Beranda Berita International Fan Li: ESG akan Semakin Menentukan Nilai dan Daya Saing Perusahaan Tambang

Fan Li: ESG akan Semakin Menentukan Nilai dan Daya Saing Perusahaan Tambang

95
0
Sustainability and ESG Services Manager of dss+, Fan Li (Foto: MNI/Tubagus)
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-International-Critical-Minerals-Summit-Indonesia-2026-1024x341.jpg

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Faktor environment, social, and governance (ESG) kemungkinan akan semakin mempengaruhi daya saing dan valuasi perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Perusahaan yang mampu mengelola risiko ESG, termasuk emisi karbon dan transisi energi, dinilai akan memiliki posisi yang lebih kuat di pasar global maupun di mata investor.

Hal tersebut disampaikan Sustainability and ESG Services Manager of dss+, Fan Li, dalam Nickel & Cobalt Forum pada ajang Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Hotel Pullman Central Park Jakarta, Jumat (5/6/2026). Li mengatakan, perusahaan-perusahaan di Tiongkok saat ini tidak lagi memandang ESG hanya sebagai kewajiban kepatuhan, tetapi juga sebagai faktor yang mempengaruhi daya saing bisnis.

Melalui keterlibatannya di China Business Council for Sustainable Development, ia mengaku turut membantu pemerintah Tiongkok dalam penerapan standar ESG dan penyusunan panduan pemeringkatan ESG nasional. Perusahaan saat ini harus menghadapi berbagai standar dan regulasi keberlanjutan yang terus berkembang di tingkat global, termasuk regulasi Uni Eropa, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), dan berbagai standar penilaian ESG.

“Hal yang paling penting adalah memahami berbagai persyaratan kepatuhan yang berbeda-beda, sekaligus memahami makna dan tujuan di balik setiap regulasi maupun standar tersebut,” ujarnya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Li menjelaskan, risiko ESG saat ini semakin kompleks karena berbagai isu lingkungan, sosial, dan tata kelola saling berkaitan. Berdasarkan pengalaman dss+ mendampingi berbagai perusahaan, isu keanekaragaman hayati, pengelolaan kawasan hutan, serta sumber daya air tanah menjadi perhatian yang semakin besar.  Persoalan tersebut sering dianggap terpisah dari aktivitas bisnis, padahal dapat berkembang menjadi risiko yang berdampak langsung terhadap operasional perusahaan dan hubungan dengan masyarakat sekitar.

“Sejujurnya isu-isu tersebut tidak berdiri sendiri. Semuanya saling berkaitan,” katanya.

Perusahaan perlu mengelola berbagai risiko tersebut dalam satu kerangka manajemen yang terintegrasi. Tata kelola perusahaan yang baik menjadi faktor penting untuk mengidentifikasi dan mengantisipasi potensi risiko sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

“Tata kelola yang baik memungkinkan perusahaan mengantisipasi dan mengelola risiko sebelum masalah tersebut benar-benar terjadi,” ujarnya.

Dia juga menekankan, ESG tidak lagi sekadar menjadi instrumen pelaporan keberlanjutan, tetapi telah menjadi faktor yang memengaruhi nilai perusahaan. Sekarang ini isu emisi karbon, target netralitas karbon, dan target pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi bagian dari pertimbangan investasi. Investor semakin memperhatikan bagaimana kinerja ESG akan mempengaruhi prospek perusahaan setelah investasi dilakukan. Dalam lima tahun mendatang diperkirakan, emisi karbon, penggunaan energi terbarukan, dan kinerja ESG akan semakin mempengaruhi valuasi perusahaan.

Oleh karena itu, risiko ESG kini menjadi isu yang semakin penting. Risiko-risiko tersebut perlu dikelola dalam kerangka prioritas yang sama dengan risiko bisnis lainnya. (Li Han)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg