Nikel Indonesia Dikontrol China, Tesla Memilih Kerjasama dengan Australia

NIKEL.CO.ID – Tesla akhirnya memutuskan bekerjasama dengan Australia setelah sebelumnya dikabarkan mengincar nikel Indonesia.

Tesla telah menyepakati pembelian nikel, bahan baku utama baterai mobil listrik mereka, dengan perusahaan BHP, penambang nikel terbesar di dunia yang berada di Australia.

Langkah Tesla ini merupakan strategi memastikan suplai nikel dari produsen yang tidak dikontrol China, seperti di Indonesia.

Kerjasama dengan BHP merupakan kesepakatan ketiga yang dilakukan Tesla pada tahun ini, setelah Vale dan Goro.

Laporan Financial Times, Elon Musk, CEO Tesla, mengatakan pada Juli tahun lalu bahwa dia akan menawarkan ‘kontrak besar dalam jangka waktu lama’ pada perusahaan yang menambang nikel secara ‘efisien dan sensitif pada lingkungan’.

Tesla akan membeli nikel dari pabrik BHP, Nickel West, di Australia, yang merupakan salah satu produsen logam baterai dengan emisi karbon terendah.

Nikel merupakan material kunci buat Tesla menciptakan mobil listrik yang mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh. Nikel membuat baterai bisa memiliki lebih banyak kerapatan energi. Setiap mobil listrik membutuhkan setidaknya 40 kg di dalam baterai.

Reuters menjelaskan produsen otomotif dunia saat ini mencari penyuplai alternatif agar mengurangi ketergantungan dari China.

Indonesia adalah salah satu penyuplai besar nikel, kira-kira mewakili 30 persen di dunia menurut Nickel Study Group, dominasinya juga diperkirakan bakal mencapai 50 persen pada 2025. Meski begitu sebagian besar produksi nikel di Indonesia menggunakan batu bara dan produsennya dikontrol China.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerjasama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim telah mengantongi proposal dari Tesla.

Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.

Menurut Kemenperin saat ini sudah ada lima perusahaan pemasok bahan baku baterai di Indonesia, yakni Huayue Nickel Cobalt, QMB New Energy Material, Weda Bay Nickel, Halmahera Persada Lygend, dan Smelter Nikel Indonesia.

Selain itu sudah ada empat produsen baterai di dalam negeri, yaitu International Chemical Industry, ABC Everbright, Panasonic Gobel, dan Energizer.

Steve Brown, konsultan independen di Australia, mengatakan kepada Reuters, strategi Tesla menggaet BHP logis, sebab peluang mendapatkan nikel di dunia saat ini tidak banyak.

Jejak karbon di pabrik Nickel West dikatakan setengah dari para produsen nikel top di Indonesia, yang menggunakan teknologi berenergi besar untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit. Praktek pembuangan limbah di pabrik itu juga dikatakan berisiko lebih rendah.

“Tesla akan mendapatkan ketersediaan nikel dari produsen mapan dengan kredensial operasional yang kuat sebanyak mungkin,” tandasnya. (ATN)

Sumber : asiatoday.id

Read More

Tesla Kerjasama Dengan Australia, Bagaimana Nasib Negosiasi Dengan Indonesia?

NIKEL.CO.ID – Tesla, perusahaan raksasa kendaraan listrik itu menandatangani kerjasama dengan perusahaan nikel asal Australia. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, BHP Billiton telah berhasil mengamankan kontrak pasokan nikel untuk kendaraan listrik buatan Tesla.

Lebih lanjut soal perjanjian itu, nantinya Tesla akan mendapatkan pasokan bahan baku kendaraan listrik dari sebuah tambang di Australia Barat yang terkenal sebagai salah satu tambang nikel terbesar di dunia. Sebelumnya, komoditas nikel dari tambang tersebut digunakan untuk memasok pabrik baja stainless steel.

Permintaan nikel diprediksi akan mengalami lonjakan drastis dalam satu dekade mendatang, karena kendaraan listrik akan menjadi alat transportasi yang umum digunakan di masa depan.

Elon Musk sendiri beberapa waktu yang lalu mengaku bahwa keberadaan nikel di masa mendatang akan menjadi komoditas yang paling dibutuhkan, dan kekurangan akan nikel bisa menghambat efisiensi serta kapasitas penyimpanan baterai kendaraan listrik. Masalah utamanya adalah baterai akan membutuhkan biaya sangat besar untuk diproduksi.

Kerja sama antara BHP dengan Tesla itu pun memunculkan pertanyaan akan nasib proses negosiasi antara pemerintah Indonesia yang akan berperan memasok nikel ke perusahaan asal Amerika Serikat itu. Akankah, negosiasi itu atau batal?

Pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menjelaskan bahwa proses negosiasi kerja sama itu masih terus berlangsung sampai sekarang. Namun sejauh mana perkembangannya masih belum diungkap oleh pihak Kementerian.

Awal bulan Februari lalu, Tesla dikabarkan telah mengajukan proposal soal investasi ke pemerintah Indonesia. Pihak Kementerian mengatakan bahwa proposal tersebut berbeda dengan proposal yang diajukan perusahaan lain seperti CATL atau LG. Adapun perbedaannya adalah pada pengguna teknologi dasar.

Tesla nantinya kemungkinan besar akan melakukan investasi pada bidang Energy Storage System atau ESS. ESS sendiri merupakan teknologi yang mirip dengan power bank namun kapasitas daya sangat besar yang bisa menyimpan listrik sampai 100 MW.

Pihak Tesla juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki potensi untuk bisa mengombinasikan energi baru terbarukan dengan teknologi ESS yang dimiliki Tesla.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Arcandra Tahar Beri Alasan Tesla Pilih Beli Nikel dari Australia

NIKEL.CO.ID – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar memberikan analisisnya terkait penandatanganan perjanjian pembelian nikel oleh Tesla dari perusahaan pertambangan Australia BHP.

Menurut dia, selain mensuplai nikel, Tesla dan BHP juga akan bekerjasama dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan.

“Kenapa Tesla memilih tambang nikel di Australia Barat bukan di negara lain? Tidak ada yang tahu pasti kenapa kerjasama yang sangat strategis ini dimulai. Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk kenapa Tesla memilih BHP,” ujarnya lewat akun Instagram pribadinya @arcandra.tahar seperti yang dikutip pada Rabu, 28 Juli.

Dalam unggahan tersebut, Arcandra setidaknya memberikan empat alasan mengapa kerja sama itu bisa terjadi.

Pertama, tekanan dari pemegang saham agar Tesla menunjukan usaha dan berpartisipasi dalam mengurangi dampak dari perubahaan iklim. BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil.

