutnya.

Narasi pemerintah untuk ketahanan energi adalah pengurangan konsumsi BBM impor, terwujudnya energi bersih, dan hilirisasi CPO.

Koalisi CSO untuk Energi Terbarukan

Arif Adiputro, Project Manager Indonesia Parliamentary Center menyebut saat ini ada Koalisi CSO untuk energi terbarukan yang mengadvokasi RUU EBT. Menurutnya konsep RUU ini belum jelas apakah transisi energi atau mengakomodir proyek khusus. Ia mengatakan ada masalah transparansi dalam pembahasannya karena masukan CSO belum terakomodir. “Kalau targetnya transisi energi yang difokuskan harusnya energi terbarukan, bukan energi lain yang sudah ada di UU lain seperti nuklir dan batu bara,” katanya.

Grita Anindarini, Deputy Director for Programs and Head of Environment Governance and Climate Justice Division Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) pun memaparkan ketidakcocokan regulasi di bidang energi ini. Legislasi UU belum mendukung pengembangan energi terbarukan. Sebelumnya, UU Minerba beri jaminan kelangsungan batu bara dan UU Cipta Kerja beri royalti 0% bagi produsen batu bara.

“Hilirisasi batu baru masuk proyek strategis nasional. Inilah yang dikhawatirkan, semangat transisi energi tidak fokus ke energi terbarukan,” katanya.

Ada satu regulasi yang dinilai menarik, Permendes 13/2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa. Salah satunya tentang penggunaan dana desa untuk pemulihan ekonomi salah satunya dengan penyediaan listrik desa untuk mewujudkan desa berenergi bersih dan terbarukan.

Andri Prasetiyo, peneliti Trend Asia menyatakan tidak sepakat dengan terminologi energi bersih yang memasukkan batu bara. “Mau meninggalkan batu bara tapi mengajukan gas alam sebagai solusi, termasuk gasifikasi batu bara. Ini paradoks. Pemerintah gamang dalam masa transisi. Menutup batu bara tapi menyebut gasifikasi,” tukasnya.

Ke depan batu bara akan masuk masa sunset, demand tidak ada, sementara ongkos besar dan pendanaan investasi makin susah. Muncullah mengamankan pasar dalam negeri agar produksi terserap. Ia mencatat produksi besar batu bara sekitar 625 juta metrik ton.

Pemerintah dan pengusaha minta subsidi karena harga gasifikasi batu bara mahal. Batu bara seolah menguntungkan, tapi hidupnya membebani pemerintah dengan insentif dan kerugian jangka panjang. Misal insentif royalti 0% ini masih memiliki celah yang merugikan pemerintah karena akan kehilangan royalti besar karena batu bara menyumbang 60% atau sekitar Rp40 triliun. Royalti menurutnya harus digunakan untuk dana transisi energi terbarukan.

Retno Sulistyowati, Redaktur Ekonomi dan Lingkungan Majalah Tempo menyoroti tantangan media meliput isu energi. Sebelumnya energi terbarukan tak terdengar karena pemerintah masih nyaman dengan minyak dan produksi masih tinggi. Namun kini subsidi BBM membengkak sampai Rp160 triliun pada 2011. Sehingga harus beranjak ke energi non fosil.

Seberapa serius pemerintah mengembangkan EBT? Dulu ditangani terpisah sampai dibentuklah Direktorat EBT pada 2010. Menurutnya isu energi menarik dan seksi, karena bagian dari kehidupan sehari-hari. Dunia sedang menyoroti terkait penurunan emisi. “Food, energy, dan water adalah masa depan,” kata Retno yang menulis isu energi sejak 2010.

Indonesia menjadi salah satu negara yang menyepakati Paris Agreement untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global. Melalui perjanjian ini, Indonesia telah menyatakan Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan hingga 41% dengan bantuan kerja sama internasional.

Menurut Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi KLHK tahun 2020, sektor energi merupakan kontributor emisi GRK terbesar kedua secara nasional, sekitar 34% setelah kehutanan dan lahan gambut.

Sumber: mongabau.co.id

Read More

Timur Ramah

Oleh: Dahlan Iskan

PENTINGKAH penemuan teknologi STAL oleh Widodo Sucipto di bidang pengolahan nikel itu? Kok sampai ditulis 4 seri di Disway? Hampir mengalahkan VakNus dan —ini dia— Akidi Tio?

Tentu ini tidak penting –bagi Taliban. Yang lagi mengepung pejuang anti-Taliban di lembah pegunungan Panjshir.

Berita baiknya: pengepungan itu hanya untuk menekan agar mereka mau berunding. “Taliban tidak akan menyerang. Kami sudah mengampuni semua pihak yang mendukung Amerika,” ujar juru bicara Taliban seperti disiarkan media di Pakistan kemarin. “Tidak akan ada perang lagi,” tambahnya.

Lalu penting untuk siapa?

Anda lebih tahu. Bagi mereka yang triliunan rupiah uangnya terkubur konsesi tambang nikel tentu penting sekali.

