Kelanjutan Investasi Smelter Tsingshan Belum Pasti

NIKEL.CO.ID – Nasib rencana investasi smelter perusahaan asal China, Tsingshan kini belum menemui kepastian pasca tak jadi menggandeng PT Freeport Indonesia (PTFI).

Freeport Indonesia memastikan tidak akan melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan usai tak mencapai kata sepakat.

Menanggapi kondisi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun belum bisa memastikan kelanjutan investasi smelter Tsingshan yang sedianya bakal dibangun di Weda Bay, Halmahera tengah.

“Belum ada informasi ke (Ditjen) Minerba,” ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Ridwan Djamaluddin, Jumat (23/7/2021).

Seperti diketahui, PTFI memastikan bakal melanjutkan proyek smelter di Manyar, Gresik. PTFI  telah meneken kontrak kerja sama untuk kegiatan engineering, procurement, dan construction (EPC) proyek smelter Manyar dengan PT Chiyoda International Indonesia pada Kamis (15/7/2021) lalu. Nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 2,7 miliar.

Dalam catatan Kontan, Freeport tertarik untuk kerjasama dengan Tsingshan lantaran perusahaan asal China itu akan membiayai sebagian investasi (capex) yang diperlukan untuk membangun smelter.

Tsingshan pun disebut memiliki teknologi yang bisa menekan capex sehingga lebih efisien. Hal ini dapat mengatasi keluhan Freeport yang selama ini digembar-gemborkan proyek smelter yang merugikan secara keekonomian.

Dari sisi pembiayaan, Tsingshan disebut siap untuk menanggung 92,5% biaya proyek, sedangkan 7,5% sisanya akan ditanggung oleh Freeport.  Adapun, kapasitas yang akan dibangun sebanyak 2,4 juta ton dengan biaya sekitar US$ 2,5 miliar.

Sumber: KONTAN

Read More

Ini Alasan Freeport Batal Kerja Sama dengan Tsingshan

Pasokan listrik dan penanganan limbah juga menjadi pertimbangan Freeport dalam memutuskan untuk membangun smelter di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pembangunan smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur, dan batal melakukan kerja sama dengan investor asal China, Tsingshan Steel.

Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan bahwa rencana kerja sama dengan Tsingshan untuk membangun smelter di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, tidak berlanjut karena tidak tercapai kesepakatan.

“Ada term dengan Tsingshan yang tidak ketemu deal-nya. Lebih baik bangun sendiri di Gresik,” kata Riza kepada Bisnis, Kamis (15/7/2021).

Selain itu, kata Riza, pasokan listrik dan penanganan limbah juga menjadi pertimbangan Freeport dalam memutuskan untuk membangun smelter di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik.

“Lebih baik bangun di JIIPE, karena kami sudah punya lokasi. Smelter pertama kami kan di Gresik juga. Fasilitasnya lebih baik, dari listriknya dan untuk penanganan waste-nya juga lebih baik,” ujarnya.

Sebelumnya, pembangunan smelter Freeport yang ditargetkan harus selesai pada 2023, sempat terhambat akibat pandemi Covid-19. Karena alasan ini, Freeport pun mengajukan penundaan pembangunan selama 12 bulan kepada Kementerian ESDM pada April 2020.

Di tengah usulan penundaan tersebut, sempat muncul opsi alternatif bahwa pembangunan smelter akan dilakukan di Weda Bay melalui kerja sama dengan Tsingshan. Dalam opsi kerja sama ini, sebagian besar biaya investasi pembangunan smelter rencananya akan ditanggung oleh Tsingshan.

Sementara itu, berdasarkan catatan Bisnis, pembiayaan pembangunan smelter di Gresik sepenuhnya akan dilakukan oleh Freeport melalui pinjaman. Nilai investasi pembangunan smelter di Gresik diperkirakan mencapai US$3 miliar.

Sumber: bisnis.com

Read More

Freeport Nyatakan Belum Putus Kerja Sama Tsingshan untuk Bangun Smelter di Maluku

Freeport menegaskan diskusi dengan Tsingshan terkait proyek smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera hingga saat ini masih berlangsung.

