
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, resmi membuka Emergency Disaster Reduction and Rescue Exhibition (EDRR) Indonesia 2026 yang memasuki penyelenggaraan tahun ketiga. Dalam kesempatan tersebut, dia mendorong pengembangan industri teknologi kebencanaan di Indonesia agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memproduksi teknologi secara mandiri.
“Jadi ini bukan hanya pameran tetapi sebagai ruang kolaborasi, ruang inovasi mitra untuk membangun industri melalui investasi dan belajar bersama,” ujar Pratikno saat pembukaan EDRR Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menko mengatakan, Indonesia menghadapi sekitar 5.000 kejadian bencana setiap tahun dengan lebih dari 95% di antaranya bencana hidrometeorologi. Karena itu, penguasaan teknologi kebencanaan diperlukan untuk mendukung upaya pencegahan, penyelamatan, layanan kesehatan, penyediaan pangan dan energi, hingga perlindungan infrastruktur.

Pengembangan teknologi kebencanaan juga relevan dengan sektor pertambangan, termasuk industri nikel, yang memiliki aktivitas operasional dan kawasan industri dengan berbagai risiko keselamatan serta kondisi lingkungan yang membutuhkan kesiapsiagaan dan respons cepat. Penguatan teknologi pencarian dan penyelamatan, sistem peringatan dini, hingga dukungan robotik dan kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan keselamatan sekaligus melindungi pekerja dan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Ia menekankan, perkembangan teknologi peringatan dini harus diikuti dengan tindakan cepat agar informasi yang dihasilkan dapat benar-benar mengurangi risiko dan menyelamatkan masyarakat.
“Peringatan dini hanya bermakna jika diikuti dengan aksi dini. Jangan sampai teknologi canggih hanya untuk kita baca, analisisnya hanya untuk kita pajang, tetapi informasi yang diberikan oleh teknologi itu harus diikuti dengan aksi cepat merespons peringatan dini dalam rangka menyelamatkan warga,” katanya mewanti-wanti.

Lebih lanjut, ia mendorong pengembangan teknologi kebencanaan melalui penguatan riset, industri, sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan mitra internasional. Kerja sama dengan negara lain perlu diarahkan pada pengembangan kapasitas dan alih teknologi sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi kebencanaan.
“Tolong ketika bekerja sama dengan kita, dengan Indonesia, Bapak-Ibu dari mitra luar negeri jangan melihat kita sebagai pasar saja. Tetapi, mari kita bekerja sama untuk alih teknologi mengembangkan industri di Indonesia dan terus menumbuhkan talenta-talenta kita,” ucapnya.
Indonesia, katanya lebih lanjut, memiliki peluang untuk menjadi center of excellence dalam teknologi kebencanaan dunia karena memiliki pengalaman menghadapi berbagai jenis bencana. Untuk mewujudkan hal tersebut, pengembangan teknologi perlu didukung oleh industri, riset, talenta, serta kolaborasi internasional yang berkelanjutan.
“Target Indonesia tentu saja adalah kita harus menjadi center of excellence dalam teknologi kebencanaan dunia. Mengapa? Karena kita memang rawan bencana. Oleh karena itu, sewajarnya kita kalau menjadi center of excellence dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait kebencanaan,” pungkasnya. (Tubagus)








