Lebih lagi bagi yang punya cita-cita ini: Indonesia harus menjadi produsen baterai lithium terbesar di dunia. Setidaknya salah satu yang terbesar.

Demikian juga bagi mereka yang pernah punya keinginan agar Indonesia jangan lagi tergantung pada BBM impor. Penemuan Widodo Sucipto dari Hydrotech Metal Indonesia itu luar biasa pentingnya.

Kelak, power bank skala besar, mutlak menggantikan diesel. Terutama di kota-kota dan pulau-pulau seluruh NTT, NTB, Natuna, Nias, Maluku, dan setipe itu.

Rumah Anda pun tidak perlu lagi langganan listrik PLN. Diganti oleh solar cell yang dikombinasikan dengan power bank.

Dan tentu gelombang mobil listrik tidak bisa dibendung lagi.

Penemuan STAL itu baru tidak penting kalau sudah ditemukan pesaing lithium –misalnya solid state battery. Atau fuel cell. Atau apa lagi.

Keunggulan STAL temuan Widodo itu setidaknya di empat hal:

1. Biaya investasi membangun smelter menjadi tinggal sepertiga. Bahkan hanya 1/30 kalau mau investasi secara bertahap.

2. Sistemnya modul dengan skala bahan baku 600 ton/hari. Investor bisa cari penghasilan dulu dari modul pertama. Lalu menambah pabrik dengan modul kedua. Dan seterusnya.

3. Dalam dua tahun STAL sudah bisa produksi. Menghasilkan uang. Bandingkan dengan sistem lama, perlu 5 sampai 8 tahun.

4. Keunggulan lingkungan: limbah STAL kering. Bisa langsung diolah lagi. Sisa kandungan kimia tambangnya masih bisa diambil. Masih banyak. Seperti besi. Bandingkan dengan limbah sistem lama yang wujudnya seperti lumpur. Yang harus dibuang. Dalam jumlah sangat besar.

5. Lapisan tanah tambang bagian atas bisa diolah. Di sistem lama lapisan itu harus disingkirkan/ dibuang. Tebalnya bisa 6 sampai 8 meter. Eman sekali.

Kelemahan STAL: bahan bakarnya gas. Yakni untuk memanaskan kiln sampai 700 derajat Celsius.

Tapi itu juga bukan kelemahan. Secara lingkungan gas itu bersih. Bandingkan dengan sistem lama yang menggunakan batubara.

Tapi bukankah lokasi tambang nikel tidak punya jaringan pipa ke sumber gas?

Saya tahu ada sumur gas di Donggi Sonoro, dekat Luwuk Banggai. Sedikit di utara Morowali. Di seberang-jauh Halmahera. Saya pernah ke sana. Yakni ketika instalasi LNG lagi dibangun di sana. Dulu.

Dan lagi teknologi CNG kini sudah matang. Gas yang dipadatkan bisa diangkut dengan tabung-tabung besar pakai truk. Atau pakai tongkang.

Itu sudah umum. Listrik tenaga gas di pulau Bawean, misalnya, gasnya dikirim dari Gresik. Pakai kapal. Bukan pipa.

Rasanya soal gas untuk smelter STAL ini bukan lagi masalah.

Karena itu dunia akan menyambut gegap-gempita STAL. Terutama soal keunggulan lingkungan. Bukankah orang seperti Elon Musk sangat gelisah oleh isu lingkungan seperti itu?

Keunggulan itu pula yang membuat Richard Tandiono, pemilih Hydrotech Metal Indonesia (PT HMI) memutuskan untuk go public di Kanada.

Richard baru saja mendapat kesulitan. Pengusaha selalu mendapat kesulitan. Seperti Nipress yang tiba-tiba digugat pailit kreditor. Sampai sahamnya di bursa Jakarta dibekukan. “Sekarang sudah teratasi kok,” ujar Richard. “Ini lagi proses mencairkan pembekuan itu,” ujar Richard kepada saya kemarin.

Kesulitan, masalah dan rintangan adalah lauk-pauk harian bagi pengusaha. Mereka bisa menikmati lauk-pak seperti itu. Sambil mencari jalan keluar.

Saya punya teman yang membuat saya iba. Ia punya usaha besar. Produksi boiler untuk PLTU. Ia ingin Indonesia tidak impor boiler skala besar lagi. Tapi ia merasa produksi dalam negeri diasingkan di negeri sendiri.

Ia megap-megap. Ia mencoba bertahan selama 8 tahun. Sulit sekali. Dililit pula utang ratusan miliar rupiah. Ia pailit.

Minggu lalu saya ditelepon teman itu: agar saya ke pabriknya. Saya mengira akan melihat reruntuhan pabrik teknologinya.

Ternyata pabrik itu ramai sekali. Di sana-sini ada bangunan baru. Yang bekerja di situ 1.500 orang –hampir 100 persen perempuan.

