Tesla, Nikel, & Mengapa RI Strategis di Industri Mobil Listrik

Indonesia merupakan negara pemilik cadangan nikel terbesar dunia. Kebijakan nikel Indonesia, berperan besar untuk menentukan harga.

NIKEL.CO.ID – Industri otomotif sedang memulai perubahan besarnya. Mobil-mobil listrik mulai digemari, sementara mobil-mobil berbahan bakar fosil secara perlahan mulai ditinggalkan. Evolusinya mungkin belum terlalu terasa saat ini, akan tetapi dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan terjadi perubahan besar-besaran.

Tesla adalah salah satu yang mempelopori peralihan industri ini. Perusahaan besutan Elon Musk ini bahkan telah menjadi bintang baru di Wall Street. Kinerjanya moncer sehingga mengerek Elon Musk menjadi orang terkaya di dunia. Selama 2020, Tesla memproduksi mencapai 509.737 unit, dengan jumlah yang dikirim mencapai 499.550. Tesla memperkirakan pengiriman kendaraannya bisa tumbuh rata-rata 50% per tahun.

Mobil listrik memang bukan satu-satunya bisnis, akan tetapi ia memberikan peran besar dalam pertumbuhan kinerja Tesla. Selama kuartal terakhir tahun 2020, harga saham naik hingga 3 kali lipat sehingga membawa kapitalisasi pasar di atas USD 800 miliar. Tesla naik ke peringkat ke-5 dalam daftar “Most Valuable Company”.

Selain Tesla, sejumlah produsen otomotif besar juga sudah merilis dan mengembangkan mobil listrik. Ini karena mereka harus menangkap peluang mobil listrik di masa depan.

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan tren kenaikan penjualan penjualan mobil listrik. Jika pada tahun 2010, penjualan mobil listrik secara global hanya 17.000 unit, angkanya melonjak menjadi 2,1 juta unit pada 2019 sehingga total mobil listrik yang mengaspal di jalanan mencapai 7,2 juta unit. Sayangnya, 90% penjualan masih terkonsentrasi di Cina, Eropa, dan Amerika Serikat.

Riset JP Morgan memperkirakan ada lonjakan penjualan mobil listrik baik electric vehicles (EVs) dan hybrid electric vehicles (HEVs), sehingga pada 2025 mobil listrik diproyeksikan akan menguasai 30% dari seluruh penjualan kendaraan. Ini merupakan sebuah loncatan dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1 juta unit atau 1% dari total penjualan gloal.

Permintaan Meningkat, Harga Merayap Naik
Kenaikan penjualan mobil listrik berperan besar dalam peningkatan permintaan nikel dunia dan akan mengubah pula komposisi konsumsi nikel. Saat ini, konsumsi terbesar nikel adalah untuk bahan stainless steel atau baja tahan karat. Menurut riset DBS bertajuk “Nickel and Battery, A Paradigm Shift”, sebanyak 70% permintaan nikel dunia pada tahun 2019 adalah untuk bahan baku stainless steel. Namun, porsinya diperkirakan menciut menjadi hanya 52 persen pada 2030.

Di sisi lain, permintaan nikel untuk produk baterai diperkirakan meningkat pesat, dengan pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) 32% selama tahun 2019-2030, menurut riset DBS. Hal itu mendorong konsumsi nikel untuk baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable battery) naik jadi 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada 2030. Kontribusi konsumsi rechargeable batteries terhadap total konsumsi nikel pun meningkat dari 5% pada 2019 menjadi 30% pada 2030.

Bandingkan permintaan nikel untuk stainless steel yang diperkirakan hanya tumbuh 2,25 per tahun hingga 2030, sejalan dengan pertumbuhan produksinya sebesar 2,7%.

Pertumbuhan produksi stainless steel yang kuat didorong oleh ekspansi kapasitas yang kuat di Cina dan Indonesia. Namun turunnya konsumsi stainles dengan CAGR 2,7% pada 2019-2030 (dari sebelumnya 6% pada 2010-2019) mengindikasikan potensi pertumbuhannya mulai terbatas jika dibandingkan dengan booming mobil listrik.

Secara total, DBS memperkirakan permintaan nikel akan tumbuh dengan CAGR 4,15% dan 5% pada 2025 dan 2030.

Dari sisi produksi, DBS memperkirakan produksi nikel murni global tumbuh dengan CAGR 3,7% (yoy) pada rentang 2019-2025, terutama didukung oleh ekspansi proyek nikel di Indonesia. Sementara produksi nikel mentah diperkirakan tumbuh dengan CAGR 3% pada rentang 2019-2025. Khusus untuk tahun 2020, sehubungan dengan pandemi, produksi untuk tambang nikel akan turun 1,6% dan nikel pemurnian turun 9% secara yoy.

Pada tahun 2019, produksi tambang nikel global tercatat sebesar 2,593 juta ton. Tahun 2020, diperkirakan turun menjadi 2,359 juta ton. Indonesia yang merupakan penghasil utama nikel juga menghadapi penurunan, dari 917,5 ribu ton pada 2019, menjadi 693 ribu ton pada 2020.

Untuk nikel murni, tahun 2019 diperkirakan produksi globalnya mencapai 2,410 juta ton. Namun, tahun 2020 turun menjadi 2,372 juta ton. Khusus untuk Indonesia, produksi nikel murni tahun 2019 mencapai 360,8 ribu ton, naik menjadi 545 ribu ton pada 2020, berdasarkan riset DBS.

Menurut WBMS yang dikutip dalam riset DBS, ekspor nikel mentah dan konsentrat Indonesia anjlok dari 12,3 juta ton pada semester I-2019 menjadi nol karena kebijakan larangan ekspor Indonesia. DBS memperkirakan suplai tambang nikel Indonesia akan tumbuh dengan CAGR 4,9%. Kontribusi pada suplai global akan meningkat menjadi 39% pada 2025, dibandingkan 35% pada 2019.

Produksi & Larangan Ekspor Indonesia

Permintaan meningkat, sementara suplai tergantung pada beberapa negara produsen besar, salah satunya Indonesia. Sebagai pemilik cadangan sekaligus produsen nikel terbesar dunia, Indonesia memang memainkan peran kunci. Pemerintah Indonesia menyadari itu.

