

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Harga spot bijih nikel dalam negeri pada minggu ini terus melemah. Menurut harga SMM terbaru, harga-harga tersebut turun masing-masing limonit kadar 1,2% sebesar turun $1/wmt, limonit kadar 1,3% turun $1/wmt, sedangkan saprolit kadar 1,4% turun $4,7/wmt, Saprolit kadar 1,5% turun $6/wmt, dan saprolit kadar 1,6% turun lebih dalam sebesar $6,3/wmt.

Dikutip dari SMM, Rabu (28/10/2026) harga saprolit kadar menengah dan tinggi penurunannya lebih dalam dibandingkan penurunan limonit. Hal ini menunjukkan bahwa harga pasar telah bergeser ke limonit.
Sebagaimana diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merilis harga acuan bijih nikel periode kedua bulan Oktober 2026.


Dalam keputusan tersebut, Kementerian ESDM mematok harga mineral acuan (HMA) sebesar US$15.847,67/wmt, turun sebesar US$474/wmt dari US$16.322,67/wmt. Dengan dasar HMA, harga patokan mineral (HPM) bijih nikel paruh kedua Oktober 2026 semuanya turun menjadi kadar 1,1% Ni US$22,76/wmt, 1,2% Ni US$25,33/wmt, 1,3% Ni US$45,83/wmt, 1,4% Ni US$50,05/wmt, 1,5% Ni US$54,48/wmt, kadar 1,6% Ni US$59,12/wmt, 1,7% Ni US$63,69/wmt dan kadar 1,8% Ni US$69,00/wmt.


Tutunnya HMA dan HPM mencerminkan lemahnya posisi tawar dari pihak penambang. Untuk selanjutnya, bagi pelaku usaha perlu mencermati sejauh mana HPM ini diimplementasikan dalam kontrak antara penambang dan pihak smelter.
Dari sisi kebijakan, Kementerian beberapa waktu lalu telah merevisi kuota RKAB untuk 2026 sebesar 290 juta ton, namun apakah kuota tersebut benar-benar dapat menjamin volume penambangan sesuai dengan jumlah itu.

Lemahnya permintaan pasokan saat ini tentunya akan terus menekan harga bijih. Hal ini diperkuat dengan persediaan bahan baku di smelter masih cukup memadai. Diperkirakan persediaan bijih nikel yang ada di smelter saat ini masih mampu menopang operasi sekitar dua bulan, sehingga bisa jadi pihak smelter masih menahan untuk melakukan pembelian, kecuali terjadi kondisi yang krusial.
Dalam analisisnya, SMM juga meninjau dari sisi perubahan iklim. Kemarau yang berkepanjangan akibat El Nino mengakibatkan insudtri nikel kekurangan sumber daya air. Kurangnya pasokan air di pusat industri nikel seperti Morowali telah memengaruhi operasional beberapa smelter. Dari sumber yang sama mengabarkan, sejak 22 September 2026 beberapa smelter RKEF telah dihentikan operasinya sehingga mengalami penurunan produksi sekitar 30%–40% dari keadaan normalnya,

Setelah smelter RKEF mengurangi operasinya, konsumsi bijih nikel terdampak menurun secara signifikan, serta mengingat persediaan bahan baku yang masih mencukupi dan keterbatasan sumber air terus berlanjut dalam jangka waktu lama, kebutuhan bijih nikel ari smlter akan terus menurun diluar ekspektasi. Dalam jangka waktu ke depan, pasar bijih nikel dalam negeri diperkirakan masih lesu dalam jangka pendek. Jika realisasi kuota RKAB yang sudah direvisi telah dijalankan, maka pasokan tambang akan terus meningkat sedangkan permintaan dari smelter tetap terbatas akibat oleh masalah air, maka harga spot bijih nikel Kemungkinan akan menghadapi tekanan penurunan lebih lanjut. (Momon)

























