

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Trade Lawyer International ternama, Elisa Sugito, S.H., M.H., CLA., CTL., menilai investasi asing di sektor hilirisasi mineral harus memberikan manfaat nyata bagi Indonesia, terutama melalui peningkatan nilai tambah, transfer teknologi, dan penguatan industri pemasok lokal.
Hal tersebut disampaikan Elisa menanggapi pernyataan Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, dorong pemerintah tata kembali kerja sama investasi dengan Tiongkok agar lebih mengutamakan kepentingan nasional.

Penulis buku Nikel Indonesia: Kunci Perdagangan Internasional ini juga sependapat bahwa besarnya nilai investasi tidak selalu mencerminkan besarnya manfaat bagi perekonomian nasional.
“Yang penting adalah seberapa banyak keuntungan, teknologi, dan keahlian yang benar-benar tinggal di Indonesia,” jelas Elisa, kepada nikel.co.id, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, evaluasi investasi perlu dilakukan secara berkala dengan menggunakan standar yang sama bagi seluruh investor, tanpa membedakan negara asalnya. Penilaian tersebut dapat mencakup sumber energi, teknologi yang digunakan, keterlibatan tenaga kerja dan pemasok lokal, serta pembagian risiko investasi.
Ia juga menekankan pentingnya kejelasan kontrak dalam menentukan pembagian keuntungan dan tanggung jawab masing-masing pihak, termasuk penguasaan teknologi, pemasaran hasil produksi, serta pemulihan lingkungan.
“ Kekuatan tawar Danantara ditentukan oleh isi kontrak, bukan oleh nota kesepahaman di awal,” tegas dia.
Selain itu, dirinya juga mendorong pemerintah menetapkan indikator keberhasilan investasi yang terukur. Indikator tersebut antara lain besaran keuntungan yang berputar di dalam negeri, belanja kepada pemasok lokal, serta keterlibatan tenaga ahli Indonesia dalam posisi strategis.
Ia menilai penguatan pemasok lokal menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan hilirisasi mineral. Berdasarkan pengalamannya di kawasan industri, kendala yang dihadapi pemasok dalam negeri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan usaha, tetapi juga pemenuhan standar mutu dan sertifikasi.
Karena itu, menurut Elisa, pemerintah perlu membuka peluang agar lebih banyak perusahaan lokal dapat masuk ke rantai pasok industri pengolahan mineral.
Elisa menegaskan, Tiongkok tetap menjadi mitra penting bagi Indonesia. Namun, kerja sama investasi perlu didukung oleh aturan yang transparan dan setara bagi seluruh investor. “Posisi tawar kita paling kuat ketika pilihan mitranya banyak dan aturan mainnya jelas, sama bagi semua investor,” pungkasnya. (Lil Han)



























