

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Hilirisasi dan Investasi/BKPM menyampaikan realisasi investasi hilirisasi Indonesia dari Januari-September mencapai Rp480 triliun dengan kontribusi sebesar 31,2% terhadap total investasi yang masuk, nilai tersebut meningkat 11,3% dibandingkan periode sebelumnya.
“Realisasi investasi hilirisasi kontribusinya itu dari total yang masuk itu 31,2% atau 480 triliun atau peningkatan 11,3%. Yang paling tinggi memang masih mineral ya,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (20/10/2026).

Capaian realisasi investasi triwulan III-2026 tercatat mencapai Rp528,7 triliun. Sementara itu, total investasi dari Januari sampai September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target. Sementara itu, realisasi investasi hilirisasi mineral pada kuartal III-2026 tercatat mencapai Rp128,6 triliun.
Sektor mineral menyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp128,6 triliun. Investasi tersebut mencakup berbagai komoditas, antara lain nikel Rp48,0 triliun, bauksit Rp61,9 triliun, besi baja Rp10,5 triliun, tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta mineral lainnya Rp4,5 triliun.
Total realisasi investasi hilirisasi Triwulan III 2026 mencapai Rp179,9 triliun, tumbuh 19,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain sektor mineral, investasi hilirisasi juga berasal dari sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp29,2 triliun, minyak dan gas bumi Rp18,6 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp3,5 triliun pada Triwulan III 2026.

Dari sisi persebaran wilayah, Sulawesi Tengah menjadi lokasi dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar, yakni Rp44,2 triliun. Posisi berikutnya ditempati Maluku Utara sebesar Rp30,1 triliun, Kalimantan Barat Rp23,9 triliun, Sulawesi Tenggara Rp15,7 triliun, dan Jawa Barat Rp11,1 triliun. Besarnya investasi di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara memperlihatkan peran strategis kedua wilayah tersebut dalam pengembangan industri pengolahan mineral.
Sementara itu, berdasarkan asal penanaman modal asing (PMA), Hong Kong menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp70,7 triliun. Singapura menempati posisi kedua dengan Rp50,4 triliun. Selanjutnya, investasi dari Korea Selatan tercatat sebesar Rp6,3 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp5,8 triliun, dan Jepang Rp3,8 triliun. Capaian investasi pada Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa sektor hilirisasi masih menjadi salah satu penggerak investasi nasional. Dengan nilai investasi mineral mencapai Rp128,6 triliun, pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya alam tetap menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. (Fi Yun)


