“Mereka punya komitmen untuk mengelola tambang yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan,” katannya.

Kedua, kesamaan visi antara Tesla dan BHP dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi ramah lingkungan. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan handal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama.

“Pandangan jauh ke depan dari kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor,” ungkap dia.

Ketiga, kerjasama ini akan menaikkan nilai saham kedua perusahaan. Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerjasama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan. Tesla bisa jadi mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka kerugian besar bagi Tesla.

“Kata orang Minang, Tesla kalah membeli tapi menang memakai. Hal yang sama juga berlaku untuk BHP,” imbuhnya.

Disebutkan Arcandra bahwa jika BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan maka nilai saham BHP bisa turun.

“Inilah fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia yang sudah go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan kalau tidak ingin ditinggal investor,” tegasnya.

Keempat, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah Australia membantu perusahaan-perusahan tambang mereka untuk berpartisipasi dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim.

“Mereka menyadari bahwa dalam jangka pendek akan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan penambang ramah lingkungan. Tapi pemerintah hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan tersebut. Inilah kunci untuk membangun dunia usaha yang berkelanjutan dan andal. Tidak dipaksa melalui jalan sulit dengan peta jalan yang buram,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa tidak berpengaruhnya biaya tenaga kerja yang lebih mahal di Australia terhadap masuknya investor kesana. Paling tidak bukan sebagai faktor penentu investor berinvestasi di sana.

Investor, dikatakannya, lebih punya ketertarikan terhadap perusahaan dan peluang bisnis yang ramah lingkungan.

“Perusahaan kelas dunia sangat cerdas dalam mengumpulkan data-data yang akurat terhadap komitmen sebuah perusahaan termasuk praktek-praktek bisnis yang biasa mereka lakukan di suatu negara. Inilah zaman baru yang terbuka dan transparan,” ucap dia.

Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu terdengar rumor bahwa Indonesia akan masuk dalam salah satu rantai produksi Tesla, utamanya dalam hal pembuatan baterai mobil listrik, karena dianggap mempunyai cadangan nikel yang besar.

Namun, hal tersebut sampai saat ini belum terealisasi. Bahkan, Tesla dikabarkan memilih Bangalore di India sebagai salah satu pusat pengembangan Tesla di luar Amerika Serikat.

“Semoga kita diberi kemampuan untuk belajar dari kerjasama Tesla dengan BHP di Australia” tutup Arcandra Tahar.

Sumber: voi.id

Read More

Tesla Putuskan Beli Nikel Dari Perusahaan Australia

NIKEL.CO.ID – Tesla telah menyepakati pembelian nikel, bahan baku utama baterai mobil listrik mereka, dari BHP, penambang nikel terbesar di dunia yang berada di Australia.
Langkah Tesla ini merupakan strategi memastikan suplai nikel dari produsen yang tidak dikontrol China, seperti di Indonesia.

Kerja sama dengan BHP merupakan kesepakatan ketiga yang dilakukan Tesla pada tahun ini, setelah Vale dan Goro.

Menurut Financial Times, Elon Musk, CEO Tesla, mengatakan pada Juli tahun lalu bahwa dia akan menawarkan ‘kontrak besar dalam jangka waktu lama’ pada perusahaan yang menambang nikel secara ‘efisien dan sensitif pada lingkungan’.

Tesla akan membeli nikel dari pabrik BHP, Nickel West, di Australia, yang merupakan salah satu produsen logam baterai dengan emisi karbon terendah.

Nikel merupakan material kunci buat Tesla menciptakan mobil listrik yang mampu menempuh jarak perjalanan lebih jauh. Nikel membuat baterai bisa memiliki lebih banyak kerapatan energi.

Setiap mobil listrik membutuhkan setidaknya 40 kg di dalam baterai.

Reuters menjelaskan produsen otomotif dunia saat ini mencari penyuplai alternatif agar mengurangi ketergantungan dari China.

Indonesia adalah salah satu penyuplai besar nikel, kira-kira mewakili 30 persen di dunia menurut Nickel Study Group, dominasinya juga diperkirakan bakal mencapai 50 persen pada 2025. Meski begitu sebagian besar produksi nikel di Indonesia menggunakan batu bara dan produsennya dikontrol China.

Pemerintah Indonesia sudah mempromosikan kerja sama dengan Tesla sejak 2019. Pada Februari lalu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengklaim telah mengantongi proposal dari Tesla.

Kementerian Perindustrian pada pekan lalu menyatakan Indonesia telah siap menjadi produsen baterai kendaraan listrik, salah satunya didukung cadangan nikel yang terbesar di dunia.

Menurut Kemenperin saat ini sudah ada lima perusahaan pemasok bahan baku baterai di Indonesia, yakni Huayue Nickel Cobalt, QMB New Energy Material, Weda Bay Nickel, Halmahera Persada Lygend, dan Smelter Nikel Indonesia.

Selain itu sudah ada empat produsen baterai di dalam negeri, yaitu International Chemical Industry, ABC Everbright, Panasonic Gobel, dan Energizer.

Steve Brown, konsultan independen di Australia, mengatakan kepada Reuters, strategi Tesla menggaet BHP logis, sebab peluang mendapatkan nikel di dunia saat ini tidak banyak.

Jejak karbon di pabrik Nickel West dikatakan setengah dari para produsen nikel top di Indonesia, yang menggunakan teknologi berenergi besar untuk mengekstraksi nikel dari bijih laterit. Praktek pembuangan limbah di pabrik itu juga dikatakan berisiko lebih rendah.

“Tesla akan mendapatkan ketersediaan nikel dari produsen mapan dengan kredensial operasional yang kuat sebanyak mungkin,” kata dia.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Elon Musk dan Sederet Rencana Investasi di Indonesia

Investasi di industri baterai mobil listrik tampaknya bukan satu-satunya yang akan dilakukan Elon Musk melalui perusahaannya di Indonesia.

NIKEL.CO.ID – Nama Elon Musk dan Tesla Inc. sempat menjadi primadona dan buah bibir di Indonesia pada pengujung 2020 hingga awal tahun ini. Hal itu tak lepas dari desas-desus rencana perusahaan mobil listrik tersebut untuk berinvestasi di Indonesia.

Kala itu, sejumlah pejabat negara getol mempromosikan rencana besar industri mobil dan baterai listrik Tanah Air. Perusahaan Elon Musk tersebut pun awalnya disebut-sebut akan membangun pabrik mobil listrik di Indonesia.

Kabar itu pun membuat sejumlah emiten nikel di Indonesia, kompak mengalami lonjakan harga saham di lantai bursa. Sebab, nikel merupakan bahan baku utama baterai listrik.