NIKEL.CO.ID –  Freeport Indonesia (Freeport) menepis isu batalnya kerja sama dengan Tsingshan Steel dalam pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Kabar batalnya kerjasama Freeport dengan Tsingshan disebutkan karena berdasarkan hasil kajian, proyek smelter di Halmahera tidak lebih baik dibandingkan dengan proyek smelter di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang sudah berlangsung.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menegaskan bahwa diskusi kemitraan kedua belah pihak terkait proyek smelter di Halmahera hingga kini masih terus berlangsung.

Meski demikian, Riza tak membeberkan secara rinci sejauh apa diskusi telah berkembang.

“Belum diputuskan, masih dibicarakan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5/2021).

Juru Bicara Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi juga turut membantah kabar tersebut. Menurut dia proses diskusi antara MIND ID, PTFI dan Tsingshan masih berlangsung. Namun ia juga tak membeberkan perkembangan dari rencana kerja sama tersebut.

“Coba klarifikasi ke Dirjen Minerba,” ujarnya.

Katadata.co.id, pun mencoba meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin. Namun, hingga berita ini terbit, yang bersangkutan enggan merespon.

Sementara, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto tak ingin berkomentar lebih jauh mengenai polemik tersebut. Dia hanya menegaskan, jika smelter yang dibangun Freeport harus dapat selesai pada 2023.

“Itu kan business to business tolong ditanya ke para pihak,” kata Sugeng.

Freeport memiliki izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sejak 2018 dengan durasi 2 x 10 tahun. Kendati demikian, ada kesepakatan dimana Freeport diberikan waktu 5 tahun sejak pemberian IUPK untuk menyelesaikan proyek smelter jika tidak akan menerima sanksi sampai berupa pencabutan IUPK.

Freeport saat ini memiliki dua opsi lokasi. Awalnya berada di Gresik, Jawa Timur. Namun, kini pemerintah juga membuka peluang membangunnya di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso sebelumnya menilai perkembangan pembangunan smelter Freeport di Gresik akan tertunda dengan berlarutnya keputusan kerja sama Freeport dengan Tsingshan. Apalagi pembangunan proyek smelter Freeport sebelumnya selalu menemui kendala.

“Kenapa kok terjadi hambatan kalau memang niat kerja sama? Apakah ada hambatan karena ada kepentingan pemerintah Amerika,” ujar Budi.

Menurut dia jika memang Freeport bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam pembangunan smelter, seharusnya tidak ada yang rumit. Kecuali jika perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut tidak berniat membangun dan mempunyai kepentingan lain dibaliknya.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Freeport Batal Kerjasama Bangun Smelter Dengan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia dan perusahaan asal China, Tsingshan Group untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, ternyata berakhir tidak seperti yang digadang-gadangkan sebelumnya.

PT Freeport Indonesia dikabarkan batal melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan terkait pembangunan smelter baru di Weda Bay ini.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin.

Dia mengatakan, batalnya rencana Freeport untuk kerja sama dengan Tsingshan ini dikarenakan setelah dikaji, pembangunan smelter di Weda Bay ini tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang kini memang tengah diproses Freeport.

“Tidak jadi,” ungkap Ridwan kepada CNBC Indonesia saat ditanyakan apakah Freeport jadi join dengan Tsingshan di smelter Weda Bay.

Saat ditanya apa yang jadi pertimbangan batalnya rencana tersebut, dia pun menjawab.

“Tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di JIIPE,” ungkapnya, Jumat (30/04/2021).

Sebelumnya, rencana kerja sama Freeport dan Tsingshan ini digadang-gadang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pada bulan lalu, Luhut bahkan sempat mengatakan bahwa Freeport dan Tsingshan akan melakukan penandatanganan perjanjian untuk pembangunan smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 31 Maret 2021. Luhut menyebut, ini akan menjadi suatu proses peningkatan nilai tambah buat Indonesia.

“Mudah-mudahan tanggal minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Weda Bay antara Freeport dengan Tsingshan,” tuturnya dalam “Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia”, Rabu (24/03/2021).

