Tsingshan Teken Kontrak Pembelian Bijih Nikel dari Tambang Morowali Senilai Rp1,3 Triliun

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Cina, Tsingshan Holding Group, akan menerima pasokan 2,7 juta ton bijih nikel kadar tinggi dari Silkroad Nickel Ltd. Suplai bijih nikel itu didapat dari tambang nikelnya di Indonesia sampai dengan akhir 2022.

Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura ini memiliki tambang bijih nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Seperti dikutip dari Kitco.com dari Reuters, Senin, 15 Maret 2021, Silkroad sebelumnya telah menandatangani kontrak dengan unit Tsingshan, PT Ekasa Yad Resources, senilai US$ 90 juta atau setara dengan Rp 1,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.393 per dolar AS).

Silkroad akan mengirim pasokan bijih nikel minimum sebesar 50.000 ton per bulan mulai dari Maret 2021 sampai dengan Desember 2022.

Selain itu, Silkroad juga akan menggunakan bijih nikel untuk membuat bahan baku nickel pig iron (NPI) di Indonesia. Perusahaan tersebut juga tengah menjajaki proyek pengolahan nikel yang menghasilkan bahan kimia untuk produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia.

“Kami sedang menyiapkan pengiriman pertama (ke Tsingshan) dalam dua pekan ke depan dan menargetkan secara bertahap produksinya dari April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen baru tersebut,” ujar Chief Executive Silkroad Hong Kah Ing.

Bijih nikel tersebut, kata Hong Kah Ing, juga diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi peningkatan permintaan dari berkembangnya industri baterai mobil listrik.

Sebelumnya, Silkroad pada Januari lalu telah menandatangani perjanjian penjualan bijih nikel selama 10 tahun ke Ganfeng Lithium. Perusahaan itu ingin menggunakan sebagian dari hasil kesepakatan dengan Tsingshan untuk membangun smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk produksi NPI.

Sumber: tempo.co

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Nikel sang Primadona

Oleh: Abdul Kohar *)

UNI Eropa sedang berang kepada Indonesia. Musababnya, kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang dikeluarkan pemerintah Indonesia pada 2019 dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2020. Kebijakan tersebut, kata mereka, membuat industri baja Eropa yang bahan dasarnya bijih nikel kelimpungan karena seretnya pasokan.

Uni Eropa lalu menggertak, menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) hampir setahun lalu. Indonesia bergeming. Pemerintah punya argumentasi kebijakan tersebut dalam rangka melindungi sumber daya alam dari kepunahan sebelum bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Karena itu, Uni Eropa kian meradang. Pertengahan Januari 2021, mereka mendesak WTO untuk membentuk panel guna membahas sengketa bijih nikel tersebut. Pemerintah, melalui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, mengatakan Indonesia siap menghadapi gugatan tersebut

Larangan ekspor nikel mentah bukan sekadar untuk kepentingan hari ini. Beleid yang tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara tersebut amat strategis untuk jangka panjang.

Ada dua alasan mengapa langkah mengamankan bijih nikel bukan saja tepat, melainkan juga amat strategis. Pertama, Indonesia merupakan salah satu produsen bijih nikel terbesar di dunia, dengan cadangan yang amat melimpah. Kedua, nikel merupakan bahan baku baterai litium, penggerak utama kendaraan listrik. Saat dunia tengah mengembangkan industri kendaraan listrik secara besar-besaran, langkah mengamankan bijih nikel sangat strategis guna mewujudkan mimpi menjadi yang terdepan dalam industri baterai dan kendaraan listrik.

Dengan kekayaan bijih nikel yang supermelimpah, mimpi seperti itu amat absah. Data Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan pada 2019, total produksi nikel dunia mencapai 2,66 juta ton Ni. Dari jumlah itu 800 ribu ton (sekitar 30%) berasal dari Indonesia. Produksi bijih nikel tersebut menjadikan Indonesia produsen terbesar di dunia pada 2019. Filipina, yang berada di posisi kedua, hanya memproduksi 420 ribu ton. Disusul Rusia dengan 270 ribu ton, Kaledonia Baru 220 ribu ton, serta negara lainnya dengan total 958 ribu ton.

