Beranda Berita Nasional Penggunaan Baterai NMC Diprediksi Meningkat dalam Lima Tahun ke Depan

Penggunaan Baterai NMC Diprediksi Meningkat dalam Lima Tahun ke Depan

102
0
Baterai NMC (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Meski serbuan baterai lithium ferrophosphate (LFP) yang mentenagai mobil listrik atau electric vehicle (EV) asal China begitu deras, diprediksi penggunaan baterai nickel manganese cobalt (NMC) akan meningkat dalam lima tahun mendatang.

Optimistime tersebut diungkapkan founder of the National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Evvy Kartini, di hadapan para peserta Training to Miners (TTM) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Seri Ke-8, di Hotel Le Merdien, Jakarta, Kamis (30/7/2026). 

Menurut Prof. Evvy, saat ini pabrik material baterai, sektor hulu (upstream), hingga pabrik kendaraan listrik tengah dipersiapkan guna membangun ekosistem industri baterai nasional.

“Berapa tahun lagi? Maybe 5 years. Karena, sekarang pabriknya sudah ada. Sekarang lagi dimulai untuk pabrik materialnya. Jadi, mungkin 5 tahun lagi, insyaallah. Sekarang ini dibuat setengahnya, sekarang sedang disiapkan upstream-nya. Sambil juga disiapkan pabrik mobilnya kan. Jadi, nanti akan bersama-sama,” ujarnya kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela TTM APNI Seri Ke-8 yang berlangsung selama tiga hari itu, Rabu-Jumat (29-31/7/2026).

Ia menjelaskan, hingga kini baterai NMC masih menjadi pilihan utama bagi kendaraan listrik berperforma tinggi. Sejumlah produsen otomotif premium masih mengandalkan teknologi tersebut karena memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan baterai LFP.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

“Hyundai betul-betul pakai 90% nikel. Memang karena nikel mahal dibandingkan kalau pakai besi, makanya kendaraannya mahal. Tapi, kalau ditanya jago mana NMC dan LFP? Sekarang Anda tanya, BMW ada yang pakai LFP? Nggak ada itu. Mobil-mobil premium, mobil balap pakai NMC semua karena ukuran baterai nikel bisa separuh lebih kecil. Yang kedua, dia bisa ngebut, bisa cepat. Akselerasi. Lalu, dia punya tenaga, itu ada di NMC,” katanya.

Diakuinya, memang harga baterai NMC lebih mahal dibandingkan LFP sehingga banyak produsen memilih menggunakan LFP untuk kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Menurutnya, pemberian insentif bagi kendaraan listrik berbasis NMC dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong penggunaan komponen lokal.

Selain aspek performa, menurut peneliti utama di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ini, seluruh jenis baterai kendaraan listrik, baik NMC maupun LFP, tetap memiliki risiko apabila tidak digunakan sesuai prosedur. Faktor utama yang harus dihindari adalah baterai mengalami panas berlebih akibat overcharging maupun kerusakan pada komponen internal.

“Sebenarnya semua baterai berbahaya. Baterai itu tidak boleh kepanasan, tidak boleh overcharging. Artinya, kalau kita charge baterai ketika sudah penuh maka harus disetop nge-charge-nya. Kalau tidak, baterai akan panas terus,” ujarnya.

Tingkat energi yang tersimpan di dalam baterai, katanya meneruskan, juga mempengaruhi potensi kebakaran. Semakin tinggi kapasitas energi saat terjadi gangguan maka potensi kebakaran akan semakin besar. Khusus pada baterai NMC, api bahkan dapat menyebar lebih jauh dibandingkan baterai LFP, sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

“Kalau untuk baterai NMC itu bisa mental jauh, bisa loncat jauh. Kalau LFP agak susah. Jadi, itu beda-beda,” katanya.

Kebakaran baterai kendaraan listrik, katanya lebih lanjut, tidak dapat ditangani menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) konvensional karena reaksi kimia di dalam baterai tetap berlangsung. Untuk memadamnkannya, diperlukan media pemadam khusus berupa lithium fire killer untuk melokalisasi api hingga reaksinya berhenti.

Sebagai upaya meningkatkan keselamatan penggunaan baterai kendaraan listrik di Indonesia, Evvy mengungkapkan dirinya turut terlibat sebagai tenaga ahli bersama Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam penyusunan SNI 8872 yang mengatur aspek keselamatan (safety) baterai kendaraan listrik.

“Jadi, itu harusnya diterapkan. Semua motor yang beredar harusnya pakai SNI itu. Sayangnya, tidak semua motor, tidak semua produsen melakukan SNI itu, pengujian itu. Ya, alasannya mahal dan sebagainya, tapi harusnya seperti itu,” pungkasnya. (Tubagus)