

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan pentingnya penguatan ketahanan energi dan pengembangan industri bernilai tambah guna mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Upaya tersebut perlu didukung investasi produktif yang mampu memperkuat industri nasional dan memberikan manfaat ekonomi lebih luas.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kadin Indonesia Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup bertema “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan” di East Ballroom, The Langham Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (14/10/2026).
Anin mengatakan, dunia usaha perlu tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional di tengah tekanan pasar modal, arus keluar dana asing, serta meningkatnya risiko bencana dan persoalan lingkungan. Optimisme tersebut perlu dibangun dengan mempertimbangkan risiko yang dihadapi, bukan dengan mengabaikan tantangan yang ada.

“Jadi memang kita ini di Kadin bisa dibilang mesti memilih. Kita melihatnya ini mau ke kiri atau ke kanan. Soalnya di satu sisi, data terlihat bahwa tahun ini sudah ada Rp 80 triliun dana di pasar modal asing keluar. Pada saat ini, 31% turun di pasar modal kalau ditambah tadi exchange rate, tambah 7% lagi, jadi 38% hampir 40%,” ujar Anin dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Selasa (20/10/2026).
Ia turut mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi risiko bencana alam dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Posisi Indonesia di kawasan ring of fire membuat gempa bumi dan bencana lainnya menjadi tantangan berulang yang berdampak pada sektor sosial, ekonomi, hingga hubungan internasional.

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027. Anin juga menyinggung target investasi yang diharapkan mencapai Rp 2.000 triliun pada tahun ini dan meningkat menjadi Rp 2.300 triliun pada tahun depan.
“Setiap ada krisis itu selalu ada change of guards, pergantian pemain. Pasti itu,” kata Anin.
Target pertumbuhan dan investasi tersebut menjadi alasan untuk tetap mencari peluang di tengah ketidakpastian. Anin menilai kehadiran Danantara dapat menjadi mitra dunia usaha untuk mengembangkan proyek dan menarik kerja sama investasi dari dalam maupun luar negeri.
“Namun, tidak bisa kita optimistis serta-merta hanya karena ingin kelihatan hebat. Tentu kita mesti hati-hati dalam memilih suatu pilihan. Tapi paling tidak tadi kita diskusi, Danantara ini merupakan engine of growth yang berupaya untuk mencari mitra baik dalam negeri atau luar negeri untuk menjalankan rencana-rencana ini,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Mohammad Jumhur Hidayat, mengapresiasi perhatian Kadin terhadap hilirisasi dan pemuliaan lingkungan. Ia menekankan bahwa peningkatan nilai tambah sumber daya alam perlu dilakukan di dalam negeri agar manfaat ekonomi dari pengolahan tidak hanya dinikmati negara tujuan ekspor bahan mentah.
“Peningkatan nilai tambah itu ada di dalam negeri, retain value added. Nilai tambah yang tertahan di dalam negeri, dan itu hanya bisa dilakukan kalau ada investasi, ada usahanya di dalam negeri. Bukan lagi mengirim bahan mentah ke luar,” ujar Jumhur.
Ia juga menekankan pentingnya menjalankan kegiatan usaha dengan tetap menjaga lingkungan. Menurut Jumhur, kegiatan bisnis tidak semestinya hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga perlu memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Jadi berbisnis, berusaha sambil memuliakan lingkungan. Dan itu adalah satu yang sangat diprioritaskan oleh pemerintah saat ini,” katanya.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia, Bobby Gafur Umar, menegaskan bahwa potensi sumber daya alam, energi, dan pasar domestik perlu diterjemahkan menjadi investasi produktif yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
“Indonesia memiliki potensi investasi yang sangat besar, baik di sektor hilirisasi, energi maupun ekonomi hijau. Tetapi kita tidak boleh berhenti pada potensi atau pengumuman investasi semata. Tantangan kita adalah bagaimana menyiapkan proyek yang benar-benar layak, mempertemukannya dengan sumber pembiayaan, dan memastikan investasi tersebut dapat direalisasikan,” ujar Bobby.

Menurut Bobby, investasi berkualitas tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, realisasi investasi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau 49,5% dari target nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7%, dengan penyerapan sekitar 1,45 juta tenaga kerja.
“Yang perlu kita dorong bukan hanya peningkatan nilai investasi, tetapi juga bagaimana investasi tersebut membangun industri pendukung, melibatkan pemasok lokal, dan menciptakan kegiatan ekonomi baru di berbagai daerah. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” pungkasnya. (Tubagus)


