Berdasarkan data dari Badan Geologi, sumber daya dan cadangan nikel yang dimiliki Indonesia masih sangat tinggi. Hingga Juli 2020, total neraca sumber daya bijih nikel Indonesia 11,88 miliar ton, dengan total sumber daya logam nikel 174 juta ton.

Neraca cadangan bijih nikel hingga Juli 2020 tercatat 4,34 miliar ton, dengan cadangan logam nikel 68 juta ton. Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara menjadi tiga provinsi dengan sumber daya dan cadangan nikel terbesar. Cadangan itu disebut-sebut tidak akan habis hingga 200 tahun.

Tekad menjadi pusat industri baterai litium dan kendaraan listrik terbesar jelas bukan mimpi kosong. Cadangan nikel yang amat besar membuat beberapa industri kendaraan listrik membenamkan investasi mereka di Indonesia. Ini pula, boleh jadi, yang membuat Uni Eropa masygul, dengan mengamuflase kebijakan Indonesia semata merugikan industri baja.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan industri mobil listrik Tesla milik Elon Musk dan BASF asal Jerman segera berinvestasi di Indonesia. Dua produsen baterai listrik raksasa dunia itu bakal mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri, khususnya baterai listrik.

Langkah Tesla dan BASF itu bakal menyusul produsen baterai kendaraan listrik asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), yang sudah lebih dulu menandatangani kontrak investasi senilai US$5,1 miliar (hampir Rp72 triliun). Tak lama setelah CATL, LG Chem Ltd asal Korea Selatan menyusul menandatangani kontrak investasi US$9,8 miliar (sekitar Rp140 triliun) di bidang yang sama.

Jika keempat raksasa produsen baterai dan kendaraan listrik global tersebut merealisasikan investasi mereka, dunia tak bisa mengelak lagi bahwa Indonesia merupakan kontributor penting bagi energi terbarukan global. Syaratnya, Indonesia harus konsisten, teguh pendirian melindungi sumber daya alamnya, dan memanfaatkan kerja sama dengan industri global tersebut untuk transfer ilmu dan keahlian bagi anak bangsa.

Dengan begitu, biarlah Uni Eropa geram. Kita punya sikap sebagaimana dulu Ki Hadjar Dewantara pernah menulis catatan satire yang membuat Belanda naik darah. Als Ik Eens Nederlander Was atau ‘Seandainya Aku Seorang Belanda’ begitu judul tulisan atas nama Soewardi Soerjaningrat di edisi 13 Juli 1913. Ia menyindir pemerintah kolonial yang ingin merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis secara besar-besaran di Hindia alias Indonesia dengan biaya pesta dari ‘sumbangan’ rakyat Hindia.

Kini, kita sudah merdeka. Tak perlu lagi dengan satire. Kita tinggal mewujudkan ‘jembatan emas’ itu menjadi nyata dengan memanfaatkan sebesar-besarnya nikel untuk rakyat, untuk bangsa.

*) Abdul Kohar adalah Dewan Redaksi Media Group

Sumber: Media Indonesia

Read More

Terdapat Perbedaan Data Impor Bijih Nikel Indonesia-China

NIKEL.CO.ID – Indonesia tetap menjadi pemasok bijih nikel terbesar kedua di China pada tahun 2020. Berdasarkan data yang diterbitkan bea cukai China bijih nikel Indonesia yang masuk ke China mencapai 3,4 juta ton pada tahun 2020.

Data yang dirilis Administrasi Umum Bea Cukai (General Administration of Customs) Rabu (20/1) menempatkan Indonesia dibawah Filipina. Posisi ketiga ditempati Kaledonia Baru.

Reuters mengutip data itu menyebutkan pada Januari-Februari 2020 pengiriman dari Indonesia mencapai 1,98 juta ton. Diduga ini adalah kargo terakhir yang berangkat dari Indonesia sebelum larangan diberlakukan pada 1 Januari 2020.