Namun belakangan, Tesla disebut-sebut bukan berminat untuk membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. Terlebih, setelah adanya keputusan terbaru Tesla membangun pabrik mobil listrik di India pada kuartal I/2021.

Adapun, isu investasi perusahaan asal AS di Indonesia tersebut mengalami pergeseran. Tesla dikabarkan berminat investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

Hal itu ditegaskan oleh Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga pada Maret lalu. Saat itu, dia  mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik.

Menurutnya, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik mobil. Menurutnya Arya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi.

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kita enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery Agus Tjahjana mengatakan bahwa penjajakan antara Indonesia dan Tesla sedang dilakukan dengan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi.

Dia menyatakan kesiapan untuk memberi keperluan yang dibutuhkan Tesla untuk rencana pembangunan pabrik di Indonesia. Menurutnya, perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Holding Battery (IHB) yakni PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN), dan PT Pertamina (Persero) telah menyatakan kesiapannya.

“Kami siap, kami sediakan lahannya kalau diperlukan oleh Antam, kalau tidak ya, tidak apa-apa. Jadi, kalau misalkan, mau ke Pertamina siap, PLN juga siap, kita pada posisi lebih banyak menunggu tetapi yang dua ini sudah masuk ke yang lebih serius,” ungkapnya.

Investasi SpaceX

Kini, kabar mengenai rencana investasi Elon Musk melalui perusahaannya di Indonesia kembali berhembus. Namun, untuk kali ini perusahaan tersebut bukanlah Tesla, melainkan Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX) melalui anak usahanya yakni Starlink.

SpaceX sendiri merupakan perusahaan yang didirikan Musk, yang berfokus pada industri luar angkasa. Salah satu misi utama dari perusahaan itu adalah menjadi penyedia transportasi massal untuk menuju ke luar angkasa.

Adapun, rencana investasi SpaceX di Indonesia tampak dari paparan di Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada Senin, (19/7/2021).

Saat itu, Kemenkominfo melalui Direktorat Telekomunikasi menggelar kegiatan FGD jaring pendapat dari Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi untuk membahas rencana investasi SpaceX ke Indonesia.

Berdasarkan dokumen yang diterima Bisnis, acara FGD digelar pada Senin (19/7/2021) pukul 09.00 WIB.

Sejumlah asosiasi yang terlibat dalam acara tersebut antara lain Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), dan Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI).

Acara tersebut juga melibatkan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) dan Masyarakat Telematika Indonesia.

Sebagai salah satu peserta FGD, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) Muhammad Arif menceritakan secara umum SpaceX melalui Starlink ingin masuk ke Indonesia sebagai penyedia telekomunikasi di Indonesia. SpaceX sedang mengurus beberapa perizinan, salah satunya adalah perihal hak labuh.

“Intinya Starlink ingin masuk Indonesia. Saat ini sedang mengurus hak labuh dan lain sebagainya, untuk beroperasi di Indonesia,” kata Arif kepada Bisnis Senin (19/7/2021).

Arif mengatakan FGD tersebut meminta masukan kepada sejumlah asosiasi mengenai rencana tersebut, mengingat hadirnya Starlink dengan satelit yang beroperasi di orbit rendah (low earth orbit satellite /LEO) akan membuat peta persaingan sedikit bisnis berubah.

Bisnis mencoba mengonfirmasi mengenai rencana investasi SpaceX di Indonesia kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate. Sayangnya, hingga berita ini diturunkan Johnny belum merespons.

Adapun, Arif menyatakan, perusahaan penyelenggara jaringan telekomunikasi  di Indonesia tidak keberatan dengan kehadiran SpaceX di Indonesia. Apjatel menilai layanan internet berbasis serat optik masih yang terbaik, sehingga tak dapat digantikan dengan internet satelit Starlink milik SpaceX.

Arif mengatakan Apjatel tidak mempermasalahkan kehadiran SpaceX di Indonesia selama memenuhi peraturan yang berlaku dan memiliki kesetaraan dalam berbisnis di Indonesia dengan para penyedia infrastruktur dan layanan telekomunikasi lainnya.

“Selama dia [SpaceX] mengikuti ketentuan maka tidak ada masalah,” katanya.

Persaingan Perusahaan Domestik

Arif mengatakan evolusi teknologi merupakan suatu keniscayaan. Kehadiran Starlink yang berisiko membuat persaingan pasar layanan internet tetap rumah menjadi makin ketat, tak dapat dihindari.

Kendati demikian, dia optimistis layanan internet rumah berbasis serat optik tetap akan tumbuh meski ada Starlink. Layanan internet rumah berbasis serat optik lebih andal dan minim gangguan jika dibandingkan dengan internet satelit.

“Sehebat-hebatnya satelit melawan kabel masih menang kabel karena tidak ada gangguan udara,” kata Arif.

Arif menilai Starlink dapat mempercepat upaya pemerintah dalam mendorong percepatan transformasi digital dan merdeka sinyal di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Kualitas internet yang disuntikan dari satelit Starlink milik SpaceX, jauh lebih baik dibandingkan dengan satelit jenis high throughput satellites (HTS) atau satelit khusus internet.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, Starlink beroperasi di orbit rendah atau termasuk dalam kategori LEO.

Dengan beroperasi di orbit bawah, satelit ini mampu memberikan latensi yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan satelit konvensional dan satelit khusus internet.

SpaceX mengeklaim latensi yang dihasilkan dari satelit ini sekitar 25 milidetik – 35 milidetik. Starlink juga mampu menghasilkan internet hingga 1Gbps.

Pada 2019, SpaceX telah meluncurkan 120 satelit ke orbit rendah. Komisi Komunikasi Federal US memberikan izin kepada SpaceX untuk menempatkan 42.000 satelit Starlink di orbit.

Sementara itu, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berharap kepada pemerintah untuk mewajibkan Starlink bekerja sama dengan penyedia jasa internet lokal, seandainya Starlink berinvestasi ke Indonesia.

Bisnis penyedia internet lokal bakal tergerus, jika Starlink diperbolehkan beroperasi sendiri atau langsung melayani pelanggan.

Ketua Umum APJII Jamalul Izza mengatakan pada intinya teknologi baru tidak dapat dibendung. Meski demikian, seyogianya masuknya teknologi baru dimaksimalkan untuk membuat ekosistem bisnis yang sudah ada makin berkembang. Salah satunya adalah bisnis penyedia jasa internet.

“APJII mengimbau pemerintah agar Starlink ini bisa diarahkan untuk bekerja sama dengan seluruh ISP yang ada,” kata Jamal.