Dengan potensi yang sedemikian besar, pemerintah berniat untuk mengambil potensi ekonomi sebesar-besarnya. Salah satunya dengan mengeluarkan larangan ekspor. Dengan aturan ini, harapannya nikel yang keluar dari Indonesia tidak sekadar barang mentah, tetapi sudah dalam bentuk yang memiliki nilai tambah. Pengolahan dari mineral mentah menjadi nikel yang sudah murni melalui pengolahan dalam negeri, diharapkan bisa menciptakan keuntungan ekonomi bagi negara.

Larangan ekspor mineral mentah tertuang dalam Pasal 103 ayat (1) UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Penerapannya sempat beberapa kali tertunda karena belum siapnya smelter dalam negeri. Hingga akhirnya keluar Permen ESDM No. 11 Tahun 2019 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, tenggat waktu pelarangan ekspor bijih berlaku mulai 1 Januari 2020. Namun, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang baru dilantik ketika itu, mempercepatnya dua bulan. Kapal yang sudah bertolak untuk ekspor diminta untuk pulang, dan nikelnya diserap oleh perusahaan tambang lokal.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, larangan ekspor dipercepat karena terdapat lonjakan volume ekspor nikel hingga 100-130 kapal per bulan dari biasanya hanya 30 kapal per bulan. Setelah berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia nyaris turun ke angka nol.

Sayangnya, aturan ini menuai protes dari negara-negara Eropa. Uni Eropa bahkan melayangkan gugatan ke WTO. Pada Januari 2021, gugatan ini bahkan sudah memasuki tahap pembentukan panel World Trade Organization (WTO). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan kekecewaannya karena tidak adanya penyelesaian setelah konsultasi bilateral, yang biasanya dilakukan untuk penyelesaian sengketa tanpa melalui sidang resmi WTO. Dengan pembentukan panel, masalah ini lanjut ke tahap ajudikasi yang memungkinkan WTO menjatuhkan putusan mengikat bagi Indonesia dan Uni Eropa.

Dalam gugatannya, Komisi Eropa yang mengoordinasikan kebijakan perdagangan untuk 27 negara Uni Eropa menyatakan, larangan ekspor nikel mentah dan kewajiban pengolahan dalam negeri sebagai kebijakan ilegal dan tidak adil untuk produsen baja Uni Eropa.

Menurut Komisi Eropa, seperti dilansir Reuters, produksi industri stainless steel Uni Eropa turun ke titik terendahnya dalam 10 tahun, sementara Indonesia menjadi produsen terbesar kedua setelah Cina, berkat kebijakan tersebut. Kebijakan Indonesia dianggap sangat memengaruhi industri baja Uni Eropa yang bernilai 20 miliar euro, dengan jumlah tenaga kerja langsung 30.000 orang.

Produk nikel mentah Indonesia sendiri sebenarnya tidak pernah dikirim ke Uni Eropa. Sebelum larangan berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia pada tahun 2019 menurut data BPS mencapai 1,097 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, sebesar 1,051 miliar dolar meluncur ke Cina. Sisanya ke Jepang dan Ukraina. Tahun 2020, nilai ekspor sangat kecil hanya 116 ribu dolar, yang menuju ke Australia.

Namun, Uni Eropa beralasan kebijakan Indonesia membuat harga nikel di pasar internasional bergejolak. Sebagai negara produsen nikel terbesar dunia, kebijakan itu dianggap mengganggu tatanan harga di pasar global.

Seperti dikutip dari Al Jazeera Asosiasi Baja Eropa atau Eurofer mengatakan kebijakan Indonesia bisa mendorong harga nikel. Pada saat yang sama, Indonesia bisa memberikan harga yang murah kepada produsen stainless steel lokal. Padahal, nikel merupakan komponen terpenting dalam produksi stainless steel.

“Karena nikel mencakup sebagian besar biaya [produksi] stainless steel, (kebijakan larangan ekspor) membuat eksportir stainless steel Indonesia memiliki keuntungan daya saing yang signifikan dan tidak adil pada produk ini–dan Indonesia tiba-tiba membangun kapasitas yang besar–untuk masuk ke pasar ekspor,” ujar juru bicara Euroger, Charles de Lusignan, seperti dilansir Al Jazeera.

Pada larangan ekspor kali ini, Indonesia memang sudah lebih siap dibandingkan tahun 2014-206 lalu, karena sudah memiliki lebih banyak smelter untuk pengolahan nikel mentah. Dengan demikian, seluruh produksi bisa terserap oleh smelter yang ada. Menurut laporan DBS, produksi nikel olahan melonjak hingga 7 kali lipat menjadi 361 ribu ton pada 2019, dibandingkan 47.000 ton pada 2015. Sementara produksi stainless steel Indonesia juga melonjak menjadi 2,3 juta ton.

Harga nikel mentah cenderung turun mulai Desember 2019 atau setelah Indonesia memberlakukan larangan ekspor. Menurut Business Insider, harga nikel yang pada Desember 2018 hanya USD 10.870 per MT melonjak menjadi USD 17.295. Namun, setelah itu harga cenderung turun dan mencapai titik terendahnya pada Maret 2020 di USD 11.235. Harga secara perlahan naik dan pada Desember 2020 sudah menembus lagi USD 17.342. Meski demikian, harga itu jauh dibandingkan pada April 2007 atau saat booming harga komoditas. Saat itu, harga nikel sempat mencapai USD 50.765.

Indonesia untuk sementara waktu bisa mengamankan pasokan nikelnya, selama belum ada keputusan dari WTO. Dengan cadangan nikel yang sedemikian besar, Indonesia berprospek cerah untuk industri-industri yang mengandalkan nikel, termasuk baterai untuk mobil listrik. Namun, investasi untuk mobil ramah lingkungan tidak melulu soal pasokan nikel. Ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan oleh para produsen, termasuk Tesla. Terbaru, Elon Musk menawarkan kontrak jangka panjang dan bernilai fantastis bagi perusahaan yang mampu menambang nikel dengan syarat, “peka pada aspek lingkungan”. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan nikel Indonesia yang masih banyak terbelit masalah lingkungan.

Sumber: tirto.id

Read More

Isu Tesla dan Baterai Kendaraan Listrik

Oleh: Arief S. Tiammar *)

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

NIKEL.CO.ID – “Nikel menjadi perhatian terbesar untuk meningkatkan kapasitas produksi baterai ion litium. Karena itulah kami akan mengubah mobil listrik dengan jelajah standar ke katode besi. Besi itu sangat berlimpah [demikian juga litium]”.