Secara rinci, berdasarkan data yang dipaparkan Luhut, penandatanganan perjanjian kerja sama dijadwalkan akan dilakukan pada 31 Maret 2021. Lalu, pada 1 April 2021 Freeport dan pemerintah Indonesia akan menyepakati revisi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengenai ekspor konsentrat dan persyaratan pembangunan smelter.

Smelter baru bersama Tsingshan ini disebutkan akan mengolah sekitar 2,4 juta ton konsentrat tembaga menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga.

Dalam proyek baru ini, Freeport disebutkan cukup berinvestasi sebesar 7,5% dari total nilai proyek sekitar US$ 2,5 miliar dan selebihnya ditanggung oleh perusahaan China tersebut.

Saat ini Freeport juga tengah membangun smelter tembaga baru di JIIPE Gresik dengan kapasitas olahan sekitar 2 juta ton konsentrat tembaga. Namun per Januari 2021 realisasinya baru sekitar 5,86% dari target seharusnya 10,5%. Adapun biaya yang telah dikeluarkan baru sebesar US$ 159,92 juta.

Sesuai aturan pemerintah dan komitmen awal, Freeport seharusnya menuntaskan proyek ini pada 2023. Namun karena adanya pandemi Covid-19, Freeport mengatakan bahwa proyek smelter akan mengalami keterlambatan selama satu tahun menjadi 2024.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Luhut Pastikan Kerja Sama Freeport dan Tsingshan Rampung Minggu Depan

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) dan perusahaan asal China, Tsingshan Steel tengah menjajaki kerja sama pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kedua perusahaan ini akan melakukan penandatanganan secara resmi minggu depan.

“Minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Wedabe, Freeport dengan Tsingshan,” katanya dalam live streaming CNBC TV Prospek Industri Minerba 2021, Rabu (24/3/2021).

Luhut menerangkan, kerja sama kedua perusahaan ini menunjukkan adanya nilai tambah tembaga yang selama 52 tahun lebih tidak ada hilirisasi.

“Freeport itu 52 tahun Indonesia mana ada nilai tambah yang kita dapat. Mereka hanya ekspor raw material,” ungkapnya.

Menurut catatan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Freeport hanya akan mendanai 7,5 persen dari total kebutuhan investasi smelter tembaga tersebut senilai USD 2,5 miliar. Sementara itu, kapasitas smelter tembaga itu diperkirakan mencapai 2,4 juta ton konsentrat tembaga (input).

Nantinya Tsingshan Steel tak hanya membangun smelter tembaga saja, melainkan memiliki kewajiban membangun hilirisasi. Proyek smelter tembaga ini akan menjadi bagian produksi lithium battery Indonesia pada tahun 2023.

“Kita tahun 2023 akan memproduksi litium baterai dengan teknologi mutakhir NMC811,” tegas Luhut.

Luhut menjelaskan lebih rinci mengenai pembangunan smelter yang berada di Halmahera Tengah yaitu smelter nikel dan smelter tembaga. Secara keseluruhan terdapat lahan seluas 12.000 hektare (ha). Luhut berharap untuk smelter tambang mulai produksi tahun 2023, sementara untuk smelter nikel, “sekarang sudah produksi,” tutupnya.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Aturan Ekspor Mineral Baru Beri ‘Karpet Merah’ ke Freeport?

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja menerbitkan aturan baru terkait pemberian rekomendasi penjualan ke luar negeri mineral logam pada masa pandemi Covid-19.

Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No. 46.K/MB.04/MEM.B/2021 yang ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Jumat, 12 Maret 2021.

Berdasarkan Keputusan Menteri ini, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) masih bisa diberikan izin rekomendasi persetujuan ekspor mineral logam meski kemajuan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) belum mencapai target yang ditentukan.

Adanya Keputusan Menteri ESDM ini tentunya menguntungkan salah satu pemegang IUPK yakni PT Freeport Indonesia. Pasalnya, per Januari 2021 realisasi pembangunan smelter tembaga PT Freeport Indonesia masih mencapai 5,86% dari target seharusnya mencapai 10,5%. Adapun biaya yang telah dikeluarkan baru sebesar US$ 159,92 juta.

Adapun rekomendasi ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia yang telah dikeluarkan setahun lalu berakhir pada 15 Maret 2021.