Meskipun sudah diberlakukan larangan, data tersebut menunjukkan masih adanya aliran impor bijih nikel Indonesia setiap bulan berikutnya sepanjang tahun lalu, termasuk 78.245 ton pada bulan Desember.

Data dari Indonesia menunjukkan nol ekspor bijih nikel ke China untuk Januari hingga November. Reuters tidak menyebutkan data Indonesia yang dikutipnya. Alasan pemerintah Indonesia melarang ekspor bijih nikel untuk mendorong pemrosesan bijih dalam negeri.

Menurut sejumlah analis, mengapa masih ada perbedaan data itu, bisa jadi karena material yang diekspor ke China sebagai bijih besi tapi sebenarnya bijih nikel.

Pengiriman ini biasanya terdiri dari bijih yang memiliki sekitar 1% kandungan nikel dan lebih dari 50% besi, begitu juga bijih besi sejauh menyangkut pemerintah Indonesia, kata analis CRU Ellie Wang.

Beberapa perusahaan baja tahan karat di China kemudian menyatakannya sebagai bijih nikel di bea cukai, tambahnya.

“Mereka dapat mencampur bijih dengan kualitas lain, kemudian menghasilkan pig iron nikel kualitas rendah,” yang digunakan untuk membuat baja tahan karat, kata Wang.

Analis BMO Colin Hamilton sependapat bahwa pengaturan seperti itu “pasti merupakan solusi potensial” mengingat harga bijih besi yang tinggi.

“Kami dulu selalu menambahkan beberapa bijih nikel yang dilaporkan ke nomor impor bijih besi setahun penuh – terutama dari Filipina tetapi kemungkinan besar juga dari Indonesia,” tambahnya.

Pada tahun 2020, impor nikel pig iron China dari Indonesia yang masih bisa diekspor naik 100,9% year-on-year menjadi 2,73 juta ton.

Sumber: gatra.com

Read More

Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID Limbah industri pada umumnya merupakan bahan beracun dan berbahaya (B3) yang berasal dari proses produksi sebuah industri.

Seperti halnya industri pertambangan bijih nikel, baik dalam seluruh kegiatan penambangannya hingga proses pengolahannya berpotensi mengalami kontak dengan air sehingga dapat menghasilkan limpasan yang membawa sisa bijih nikel ke badan air di sekitar lokasi penambangan.

Biasanya permasalahan di badan air yang sering terjadi di lokasi penambangan nikel ini adalah tingginya kandungan padatan tersuspensi total (TSS) dan kandungan logam berat nikel.

Maka dari itu setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan pertambangan bijih nikel wajib melakukan pengolahan air limbah yang berasal dari kegiatan penambangan dan/atau pengolahan bijih nikel supaya air limbah yang dibuang ke badan air tidak melampaui baku mutu air limbah yang telah ditetapkan.

Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Penambangan Bijih Nikel

Baku mutu air limbah usaha dan/atau kegiatan penambangan bijih nikel adalah air yang berasal dari kegiatan penambangan bijih nikel yang berwujud cair. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2006, baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan penambangan bijih nikel adalah sebagai berikut.

  • Kadar maksimum pH : 6-9
  • Kadar maksimum TSS : 200 mg/l
  • Kadar maksimum Cu : 2 mg/l
  • Kadar maksimum Cd : 0,05 mg/l
  • Kadar maksimum Zn : 5 mg/l
  • Kadar maksimum Pb : 0,1 mg/l
  • Kadar maksimum Ni : 0,5 mg/l
  • Kadar maksimum Cr 6+ : 0,1 mg/l
  • Kadar maksimum Cr total : 0,5 mg/l
  • Kadar maksimum Fe : 5 mg/l
  • Kadar maksimum Co : 0,4 mg/l

Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Pengolahan Bijih Nikel

Baku mutu air limbah usaha dan/atau kegiatan pertambangan bijih nikel adalah air yang berasal dari sisa kegiatan pengolahan bijih nikel yang berwujud cair. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2006, baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan bijih nikel adalah sebagai berikut.