Ia ternyata mendapatkan jalan keluar yang sangat berbeda. Ia memproduksi bahan-bahan tes PCR dan apa saja yang terkait dengan Covid-19.

Ia juga berencana akan memproduksi alat test PCR yang biayanya hanya Rp 25.000/sekali tes.

Kalau diizinkan.

Masalah ada di mana-mana. Jalan keluar tidak lari ke mana-mana. (Dahlan Iskan)

Sumber: disway.id

Read More

Timur Musk

Oleh: Dahlan Iskan

ELON MUSK harus mendengar ini. Tujuh tahun lamanya Widodo Sucipto memikirkan teknologi baru pengolahan nikel. Akhirnya berhasil (baca Timur Terang).

Dengan demikian tidak akan ada lagi keraguan seperti yang pernah dikeluhkan Elon Musk: tidak mudah mendapatkan bahan baku yang cukup untuk baterai mobil listrik.

Keluhan itulah yang membuat Tesla tidak jadi membangun pabrik mobil listrik di Indonesia.

Widodo telah membalikkan keraguan orang seperti Elon Musk. Tentu Elon Musk tidak mau memperhitungkan adanya mega-pabrik nikel yang sudah berdiri di Morowali. Yang dibangun dengan gegap-gempita oleh pengusaha Tiongkok itu.

Kurang besar?

 

Tidak. Pabrik nikel di Morowali itu tidak menghasilkan nikel untuk bahan baku baterai lithium.

Itu beda.

Mega-pabrik di Morowali itu menghasilkan nikel untuk bahan baku stainless steel.

Beda sekali. Segalanya tidak sama. Mulai prosesnya sampai jenis nikel yang dihasilkannya.

Dalam dunia nikel, yang dihasilkan mega-pabrik di Morowali itu disebut ”nikel kelas dua”.

Yang diperlukan untuk bahan baku baterai adalah ”nikel kelas satu”. Yang tingkat kemurniannya –tarik napas– sampai 99,95 persen.

Sedang untuk bahan baku stainless steel kemurnian nikelnya cukup hanya 10 atau 15 persen.

Widodo tipe orang yang ulet dan setia. Pun sampai umurnya berapa 66 tahun sekarang ini. (bukan 55 tahun seperti Disway kemarin).

Widodo Sucipto.

Widodo dibantu oleh dua orang Jepang, satu orang Tiongkok, dan satu orang lagi dari Australia.

Tentu tidak hanya Widodo yang tahan uji. Juga Richard Tandiono (陳孝盛).

Richard-lah yang membiayai semua penelitian Widodo itu. Termasuk membangun lab-nya di Bogor. Setelah penelitian skala lab dianggap berhasil Richard pula yang membangunkan pabrik skala pilot project.

Ketika penelitian masih di skala lab, Widodo menggunakan alat kecil. Yang cukup untuk mengolah 20 kg tanah yang mengandung nikel.

Begitu skala lab berhasil dibangunlah kiln skala pilot project. Dengan kapasitas 1 ton bahan baku.

Kiln itulah yang dipanaskan sampai 700 derajat Celsius. Bahan bakarnya gas. Hasilnya memuaskan. Seperti yang saya tulis di edisi kemarin.

Bulan Juli lalu, barulah Widodo dan Richard lega. Penelitian itu akhirnya berhasil.

Richard adalah anak pemilik pabrik baterai merek Nipress. Ia cucu pendiri pabrik itu. Nipress adalah pabrik baterai terbesar di Indonesia. Yang sudah mampu ekspor ke lebih 30 negara.

Saya pernah ke Nipress. Beberapa kali. Dulu. Dulu sekali. Delapan tahun lalu. Kala itu saya merayu Richard agar Nipress bersedia memproduksi baterai jenis lithium. Yang sangat diperlukan untuk ide membuat mobil listrik.

Richard Tandiono (kiri) delapan tahun lalu.

Waktu itu Nipress masih fokus memproduksi baterai basah. Yang tidak cocok untuk mobil listrik. Karena itu Nipress belum punya peralatan untuk memproduksi baterai lithium. Saya pun rapat-rapat di Nipress. Saya menceritakan pentingnya baterai lithium di masa depan. Saat itulah saya kali pertama bertemu Widodo.

Di samping Widodo bersama tim dari Nipress hadir juga Ricky Elson dari Putra Petir. Juga ahli baterai dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr Bambang Prihandoko. Yang terakhir itu –saya baru tahu kemarin– ternyata meninggal dunia. Dua bulan lalu.

Dr Bambang saat itu sedang meneliti air laut sebagai sumber lithium. Beliau menyebutkan air laut Jawa-lah yang terbaik kadar lithiumnya. Saya juga sudah berkunjung ke lab LIPI tempat Dr Bambang melakukan penelitian.

Widodo sendiri sudah lama bekerja di Nipress. Sejak masih muda. Sejak Nipress masih dipimpin kakek Richard.