Dalam Keputusan Menteri ini disebutkan bahwa “Pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi mineral logam dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Operasi Produksi mineral logam yang tidak memenuhi persentase kemajuan fisik pembangunan fasilitas pemurnian paling sedikit 90% pada dua periode evaluasi kemajuan fisik pembangunan fasilitas pemurnian sejak ditetapkannya Keputusan Presiden No.12 tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai Bencana Nasional, dapat diberikan rekomendasi persetujuan ekspor.”

Selain itu, disebutkan juga bahwa “Pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi mineral logam dan Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi mineral logam sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU tetap dikenakan denda administratif dari nilai kumulatif penjualan ke luar negeri pada periode evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU dengan mempertimbangkan dampak pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).”

Keputusan Menteri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, yakni 12 Maret 2021.

PTFI menargetkan produksi konsentrat tembaga sekitar 1,4 miliar pon pada 2021 ini, naik 73% dibandingkan capaian produksi pada 2020 yang tercatat sebesar 809 juta pon.

Sementara produksi emas pada 2021 ini ditargetkan naik 65% menjadi 1,4 juta ons dari 848 ribu ons pada 2020.

“PTFI memperkirakan produksi selama 2021 menjadi sekitar 1,4 miliar pon tembaga dan 1,4 juta ons, hampir dua kali lipat dibandingkan produksi di 2020,” tulis FCX dalam keterangan resminya pada akhir Januari 2021.

Peningkatan produksi ini dikarenakan mulai meningkatnya kapasitas tambang bawah tanah (underground mining) Grasberg Block Cave dan blok Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang kini sedang dikembangkan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin pada konferensi pers, Jumat (15/01/2021) mengatakan, saat ini persiapan awal yang sudah dilakukan Freeport yakni dokumen studi kelayakan, penyiapan data untuk revisi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL), dan pembayaran lahan selama lima tahun kepada pemilik lahan.

Sementara persiapan yang tengah dikerjakan yaitu berupa investigasi detail geoteknik Precious Metal Refinery (PMR) dan area fasilitas pemurnian tembaga. Lalu, sedang dikerjakan instalasi settlement plate monitoring. Sementara ground improvement menurutnya telah mencapai 100%, dan Front End Engineering Design (FEED) smelter dan PMR telah mencapai 100%.

Sedangkan untuk proyek PMR, dia mengatakan kemajuannya telah mencapai 9,79% dari target 14,29% dengan biaya telah dikeluarkan sebesar US$ 19,8 juta.

Adapun persiapan awal telah dilakukan seperti uji kelayakan (feasibility study), baik studi keekonomian yang mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun (MTPA) untuk teknologi Mitsubishi Motors Corporation (MMC), sementara berdasarkan studi optimasi keekonomian sebesar 0,8 MTPA untuk MMC dan 1,6 MTPA untuk teknologi OUTOTEC. Lalu, sudah dilakukan perjanjian sewa lahan.

Saat ini sedang dilakukan persiapan investigasi detail geoteknik untuk area PMR dan rekayasa dasar atau basic engineering.

Seperti diketahui, Freeport berencana membangun smelter baru di kawasan industri terintegrasi JIIPE, Gresik, Jawa Timur dengan kapasitas pengolahan 2 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Sebelumnya, Freeport mengatakan bahwa proyek smelter akan mengalami keterlambatan sekitar satu tahun menjadi sekitar 2024 karena sempat terkendala saat awal pandemi Covid-19 pada 2020.

Sumber: CNBC Indonesia

Keputusan Menteri ESDM Nomor 46.K/MB.04/MEM.B/2021 tentang Pemberian Rekomendasi Penjualan Ke Luar Negeri Mineral Logam Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat diunduh Website apni.or.id pada menu PERATURAN

Read More

BKPM Pastikan Pengalaman Kelam Investasi Freeport Tak Terulang

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan, investasi yang dilakukan PT Freeport menjadi pengalaman terburuk dalam sejarah Indonesia. Bagaimana tidak, puluhan tahun Indonesia tidak mendapatkan optimal manisnya hasil tambang emas di Timur Indonesia.