Itulah terjemahan bebas dari cuitan Elon Musk pada twitter resminya. Cuitan yang banyak memengaruhi harga komoditas nikel sekaligus harga beberapa emiten saham nasional dan dunia. Tentu saja ada faktor lain yang akhir-akhir ini ikut memengaruhi bisnis nikel nasional dan global.

Katode besi yang dimaksud Musk adalah lithium ferro phosphate (LFP). Pada katode ini sama sekali tidak terkandung unsur nikel dan kobalt yang jauh lebih mahal. Katode adalah salah satu material penyusun baterai ion litium (LiB) di antara 11 material lainnya.

Material katode menempati porsi paling besar, 35% —45% dari total biaya produksi LiB. Jadi, biaya produksi LiB secara keseluruhan bisa ditekan ketika LFP yang berbasis besi digunakan walau di sisi lain kerapatan energi dan kecepatan pengisian katode LFP lebih rendah ketimbang katode yang berbasis nikel.

Selain itu, ketersediaan besi yang jauh berlimpah ketimbang nikel membuat posisi besi patut diperhatikan untuk jaminan pasokan jangka panjang. Pada operasi sebuah LiB, katode merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium sekaligus sebagai bagian kutub positif baterai.

Ketika LiB diisi (charging), litium terionisasi melepaskan elektron bergerak menuju material anode melewati elektrolit dan separator. Anode dalam hal ini merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium di sisi bagian kutub negatif baterai.

Demikian juga ketika sedang dipakai, atom-atom litium kembali ke katode setelah melepaskan elektron di sisi kutub negatif. Pelepasan elektron inilah yang menciptakan arus listrik saat digunakan untuk berbagai keperluan.

Material katode merupakan salah satu bagian terpenting dari LiB. Saat ini ada beberapa jenis katode yang dipakai pada LiB khususnya untuk penggunaan kendaraan listrik. Namun yang dominan adalah katode berbasis besi, nikel dan nikel yang diperkaya.

Jenis katode berbasis besi adalah LFP, katode berbasis nikel antara lain NMC (lithium nickel manganese cobalt oxide), dan NCA (lithium nickel cobalt aluminium oxide). Jenis katode dengan nikel diperkaya adalah NCMA (lithium nickel cobalt manganese aluminium oxide). NCMA merupakan jenis katode terkini yang akan diproduksi pada pertengahan 2021.

Dari keempat jenis katode tersebut, NCMA memiliki kerapatan energi paling tinggi serta laju pengisian tercepat. LFP memberikan tingkat keamanan tertinggi serta umur baterai terlama walau dengan kerapatan energi lebih rendah. NCA dan NMC berada di antara keduanya.

Segmen energi baru dan terbarukan (EBT) yang juga berkembang pesat tidak bisa dilepaskan dari LiB. LiB pada EBT diperlukan sebagai media sistem penyimpan energi (ESS) di mana dalam operasinya tidak terpengaruh oleh kerapatan energi dari material katode tapi lebih kepada daya tahan dan keselamatan operasi.

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

Jumlah energi ini cukup untuk digunakan pada 30 juta mobil listrik berkapasitas 100 KWh. Pada 2021, total kapasitas pabrik LiB Tesla diperkirakan 375 GWh.

Jika material katode yang digunakan adalah NCMA, kapasitas baterai sebesar 3 TWh/tahun tersebut memerlukan 2 juta ton nikel/tahun dalam 8,8 juta ton Nikel Sulfat Heksahidrat. Bila yang digunakan adalah katode LFP, kapasitas tersebut memerlukan 1,75 juta ton besi dalam 2,75 juta ton besi oksida. Jumlah 2 juta ton nikel tersebut jelas tidak kecil.

Pengadaannya jauh lebih sulit dibanding pengadaan untuk 2,75 juta ton besi. Belum lagi Tesla harus bersaing dengan kompetitor lain. Besi sebagai bahan dasar LFP memang lebih mudah didapatkan tetapi tidak semua kebutuhan kendaraan listrik dengan performa tertentu bisa dipenuhi oleh LFP.

Jadi, perhatian sekaligus kerisauan Elon Musk atas nama Tesla bukan hal yang dibuat-buat, apalagi disebarkan hanya untuk membuat spekulasi seperti diduga beberapa kalangan. Kerisauannya lebih ke arah mitigasi risiko akan jaminan suplai nikel untuk mencapai target rencana strategis Tesla, yakni menghasilkan LiB dengan kapasitas 3 TWh/tahun pada 2030.

Untuk mengantisipasinya, sangat wajar jika Tesla melakukan diversifikasi dalam pemakaian katode material antara yang berbasis besi dan nikel. LFP diperuntukkan bagi kendaraan listrik dengan daya jelajah standar, motor listrik, sepeda listrik dan ESS untuk mendukung EBT.

NMC dan NCA dikhususkan bagi kendaraan listrik premium berdaya jelajah tinggi serta media penyimpan power wall. Adapun untuk kendaraan berbobot berat dan memerlukan performa super, NCMA merupakan pilihan terbaik.

Alhasil, masa depan nikel untuk LiB khususnya untuk mendukung kendaraan listrik masih tatap memiliki tempat. Belum lagi LiB untuk keperluan lain seperti perangkat komunikasi, elektronika, pesawat tanpa awak dan lainnya.

*) Arief S. Tiammar adalah Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia

Sumber: bisnis.com

Read More

Kata Luhut ke Tesla: Hey, You Need Us

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali angkat bicara terkait kelanjutan investasi Tesla Inc di Indonesia.

Luhut menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi dengan perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Luhut juga memastikan Tesla saat ini masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita ini bukan negara jelek. Beberapa malam yang lalu, Tesla masih mengejar kita, masih diskusi, semua masih berjalan dan berlanjut,” kata Luhut dikutip Kompas.com dari Kontan, Rabu (10/3/2021).

Luhut mengeklaim, Pemerintah Indonesia tidak akan bersikap meminta-minta ke pihak Tesla agar membangun pabrik di Indonesia.

Lebih lanjut Luhut mengatakan justru pihak Tesla yang lebih membutuhkan Indonesia.

“Itulah kenapa saya pikir mereka jangan begging-begging (memohon). Hey, you need us (Hai, kalian butuh kita). Kita juga butuh mereka. Jadi harus seimbang, jangan sampai kita ditempatkan posisi untuk meminta-minta,” ucap Luhut.