  • Kadar maksimum pH : 6-9
  • Kadar maksimum TSS : 100 mg/l
  • Kadar maksimum Cu : 2 mg/l
  • Kadar maksimum Cd : 0,05 mg/l
  • Kadar maksimum Zn : 5 mg/l
  • Kadar maksimum Pb : 0,1 mg/l
  • Kadar maksimum Ni : 0,5 mg/l
  • Kadar maksimum Cr 6+ : 0,1 mg/l
  • Kadar maksimum Cr total : 0,5 mg/l
  • Kadar maksimum Fe : 5 mg/l
  • Kadar maksimum Co : 0,4 mg/l

Baku Mutu Emisi Kegiatan Pengolahan Bijih Nikel

Khusus dalam kegiatan pengolahan bijih nikel, terdapat potensi menghasilkan emisi yang berlebih sehingga dapat mengakibatkan pencemaran udara. Baku mutu emisi adalah batas kadar paling tinggi dan/atau beban emisi paling tinggi yang diperbolehkan masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2014, proses pengolahan bijih nikel yang menggunakan pirometalurgi dan menghasilkan produk berupa sulfida nikel, nikel besi, paduan besi dan nikel, dan besi kasar wajib memenuhi baku mutu emisi sebagai berikut.

Sumber dari nikel mate

  • Kadar maksimum SO2 : 0,86 kg/kg Ni

Sumber dari tanur reduksi

  • Kadar maksimum SO2 : 800 mg/Nm3
  • Kadar maksimum partikulat : 250 mg/Nm3
  • Kadar maksimum NOx : 800 mg/Nm3
  • Kadar maksimum H2S : 10 mg/Nm3
  • Kadar maksimum Zn : 50 mg/Nm3
  • Kadar maksimum Ni : 50 mg/Nm3
  • Kadar maksimum opasitas : 30%

Sumber dari tanur pengering

  • Kadar maksimum SO2 : 700 mg/Nm3
  • Kadar maksimum partikulat : 250 mg/Nm3
  • Kadar maksimum NOx : 800 mg/Nm3
  • Kadar maksimum opasitas : 30%

Sumber dari tungku listrik

  • Kadar maksimum SO2 : 700 mg/Nm3
  • Kadar maksimum partikulat : 250 mg/Nm3
  • Kadar maksimum NOx : 800 mg/Nm3
  • Kadar maksimum H2S : 10 mg/Nm3
  • Kadar maksimum Zn : 50 mg/Nm3
  • Kadar maksimum Ni : 50 mg/Nm3
  • Kadar maksimum opasitas : 30%

Sumber dari pengering produk

  • Kadar maksimum SO2 : 600 mg/Nm3
  • Kadar maksimum partikulat : 250 mg/Nm3
  • Kadar maksimum NOx : 600 mg/Nm3
  • Kadar maksimum opasitas : 30%

Catatan:

1. Khusus untuk nikel mate, sulfur dioksida (SO2) dihitung dari seluruh kegiatan (tanur, tungku listrik, pengering, dan pembangkit) untuk rata-rata dalam satu tahun.

2. Baku mutu sulfur dioksida (SO2) tidak berlaku untuk nikel mate.

3. Semua parameter diukur pada kondisi standar yaitu 25ºC (dua puluh lima derajat selsius) dan 1 (satu) atmosfer.

4. Semua parameter dikoreksi dengan oksigen (O2) 10% (sepuluh persen).

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Pada 2024, Permintaan Bijih Nikel RI Akan Melonjak Tiga Kali

NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia terus menggencarkan hilirisasi mineral dan batu bara agar memperoleh keuntungan lebih banyak dibandingkan hanya menggali dan menjual tambang mentah. Salah satu komoditas mineral yang pesat kemajuan industri hilirnya yaitu nikel.

Sebanyak 30 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel baru kini sedang dibangun. Bahkan, tak hanya smelter bijih nikel, namun pabrik turunan lainnya seperti stainless steel hingga komponen baterai juga tengah dibangun.

Hal tersebut tentunya membutuhkan lebih banyak bijih nikel yang harus diproduksi. Ini pun telah masuk dalam rencana strategis pemerintah.