“Freeport itu menjadi pengalaman kelam bagi kita. Dulu tahun 70-an ketika Freeport dibangun, negara belum ikut mengambil bagian secara maksimal,” kata Bahlil dalam Webinar MNC Investor Forum 2021, Jakarta, Rabu (3/3).

Maka dari itu, mulai saat ini investasi dari perusahaan asing perlu dikawinkan dengan perusahaan BUMN. Seperti yang dilakukan LG dengan konsorsium BUMN untuk mengelola nikel.

Nikel merupakan material utama yang dibutuhkan dalam pembuatan baterai lithium. Hilirisasi nikel disebut akan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi mobil listrik di dunia.

“LG ini kita ikutkan adalah BUMN-BUMN kita seperti Antam, Mind ID, Pertamina dan PLN ikut bersama-sama dalam tim di LG. Jadi mereka gabung itu,” kata dia.

Begitu juga dengan Contemporary Amperex Technology (CATL) yang menggandeng pengusaha nasional dan pengusaha lokal berbasis UMKM. Cara ini, kata Bahlil, menjadi bisa memberikan manfaat lebih besar baik untuk pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.

Sehingga pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh merata dan lebih banyak yang bisa menikmati hasil investasi asing di dalam negeri.

“Sebuah investasi yang masuk akan memberikan pertumbuhan ekonomi daerah tetapi juga pemerataan pertumbuhan dan ikut besar bersama-sama itu terwujud. Itulah esensi daripada satu investasi yang berkualitas,” kata dia mengakhiri.

Sumber: merdeka.com

Read More

Freeport – Thingshan Pastikan Bakal Bangun Pabrik Smelter Senilai USD1,8 Miliar di Halmahera Maret 2021

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara memasuki babak baru.

Freeport dan investor asal China, Tshingshan Steel tampaknya telah menemui kesepakatan baru untuk membangun smelter di Teluk Weda, Halmahera senilai USD 1,8 miliar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaiatan dalam sebuah wawancara bersama Asia Times, beberapa waktu lalu.
Luhut memproyeksikan kesepakatan tersebut dapat ditandatangani sebelum Maret 2021.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut. Tapi kedua pihak (Freeport dan Tshingshan) masih dalam tahap pembahasan rinci,” kata Luhut seperti dikutip Asia Times, Senin (14/12/2020).

Menurut laporan Asia Times, Luhut dan sumber lainnya yang mengetahui kesepakatan tersebut menyatakan, Tshingshan telah sepakat untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan.

Saat ini, tersedia beberapa opsi untuk lokasi smelter tembaga PT Freeport Indonesia. Pertama, memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi Material Corporation yang ada di Gresik, Jawa Timur.

Pilihan lainnya yakni membangun smelter tembaga yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau memindahkan seluruh proyek ke Halmahera.

Sumber: industry.co.id

Read More

Freeport Indonesia Pastikan Tetap Garap Proyek Smelter di Gresik

NIKEL.CO.ID – PT Freeport Indonesia (PTFI) mengonfirmasi tetap mengerjakan proyek smelter tembaga di Gresik di tengah wacana pembangunan smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera yang bekerja sama dengan Tsingshan Steel asal China.

Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama menyampaikan, sampai saat ini pihaknya masih berkomitmen untuk membangun smelter tembaga di JIIPE, Gresik, Jawa Timur. “Komitmen PTFI masih sama,” ujar dia, Selasa (1/12/2020).

Dalam catatan Kontan, PTFI sedang melakukan evaluasi terhadap pembangunan smelter tersebut. Salah satunya adalah potensi pemangkasan kapasitas smelter dari 2 juta ton menjadi 1,7 juta ton konsentrat tembaga.

Sebagai ganti pemangkasan tersebut, PTFI akan meningkatkan kapasitas smelter eksisting di PT Smelting sebesar 300.000 ton. Alhasil, total tambahan kapasitas tetap 2 juta ton untuk menampung konsentrat tembaga PTFI supaya bisa dikelola di dalam negeri.