Luhut juga menyatakan publik tak perlu khawatir karena selama ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Tesla.

Meski, Luhut juga mengatakan tidak bisa menyampaikan secara mendetail bagaimana rencana investasti Tesla di Indonesia.

Hal ini terkait Indonesia yang masih memiliki non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla.

NDA merupakan perjanjian antar paihak untuk saling menjaga kerahasiaan informasi atau material tertentu yang tak boleh diketahui pihak lain.

Namun satu yang pasti, Luhut mengatakan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melihat potensi yang ada di Tanah Air.

Menurutnya, berbagai bahan baku mobil yang dibutuhkan Tesla seperti bauksit, nikel dan tembaga, semuanya dimiliki Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah terus mendorong untuk pengembangan industri pada industri hulu dan turunan dari mobil listrik yang salah satunya adalah baterai.

Diketahui pula, Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS).

Sederhananya, ESS ini seperti “power bank” dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan megawatt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Sumber: Kompas.TV

Read More

Untuk Pasokan Kebutuhan Nikel, Elon Musk Deal Dengan Vale di Brasil

NIKEL.CO.ID – Tesla Inc., pabrikan mobil listrik yang tercatat di Bursa Nasdaq AS dengan kode saham TSLA, mendapatkan pasokan nikel untuk digunakan dalam baterai kendaraan listriknya setelah pemerintah Kaledonia Baru mencapai kesepakatan dengan perusahaan pertambangan Brasil, Vale, untuk penjualan Tambang Goro miliknya.

Dalam laporan Reuters, dengan kesepakatan ini maka Tesla telah mengamankan kendali yang lebih besar atas rantai pasokan logam baterai listriknya dengan deal membeli nikel dari Tambang Goro di Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru adalah negara berstatus eks jajahan Prancis. Wilayah ini terletak di sub-benua Melanesia di Samudra Pasifik sebelah barat daya. Negeri ini juga dinamai Kanaki yang berasal dari nama penduduk asli kepulauan tersebut.

Kesepakatan itu sah setelah para pemimpin politik di Kaledonia Baru pada Kamis pekan lalu (4/3) menyetujui persyaratan baru untuk penjualan tambang nikel Vale di sana, termasuk kepemilikan mayoritas bagi kepentingan lokal.

Selain itu, kesepakatan ini juga sebagai solusi dalam menyelesaikan keresahan atas rencana penjualan tambang nikel tersebut yang sempat diprotes warga.

Deal yang ditandatangani oleh para pemimpin pro-kemerdekaan dan loyalis di wilayah negara pasifik Prancis itu, termasuk ditekennya “kemitraan teknis dan industri” dengan Tesla yang memang tengah mencari bahan mentah untuk baterainya.

Tahun lalu, keputusan Vale menjual tambang nikel dan pabrik pengolahan (smelter) ke konsorsium perusahaan komoditas asal Swiss Trafigura memicu perlawanan sengit dari kelompok pro-kemerdekaan di wilayah tersebut.

Protes yang disertai kekerasan membuat Vale menutup tambang tersebut pada Desember 2020.

Berdasarkan perjanjian yang diteken pada Kamis lalu, kelompok politik mengusulkan agar 51% saham tambang operasi Vale di sana dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan investor lokal lainnya.

Sementara itu, Trafigura akan memiliki 19% saham, kurang dari 25% yang direncanakan dalam kesepakatan penjualan awal dengan Vale.

Vale dan Trafigura menyambut baik kesepakatan politik tersebut.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi selesai secara resmi,” kata Vale dalam pernyataan yang dikirim melalui email, dilansir Reuters, Selasa (9/3/2021).

Vale, yang telah mencoba menjual aset tambang di Kaledonia Baru selama bertahun-tahun itu, mengatakan sekitar 3.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung sangat bergantung pada dimulainya kembali aktivitas penambangan di sana.

“Kami menantikan operasi dilanjutkan dan penyelesaian akhir transaksi secepat mungkin,” kata juru bicara Trafigura.

Namun Tesla tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Kaledonia Baru adalah penghasil nikel terbesar keempat di dunia. Kaledonia Baru menambang 25% nikel dunia dan tambang Goro memiliki salah satu cadangan terbesar, yang mampu menghasilkan sekitar 40.000 ton nikel per tahun.

Industri nikel di Kaledonia Baru juga mencakup operasional dari dua perusahaan nikel dunia yakni Société Le Nickel atau SLN, perusahaan nikel grup pertambangan Prancis Eramet dan Koniambo Nickel SAS, yang 51% sahamnya dimiliki oleh Société Minière du Sud Pacifique (SMSP) Provinsi Kaledonia Baru Utara dan 49% dimiliki oleh Glencore.

Vale yang dulu bernama Companhia Vale do Rio Doce (the Sweet River Valley Company) adalah raksasa nikel di dunia. Di Indonesia, perusahaan memiliki anak usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang 20% sahamnya juga dipegang PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), atau MIND ID.

Pada 19 Juni 2020, Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd (SMM) telah menandatangani perjanjian definitif pembelian saham untuk penjualan 20% saham INCO kepada Inalum, sesuai dengan kewajiban divestasi Perseroan berdasarkan Amandemen KK 2014. Transaksi ini selesai pada akhir tahun 2020.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Vale Indonesia menjadi Vale Group 44,34%, MIND ID 20,00%, SMM 15,03%, Sumitomo Corporation 0,14%, dan publik 20,49%.

Tesla Dapat Suplai Nikel

Nikel adalah logam penting dalam produksi baterai lithium-ion yang digunakan dalam kendaraan listrik dan CEO Tesla Elon Musk baru-baru ini sudah menyatakan keprihatinannya atas ketersediaan komoditas mineral ini.

Nah, sebagai bagian dari perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru, Tesla akan memiliki akses ke pasokan nikel jangka panjang dari tambang dan akan duduk sebagai penasihat teknis dalam proyek tersebut.

Dalam penggarapan tambang ini, Reuters melaporkan, Tesla akan terlibat dalam “kemitraan teknis dan industri” untuk membantu mengambil nikel untuk produksi baterainya dan menyesuaikan produk sesuai standar dan keberlanjutan bersama, menurut perjanjian keduanya.

Vale mengatakan kesepakatan itu akan “memungkinkan operasi untuk melanjutkan jalur yang berkelanjutan untuk masa depan, melestarikan pekerjaan dan memberikan nilai ekonomi bagi negara”.