Dia mengatakan dengan menjalin kerja sama, maka para penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP) yang saat ini jumlah mencapai 600 ISP, dapat makin mudah mendapatkan infrastruktur telekomunikasi untuk menggelar layanan.

Sumber: bisnis.com

Read More

Tesla, Nikel, & Mengapa RI Strategis di Industri Mobil Listrik

Indonesia merupakan negara pemilik cadangan nikel terbesar dunia. Kebijakan nikel Indonesia, berperan besar untuk menentukan harga.

NIKEL.CO.ID – Industri otomotif sedang memulai perubahan besarnya. Mobil-mobil listrik mulai digemari, sementara mobil-mobil berbahan bakar fosil secara perlahan mulai ditinggalkan. Evolusinya mungkin belum terlalu terasa saat ini, akan tetapi dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan terjadi perubahan besar-besaran.

Tesla adalah salah satu yang mempelopori peralihan industri ini. Perusahaan besutan Elon Musk ini bahkan telah menjadi bintang baru di Wall Street. Kinerjanya moncer sehingga mengerek Elon Musk menjadi orang terkaya di dunia. Selama 2020, Tesla memproduksi mencapai 509.737 unit, dengan jumlah yang dikirim mencapai 499.550. Tesla memperkirakan pengiriman kendaraannya bisa tumbuh rata-rata 50% per tahun.

Mobil listrik memang bukan satu-satunya bisnis, akan tetapi ia memberikan peran besar dalam pertumbuhan kinerja Tesla. Selama kuartal terakhir tahun 2020, harga saham naik hingga 3 kali lipat sehingga membawa kapitalisasi pasar di atas USD 800 miliar. Tesla naik ke peringkat ke-5 dalam daftar “Most Valuable Company”.

Selain Tesla, sejumlah produsen otomotif besar juga sudah merilis dan mengembangkan mobil listrik. Ini karena mereka harus menangkap peluang mobil listrik di masa depan.

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan tren kenaikan penjualan penjualan mobil listrik. Jika pada tahun 2010, penjualan mobil listrik secara global hanya 17.000 unit, angkanya melonjak menjadi 2,1 juta unit pada 2019 sehingga total mobil listrik yang mengaspal di jalanan mencapai 7,2 juta unit. Sayangnya, 90% penjualan masih terkonsentrasi di Cina, Eropa, dan Amerika Serikat.

Riset JP Morgan memperkirakan ada lonjakan penjualan mobil listrik baik electric vehicles (EVs) dan hybrid electric vehicles (HEVs), sehingga pada 2025 mobil listrik diproyeksikan akan menguasai 30% dari seluruh penjualan kendaraan. Ini merupakan sebuah loncatan dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1 juta unit atau 1% dari total penjualan gloal.

Permintaan Meningkat, Harga Merayap Naik
Kenaikan penjualan mobil listrik berperan besar dalam peningkatan permintaan nikel dunia dan akan mengubah pula komposisi konsumsi nikel. Saat ini, konsumsi terbesar nikel adalah untuk bahan stainless steel atau baja tahan karat. Menurut riset DBS bertajuk “Nickel and Battery, A Paradigm Shift”, sebanyak 70% permintaan nikel dunia pada tahun 2019 adalah untuk bahan baku stainless steel. Namun, porsinya diperkirakan menciut menjadi hanya 52 persen pada 2030.

Di sisi lain, permintaan nikel untuk produk baterai diperkirakan meningkat pesat, dengan pertumbuhan compound annual growth rate (CAGR) 32% selama tahun 2019-2030, menurut riset DBS. Hal itu mendorong konsumsi nikel untuk baterai yang bisa diisi ulang (rechargeable battery) naik jadi 24% per tahun menjadi 1,27 juta ton pada 2030. Kontribusi konsumsi rechargeable batteries terhadap total konsumsi nikel pun meningkat dari 5% pada 2019 menjadi 30% pada 2030.

Bandingkan permintaan nikel untuk stainless steel yang diperkirakan hanya tumbuh 2,25 per tahun hingga 2030, sejalan dengan pertumbuhan produksinya sebesar 2,7%.

Pertumbuhan produksi stainless steel yang kuat didorong oleh ekspansi kapasitas yang kuat di Cina dan Indonesia. Namun turunnya konsumsi stainles dengan CAGR 2,7% pada 2019-2030 (dari sebelumnya 6% pada 2010-2019) mengindikasikan potensi pertumbuhannya mulai terbatas jika dibandingkan dengan booming mobil listrik.

Secara total, DBS memperkirakan permintaan nikel akan tumbuh dengan CAGR 4,15% dan 5% pada 2025 dan 2030.

Dari sisi produksi, DBS memperkirakan produksi nikel murni global tumbuh dengan CAGR 3,7% (yoy) pada rentang 2019-2025, terutama didukung oleh ekspansi proyek nikel di Indonesia. Sementara produksi nikel mentah diperkirakan tumbuh dengan CAGR 3% pada rentang 2019-2025. Khusus untuk tahun 2020, sehubungan dengan pandemi, produksi untuk tambang nikel akan turun 1,6% dan nikel pemurnian turun 9% secara yoy.

Pada tahun 2019, produksi tambang nikel global tercatat sebesar 2,593 juta ton. Tahun 2020, diperkirakan turun menjadi 2,359 juta ton. Indonesia yang merupakan penghasil utama nikel juga menghadapi penurunan, dari 917,5 ribu ton pada 2019, menjadi 693 ribu ton pada 2020.

Untuk nikel murni, tahun 2019 diperkirakan produksi globalnya mencapai 2,410 juta ton. Namun, tahun 2020 turun menjadi 2,372 juta ton. Khusus untuk Indonesia, produksi nikel murni tahun 2019 mencapai 360,8 ribu ton, naik menjadi 545 ribu ton pada 2020, berdasarkan riset DBS.

Menurut WBMS yang dikutip dalam riset DBS, ekspor nikel mentah dan konsentrat Indonesia anjlok dari 12,3 juta ton pada semester I-2019 menjadi nol karena kebijakan larangan ekspor Indonesia. DBS memperkirakan suplai tambang nikel Indonesia akan tumbuh dengan CAGR 4,9%. Kontribusi pada suplai global akan meningkat menjadi 39% pada 2025, dibandingkan 35% pada 2019.

Produksi & Larangan Ekspor Indonesia

Permintaan meningkat, sementara suplai tergantung pada beberapa negara produsen besar, salah satunya Indonesia. Sebagai pemilik cadangan sekaligus produsen nikel terbesar dunia, Indonesia memang memainkan peran kunci. Pemerintah Indonesia menyadari itu.