Sayangnya, Riza belum bisa bicara banyak terkait detail skema kerja sama pembangunan smelter tembaga antara PTFI dan Tsingshan. Termasuk hal-hal teknis seperti potensi kapasitas smelter tersebut dan kontribusi PTFI dalam memasok bahan baku produksi di sana.

Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi opsi peningkatan nilai tambah atau hilirisasi tembaga di dalam negeri. Pihak PTFI pun masih menunggu pembahasan dan keputusan resmi dari pemerintah. “Pilihannya akan diputuskan oleh pemerintah,” kata Riza.

Mengutip berita sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaulddin menyebut, kemitraan antara PTFI dan Tsingshan masih bersifat opsi dan belum ada keputusan resmi dari pemerintah. Ia bahkan mengaku belum ada laporan kesepakatan yang sampai kepadanya.

“Sepanjang saya tahu, belum pasti. Karena belum ada dokumen kesepakatan para pihak yang ditandatangani,” ungkapnya, hari ini.

Sementara itu, Mining Industry Indonesia atau MIND ID selaku pemegang saham mayoritas PTFI dan holding pertambangan BUMN masih enggan menanggapi kabar rencana pembangunan smelter kolaborasi antara PTFI dan Tsingshan. “Tidak ada (tanggapan),” ucap Senior Vice President Corporate Secretary MIND ID Rendi A. Witoelar secara singkat, Selasa (1/12).

Berdasarkan berita Asia Times, PTFI sedang membahas kerja sama dengan Tsingshan Steel untuk proyek smelter tembaga senilai US$ 1,8 miliar di kompleks pengolahan nikel di Weda Bay, Halmahera.

Ketika diwawancarai Asia Times, Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Panjaitan berharap kesepakatan tersebut bisa ditandatangani sebelum Maret 2021 mendatang. Kedua belah pihak pun disebut tengah dalam pembahasan rinci.

Tsingshan dikabarkan setuju untuk menyelesaikan smelter tembaga tersebut dalam waktu 18 bulan. Dengan Tsingshan yang juga berencana menyelesaikan pabrik baterai lithium di Weda Bay pada 2023, maka pabrik peleburan tembaga baru akan menyediakan asam sulfat yang dibutuhkan untuk produksi feronikel kualitas rendah untuk pasar baja tahan karat dan juga untuk memulihkan kobalt dari baterai lithium bekas.

Tembaga PTFI juga akan menjadi sumber kabel dan suku cadang lainnya untuk industri mobil listrik. Kendaraan listrik baterai sendiri menggunakan tembaga sebanyak 83 kilogram, dibandingkan dengan 23 kilogram untuk mesin pembakaran internal.

Sumber: kontan.co.id

Read More

Untung atau Buntung? Luhut Senang dengan Kesepakatan, China Akan Bangun Smelter Freeport

NIKEL.CO.ID – Tsingshan Steel China telah setuju untuk membangun smelter tembaga yang dimandatkan pemerintah Indonesia. Raksasa pertambangan Freeport Indonesia (PTFI) mengusulkan smelter tembaga baru, namun berlarut-larut hingga kini

Kabar terbaru China Tsingshan Steel setuju untuk membangun fasilitas senilai US $ 1,8 miliar di kompleks pengolahan nikel Teluk Weda di Halmahera, Indonesia timur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal Luhut Panjaitan dalam wawancara dengan Asia Times mengungkapkan bahwa kesepakatan itu diharapkan bisa ditandatangani sebelum Maret Mendatang Sebagaimana dilansir dari Asia Times 29 November 2020.

“Kami senang dengan kesepakatan tersebut,” katanya,

Namun, kedua belah pihak masih dalam pembahasan rinci. Hingga saat ini, pilihannya adalah memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi yang ada di Gresik, Jawa Timur, membangun peleburan baru yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau mengalihkan seluruh proyek ke Halmahera sebagai bagian dari pusat peleburan terintegrasi.

Luhut Panjaitan dan sumber lain yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan bahwa Tsingshan telah setuju untuk menyelesaikan smelter dalam waktu 18 bulan

Meninggalkan Freeport untuk membangun perpanjangan $ 250 juta untuk pabrik Mitsubishi dalam apa yang dapat dilihat sebagai isyarat komitmennya untuk pemrosesan di dalam negeri. dari semua bijinya.

