

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi hilirisasi untuk memperkuat industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan, porsi investasi hilirisasi terhadap total investasi nasional terus mengalami peningkatan. Pada triwulan III 2026, kontribusinya mencapai 35%, naik dibandingkan 2024 yang tercatat sekitar 26%.
Sementara itu, secara kumulatif sepanjang Januari–September 2026, kontribusi investasi hilirisasi mencapai 31%. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan 2024, ketika kontribusinya masih berada di kisaran 26%.
“Kalau kami melihat tren biasanya waktu tahun 2024 kontribusi hilirisasi itu masih hanya 26 persen, di triwulan ketiga tahun ini, itu sudah 35 persen,” Kata Rosan dalam keterangannya, dikutip Selasa, (20/10/2026).

Namun, katanya, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga memastikan bahwa investasi yang terealisasi mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, serta peningkatan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.
“Tapi tentunya kita tetap akan mendorong investasi ini untuk terus meningkat menjadi investasi yang berkualitas tentunya, dan juga bisa memberikan dampak yang positif setiap penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Ia mencontohkan salah satu sektor yang terus dikembangkan pemerintah adalah hilirisasi nikel, termasuk pengembangan industri baterai. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat keterkaitan industri dari hulu hingga hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
“Seperti yang sudah kita lakukan, hilirisasi nikel ini di baterai. Itu yang mungkin akan terus kita kembangkan,” ucapnya.

Keseimbangan produksi nikel dan produk turunannya, menurutnya, dinilai penting seiring dengan peningkatan investasi dan kapasitas industri pengolahan. Langkah tersebut diperlukan agar pertumbuhan industri berjalan secara terukur, dengan tetap memperhatikan kualitas produk dan penguasaan teknologi metalurgi.
“Produksi nikel kita maupun produksi turunannya agar produknya juga makin meningkat, metalurginya makin baik, dan penyerapan tenaga kerjanya serta transfer teknologinya juga berjalan,” pungkasnya.
Pemerintah berharap peningkatan investasi hilirisasi tidak hanya memperbesar nilai investasi nasional, tetapi juga mendorong penguatan industri dalam negeri, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, dan memperluas keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok global. (Fi Yun)


