Dengan potensi yang sedemikian besar, pemerintah berniat untuk mengambil potensi ekonomi sebesar-besarnya. Salah satunya dengan mengeluarkan larangan ekspor. Dengan aturan ini, harapannya nikel yang keluar dari Indonesia tidak sekadar barang mentah, tetapi sudah dalam bentuk yang memiliki nilai tambah. Pengolahan dari mineral mentah menjadi nikel yang sudah murni melalui pengolahan dalam negeri, diharapkan bisa menciptakan keuntungan ekonomi bagi negara.

Larangan ekspor mineral mentah tertuang dalam Pasal 103 ayat (1) UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Penerapannya sempat beberapa kali tertunda karena belum siapnya smelter dalam negeri. Hingga akhirnya keluar Permen ESDM No. 11 Tahun 2019 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, tenggat waktu pelarangan ekspor bijih berlaku mulai 1 Januari 2020. Namun, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang baru dilantik ketika itu, mempercepatnya dua bulan. Kapal yang sudah bertolak untuk ekspor diminta untuk pulang, dan nikelnya diserap oleh perusahaan tambang lokal.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, larangan ekspor dipercepat karena terdapat lonjakan volume ekspor nikel hingga 100-130 kapal per bulan dari biasanya hanya 30 kapal per bulan. Setelah berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia nyaris turun ke angka nol.

Sayangnya, aturan ini menuai protes dari negara-negara Eropa. Uni Eropa bahkan melayangkan gugatan ke WTO. Pada Januari 2021, gugatan ini bahkan sudah memasuki tahap pembentukan panel World Trade Organization (WTO). Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan kekecewaannya karena tidak adanya penyelesaian setelah konsultasi bilateral, yang biasanya dilakukan untuk penyelesaian sengketa tanpa melalui sidang resmi WTO. Dengan pembentukan panel, masalah ini lanjut ke tahap ajudikasi yang memungkinkan WTO menjatuhkan putusan mengikat bagi Indonesia dan Uni Eropa.

Dalam gugatannya, Komisi Eropa yang mengoordinasikan kebijakan perdagangan untuk 27 negara Uni Eropa menyatakan, larangan ekspor nikel mentah dan kewajiban pengolahan dalam negeri sebagai kebijakan ilegal dan tidak adil untuk produsen baja Uni Eropa.

Menurut Komisi Eropa, seperti dilansir Reuters, produksi industri stainless steel Uni Eropa turun ke titik terendahnya dalam 10 tahun, sementara Indonesia menjadi produsen terbesar kedua setelah Cina, berkat kebijakan tersebut. Kebijakan Indonesia dianggap sangat memengaruhi industri baja Uni Eropa yang bernilai 20 miliar euro, dengan jumlah tenaga kerja langsung 30.000 orang.

Produk nikel mentah Indonesia sendiri sebenarnya tidak pernah dikirim ke Uni Eropa. Sebelum larangan berlaku, ekspor nikel mentah Indonesia pada tahun 2019 menurut data BPS mencapai 1,097 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, sebesar 1,051 miliar dolar meluncur ke Cina. Sisanya ke Jepang dan Ukraina. Tahun 2020, nilai ekspor sangat kecil hanya 116 ribu dolar, yang menuju ke Australia.

Namun, Uni Eropa beralasan kebijakan Indonesia membuat harga nikel di pasar internasional bergejolak. Sebagai negara produsen nikel terbesar dunia, kebijakan itu dianggap mengganggu tatanan harga di pasar global.

Seperti dikutip dari Al Jazeera Asosiasi Baja Eropa atau Eurofer mengatakan kebijakan Indonesia bisa mendorong harga nikel. Pada saat yang sama, Indonesia bisa memberikan harga yang murah kepada produsen stainless steel lokal. Padahal, nikel merupakan komponen terpenting dalam produksi stainless steel.

“Karena nikel mencakup sebagian besar biaya [produksi] stainless steel, (kebijakan larangan ekspor) membuat eksportir stainless steel Indonesia memiliki keuntungan daya saing yang signifikan dan tidak adil pada produk ini–dan Indonesia tiba-tiba membangun kapasitas yang besar–untuk masuk ke pasar ekspor,” ujar juru bicara Euroger, Charles de Lusignan, seperti dilansir Al Jazeera.

Pada larangan ekspor kali ini, Indonesia memang sudah lebih siap dibandingkan tahun 2014-206 lalu, karena sudah memiliki lebih banyak smelter untuk pengolahan nikel mentah. Dengan demikian, seluruh produksi bisa terserap oleh smelter yang ada. Menurut laporan DBS, produksi nikel olahan melonjak hingga 7 kali lipat menjadi 361 ribu ton pada 2019, dibandingkan 47.000 ton pada 2015. Sementara produksi stainless steel Indonesia juga melonjak menjadi 2,3 juta ton.

Harga nikel mentah cenderung turun mulai Desember 2019 atau setelah Indonesia memberlakukan larangan ekspor. Menurut Business Insider, harga nikel yang pada Desember 2018 hanya USD 10.870 per MT melonjak menjadi USD 17.295. Namun, setelah itu harga cenderung turun dan mencapai titik terendahnya pada Maret 2020 di USD 11.235. Harga secara perlahan naik dan pada Desember 2020 sudah menembus lagi USD 17.342. Meski demikian, harga itu jauh dibandingkan pada April 2007 atau saat booming harga komoditas. Saat itu, harga nikel sempat mencapai USD 50.765.

Indonesia untuk sementara waktu bisa mengamankan pasokan nikelnya, selama belum ada keputusan dari WTO. Dengan cadangan nikel yang sedemikian besar, Indonesia berprospek cerah untuk industri-industri yang mengandalkan nikel, termasuk baterai untuk mobil listrik. Namun, investasi untuk mobil ramah lingkungan tidak melulu soal pasokan nikel. Ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan oleh para produsen, termasuk Tesla. Terbaru, Elon Musk menawarkan kontrak jangka panjang dan bernilai fantastis bagi perusahaan yang mampu menambang nikel dengan syarat, “peka pada aspek lingkungan”. Tentu saja bukan hal yang mudah untuk dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan nikel Indonesia yang masih banyak terbelit masalah lingkungan.

Sumber: tirto.id

Read More

Isu Tesla dan Baterai Kendaraan Listrik

Oleh: Arief S. Tiammar *)

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

NIKEL.CO.ID – “Nikel menjadi perhatian terbesar untuk meningkatkan kapasitas produksi baterai ion litium. Karena itulah kami akan mengubah mobil listrik dengan jelajah standar ke katode besi. Besi itu sangat berlimpah [demikian juga litium]”.