Mitsubishi dan Freeport menandatangani perjanjian pada 13 November untuk menambah 300.000 ton ke kapasitas satu juta ton fasilitas saat ini. Freeport masih siap, walaupun masih enggan untuk membangun smelter baru jika kesepakatan Tsingshan gagal.

Perusahaan juga berkomitmen untuk pembangunan kilang logam mulia di lokasi yang sama sekarang setelah izin ekspornya telah berakhir untuk lendir anoda, sedimen yang kaya akan emas, perak, selenium dan telurium yang tersisa dari proses peleburan.

Kebingungan masalah smelter selama dua tahun terakhir adalah  dengan birokrat senior dan politisi tampaknya berbeda di mana seharusnya lokasinya. Setelah kesepakatan Tsingshan disepakati, masih membutuhkan persetujuan pemerintah.

Hingga akhir pekan lalu, Menteri Pertambangan dan Energi Arifin Tasrif masih terus membahas masalah ini.

“Yang penting bagi pemerintah, pengolahan konsentrat tembaga itu berlangsung di dalam negeri,” ujarnya tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Luhut Panjaitan telah menjadi pendukung utama perpindahan ke Halmahera yang kaya nikel, membuat Freeport dan komunitas pertambangan Indonesia sama sekali tidak sadar pada Juni lalu dengan mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo telah menyetujui rencana tersebut.

Dia juga penggerak utama di balik industri kendaraan listrik yang direncanakan, dengan produsen mobil Korea Selatan Hyundai sebagai investor awal $ 1,5 miliar dan LG Chemical tertarik untuk membangun pabrik baterai lithium di lokasi yang sama di dekat Jakarta.

Dengan Tsingshan juga berencana untuk menyelesaikan pabrik baterai lithium di Weda Bay pada tahun 2023, pabrik peleburan tembaga baru akan menyediakan asam sulfat yang dibutuhkan untuk memproduksi feronikel kualitas rendah untuk pasar baja tahan karat dan juga untuk memulihkan kobalt dari baterai lithium bekas.

Indonesia memiliki 80% elemen yang dibutuhkan untuk produksi baterai litium, termasuk kobalt, mangan, aluminium, bahkan elemen tanah jarang. Tapi di cakrawala juga adalah pabrik daur ulang di Halmahera yang pada akhirnya dapat menghilangkan kebutuhan mineral baru dalam proses produksi.

Tembaga Freeport akan menjadi sumber kabel dan suku cadang lainnya untuk industri mobil listrik rumahan yang dibayangkan oleh Luhut Panjaitan.

Menurut salah satu perkiraan ahli, kendaraan listrik baterai menggunakan tembaga sebanyak 83 kilogram, dibandingkan dengan 23 kilogram untuk mesin pembakaran internal.

Layanan investasi Seeking Alpha mengatakan baru-baru ini bahwa perusahaan induk anak perusahaan Indonesia, Freeport McMoRan Copper & Gold (FCX), memiliki peluang unik di dunia dengan harga tembaga yang tinggi untuk dimanfaatkan sebagai kendaraan listrik yang terus meningkat.

Jika hal itu terus berjalan,, kesepakatan dengan Tsingshan akan menyelamatkan pemerintah Indonesia dan FCX ​​sekitar $ 3 miliar, perkiraan biaya pembangunan smelter mereka sendiri di Kawasan Industri Gresik, sebelah utara kota pelabuhan Surabaya.

Sebagai pemilik mayoritas baru PTFI, pemerintah sudah harus membayar setengah dari biaya ekspansi bawah tanah besar-besaran di tambang Grasberg di Dataran Tinggi Tengah Papua, cadangan emas terbesar dunia dan tambang tembaga terbesar kedua.

Dianggap sebagai salah satu operasi penambangan paling menguntungkan di dunia, berkat simpanan emasnya yang kaya, cadangan terbukti di dataran tinggi Grasberg berkontribusi sekitar sepertiga dari total portofolio FCX, yang juga mencakup tambang tembaga di Amerika Serikat dan Chili.