Tesla tidak akan memiliki saham di tambang Goro tetapi kemitraannya di tambang memberikannya kendali yang lebih besar atas rantai pasokan baterai listriknya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ketika Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial di Kaledonia Baru

NIKEL.CO.ID – Kabar Tesla Inc. setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru menyisakan banyak pertanyaan termasuk alasan perusahaan Elon Musk belum kunjung membuat kesepakatan dengan Indonesia.

Dilansir dari Tempo.co Senin (8/3/2021), Tesla disebut telah setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru pada Kamis (4/3/2021). Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya untuk mengamankan lebih banyak sumber daya nikel yang menjadi kunci dalam produksi baterai lithium-ion di mobil listrik.

Tesla akan membantu tambang di Kaledonia Baru dengan produk dan standar keberlanjutan. Perseroan akan membeli nikel untuk produksi baterai menurut sebuah perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru merupakan produsen nikel terbesar keempat di dunia. Tesla diperkirakan akan menjadi penasihat industri di Tambang Goro, yang dimiliki oleh raksasa pertambangan asal Brasil, Vale.

Kabar Tesla bermitra dengan Kaledonia Baru ini seolah menjadi jawaban kegelisahan Elon Musk yang disampaikan lewat akun Twitter resminya akhir Februari 2021. Bos Tesla itu mengungkapkan nikel menjadi perhatian terbesar dalam meningkatkan produksi baterai lithium-ion.

Dengan pertimbangan keterbatasan itu, Elon Musk memilih beralih menggunakan katoda berbahan baku besi untuk mobil keluaran Tesla tipe standard range.

“Jumlah besi (dan lithium) sangat melimpah,” ujarnya dalam cuitan yang diunggah lewat akun Twitter-nya 26 Februari 2021.

Dilansir melalui electrek.co, Kaledonia Baru merupakan wilayah teritori kecil Prancis di Samudra Pasifik. Lokasi itu diyakini memiliki sebanyak 25 persen nikel dunia.

Tambang Goro dimiliki dan dioperasikan oleh Vale. Perusahaan asal Brazil itu mengambil alih pada 2007 dengan nilai transaksi miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Vale berharap dapat meningkatkan produksi hingga 40.000 ton nikel per tahun. Sayangnya, ambisi itu harus terhalang konflik.

Tambang Goro dikabarkan menghadapi masalah dengan penduduk setempat. Konflik berujung kepada sabotase tehadap tumpahan limbah lingkungan karena penggunaan teknologi high-pressure acid leach (HPAL).

Vale dikabarkan merugi karena konflik itu karena produksi tidak stabil dan masa depan yang tidak pasti. Dengan demikian, perseroan mencari pembeli selama setahun lebih.

Berbagai laporan juga menyebut telah terjadi kerusuhan besar di wilayah Tambang  Goro sejak Vale dan Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke Trafigura pada Desember 2020. Keputusan itu memicu mogok dan protes dari kelompok pro-kemerdekaan sehingga Vale harus menutup situs tersebut.

Berdasarkan kesepakatan yang diteken Kamis (4/3/2021), 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas Provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal lainnya. Adapun, Trafigura diperkirakan memiliki 19 persen saham atau kurang dari 25 persen yang direncanakan dalam perjanjian penjualan awal dengan Vale.

Tesla tidak akan memiliki saham. Produsen mobil listrik hanya akan mengamankan rantai pasokan baterai listriknya saat meningkatkan produksi.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan,” kata Vale dilansir dari Tempo.co.

Rayu Tesla

Di lain pihak, pemerintah terus mengejar komitmen perusahaan-perusahaan multinasional seperti Tesla dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) battery di Indonesia. Sebelumnya, Indonesia Battery Holding (IBH) telah mencapai kesepakatan awal dengan LG Chem dan CATL.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menuturkan pengembangan industri EV battery sebagai bagian dari program Indonesia tumbuh. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi kebutuhan EV battery tinggi di masa depan sekaligus negara penghasil bahan-bahannya.

“Kami tak lupa menjaga potensi daripada pengembangan EV battery, Indonesia salah satu negara yang punya kebutuhan EV battery ini, menjadi yang sangat dibutuhkan. Indonesia juga salah satu produsen nikel terbesar, juga salah satu produsen terbesar untuk bauksit, copper juga termasuk,” katanya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian, melihat berbagai komponen dasar membuat EV battery dapat ada di Indonesia membuat pemerintah agresif mengejar pengembangan industri baterai mobil listrik dalam negeri. Pemerintah juga sudah mencapai kesepakatan dan melakukan penandatanganan kerja sama konsorsium BUMN dalam pengembangan EV battery.

“Kami juga terus mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya dari Jepang dari Amerika Serikat, termasuk juga yang sering dibicarakan di publik Tesla,” urainya.

Sementara itu, Indonesia sudah membuat konsorsium bentukan BUMN yang dinamai Indonesia Battery Corporation dan menandatangani komitmen kerja sama pengembangan EV battery di Indonesia bersama dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) produsen baterai asal China dan LG Chem produsen baterai asal Korea Selatan.

“Hal-hal ini dapat membuat Indonesia tumbuh dengan program yang jelas seperti EV battery ini juga pertumbuhan Indonesia tak hanya untuk 1 tahun tapi untuk 20 tahun yang akan datang berdasarkan kekuatan sumber daya alam Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik. Di sisi lain, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik.

Menurutnya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kami enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sebagai gambaran, ESS bekerja layaknya powerbank raksasa yang dapat menyimpan tenaga listrik dalam skala besar, bahkan mencapai ratusan megawatt (MW).

Tesla memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan ESS di Australia. Fasilitas baterai raksasa milik Tesla di Negeri Kanguru sudah berjalan sejak 1 Desember 2017, tepatnya di Hornsdale, Australia.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Kala Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial

Read More

Antara Baterai Listrik, Kaledonia Baru dan Tesla

Adakah hubungan antara baterai listrik, Kaledonia Baru dan Tesla? Mengapa Tesla pada akhirnya memilih untuk bekerja sama dengan tambang di negara tersebut?

Apakah maksud dari hubungan antara Kaledonia Baru dan Tesla?