Itulah terjemahan bebas dari cuitan Elon Musk pada twitter resminya. Cuitan yang banyak memengaruhi harga komoditas nikel sekaligus harga beberapa emiten saham nasional dan dunia. Tentu saja ada faktor lain yang akhir-akhir ini ikut memengaruhi bisnis nikel nasional dan global.

Katode besi yang dimaksud Musk adalah lithium ferro phosphate (LFP). Pada katode ini sama sekali tidak terkandung unsur nikel dan kobalt yang jauh lebih mahal. Katode adalah salah satu material penyusun baterai ion litium (LiB) di antara 11 material lainnya.

Material katode menempati porsi paling besar, 35% —45% dari total biaya produksi LiB. Jadi, biaya produksi LiB secara keseluruhan bisa ditekan ketika LFP yang berbasis besi digunakan walau di sisi lain kerapatan energi dan kecepatan pengisian katode LFP lebih rendah ketimbang katode yang berbasis nikel.

Selain itu, ketersediaan besi yang jauh berlimpah ketimbang nikel membuat posisi besi patut diperhatikan untuk jaminan pasokan jangka panjang. Pada operasi sebuah LiB, katode merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium sekaligus sebagai bagian kutub positif baterai.

Ketika LiB diisi (charging), litium terionisasi melepaskan elektron bergerak menuju material anode melewati elektrolit dan separator. Anode dalam hal ini merupakan ‘rumah’ bagi atom-atom litium di sisi bagian kutub negatif baterai.

Demikian juga ketika sedang dipakai, atom-atom litium kembali ke katode setelah melepaskan elektron di sisi kutub negatif. Pelepasan elektron inilah yang menciptakan arus listrik saat digunakan untuk berbagai keperluan.

Material katode merupakan salah satu bagian terpenting dari LiB. Saat ini ada beberapa jenis katode yang dipakai pada LiB khususnya untuk penggunaan kendaraan listrik. Namun yang dominan adalah katode berbasis besi, nikel dan nikel yang diperkaya.

Jenis katode berbasis besi adalah LFP, katode berbasis nikel antara lain NMC (lithium nickel manganese cobalt oxide), dan NCA (lithium nickel cobalt aluminium oxide). Jenis katode dengan nikel diperkaya adalah NCMA (lithium nickel cobalt manganese aluminium oxide). NCMA merupakan jenis katode terkini yang akan diproduksi pada pertengahan 2021.

Dari keempat jenis katode tersebut, NCMA memiliki kerapatan energi paling tinggi serta laju pengisian tercepat. LFP memberikan tingkat keamanan tertinggi serta umur baterai terlama walau dengan kerapatan energi lebih rendah. NCA dan NMC berada di antara keduanya.

Segmen energi baru dan terbarukan (EBT) yang juga berkembang pesat tidak bisa dilepaskan dari LiB. LiB pada EBT diperlukan sebagai media sistem penyimpan energi (ESS) di mana dalam operasinya tidak terpengaruh oleh kerapatan energi dari material katode tapi lebih kepada daya tahan dan keselamatan operasi.

Dalam rencana strategisnya, pada 2030 Tesla akan menghasilkan energi berbasis baterai dengan kapasitas 3 Tera Wh (3.000 Giga Wh) per tahun. Kapasitas yang luar biasa besar.

Jumlah energi ini cukup untuk digunakan pada 30 juta mobil listrik berkapasitas 100 KWh. Pada 2021, total kapasitas pabrik LiB Tesla diperkirakan 375 GWh.

Jika material katode yang digunakan adalah NCMA, kapasitas baterai sebesar 3 TWh/tahun tersebut memerlukan 2 juta ton nikel/tahun dalam 8,8 juta ton Nikel Sulfat Heksahidrat. Bila yang digunakan adalah katode LFP, kapasitas tersebut memerlukan 1,75 juta ton besi dalam 2,75 juta ton besi oksida. Jumlah 2 juta ton nikel tersebut jelas tidak kecil.

Pengadaannya jauh lebih sulit dibanding pengadaan untuk 2,75 juta ton besi. Belum lagi Tesla harus bersaing dengan kompetitor lain. Besi sebagai bahan dasar LFP memang lebih mudah didapatkan tetapi tidak semua kebutuhan kendaraan listrik dengan performa tertentu bisa dipenuhi oleh LFP.

Jadi, perhatian sekaligus kerisauan Elon Musk atas nama Tesla bukan hal yang dibuat-buat, apalagi disebarkan hanya untuk membuat spekulasi seperti diduga beberapa kalangan. Kerisauannya lebih ke arah mitigasi risiko akan jaminan suplai nikel untuk mencapai target rencana strategis Tesla, yakni menghasilkan LiB dengan kapasitas 3 TWh/tahun pada 2030.

Untuk mengantisipasinya, sangat wajar jika Tesla melakukan diversifikasi dalam pemakaian katode material antara yang berbasis besi dan nikel. LFP diperuntukkan bagi kendaraan listrik dengan daya jelajah standar, motor listrik, sepeda listrik dan ESS untuk mendukung EBT.

NMC dan NCA dikhususkan bagi kendaraan listrik premium berdaya jelajah tinggi serta media penyimpan power wall. Adapun untuk kendaraan berbobot berat dan memerlukan performa super, NCMA merupakan pilihan terbaik.

Alhasil, masa depan nikel untuk LiB khususnya untuk mendukung kendaraan listrik masih tatap memiliki tempat. Belum lagi LiB untuk keperluan lain seperti perangkat komunikasi, elektronika, pesawat tanpa awak dan lainnya.

*) Arief S. Tiammar adalah Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia

Sumber: bisnis.com

Read More

Kata Luhut ke Tesla: Hey, You Need Us

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali angkat bicara terkait kelanjutan investasi Tesla Inc di Indonesia.

Luhut menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia masih terus melakukan komunikasi dengan perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Luhut juga memastikan Tesla saat ini masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia.

“Kita ini bukan negara jelek. Beberapa malam yang lalu, Tesla masih mengejar kita, masih diskusi, semua masih berjalan dan berlanjut,” kata Luhut dikutip Kompas.com dari Kontan, Rabu (10/3/2021).

Luhut mengeklaim, Pemerintah Indonesia tidak akan bersikap meminta-minta ke pihak Tesla agar membangun pabrik di Indonesia.

Lebih lanjut Luhut mengatakan justru pihak Tesla yang lebih membutuhkan Indonesia.

“Itulah kenapa saya pikir mereka jangan begging-begging (memohon). Hey, you need us (Hai, kalian butuh kita). Kita juga butuh mereka. Jadi harus seimbang, jangan sampai kita ditempatkan posisi untuk meminta-minta,” ucap Luhut.