Setelah dua kali ke Nipress, akhirnya Richard setuju: Nipress bersedia memproduksi baterai lithium. Ia beli mesin-mesin baru. Beli bahan-bahan baru. Ia bentuk tim baru, khusus untuk menangani baterai lithium.

Saya tahu semua itu mahal. Terutama membangun jalur produksi baterai lithium mulai dari nol.

Setahun kemudian saya minta maaf pada Richard: ide mobil listrik itu tidak jalan. Saya merasa telah merugikannya.

Tapi investasi sudah telanjur dilakukan. Tim sudah telanjur bekerja. Richard pun berusaha mengalihkan penggunaan baterai lithium produksi Nipress untuk non mobil listrik.

Sebagian tim baterai lithium itu punya tugas baru:  meneruskan penelitian untuk menemukan bahan baku baterai.

Widodo lantas fokus meneliti nikel. Ia lupakan penelitian lama di bidang timbal –bahan baku baterai basah.

Richard sendiri tidak sulit mengikuti perkembangan tim penelitian Widodo. Richard adalah master engineering dari University Southern California (USC), Los Angeles. Di situ pula Richard lulus S-1 jurusan industrial engineering.

Nipress adalah perusahaan yang didirikan kakek Richard, Robertus Tandiono, di tahun 1970. Ketika kakeknya meninggal di tahun 2001, Richard sudah kembali dari Amerika. “Saya dekat sekali dengan kakek,” ujar Richard.

Di Nipress, Richard menjabat dirut anak perusahaan: Nipress Energi Otomotif. Yakni salah satu perusahaan di Trinitan Group yang memproduksi baterai untuk semua jenis kendaraan.

Trinitan adalah holding company Nipress yang dipimpin oleh ayah Richard, Ferry Tandiono.

Ketika kecil Richard tinggal bersama ayahnya itu di Pluit, Jakarta. Karena itu ia sekolah SD di Tarakanita Pluit. Ketika remaja orang tua pindah ke Cinere. Richard masuk SMP Tirta Merta di Pondok Indah. Lalu masuk SMA di Singapura.

Ketika proyek baterai lithium untuk mobil listrik gagal, tim lithium Nipress jalan terus. Mereka mencari apa saja yang bisa dikerjakan. Didirikanlah anak perusahaan yang bergerak di energi baru. Produksi baterai lithiumnya dialihkan untuk mendukung perkembangan solar cell.

Sebagian tim itu terus melakukan penelitian. Widodo terus meneliti nikel. Yang berkat dukungan Richard bisa berlangsung bertahun-tahun. Sampai bisa berhasil sekarang ini.

“Penelitian Pak Widodo berhasil dua bulan lalu,” ujar Richard. Yakni setelah pihak Jepang, JGC Holdings Corporation, melakukan validasi.

Berarti hasil penelitian di Nipress itu sudah diakui oleh Jepang. Apa itu JGC bisa dilihat di link ini.

Sebelum JGC itu pun sebenarnya BPPT dan kementerian ESDM sudah lebih dulu memvalidasi hasil penelitian Widodo itu.

Nipress sudah mematenkan penemuan ini di banyak negara. Termasuk Jepang dan Kanada. Hak paten itu menjadi milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) –anak perusahaan Nipress Energi Otomotif.

Widodo Sucipto menjadi direktur utama di PT HMI. Widodo mendapat penghargaan sedikit saham di PT HMI. Saham selebihnya milik PT Nipress Energi Otomotif yang dipimpin Richard.

Widodo (tengah) dan 11 tim riset Nipress
Widodo (tengah) dan 11 tim dari Nipress.

Richard sudah punya langkah besar berikutnya: PT HMI akan go public. Bukan di Indonesia tapi di pasar modal Kanada. Richard ingin penemuan anak bangsa ini berkibar ke tingkat dunia.

Elon Musk harus membaca ini. Juga seri tulisan besok pagi. Kalau masih peduli Indonesia. (Dahlan Iskan)

Sumber: disway.id

Read More

Timur Terang

Oleh: Dahlan Iskan

KUBURAN uang itu akan bangkit dari dalam tanah nikel. Anak bangsa baru saja menemukan teknologinya.

Saya kenal baik anak itu –kini berumur 55 tahun. Dua kali saya rapat dengan anak itu delapan tahun lalu. Yakni di awal ide melahirkan mobil listrik nasional.

Saya juga kenal begitu banyak pengusaha yang ”tewas” akibat terlalu banyak menanam uang di tambang nikel. Di Sulawesi Tengah dan Tenggara. Banyak juga pengusaha bertengkar akibat kongsi di bisnis nikel. Pun sampai ke pengadilan.

Belum lagi yang merasa ditipu sesama teman pengusaha. Lokal menipu nasional. Nasional menipu internasional. Dan sebaliknya.

Pokoknya Sulteng dan Sultra akhirnya saya kenal sebagai kuburan uang. Triliunan rupiah. Tanpa harapan.

Lalu begitu banyak orang yang mengajukan penawaran kepada saya. Untuk membeli kuburan itu. Atau kerja sama. Saya menolak. Saya sudah terlalu tua untuk menjadi penggali kuburan seperti itu.

