Beranda Berita International INSG Proyeksikan Pasar Nikel Global Berimbang pada 2026 setelah Bertahun-tahun Surplus

INSG Proyeksikan Pasar Nikel Global Berimbang pada 2026 setelah Bertahun-tahun Surplus

86
0
Director of Market Research and Statistics of INSG, Ricardo Ferreira (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTAInternational Nickel Study Group (INSG) memproyeksikan pasar nikel global akan bergerak menuju kondisi yang lebih berimbang pada 2026 setelah beberapa tahun terakhir mengalami surplus. Kondisi tersebut dipicu oleh melambatnya pertumbuhan pasokan di tengah konsumsi nikel yang masih tumbuh secara global.

“Setelah beberapa tahun mengalami surplus, kami memperkirakan pasar tahun ini akan cukup seimbang, dengan defisit kecil sekitar 30.000 ton nikel,” ujar Director of Market Research and Statistics of INSG, Ricardo Ferreira, dalam paparannya di acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, Kamis (4/6/2026).

Ferreira menjelaskan, pasar nikel global masih mencatat surplus sekitar 285 ribu ton pada 2025. Namun, surplus tersebut diperkirakan menyusut karena produksi di Indonesia dan Tiongkok melambat, sementara konsumsi nikel global masih tumbuh.

“Pada kuartal pertama, pasokan nikel global masih mencatat pertumbuhan sekitar 2,5%. Namun, kami memperkirakan tren penurunan produksi akan mulai terlihat pada periode berikutnya sehingga berdampak terhadap keseluruhan kinerja sepanjang tahun,” katanya.

Indonesia, sambungnya, tetap menjadi faktor penting dalam keseimbangan pasar nikel dunia. INSG memperkirakan produksi tambang nikel Indonesia akan mengalami penurunan pada tahun ini. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasokan nikel dunia.

“Untuk tahun ini, asumsi kami adalah adanya penurunan produksi tambang nikel Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas pada grafik di sisi kanan yang menunjukkan proyeksi perubahan produksi sepanjang tahun,” tuturnya.

INSG memperkirakan, konsumsi nikel primer global meningkat sekitar 4% pada tahun ini, dengan Tiongkok menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut. Menurut dia, kondisi itu menunjukkan bahwa kendala pasar saat ini lebih banyak berasal dari sisi pasokan dibandingkan permintaan

“Dengan demikian, pembatas utama pasar saat ini bukan berasal dari sisi permintaan, melainkan dari sisi produksi,” ucapnya.

Selain itu, ia mencatat harga nikel juga mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan data INSG, harga nikel mencapai US$19.325 per ton pada akhir April 2026, lebih tinggi dibandingkan kisaran US$15.000 hingga US$16.000 per ton yang sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

“Industri baja nirkarat atau stainless steel masih menjadi konsumen terbesar nikel primer dunia dengan porsi hampir 70% dari total konsumsi,” tutupnya. (Li Han)