Luhut juga menyatakan publik tak perlu khawatir karena selama ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi dengan Tesla.

Meski, Luhut juga mengatakan tidak bisa menyampaikan secara mendetail bagaimana rencana investasti Tesla di Indonesia.

Hal ini terkait Indonesia yang masih memiliki non-disclosure agreement (NDA) dengan Tesla.

NDA merupakan perjanjian antar paihak untuk saling menjaga kerahasiaan informasi atau material tertentu yang tak boleh diketahui pihak lain.

Namun satu yang pasti, Luhut mengatakan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melihat potensi yang ada di Tanah Air.

Menurutnya, berbagai bahan baku mobil yang dibutuhkan Tesla seperti bauksit, nikel dan tembaga, semuanya dimiliki Indonesia.

Maka dari itu, pemerintah terus mendorong untuk pengembangan industri pada industri hulu dan turunan dari mobil listrik yang salah satunya adalah baterai.

Diketahui pula, Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS).

Sederhananya, ESS ini seperti “power bank” dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan megawatt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Sumber: Kompas.TV

Read More

Untuk Pasokan Kebutuhan Nikel, Elon Musk Deal Dengan Vale di Brasil

NIKEL.CO.ID – Tesla Inc., pabrikan mobil listrik yang tercatat di Bursa Nasdaq AS dengan kode saham TSLA, mendapatkan pasokan nikel untuk digunakan dalam baterai kendaraan listriknya setelah pemerintah Kaledonia Baru mencapai kesepakatan dengan perusahaan pertambangan Brasil, Vale, untuk penjualan Tambang Goro miliknya.

Dalam laporan Reuters, dengan kesepakatan ini maka Tesla telah mengamankan kendali yang lebih besar atas rantai pasokan logam baterai listriknya dengan deal membeli nikel dari Tambang Goro di Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru adalah negara berstatus eks jajahan Prancis. Wilayah ini terletak di sub-benua Melanesia di Samudra Pasifik sebelah barat daya. Negeri ini juga dinamai Kanaki yang berasal dari nama penduduk asli kepulauan tersebut.

Kesepakatan itu sah setelah para pemimpin politik di Kaledonia Baru pada Kamis pekan lalu (4/3) menyetujui persyaratan baru untuk penjualan tambang nikel Vale di sana, termasuk kepemilikan mayoritas bagi kepentingan lokal.

Selain itu, kesepakatan ini juga sebagai solusi dalam menyelesaikan keresahan atas rencana penjualan tambang nikel tersebut yang sempat diprotes warga.

Deal yang ditandatangani oleh para pemimpin pro-kemerdekaan dan loyalis di wilayah negara pasifik Prancis itu, termasuk ditekennya “kemitraan teknis dan industri” dengan Tesla yang memang tengah mencari bahan mentah untuk baterainya.

Tahun lalu, keputusan Vale menjual tambang nikel dan pabrik pengolahan (smelter) ke konsorsium perusahaan komoditas asal Swiss Trafigura memicu perlawanan sengit dari kelompok pro-kemerdekaan di wilayah tersebut.

Protes yang disertai kekerasan membuat Vale menutup tambang tersebut pada Desember 2020.

Berdasarkan perjanjian yang diteken pada Kamis lalu, kelompok politik mengusulkan agar 51% saham tambang operasi Vale di sana dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan investor lokal lainnya.

Sementara itu, Trafigura akan memiliki 19% saham, kurang dari 25% yang direncanakan dalam kesepakatan penjualan awal dengan Vale.

Vale dan Trafigura menyambut baik kesepakatan politik tersebut.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi selesai secara resmi,” kata Vale dalam pernyataan yang dikirim melalui email, dilansir Reuters, Selasa (9/3/2021).

Vale, yang telah mencoba menjual aset tambang di Kaledonia Baru selama bertahun-tahun itu, mengatakan sekitar 3.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung sangat bergantung pada dimulainya kembali aktivitas penambangan di sana.

“Kami menantikan operasi dilanjutkan dan penyelesaian akhir transaksi secepat mungkin,” kata juru bicara Trafigura.

Namun Tesla tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Kaledonia Baru adalah penghasil nikel terbesar keempat di dunia. Kaledonia Baru menambang 25% nikel dunia dan tambang Goro memiliki salah satu cadangan terbesar, yang mampu menghasilkan sekitar 40.000 ton nikel per tahun.

Industri nikel di Kaledonia Baru juga mencakup operasional dari dua perusahaan nikel dunia yakni Société Le Nickel atau SLN, perusahaan nikel grup pertambangan Prancis Eramet dan Koniambo Nickel SAS, yang 51% sahamnya dimiliki oleh Société Minière du Sud Pacifique (SMSP) Provinsi Kaledonia Baru Utara dan 49% dimiliki oleh Glencore.

Vale yang dulu bernama Companhia Vale do Rio Doce (the Sweet River Valley Company) adalah raksasa nikel di dunia. Di Indonesia, perusahaan memiliki anak usaha PT Vale Indonesia Tbk (INCO), yang 20% sahamnya juga dipegang PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), atau MIND ID.

Pada 19 Juni 2020, Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd (SMM) telah menandatangani perjanjian definitif pembelian saham untuk penjualan 20% saham INCO kepada Inalum, sesuai dengan kewajiban divestasi Perseroan berdasarkan Amandemen KK 2014. Transaksi ini selesai pada akhir tahun 2020.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Vale Indonesia menjadi Vale Group 44,34%, MIND ID 20,00%, SMM 15,03%, Sumitomo Corporation 0,14%, dan publik 20,49%.

Tesla Dapat Suplai Nikel

Nikel adalah logam penting dalam produksi baterai lithium-ion yang digunakan dalam kendaraan listrik dan CEO Tesla Elon Musk baru-baru ini sudah menyatakan keprihatinannya atas ketersediaan komoditas mineral ini.

Nah, sebagai bagian dari perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru, Tesla akan memiliki akses ke pasokan nikel jangka panjang dari tambang dan akan duduk sebagai penasihat teknis dalam proyek tersebut.

Dalam penggarapan tambang ini, Reuters melaporkan, Tesla akan terlibat dalam “kemitraan teknis dan industri” untuk membantu mengambil nikel untuk produksi baterainya dan menyesuaikan produk sesuai standar dan keberlanjutan bersama, menurut perjanjian keduanya.

Vale mengatakan kesepakatan itu akan “memungkinkan operasi untuk melanjutkan jalur yang berkelanjutan untuk masa depan, melestarikan pekerjaan dan memberikan nilai ekonomi bagi negara”.

