
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Impor bijih nikel China mencapai 6,52 juta ton pada September 2026. Volume tersebut meningkat 550.000 ton atau 9,23% dibandingkan Agustus 2026, serta naik 400.000 ton atau 6,56% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Berdasarkan data kepabeanan China, ferroalloynet mengabarkan, kenaikan impor pada September turut memperkuat tren peningkatan pasokan bijih nikel sepanjang 2026. Secara kumulatif, impor bijih nikel China selama Januari–September 2026 mencapai 38,14 juta ton.
“Jumlah tersebut bertambah 5,9 juta ton atau 18,29% dibandingkan periode yang sama pada 2025,” tulis keterangan dalam ferroalloynet, Rabu (21/10/2026).

Grafik impor bijih nikel China periode 2024–2026 memperlihatkan volume impor pada 2026 cenderung lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya, terutama sejak Mei.
Pada Januari 2026, impor tercatat sebesar 1,38 juta ton.
Volume tersebut meningkat menjadi 3,66 juta ton pada April, sebelum melonjak menjadi 5,96 juta ton pada Mei.

Impor kemudian mencapai 5,86 juta ton pada Juni dan 5,93 juta ton pada Juli. Pada Agustus, volumenya berada di level 5,96 juta ton, sebelum naik ke 6,52 juta ton pada September.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada dua tahun sebelumnya, impor September 2026 juga menunjukkan peningkatan. Pada September 2024, China mengimpor sekitar 4,57 juta ton bijih nikel, sedangkan pada September 2025 volumenya mencapai 6,11 juta ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa impor bijih nikel China pada September 2026 menjadi yang tertinggi untuk bulan tersebut dalam perbandingan tiga tahun terakhir.
Impor Bijih Nikel China Januari–September 2024–2026
Berikut perbandingan volume impor bijih nikel China berdasarkan grafik FerroAlloyNet.

Sumber: FerroAlloyNet. Angka dibulatkan menjadi dua angka desimal.
Pasokan Bijih Nikel Global Jadi Perhatian
Peningkatan impor bijih nikel China menjadi salah satu indikator penting dalam memantau pergerakan pasokan bahan baku industri nikel global. China merupakan salah satu pusat pengolahan nikel utama yang membutuhkan pasokan bijih untuk mendukung kegiatan smelter.
Meski demikian, kenaikan impor tidak serta-merta menunjukkan peningkatan permintaan akhir produk nikel. Pergerakan tersebut juga dapat dipengaruhi kebutuhan operasional smelter, perubahan persediaan, serta ketersediaan bijih dari negara-negara pemasok.

Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel utama, perkembangan impor China perlu dicermati bersama data produksi bijih, kebutuhan smelter, dan perubahan pasokan dari negara produsen lainnya.
Dengan impor kumulatif yang tumbuh 18,29% hingga September 2026, perkembangan pasar China menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca keseimbangan pasokan dan permintaan bijih nikel global. (Lil Han)


























