Beranda Berita International Botree Klaim Teknologi Ekstraksi Litium Baru Mampu Tekan Biaya Produksi dan Tingkatkan...

Botree Klaim Teknologi Ekstraksi Litium Baru Mampu Tekan Biaya Produksi dan Tingkatkan Recovery

95
0
Direktur Divisi Ekstraksi Sumber Daya Botree Recycling Technologies, Dr. Chunwei Liu (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan teknologi daur ulang dan ekstraksi mineral, Botree Recycling Technologies, mengklaim telah mengembangkan teknologi ekstraksi litium baru yang mampu menekan biaya investasi (capital expenditure/capex) dan biaya operasional (operating expenditure/opex), sekaligus meningkatkan tingkat pemulihan (recovery) litium dalam proses pengolahan mineral dan daur ulang baterai.

Hal tersebut disampaikan Direktur Divisi Ekstraksi Sumber Daya Botree Recycling Technologies, Dr. Chunwei Liu, saat menjadi pembicara pada hari kedua Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Kamis (4/6/2026).

Liu menjelaskan, perusahaannya telah menyelesaikan penelitian, pengembangan, hingga uji coba komersial terhadap teknologi ekstraksi litium yang dikembangkan untuk menjawab tantangan efisiensi dalam industri pengolahan mineral kritis.

“Kami mengimplementasikannya menggunakan teknologi ekstraksi pendinginan untuk tujuan komersial. Produk ini, kami juga telah menyelesaikan riset dan pengembangan serta melakukan uji coba komersial. Selain proyek utama, yang kami lakukan saat ini adalah ekstraksi litium,” ujarnya.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan proses ekstraksi litium dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional.

“Dengan sistem konsentrasi ini, kami dapat mengurangi biaya modal (capex) dan biaya operasional (opex). Efisiensi pemulihan litium bahkan dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknologi ini,” katanya.

Tidak hanya fokus pada ekstraksi litium, Botree juga mengembangkan teknologi untuk menghasilkan litium sulfat dan litium hidroksida berkualitas tinggi yang menjadi bahan baku penting dalam pembuatan katoda baterai lithium ferro phosphate (LFP).

“Baru-baru ini, kami menggabungkan beberapa teknologi baru yang berkaitan dengan ekstraksi litium. Kami ingin memproduksi litium sulfat berkualitas sangat tinggi serta litium hidroksida sulfat, yang merupakan prekursor utama dalam pembuatan bahan katoda LFP terbaru,” ungkapnya.

Selain pengolahan mineral primer, perusahaan juga menaruh perhatian besar pada pengembangan teknologi daur ulang baterai bekas. Liu mengatakan, pihaknya telah mengembangkan proses yang memungkinkan litium dipisahkan lebih awal dari material hasil penghancuran baterai atau black mass, sehingga meningkatkan nilai ekonomis proses daur ulang.

“Kami telah mengembangkan teknologi ekstraksi yang cukup baik yang mampu mengekstraksi litium sebelum mendaur ulang nikel dan kobalt. Karena litium adalah logam termahal dalam baterai, kami ingin meningkatkan efisiensi daur ulang litium sebanyak mungkin,” ujarnya.

Melalui teknologi tersebut, Botree mengaku mampu menghasilkan larutan litium berkonsentrasi tinggi yang dapat langsung digunakan sebagai bahan baku produksi lithium carbonate.

“Pada langkah pertama, kami dapat menghasilkan larutan litium berkualitas sangat tinggi dan dengan konsentrasi litium yang tinggi. Biasanya kami dapat menghasilkan larutan dengan kandungan litium lebih dari 20 gram per liter. Artinya, kami dapat memproduksi lithium carbonate secara langsung menggunakan larutan ini,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, perusahaan juga mengembangkan dua jalur daur ulang untuk baterai LFP. Selain mengekstraksi litium, teknologi tersebut memungkinkan pemulihan fosfat besi yang masih memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat digunakan kembali sebagai bahan baku baterai baru.

“Kami mengusulkan dua jalur. Salah satunya khusus untuk litium. Yang lainnya adalah mendaur ulang keempat unsur tersebut. Artinya, kami dapat mendaur ulang litium serta fosfat besi. Karena fosfat besi di beberapa daerah juga sangat mahal, bahan ini dapat digunakan untuk memproduksi bahan baterai baru,” tuturnya.

Menurutnya, pengembangan teknologi ekstraksi dan daur ulang mineral kritis menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung industri baterai yang lebih berkelanjutan.

“Dalam bidang teknologi daur ulang, kami berkomitmen untuk menyediakan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan bagi pelanggan kami dalam mendaur ulang bahan-bahan penting. Karena pada dasarnya kami adalah perusahaan penyedia teknologi, kami berfokus pada penelitian dan pengembangan,” katanya.

Botree Recycling Technologies saat ini telah mengimplementasikan sejumlah proyek daur ulang baterai dan pengolahan mineral di berbagai negara, termasuk di Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Perusahaan juga terus mengembangkan teknologi untuk mendukung ekonomi sirkular dan penguatan rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik global. (Shiddiq)