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024, produksi bijih nikel diperkirakan naik hampir tiga kali lipat menjadi 71,40 juta ton pada 2024 dari tahun ini sekitar 19,31 juta ton.

Permen ESDM ini ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 18 September 2020 dan berlaku sejak diundangkan pada 25 September 2020.

Peningkatan produksi bijih nikel mulai terlihat pada 2021 menjadi 30,10 juta ton, lalu naik lagi menjadi 59,94 juta ton pada 2020, dan 71,74 juta ton pada 2023.

Sejalan dengan peningkatan produksi bijih nikel, bijih yang diolah di dalam negeri pun mengalami peningkatan. Bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 52,14 juta ton pada 2024 dari 12,77 juta ton pada 2020 ini.

Ini artinya, meski pun belum sepenuhnya bijih nikel yang diproduksi itu diolah di smelter dalam negeri, namun terjadi peningkatan rasio bijih nikel yang diolah di smelter di dalam negeri menjadi 73% pada 2024 dari 2020 sekitar 66%.

Berdasarkan data dari Permen ESDM tersebut, bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 21,32 juta ton pada 2021, lalu 43,58 juta ton pada 2022, dan 52,61 juta ton pada 2023.

Angka-angka tersebut merupakan indikator dalam rangka mengukur optimalnya ketersediaan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan industri turunan lainnya.

“Rasio jumlah mineral untuk diproses dalam negeri terhadap produksi untuk mengukur seberapa besar mineral yang dapat diolah di dalam negeri dalam rangka peningkatan nilai tambah dibandingkan dengan total produksi dari jenis mineral tersebut,” kata Peraturan Menteri ESDM tersebut.

Adapun utilisasi smelter nikel olahan seperti feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI) pada 2024 ditargetkan naik menjadi 75% dari tahun ini 70%, dan nickel matte menjadi 95% dari tahun ini 90%.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan dari 48 smelter yang tengah dibangun saat ini dan ditargetkan beroperasi pada 2024 mendatang, sebanyak 30 smelter merupakan smelter nikel.

Dari 30 smelter nikel yang tengah dibangun, 13 smelter kemajuannya lebih dari 90%, lalu sembilan smelter capaiannya 30%-90%, dan delapan smelter kemajuannya kurang dari 30%.

Selain nikel, ada delapan smelter bauksit, di mana dua smelter capaiannya lebih dari 90%, dua smelter 30%-90%, dan empat smelter kurang dari 30%. Lalu, ada empat smelter tembaga yang tengah dibangun, di mana dua smelter progress-nya lebih dari 90% dan dua lagi kurang dari 30%.

Terakhir, smelter besi, mangan, timbal dan seng, dari enam smelter yang tengah dibangun, ada tiga smelter yang capaiannya lebih dari 90% dan tiga lainnya antara 30%-90%.

Menurutnya, pembangunan smelter tersebut tertunda karena adanya pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas pekerja.

Namun, tak hanya smelter nikel, lima smelter dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang merupakan bahan baku komponen baterai juga ditargetkan bisa beroperasi pada 2023. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak pada akhir Oktober lalu.

Bila bahan baku komponen baterai ini telah tersedia di Tanah Air, maka rencana Indonesia untuk membangun pabrik baterai lithium bukan lah hal mustahil.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Persediaan Bijih Nikel di Pelabuhan China Meningkat 97.000 wmt Menjadi 9,13 Juta wmt

APNI, Jakarta – Data SMM menunjukkan, persediaan bijih nikel di semua pelabuhan China meningkat 97.000 wmt dari 25 September 2020 menjadi 9,13 juta wmt per 30 September, menunjukkan.

Dalam kandungan Ni, stok naik 700 mt menjadi 73.000 mt.

Data SMM juga menunjukkan bahwa stok bijih nikel di tujuh pelabuhan utama China meningkat 117.000 wmt selama periode yang sama menjadi 6,74 juta wmt.

Data persediaan bijih Nikel China yang dikeluarkan SMM sejak 09 Oktober 2019 hingga 30 September 2020/SMM

Sumber: APNI

Read More