Tidak seperti nikel, pemurnian tembaga adalah bisnis yang terkenal marjinal ketika proses akhir pengubahan konsentrat menjadi katoda tembaga hanya menambahkan 5% dari nilai keseluruhan. Diperkirakan, setiap smelter Gresik baru akan kehilangan $ 10 miliar selama 20 tahun ke depan.

Asia Times memahami bahwa Freeport telah melakukan pembayaran biaya perawatan dan pemurnian (TCs / RCs) kepada Tsingshan yang lebih tinggi dari harga pasar dengan jumlah yang sama dengan pajak ekspor 5% yang saat ini dibayarkan oleh perusahaan untuk setengah dari konsentrasinya saat ini. ekspor ke Jepang dan Spanyol.

Meskipun hal itu akan menjadi subsidi untuk biaya operasi Tsingshan dan keseluruhan sinergi tampak menarik, para ahli keuangan masih mempertanyakan kelayakan ekonomi pembangunan peleburan tembaga di tempat terpencil seperti Halmahera, sebuah proposisi yang tidak akan pernah dipertimbangkan Freeport.

Mereka mengatakan bahwa menggantungkan pajak ekspor sebagai subsidi mungkin merupakan ide yang cerdas, tetapi bahkan hal itu mungkin tidak menghasilkan arus kas yang positif di lingkungan saat ini.

Seperti yang dikatakan salah satu sumber: “Secara realistis, satu-satunya cara untuk meningkatkan ekonomi adalah dengan memotong biaya modal, yang berarti tidak ada kontrol lingkungan.”

Pengangkutan konsentrat Freeport tidak dianggap sebagai faktor utama, namun jarak antara pelabuhan Freeport di Timika di pantai selatan Papua ke situs Halmahera hanya 2.660 kilometer, dibandingkan dengan jalur 4.000 kilometer ke Gresik.

Tsingshan dan perusahaan pertambangan Prancis Eramet memulai operasi peleburan nikel di Weda Bay Processing Park senilai $ 2,2 miliar pada bulan April tahun lalu, menambah kompleks perintis multi-miliar dolar yang dioperasikan oleh grup Cina di Morawali di pantai timur Sulawesi Tengah.

Meskipun smelter Gresik belum menarik industri pendukung selama 20 tahun terakhir beroperasi, Panjaitan masih yakin menarik investor luar negeri ke Halmahera, terutama perusahaan manufaktur China yang ingin pindah ke lepas pantai.

China sudah mencengkeram industri nikel Indonesia, memicu kontroversi dengan mendatangkan ribuan pekerjanya untuk membangun dua pusat pengolahan di Sulawesi Tengah dan sekarang Halmahera.

Di kompleks Morowali senilai $ 7,8 miliar di Sulawesi, Tsingshan dan mitra Indonesia PT Bintang Delepan mengoperasikan pabrik peleburan nikel pig iron tiga juta ton per tahun, fasilitas baja karbon 500.000 ton dan pabrik ferrokrom karbon tinggi 600.000 ton.

Lebih jauh ke pesisir, di Sulawesi Tenggara, Industri Nikel Naga Kebajikan China tahun lalu menyelesaikan tahap pertama senilai $ 1,4 miliar dari kompleks Konawe tiga fase, yang pada akhirnya akan memiliki kapasitas produksi tiga juta ton feronikel setahun.

Penasihat terdekat Presiden Widodo dalam berbagai topik, Luhut Panjaitan selalu memperlakukan pabrik peleburan Freeport sebagai ujian terakhir dari tekad pemerintah untuk menambah nilai pada mineralnya dan melindungi negara dalam rantai pasokan global.

FCX yang berbasis di Phoenix enggan membangun smelter baru karena biaya modal yang tinggi dan kenyataan, yang selalu diabaikan oleh pemerintah, bahwa peleburan tidak pernah menjadi bisnis yang menguntungkan.

Tetapi keadaan mungkin telah berubah dengan akuisisi 51% saham PTFI oleh pemerintah pada tahun 2018, sebagai imbalan atas perpanjangan kontrak FCX, dan merebaknya pandemi virus corona yang telah membebani keuangan negara.

Sumber: Jurnal Presisi

Read More