Sampai akhirnya muncullah perusahaan raksasa asing di sana. Di Morowali. Yang sangat mengagumkan itu.

Banyak pengusaha lokal-nasional gigit jari: hanya bisa menonton Morowali. Sambil merenungkan kuburan uangnya.

Tapi mendung tidak akan terus menerus berada di satu tempat. Sebentar lagi mendung di atas kuburan itu akan bergeser. Mendung tidak akan lagi menggelayut di situ.

Maka janganlah bersedih lagi.

Sudah lahir anak bangsa yang menemukan teknologi untuk ”membongkar kuburan uang” itu.

Namanya: Widodo Sucipto.

Tempat lahir: Porong, Jatim. Berarti Widodo ini sekampung dengan Inul Daratista.

Inul ngebor dangdut. Widodo ngebor nikel.

Widodo Sucipto bersama Disway, delapan tahun lalu, saat mendiskusikan baterai mobil listrik.

Kuburan uang itu terjadi akibat lahirnya UU Nikel di tahun 2009. Pemerintah, di tahun 2013, seperti hampir lupa: bahwa di tahun 2014, UU tersebut sudah harus dilaksanakan. Batas waktu lima tahun tinggal 24 bulan.

Maka harus diapakan buah simalakama itu: tidak dilaksanakan melanggar UU, dilaksanakan belum siap.

Inti UU itu sebenarnya mulia sekali. Bagi bangsa. Ekspor bahan mentah nikel (tanah mengandung nikel) dilarang. Harus diolah di dalam negeri.

Keputusan di tahun 2013 itu: UU tetap harus dilaksanakan.

Para pengusaha pun heboh: tidak siap. Investasi untuk mengolah nikel itu mahal. Membangun smelter itu perlu waktu setidaknya tiga tahun. Itu pun kalau pakai teknologi yang sederhana, yang sangat merusak lingkungan.

Pemerintah lengah: tidak sejak awal memberi penegasan bahwa UU tersebut pasti dilaksanakan.

Pengusaha juga lengah: mengira pemerintah tidak akan tegas. Mereka mengira pelaksanaan UU itu bisa ditunda.

Akibat UU tersebut: lahirlah kuburan uang di lahan nikel. Para pengusaha tidak bisa ekspor bahan baku. Juga tidak punya pabrik pengolah (smelter).

Korban terbesar adalah: PT Antam. Milik BUMN. Langsung klepek-klepek. Sampai sekarang.

Proyek besar smelternya di Halmahera kandas. Larangan ekspor itu membuat PT Antam tiba-tiba tidak punya dana untuk meneruskan proyek itu. Padahal sudah telanjur membangun pelabuhan besar di Halmahera. Nganggur.

Ratusan pengusaha tambang bernasib sama: tidak bisa lagi ekspor bahan mentah nikel. Juga tidak bisa membangun smelter.

Saya setuju: ekspor bahan mentah itu memang harus dilarang. Tidak masuk akal. Sudah puluhan tahun. Kita telanjur terlalu lama jual tanah air –dalam pengertian fisik.

Tiap satu ton tanah yang mengandung nikel itu, nikelnya hanya 8 kg. Bahkan untuk tanah permukaan, nikelnya hanya 1 sampai 2 kg. Tanah permukaan itu tidak efisien untuk diolah. Harus disingkirkan. Tebal tanah permukaan itu sampai 6 meter. Baru di bawah 6 meter, kadar nikelnya bisa 8 persen.

Ada juga, memang, satu dua pengusaha memaksakan diri membangun smelter. Kecil-kecilan. Selebihnya hanya bisa merenungi kuburan uang mereka.

Banyak juga di antara mereka yang memilih bertengkar. Merasa ditipu. Atau saling menipu. Pun ada yang sampai ke pengadilan.

Kini telah lahir teknologi baru pengolahan nikel. Yang lebih murah. Yang lebih ramah lingkungan. Yang sangat efisien.

Penemunya Inul Daratista –tetangganya: Widodo Sucipto tadi.

Teknologi lama: tanah yang mengandung nikel itu dibakar. Agar nikelnya terpisah dari tanah.

Teknologi Widodo: tanah itu dipanaskan tanpa dibakar.

Caranya: tanah dimasukkan kiln, dipanasi sampai 700 derajat.

Hasilnya bisa sama: tiap 100 ton tanah bahan baku menghasilkan 8-15 ton nikel.

Widodo menamakan teknologinya itu STAL –singkatan dari Step Temperature Acid Leach.

Kunci keunggulannya: biaya investasinya jauh lebih murah. Bisa 30 kali lebih murah. Bukan lagi langit dan bumi –tapi langit dan sumur.

Investasi sistem lama (Hpal) memerlukan biaya Rp 15 triliun. Dengan teknologi Widodo hanya Rp 4,5 triliun. Untuk kapasitas yang sama. Masih pun memiliki banyak kelebihan lain.