NIKEL.CO.ID –

Jika sebelumnya perusahaan otomotif ternama Tesla Inc. memilih India sebagai destinasi untuk membuat pabrik mobil listrik atau electric vehicle (EV),  dilaporkan dari Reuters tepatnya pada hari Kamis, 4 Maret 2021 lalu perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk tersebut setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru. Bentuk kerja sama antara Tesla dan Kaledonia Baru tersebut sebagai upaya Tesla dalam mengamankan sumber daya nikel dengan jumlah yang lebih banyak.

Indonesia menjadi produsen nikel terbesar kedua di dunia, sedangkan Kaledonia Baru menduduki peringkat keempat. Perlu diketahui bahwa selain Indonesia dan Kaledonia Baru, beberapa negara lain yang menjadi produsen dari kunci bahan baku pembuat baterai kendaraan listrik yaitu ada di Kanada dan Rusia.

Tentunya untuk mendapatkan nikel Kaledonia Baru, Tesla telah membuat perjanjian dengan pemerintah di negara tersebut. Mereka turut membantu dengan produk dan standar keberlanjutan dan membeli nikel untuk produksi baterai.

Lewat cuitan di akun Twitter sang CEO Tesla pada 25 Februari lalu, dirinya menuliskan bahwa perhatian utama perusahaan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi sel lithium-ion. Sebelumnya, di bulan Juli Elon Musk juga mengungkapkan bahwa nikel menjadi tantangan terbesar untuk baterai jarak jauh volume tinggi.

Permintaan nikel terus meningkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya produksi kendaraan listrik saat ini mengalami percepatan. Adanya percepatan produksi tersebut mengakibatkan pasokan menjadi rendah. 

Elon Musk mengakui produksi nikel di Indonesia, Kanada, dan Australia berjalan dengan baik. Sementara di Amerika Serikat justru berat sebelah. Mengapa demikian? Apakah yang akhirnya membuat Tesla dan Kaledonia Baru bergandengan tangan?

Tesla dikabarkan akan menjadi penasihat industri di tambang Goro, Pulau Pasifik. Dimana tambang tersebut dipegang oleh Vale (Brazil) dan merupakan wilayah luar negara Prancis. Di Amerika Serikat mengalami kerusuhan sejak Vale dan negara Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke pedagang komoditas Swiss Trafigura pada awal Desember.

Berbagai protes dari kelompok pro-kemerdekaan pun terjadi. Mereka memaksa Vale untuk menutup situs di bulan Desember. Dilansir dari Routers, perjanjian tersebut berisi 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal, sedangkan Trafigura memiliki 19 persen saham kurang dari 25 persen yang telah direncanakan dalam perjanjian penjualan awal bersama Vale.

Pihak Vale menjelaskan bahwa tugasnya kini menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan. Dalam hal ini, Tesla disebutkan tidak memiliki saham namun perannya hanya sebagai mitra yang bertugas mengamankan rantai pasokan baterai listrik saat meningkatkan produksi.

Sumber: wiracarita.com

Read More

Harga Nikel Turun Terendah Sejak 2016 Setelah Ada Kesepakatan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Harga nikel di London merosot lebih dari 8% pada hari Kamis (04/03/2021) dan harga logam di Shanghai turun terbesar dalam sembilan bulan setelah adanya kesepakatan besar oleh perusahaan China Tsingshan yang meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan nikel untuk bahan baku baterai.

Harga patokan nikel diperdagangkan pada level tertinggi sepanjang enam tahun yang tembus pada minggu lalu di tengah ekspektasi lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik akan memacu kekurangan. Elon Musk mengatakan pada bulan Februari bahwa nikel adalah perhatian utama Tesla.

Nikel tiga bulan di London Metal Exchange turun sebanyak 8,5% menjadi $ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016, juga karena berita bahwa Norilsk Nickel mengharapkan untuk menstabilkan masalah banjir di tambang Oktyabrsky dan Taimyrsky minggu depan.

Kontrak nikel Juni yang paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange berakhir 6% lebih rendah pada 130.510 yuan ($ 20.180,61) per ton, membukukan kerugian harian terbesar sejak Mei 2020.

[Click here for an interactive nickel price chart]

Tsingshan Holding Group Co., produsen baja tahan karat terkemuka dunia, akan segera mulai memasok nikel matte ke produsen bahan baterai China dan berencana untuk memperluas investasi nikelnya di Indonesia. Matte adalah produk antara yang terbuat dari konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia kelas baterai.

“Produksi massal nikel matte Tsingshan memicu reformasi sisi pasokan. Hambatan pasokan nikel sulfat telah rusak. Ada ruang terbatas untuk harga nikel naik, “kata Huatai Futures dalam sebuah catatan.

Produsen nikel-pig-iron sekarang dapat membuat nikel matte dengan sedikit menyesuaikan proses pembuatannya, Celia Wang, seorang analis di Mysteel mengatakan kepada Bloomberg.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” katanya.

Penurunan harga nikel mendorong harga saham turun. Di Sydney, Nickel Mines Ltd. turun 10% dan IGO Ltd. kehilangan hampir 8%. Di Cina, Zhejiang Huayou Cobalt Co merosot 10% dan Ganfeng Lithium Co turun 9,7%.

(Dengan file dari Bloomberg dan Reuters)

Sumber: mining.com

Read More

Jonathan Handojoyo Ungkap Alasan Nikel Indonesia Tak Menarik Lagi Bagi Tesla

Salah satu pendiri Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian (AP3I) mengatakan, aturan yang berubah-ubah membuat investasi asing, termasuk Tesla, sulit masuk ke Indonesia.

NIKEL.CO.ID – Kabar Tesla akan mengganti bahan baku baterainya dari nikel ke besi memberi sinyal negatif pada sektor pertambangan Tanah Air. Padahal, pemerintah sedang menggenjot hilirisasi komoditas tambang itu, melalui bisnis baterai listrik.

Salah satu pendiri Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian (AP3I) Jonathan Handojoyo mengatakan, aturan yang berubah-ubah membuat investasi sulit masuk ke negara ini. Investor asing, termasuk Tesla, menjadi tidak tertarik.

“Sebentar merah, tiba-tiba berubah menjadi hijau,” katanya, Rabu (3/3/2021).

Ia berharap kebijakan yang keliru dapat segera dicabut. Misalnya, Peraturan Bank Indonesia Nomor 21/14/PBI/2019 tentang devisa hasil ekspor dan pembayaran ekspor.

“Aturan ini menyebabkan hilangnya devisa ekspor nikel,” ujar Jonathan.

