Beranda Berita Nasional Krakatau Steel Mulai Merambah ke Hilirisasi Nikel

Krakatau Steel Mulai Merambah ke Hilirisasi Nikel

Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, pada sesi Investor Showcase Session pada ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta (27/10). (Dok. Krakatau Steel)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau Steel Group (KRAS) mulai merambah ke industri hilirisasi nikel. Rencana ini untuk memperkuat peran KRAS sebagai industrial platform untuk hilirisasi teknologi melalui rencana pengembangan advanced materials dan proyek hilirisasi nikel menjadi stainless steel slab ini dibangun di Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton per tahun.

Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, pada ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, yang berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Jakarta menyampaikan, inisiatif pengembangan industri hilirisasi nikel ini menjadi bagian dari upaya Perseroan mendorong penciptaan nilai tambah ekonomi dan memperkuat daya saing industri nasional.

Dalam website resminya, dikutip Kamis (29/10/2026), KRAS merencanakan investasi pada proyek hilirisasi Ini, menurut Sidik, estimasinya sebesar US$350 juta, dengan proyeksi pendapatan tahunan lebih dari US$2 miliar. Pengembangan fasilitas hilirisasi ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah produk olahan nikel melalui pengolahan lebih lanjut menjadi Stainless Steel. 

Proyek ini merupakan bagian dari program hilirisasi nasional tahap kedua Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan pengolahan domestik dan mengurangi ketergantungan pada bahan baja impor.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dalam pembukaan DTIIF 2026 menegaskan pentingnya kemitraan jangka panjang, mobilisasi modal dan keahlian global, serta tindak lanjut kolaborasi menjadi inisiatif konkret yang berkelanjutan.

“Melalui DTIIF, kami memiliki tiga ambisi utama. Pertama, memperkuat kemitraan yang mendukung transformasi ekonomi dan industri Indonesia dalam jangka panjang. Kedua, menggerakkan modal dan keahlian global untuk mengembangkan proyek-proyek strategis menjadi peluang investasi yang terukur. Ketiga, memastikan berbagai kolaborasi dan dialog menghasilkan inisiatif konkret yang berkelanjutan,” ujar Rosan.

Corporate Secretary PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Rariya Budi Harta, menyampaikan bahwa hilirisasi teknologi membutuhkan dukungan ekosistem industri agar inovasi dapat diterapkan dalam skala komersial dan menghasilkan nilai tambah.

“Melalui pengembangan advanced materials dan hilirisasi teknologi, kami berkomitmen mendukung penguatan rantai pasok, membuka peluang investasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional,” ujar Rariya.

Proyek hilirisasi ini merupakan kelanjutan komitmen Krakatau Steel dalam membangun ekosistem advanced materials nasional. Sebelumnya, pada Juli 2026 lalu, KRAS telah menandatangani nota kesepahaman Collaboration on Advanced Materials Development bersama MIND ID, Defend ID, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) untuk memperkuat rantai nilai industri dari sektor hulu hingga manufaktur bernilai tambah tinggi. Selain itu, pada bulan yang sama Krakatau Steel juga telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Steel Authority of India Limited (SAIL) tentang rencana pengembangan Stainless Steel pada rangkaian kunjungan Perdana Menteri India ke Indonesia. (Momon)