Satu smelter Hpal berkapasitas 6.000 ton bahan baku per hari. Satu modul STAL 600 ton/hari. Kapasitas Hpal memang 10 kali lipat. Tapi biaya investasi Hpal lebih dari tiga kali lipat.

Menurut Widodo, di samping jauh lebih murah, teknologi STAL lebih cocok untuk Indonesia.

Modul 1 pabrik STAL “hanya” berkapasitas 600 ton/hari (bahan baku). Akan banyak pengusaha nasional yang mampu mengerjakan. Pemilik tambang kecil-kecil bisa memiliki smelter sendiri. Kalau toh harus bergabung cukup 5 atau 6 pemilik tambang sudah bisa membangun 1 pabrik.

Pengusaha lokal hampir mustahil mampu membangun smelter nikel dengan teknologi Hpal. Itu kelasnya perusahaan global.

Maka kuburan investasi nikel di Sulteng dan Sultra menemukan jalan baru. Widodo telah menemukan jalan keluarnya.

Widodo –Alhamdulillah, Puji Tuhan– telah menerbitkan matahari di atas kuburan nikel terbesar di dunia. (Dahlan Iskan)

Sumber: disway.id

Read More

APNI Berduka. Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia Berpulang

NIKEL.CO.ID – APNI Berduka. Komjen Pol (Purn) Drs. Insmerda Lebang Meninggal dunia.

Almarhum meninggal pada Sabtu, (28/08) pukul 11.30 WIB di usia ke-72, di RS Pondok Indah, setelah mengidap penyakit dalam lambung yang sudah lama.

“Seluruh pelaku penambang nikel Indonesia sangat berduka atas kehilangan sosok purnawirawan polisi Jenderal Bintang Tiga (3) yang tidak mau di panggil pak jenderal,” jelas informasi tersebut, (28/08).

Beliau bergabung di APNI pada 6 maret 2019. Melalui APNI beliau tidak pernah lelah berjuang untuk nikel Indonesia.

“Semangat yang tidak pernah padam untuk terus berjuang melawan ketidak adilan dalam Tata Niaga Nikel Indonesia khususnya dan Sumber Daya Alam Indonesia untuk menjadi pioneer dunia,” katanya.

“Pesan terakhir beliau pada saat melaporkan kegiatan APNI untuk Ketidakadilan Hasil Analisa Surveyor, pesan beliau ‘Lanjutkan’  dan bersurat resmi ke seluruh kementerian terkait. Ternyata ini adalah pesan terakhir beliau ke APNI,” sambung informasi tersebut.

Sosok yang sangat dibutuhkan dan menjadi teladan sebagai Jenderal yang tanpa pamrih berjuang demi NKRI.

“Seluruh pelaku penambang nikel Indonesia sangat kehilangan dan kami akan tetap berjuang demi cita-cita mulia mu. Selamat Jalan Ketua umum APNI. Kami bangga memiliki Ketua Umum yang super baik dan berjuang tanpa pamrih. Perjuanganmu akan tetap kami lanjutkan,” tutup informasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, Insmerda Lebang menjabat sebagai Ketua Umum APNI periode 2017-2022.

Berikut Biodata Insmerda Lebang

Nama : Insmerda Lebang

Jenis Kelamin : Pria

Tempat Lahir : Rantepao

Tanggal Lahir : 27 Desember 1949

Agama : Kristen

Kewarganegaraan : Indonesia

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Sarjana Kepolisian Tahun (1980)

Riwayat Jabatan
  • Perwira PKN (INTEL) KOMDAK VII Jaya (1973)
  • Perwira Pemeriksa RESKRIM (TEKAB) KOMDAK VII Jaya (1974-1975)
  • Kasi Operasi KOMTARRES 15.3 Timor Timur (1975-1979)
  • Kapolsek Ciputat KOMDAK VII Jaya (1977)
  • Satuan Bimmas KOMWILKO Tangerang KOMDAK VII Jaya (1978)
  • Sekretaris Pribadi Deputi KAPORLI (1980-1984)
  • Wakapolres Metro Jakarta Barat (1985)
  • Kaden Prov Polda Metro Jaya (1986-1987)
  • Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Polda Metro Jaya (1989-1990)
  • Kaporles Tangerang Polda Metro Jaya (1990-1991)
  • Kaporles Tangerang Polda Metro Jaya (1990-1991)
  • Kaporles Metro Jakarta Barat Polda Metro Jaya (1991-1994)
  • Wakil Kepala Sub Direktorat Reserse Ekonomi POLRI (1994-1995)
  • Kadit Serse Polda Sumatera Utara (1995-1996)
  • Direktur Pengkajian & Pengembangan Sespim Polri (1997-1998)
  • Direktur Tindak Pidana Tertentu Reserse POLRI (1998-1999)
  • Wakil Kepala Kepolisian Daerah Riau (1999-2000)
  • Direktur Pidana Umum Koserse POLRI (2000-2001)
  • Direktur Pidana Korupsi Korserse POLRI (2002)
  • Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (2002-2003)
  • Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Utara (2003-2004)
  • Gubernur Akademi Kepolisian (2003-2004)
  • Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah (2004)
  • Kepala Badan Pembinaan Keamanan POLRI (2004-2006)
  • Komisaris Utama PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (2007-2010)
  • Komisaris Utama PT Feron Tambang Kalimantan (2007-2008)
  • Komisaris Independen PT Timah (Persero) Tbk (2007-2008)
  • Komisaris Utama PT Timah (Persero) Tbk (2008-sekarang).
  • Komisaris Independen PT Garuda Indonesia Tbk
  • Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (2018-Sekarang)
  • Komisaris Utama PT. Trinitan Metals & Minerals (2020 – Sekarang)
  • Komisaris Bank Mayapada (2011 – Sekarang)
Read More