Tesla tidak akan memiliki saham di tambang Goro tetapi kemitraannya di tambang memberikannya kendali yang lebih besar atas rantai pasokan baterai listriknya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ketika Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial di Kaledonia Baru

NIKEL.CO.ID – Kabar Tesla Inc. setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru menyisakan banyak pertanyaan termasuk alasan perusahaan Elon Musk belum kunjung membuat kesepakatan dengan Indonesia.

Dilansir dari Tempo.co Senin (8/3/2021), Tesla disebut telah setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru pada Kamis (4/3/2021). Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya untuk mengamankan lebih banyak sumber daya nikel yang menjadi kunci dalam produksi baterai lithium-ion di mobil listrik.

Tesla akan membantu tambang di Kaledonia Baru dengan produk dan standar keberlanjutan. Perseroan akan membeli nikel untuk produksi baterai menurut sebuah perjanjian dengan pemerintah Kaledonia Baru.

Kaledonia Baru merupakan produsen nikel terbesar keempat di dunia. Tesla diperkirakan akan menjadi penasihat industri di Tambang Goro, yang dimiliki oleh raksasa pertambangan asal Brasil, Vale.

Kabar Tesla bermitra dengan Kaledonia Baru ini seolah menjadi jawaban kegelisahan Elon Musk yang disampaikan lewat akun Twitter resminya akhir Februari 2021. Bos Tesla itu mengungkapkan nikel menjadi perhatian terbesar dalam meningkatkan produksi baterai lithium-ion.

Dengan pertimbangan keterbatasan itu, Elon Musk memilih beralih menggunakan katoda berbahan baku besi untuk mobil keluaran Tesla tipe standard range.

“Jumlah besi (dan lithium) sangat melimpah,” ujarnya dalam cuitan yang diunggah lewat akun Twitter-nya 26 Februari 2021.

Dilansir melalui electrek.co, Kaledonia Baru merupakan wilayah teritori kecil Prancis di Samudra Pasifik. Lokasi itu diyakini memiliki sebanyak 25 persen nikel dunia.

Tambang Goro dimiliki dan dioperasikan oleh Vale. Perusahaan asal Brazil itu mengambil alih pada 2007 dengan nilai transaksi miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Vale berharap dapat meningkatkan produksi hingga 40.000 ton nikel per tahun. Sayangnya, ambisi itu harus terhalang konflik.

Tambang Goro dikabarkan menghadapi masalah dengan penduduk setempat. Konflik berujung kepada sabotase tehadap tumpahan limbah lingkungan karena penggunaan teknologi high-pressure acid leach (HPAL).

Vale dikabarkan merugi karena konflik itu karena produksi tidak stabil dan masa depan yang tidak pasti. Dengan demikian, perseroan mencari pembeli selama setahun lebih.

Berbagai laporan juga menyebut telah terjadi kerusuhan besar di wilayah Tambang  Goro sejak Vale dan Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke Trafigura pada Desember 2020. Keputusan itu memicu mogok dan protes dari kelompok pro-kemerdekaan sehingga Vale harus menutup situs tersebut.

Berdasarkan kesepakatan yang diteken Kamis (4/3/2021), 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas Provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal lainnya. Adapun, Trafigura diperkirakan memiliki 19 persen saham atau kurang dari 25 persen yang direncanakan dalam perjanjian penjualan awal dengan Vale.

Tesla tidak akan memiliki saham. Produsen mobil listrik hanya akan mengamankan rantai pasokan baterai listriknya saat meningkatkan produksi.

“Tugas kami sekarang adalah menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan,” kata Vale dilansir dari Tempo.co.

Rayu Tesla

Di lain pihak, pemerintah terus mengejar komitmen perusahaan-perusahaan multinasional seperti Tesla dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) battery di Indonesia. Sebelumnya, Indonesia Battery Holding (IBH) telah mencapai kesepakatan awal dengan LG Chem dan CATL.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menuturkan pengembangan industri EV battery sebagai bagian dari program Indonesia tumbuh. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi kebutuhan EV battery tinggi di masa depan sekaligus negara penghasil bahan-bahannya.

“Kami tak lupa menjaga potensi daripada pengembangan EV battery, Indonesia salah satu negara yang punya kebutuhan EV battery ini, menjadi yang sangat dibutuhkan. Indonesia juga salah satu produsen nikel terbesar, juga salah satu produsen terbesar untuk bauksit, copper juga termasuk,” katanya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian, melihat berbagai komponen dasar membuat EV battery dapat ada di Indonesia membuat pemerintah agresif mengejar pengembangan industri baterai mobil listrik dalam negeri. Pemerintah juga sudah mencapai kesepakatan dan melakukan penandatanganan kerja sama konsorsium BUMN dalam pengembangan EV battery.

“Kami juga terus mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya dari Jepang dari Amerika Serikat, termasuk juga yang sering dibicarakan di publik Tesla,” urainya.

Sementara itu, Indonesia sudah membuat konsorsium bentukan BUMN yang dinamai Indonesia Battery Corporation dan menandatangani komitmen kerja sama pengembangan EV battery di Indonesia bersama dengan CATL (Contemporary Amperex Technology) produsen baterai asal China dan LG Chem produsen baterai asal Korea Selatan.

“Hal-hal ini dapat membuat Indonesia tumbuh dengan program yang jelas seperti EV battery ini juga pertumbuhan Indonesia tak hanya untuk 1 tahun tapi untuk 20 tahun yang akan datang berdasarkan kekuatan sumber daya alam Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan rencana investasi perusahaan milik Elon Musk di Negeri Bollywood itu adalah untuk membangun pabrik mobil listrik. Di sisi lain, pendekatan Pemerintah Indonesia dengan Tesla bukan untuk rencana investasi pabrik.

Menurutnya, dari sisi Kementerian BUMN, penjajakan yang dilakukan dengan Tesla adalah untuk investasi di bidang baterai kendaraan listrik atau sistem penyimpanan energi (electric storage system/ESS).

“Jadi, ketika kemarin dikatakan Tesla itu ke India ya, kami enggak merasa kecolongan karena kita bukan ingin membangun pabrik mobil listrik gitu,” ujarnya dalam acara Prospek Pembentukan Holding Baterai, Kamis (4/3/2021).

Sebagai gambaran, ESS bekerja layaknya powerbank raksasa yang dapat menyimpan tenaga listrik dalam skala besar, bahkan mencapai ratusan megawatt (MW).

Tesla memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan ESS di Australia. Fasilitas baterai raksasa milik Tesla di Negeri Kanguru sudah berjalan sejak 1 Desember 2017, tepatnya di Hornsdale, Australia.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Kala Elon Musk Lebih Kepincut Tambang Nikel Kontroversial

Read More