Sebagai informasi, pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu untuk masuk ke bisnis baterai RI. Proses diskusi telah berlangsung sejak tahun lalu. Tesla tertarik masuk ke produksi sistem penyimpanan energi atau energy storage system (ESS).

Salah satu syarat yang perusahaan ajukan adalah penambangan nikelnya harus memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan. Nikel merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion dan ESS. Indonesia memproduksi dan memiliki cadangan barang tambang itu terbesar di dunia.

Jonathan berpendapat selama ini penambang nikel Indonesia tidak ada yang salah.

“Buktinya apa kalau dibilang merusak lingkungan,” ujarnya.

Pekan lalu, pendiri dan bos Tesla, Elon Musk, menyatakan kekhawatirannya pada komoditas nikel. Ketersediaanya tak sejalan dengan keinginan perusahaan untuk meningkatkan produksi baterai.

Apabila kondisi tak berubah, Musk bakal mengganti nikel dengan katoda  berbahan dasar besi.

“Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!,” cuitnya dalam akun Twitter @elonmusk, pada Jumat lalu.

Bahan baku besi cenderung lebih murah dan produksinya lebih banyak di dunia. Namun, nikel dapat menyimpan energi listrik lebih padat. Mobil listrik dapat berjalan lebih jauh dengan sekali pengisian daya. Tesla membutuhkan logam mineral itu tak hanya untuk kendaraan listrik, tapi juga proyek tenaga surya.

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam menyebut perubahan seperti itu wajar seiring dengan studi dan riset yang terus berkembang.

“Tapi tidak dalam waktu singkat. Itu kan baru omongan, wacana,” katanya.

Kekhawatiran yang Musk utarakan sebenarnya positif untuk negara ini.

“Indonesia tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan sumber daya alam saja,” ujar Piter.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Asosiasi Sebut Alasan Nikel Indonesia Tak Menarik Lagi bagi Tesla

Read More

Sinyal Bos Tesla Yang Berpotensi Turunkan Pamor Nikel Indonesia

Tesla menyebut tanpa produksi nikel yang mencukupi, perusahaan akan beralih ke material besi dalam produk baterai mobil listriknya.
  • Elon Musk bakal mengganti nikel dengan besi untuk baterai kendaraan listriknya.
  • Substitusi ini berpotensi menurunkan posisi tawar RI dalam negosiasi industri baterai dengan Tesla.
  • Momentum baterai lihtium-ion masih akan berlanjut dalam 15 hingga 20 tahun ke depan.

NIKEL.CO.ID – Pendiri dan bos Tesla, Elon Musk, kembali menyatakan kekhawatirannya pada komoditas nikel. Barang tambang ini menjadi bahan baku utama untuk memproduksi baterai. Namun, ketersediaanya tak sesuai dengan keinginan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu.

Apabila kondisi tak berubah, Musk bakal mengganti nikel dengan katoda  berbahan dasar besi. “Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!,” cuitnya dalam akun Twitter @elonmusk, Jumat (26/2/2021).

Mengutip dari Reuters, pada tahun lalu sebenarnya Musk pernah memberi sinyal pada penambang nikel dunia untuk menggenjot produksinya dalam skala besar. Bahkan Tesla menjanjikan kontrak besar untuk jangka panjang yang dapat menjamin pasokan perusahaan.

Satu hal yang menjadi syarat utama bagi para pemasok adalah para penambangnya harus memperhatikan faktor lingkungan. Syarat ini juga yang Tesla berikan kepada pemerintah Indonesia, selaku produsen nikel terbesar dunia, dalam negosiasi bisnis baterai.

Dibandingkan besi, nikel menyimpan energi listrik lebih padat. Mobil dapat berjalan lebih jauh dengan sekali pengisian daya. Tesla membutuhkan logam mineral itu tak hanya untuk kendaraan listrik, tapi juga proyek tenaga surya.

Beberapa analis menyebut volume yang dibutuhkan Tesla tidak menarik bagi penambang untuk meningkatkan produksi. Jumlahnya sedikit sehingga tidak akan menaikkan harga dalam jangka menengah.

Perusahaan saat ini mendapatkan produk baterai nikel-kobalt-mangan (NCM) dari LG Chem asal Korea Selatan. Untuk baterai nikel-kobalt-aluminium, pasokannya dari Panasonic Corp, Jepang.

Kedua perusahaan itu secara tidak langsung membeli nikel dari perusahaan tambang dalam rantai pasok yang panjang. Tesla, yang sangat menekankan penambangan berkelanjutan, pun tidak dapat mengungkapkan sumber nikel dalam rantai pasokannya.

Nah, Indonesia tengah menanti calon mitra untuk masuk dalam bisnis baterai. Pemerintah berencana membentuk induk usaha atau holding bernama Indonesia Battery Corporation (IHC).

Di dalam induk itu terdapa empat badan usaha milik negara alias BUMN. Keempatnya adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan PT Aneka Tambang Tbk alias Antam.

Ada tujuh perusahaan global yang tertarik masuk dalam proyek itu. Dua perusahaan yang serius, yakni Contemporary Amperex Technology (CATL asal Tiongkok dan LG Chem. Sedangkan Tesla masih melakukan penjajakan dengan pemerintah.


Diskusi dengan Tesla Masih Berlanjut

Pemerintah terus bernegosiasi dengan Tesla. Namun saat disinggung mengenai progresnya, Deputi Investasi & Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto enggan membeberkan lebih lanjut.

Penyebabnya, Indonesia telah mengantongi non-disclosure agreement (NDA) alias perjanjian larangan pengungkapan informasi.

“Saya masih ada NDA dengan Tesla. Tidak bisa berbicara banyak,” kata dia, Selasa (2/3).

Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia alias Perhapi Rizal Kasli mengatakan saat ini, sejumlah perusahaan memang sedang terus melakukan studi dan riset untuk pengembangan penyimpanan daya (energy storage) dan baterai mobil listrik.

Kehadiran produk-produk itu untuk menciptakan baterai yang aman, efisien, murah, andal, dan ramah lingkungan. Baterai mobil listrik yang saat ini paling banyak digunakan adalah jenis lithium-ion. Komponen katoda atau kutub positifnya merupakan campuran nikel, kobalt dan mangan. Sedangkan anodanya (kutub negatif) berbahan baku lithium.

Sejumlah perusahaan sedang mengembangkan dan mencari subtitusi nikel dan kobalt. Kedua komoditas ini harganya mahal dan cadangannya tidak terlalu besar di dunia.