STAL: Teknologi Nikel Ramah Lingkungan Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.IDStep Temperature Acid Leaching (STAL) adalah teknologi yang dikembangkan oleh anak bangsa yang dapat mengolah nikel kadar rendah dan mampu bersaing, bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi STAL memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer dan disebut mampu menghasilkan recovery nikel diatas 90%.

Teknologi yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini dapat menghasilkan limbah yang ramah lingkungan. Limbah nikel tersebut dapat diolah menjadi produk yang bernilai.

Limbah nikel ramah lingkungan yang dihasilkan oleh teknologi STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium). Kedua residu ini dapat diolah menjadi bijih besi atau iron ore atau produk lainnya.

Selain itu, STAL juga dapat menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah jika dibandingkan dengan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Teknologi ini dapat berbentuk secara modular dan dinilai cocok untuk digunakan di lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel. STAL juga dapat lebih mudah dijangkau oleh industri tambang skala kecil di Indonesia.

Desain teknologi STAL membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per harinya untuk setiap modular STAL.

Teknologi ini dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah hingga 1,1%. Untuk menghasilkan 1.800 ton nikel, STAL membutuhkan listrik sekitar 1,3 megawatt hour.

Adanya pengembangan teknologi anak bangsa ini patut diapresiasi dan dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Diharapkan dengan adanya teknologi ini, Indonesia dapat lebih menarik investor yang lebih masif.

Sumber: ilmutambang.com

Read More

Andre Rosiade: Bijih Nikel Yang Direject Oleh Smelter, Diekspor Saja Pak Menteri

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, mengapresiasi Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi yang berkomitmen segera menyelesaikan sengkarut kinerja penyurvei atau surveyor nikel.

Sebagai tindak lanjut, dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Mendag Luthfi, Kamis (26/8/2021), Andre mengusulkan agar Mendag membentuk satgas perdagangan yang nantinya bakal mengawasi kineja surveyor nikel di parbrik-pabrik pemurnian (smelter) milik Tiongkok.

“Alhamdulillah Pak Menteri sudah akan eksekusi dengan Pak Dirjen soal surveyor nikel. Kalau seandainya ternyata dengan segala intervensi akhirnya Anindya selamat, hasil uji kadar logam nikel pengusaha lokal kita oleh Sucofindo dan Surveyor Indonesia 1,8% tetapi Anindya tetap 1,5%, saya usul Pak Menteri, Bapak bentuk saja satgas perdagangan di seluruh smelter milik Tiongkok, taruh satgas di situ,” kata Andre.

Lebih lanjut, Andre juga mendorong Mendag Luthfi mengambil inisiatif untuk mengekspor nikel yang dinilai rendah oleh smelter Tiongkok. Berdasarkan Undang Undang Cipta Kerja Tahun 2021 Pasal 6 dan 9 dan PP Nomor 29 Tahun 2021, dia menyebut Mendag memiliki kewenangan tersebut.

Andre menilai, ekspor biji nikel dapat menyelamatkan para pengusaha nasional dan lebih memberikan nilai tambah kepada negara. Lebih dari itu, keberpihakan kepada NKRI juga harus diutamakan dalam menghadapi sengkarut tata niaga nikel ini.

“Karena mohon maaf Pak Menteri, sudah harga beli mereka murah, lalu pendapatan pajak untuk negara juga sedikit. Kenapa kita tidak bikin bargaining supaya smelter-smelter Tiongkok itu tidak mengatur NKRI. Yang direject sama mereka ekspor saja Pak Menteri. Pasti harganya lebih mahal, lalu pajaknya juga dapat 15% dari harga internasional. Jadi duitnya jauh lebih banyak negara dapat. Jadi saya usul, lebih baik kita ekspor. Supaya ada rasa keadilan dan bargaining kita sama smelter-smelter Tiongkok itu,” tegas Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera barat ini.

“Yang saya hidupkan adalah NKRI. Pengusaha nasional kita terselamatkan, lalu sumber daya alam kita benar-benar untuk kepentingan negara,” imbuh dia.

Menanggapi usulan Andre, Mendag Luthfi mengatakan pihaknya akan segera menyelesaikan sengkarut kinerja surveyor dalam waktu dekat. Mendag juga akan menindak tegas setiap surveyor yang melakukan kecurangan.

“Untuk urusan nikel ini konsepnya, kalau terjadi kecurangan apa lagi dengan mengatasnamakan surveyor, itu aturannya ada di Kementerian Perdagangan. Saya berjanji akan saya selesaikan sebeleum akhir bulan depan. Kalau ada yang macem-macem saya bilang Dirjen, stop ijinnya. Jadi saya pastikan tidak ada kecurangan lagi soal smelter ini,” kata Mendag Luthfi.

Sumber: detik.com

Read More

Setelah Nikel, Jokowi Minta Hilirisasi Bauksit, Tembaga-Emas!

NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa hilirisasi industri nikel, bauksit, tembaga, emas, hingga minyak sawit (crude palm oil/ CPO) akan menjadi strategi besar ekonomi Indonesia ke depannya.

Jokowi menyebut, hilirisasi industri nikel yang kini sedang dilakukan Indonesia, dengan dihentikannya ekspor bijih nikel telah menunjukkan hasil yang positif bagi perekonomian.

Dia menyebut, ekspor besi baja dalam paruh pertama tahun ini telah menembus US$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 152 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan dalam Sarasehan 100 Ekonom dengan tema Penguatan Reformasi Struktural Fiskal dan Belanja Berkualitas di Tengah Pandemi yang digelar INDEF dan CNBC Indonesia secara virtual, Kamis (26/8/2021).

“Hilirisasi, sudah kita mulai stop ekspor bahan mentah nikel, kemudian semuanya harus dihilirisasi. Hasilnya, mulai kelihatan. Ekspor besi baja kita, dalam setengah tahun ini sudah berada sekitar US$ 10,5 miliar,” ungkap Jokowi.

Karena industri nikel ini dianggap berhasil, maka menurutnya ke depannya hilirisasi juga akan dilakukan pada komoditas lainnya, seperti bauksit, emas, tembaga, hingga minyak sawit.

“Oleh sebab itu, tak hanya nikel saja, ke depan kita juga akan mulai untuk bauksitnya, mulai emasnya, tembaganya, hilirisasi sawitnya, sebanyak mungkin turunan-turunan dari bahan mentah itu bisa jadi minimal barang setengah jadi, syukur-syukur bisa jadi barang jadi,” paparnya.

Dia mengatakan, hilirisasi industri ini merupakan salah satu dari tiga strategi besar ekonomi negara di masa depan. Dua strategi besar lainnya yaitu digitalisasi UMKM dan ekonomi hijau.

“Ke depan strategi besar ekonomi kita, strategi besar ekonomi negara, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan, pertama hilirisasi industri, kedua digitalisasi UMKM, dan ketiga kita harus mulai masuk ke ekonomi hijau,” pungkasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Jokowi Hentikan Ekspor Bijih Nikel, Kini RI Sukses Ekspor Baja Rp152 T

NIKEL.CO.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa dihentikannya ekspor bahan mentah untuk nikel sejak 1 Januari 2020 telah menunjukkan hasil positif bagi perekonomian negeri ini.

Dia menyebut, ekspor besi baja dalam paruh pertama tahun ini telah menembus US$ 10,5 miliar atau sekitar Rp 152 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan dalam Sarasehan 100 Ekonom dengan tema Penguatan Reformasi Struktural Fiskal dan Belanja Berkualitas di Tengah Pandemi yang digelar INDEF dan CNBC Indonesia secara virtual, Kamis (26/8/2021).

“Hilirisasi, sudah kita mulai stop ekspor bahan mentah nikel, kemudian semuanya harus dihilirisasi. Hasilnya, mulai kelihatan. Ekspor besi baja kita, dalam setengah tahun ini sudah berada sekitar US$ 10,5 miliar,” ungkap Jokowi.

Dia mengatakan, dengan suksesnya hilirisasi nikel saat ini, maka dirinya akan mendorong hilirisasi komoditas lainnya, seperti bauksit, emas, tembaga, hingga minyak sawit (CPO).

“Oleh sebab itu, tak hanya nikel saja, ke depan kita juga akan mulai untuk bauksitnya, mulai emasnya, tembaganya, hilirisasi sawitnya, sebanyak mungkin turunan-turunan dari bahan mentah itu bisa jadi minimal barang setengah jadi, syukur-syukur bisa jadi barang jadi,” paparnya.

Dia menjelaskan, hilirisasi industri komoditas tambang ini akan menjadi salah satu dari tiga strategi besar ekonomi Indonesia ke depannya. Adapun dua strategi besar lainnya yaitu digitalisasi UMKM dan ekonomi hijau.

“Ke depan strategi besar ekonomi kita, strategi besar ekonomi negara, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan, pertama hilirisasi industri, kedua digitalisasi UMKM, dan ketiga kita harus mulai masuk ke ekonomi hijau,” pungkasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More