“Apapun bahan bakunya, Indonesia sebagai negara yang memiliki sejumlah cadangan mineral strategis harus segera memanfaatkan momentumnya,” kata Rizal.

Indonesia menguasai 30% cadangan nikel dunia, bahan baku baterai EV. Jumlahnya setara dengan 21 juta ton.  Negara kepulauan ini juga memiliki 1,2 miliar ton aluminium, 51 juta ton tembaga, dan 43 juta ton mangan.


Tak hanya di penyediaan bahan baku saja, Indonesia juga dapat tampil sebagai produsen baterai mobil listrik.

“Bahkan hingga ke industri mobil listrik, sehingga sumber daya alam negara ini mendapat nilai tambah yang optimal,” ujarnya.

Momentum baterai lihtium-ion ini masih akan berlanjut dalam 15 hingga 20 tahun ke depan. Pemerintah dapat menerapkan kewajiban memasok untuk kebutuhan pasar dometik atau DMO, seperti komoditas batu bara.  P

erhapi menyarankan agar riset dan kajian tentang pengembangan teknologi berbasis mineral dikembangkan dengan serius.

”Sehingga Indonesia bisa tampil sebagai pemain utama dalam pengembangan mobil listrik,” kata dia.

Posisi Tawar Indonesia Dinilai Akan Berkurang

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan berpendapat posisi nilai tawar Indonesia akan berkurang karena ketergantungan akan nikel mulai menurun. Negara ini dapat dianggap tak lagi menarik untuk masuk dalam industri baterai global.

Apalagi Tesla mulai mengalihkan fokusnya menggunakan besi ketimbang nikel.

“Kita bukan lagi menjadi prioritas dalam pengembangan baterai,” ujarnya.

Untuk itu, perlu adanya antisipasi agar iklim investasi menarik kembali. Kemudahan dan insentif harus tetap diberikan agar tidak ada perubahan rencana investasi dari penanam modal.

Indonesia masih berpeluang mengembangkan nikel untuk industri energi dan baja nirkarat (stainless steel). Namun, untuk baterai diperkirakan akan segera ada substitusi bahan bakunya.

Jepang kini mengembangkan baterai tidak berbasis nikel. Dengan pertimbangan harga komoditas ini akan semakin mahal karena permintaannya meningkat. Sedangkan Tesla, selain mempertimbangkan jumlah, juga menyoroti masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam berinvestasi.

Cadangan bijih besi Indonesia, menurut Ketua Umum Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo, relatif kecil. Angkanya di bawah 1% secara global. Australia, Brazil, Rusia dan Tiongkok pemilik cadangan bijih besi besar dunia saat ini.

Indonesia memang bisa masuk ke bisnis baterai melalui komoditas nikel. Cadangannya terbesar dunia sehingga memainkan peranan dalam pemanfaatan bahan nikel dunia. Grafik Databoks di bawah ini menampilkan perbandingannya.

Dari sebaran bijih nikel, cadangannya sebanyak 4.5 miliar ton tersebar di Sulawesi dan Maluku.

“Pengembangannya sangat menjanjikan untuk membangun industri hilir ke depan,” kata dia.

Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah harus mampu memperkirakan tujuan investor dari awal sampai pasarnya terbangun. Baru setelah itu, memberikan kemudahan fiskal dan nonfiskal untuk menarik investasi.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Sinyal Bos Tesla yang Berpotensi Turunkan Pamor Nikel Indonesia

Read More

Strategi Elon Musk Atasi Kelangkaan Bahan Baku Baterai Lithium

NIKEL.CO.ID – Produsen mobil listrik milik Elon Musk, Tesla, Inc mulai mengalihkan fokusnya dalam pembuatan baterai lithium-ion ke katoda besi. Hal ini dikarenakan semakin menipisnya bahan baku untuk menciptakan baterai lithium-ion dalam skala besar, yaitu nikel.

Dilansir dari carscoops, Minggu (28/2/2021), Tesla sudah sesuai dengan Standard Range Model 3 buatan China dengan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP), yang diduga menjadi alasan mengapa harga Model 3 yang lebih murah dipangkas tahun lalu.

Dalam akun Twitter pribadinya, CEO Tesla Elon Musk menyebut bahwa pergeseran model-lebar menuju baterai LFP sudah di depan mata. Permintaan nikel, serta sumber daya terbatas lainnya yang digunakan dalam produksi baterai, seperti kobalt, mulai melebihi pasokan.

Kedua logam tersebut sebagian bertanggung jawab atas harga EV yang lebih tinggi daripada rekan ICE mereka. Menurut Bloomberg, mereka menyumbang sekitar 30% dari harga Tesla. Kesulitan menambang logam semacam itu, termasuk ketidakstabilan geopolitik di wilayah tempat mereka ditambang, telah membuat Tesla menjajaki kemungkinan alternatif.

Menurut Reuters, dalam sebuah panggilan investor tahun lalu, Musk telah meminta perusahaan pertambangan nikel untuk meningkatkan produksi sambil menawarkan kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama untuk nikel yang ditambang dengan cara yang efisien dan sensitif terhadap lingkungan.

Tesla dipandang memiliki strategi agresif terhadap produksi baterai. Komponen penting lainnya dalam baterai modern adalah litium, yang akan terus dibutuhkan dalam baterai LFP bebas nikel.

Financial Times melaporkan bahwa tahun lalu, pada hari baterai jarak sosial Tesla, Musk mengumumkan rencana untuk masuk ke penambangan lithium. Ini dilihat oleh banyak orang sebagai langkah untuk mengguncang dua produsen lithium, Livent dan Albemarle, beraksi.

Tesla berencana untuk memproduksi 20 juta mobil per tahun pada tahun 2030, dan untuk melakukannya akan membutuhkan lebih banyak lithium daripada yang ditambang. Output (di luar China) tidak dipandang sebagai peningkatan ke tingkat yang akan memenuhi tuntutan Tesla.

Peralihan ke baterai LFP bebas nikel juga merupakan salah satu tulang punggung utama di balik teknologi baterai “jutaan mil” mereka. Kemajuan seperti itu, yang sudah dipatenkan oleh Tesla, akan meningkatkan jumlah siklus pelepasan muatan dari 1000-1500 menjadi sekitar 4000. Untuk mobil yang diisi ulang setiap minggu, itu bisa melihat potensi masa pakai baterai 75 tahun.

Sumber: OkeZone.com

Read More