Tag: #Cadangan Nikel

  • Dahsyat! Indonesia Punya ‘Harta Karun’ Yang Jadi Incaran Dunia Bernilai Ribuan Triliunan Rupiah

    NIKEL.CO.ID – Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah cadangan tersebut merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

    Inilah yang membuat Indonesia harus bersyukur. RI patut bersyukur karena banyak mendapatkan anugerah sumber daya alam di sektor pertambangan.

    Seperti komoditas tambang  Nikel. “Harta karun” nikel RI menjadi yang terbesar dibandingkan negara lainnya.

    Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

    Seperti yang dilansir industry.co.id dari CNBC bahwa pemerintah memperkirakan komoditas tambang akan mengalami tren super siklus.

    Nikel menjadi salah satu komoditas yang mengalami super siklus seiring dengan mulai beralihnya masyarakat ke penggunaan mobil listrik.

    Seperti diketahui produk yang dibutuhkan dalam membuat mobil listrik, salah satunya tambang.

    Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto.

    Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dikutip CNBC Indonesia, Jumat (18/06/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) pada tahun ini ditargetkan mencapai 901.080 ton, naik tipis dari realisasi produksi pada 2020 yang mencapai 860.484,35 ton.

    Harga nikel pada perdagangan Jumat (10/9/2021) pukul 13:45 WIB tercatat US$ 20.410/ton. Naik 1,11% dibanding penutupan perdagangan kemarin, menembus harga tertingginya sejak 2014. Laju harga nikel didorong oleh meningkatnya permintaan.

    Sebelumnya, Seto menjelaskan super siklus komoditas tambang ini adalah suatu periode yang cukup panjang dimana permintaan pada satu komoditas atas beberapa komoditas lainnya jauh lebih tinggi dari rata-rata permintaan tahunan secara historis.

    “Akibatnya, harga komoditas tersebut akan naik signifikan,” ujarnya.

    Tak Hanya Nikel, RI Punya “Harta Karun” Logam Tanah Jarang”Harta karun” RI di atau Rare Earth Element ini belum dikembangkan.

    Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai.

    Kendal Industrial Park

    Manfaat logam tanah jarang ini antara lain mulai dari bahan baku baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).

    Seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB). Lalu, bisa juga untuk bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

    Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono mengatakan, untuk mengeksplorasi logam tanah jarang ini lebih lanjut, pemerintah akan menggandeng negara-negara yang sudah menguasai teknologinya, seperti China.

    “Kami di Kementerian ESDM di Badan Geologi sudah buat satu rencana terkait penyelidikan LTJ, baik jangka pendek dan jangka panjang,” ungkapnya dalam Closing Bell CNBC Indonesia, Kamis (09/09/2021).

    Dia mengatakan, Badan Geologi punya beberapa kegiatan sebagai upaya mengembangkan LTJ ini, di antaranya eksplorasi, menyediakan informasi keterdapatan sumber LTJ yang bersumber dari berbagai penelitian, pelaku usaha, dan institusi lainnya.

    “Juga rencana kerja sama dengan negara-negara yang kuasai teknologi tanah jarang seperti Tiongkok. Di sana ada Badan Geologi sejenis China Geological Survey,” ujarnya.

    Indonesia memang belum memiliki data utuh terkait total sumber daya logam tanah jarang ini karena masih minimnya penelitian dan survei geologi terkait LTJ di Tanah Air.

    Namun berdasarkan buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik.

    Endapan plaser ini banyak dijumpai pada lokasi kaya sumber daya timah seperti di Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan selatan Kalimantan Barat.

    Pusat Sumber Daya Geologi-Badan Geologi pada 2014 melakukan kajian untuk mengetahui potensi sumber daya LTJ dalam endapan tailing di wilayah Pulau Bangka dengan menggunakan metoda interpretasi remote sensing.

    Hasil kajian menunjukkan tebal endapan tailing 4 m s.d. 6 m, luas total endapan tailing 500.000 ha, sehingga diperoleh volume 5.500.000.000 m3. Dengan kadar total LTJ 9,5 gr/m3, maka tonase LTJ mencapai 52.387.500.000 gr atau 52.000 ton.

    Sementara untuk endapan lateritik terdapat di beberapa wilayah seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

    Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton.

    Sumber: industry.co.id

  • Stok Nikel LME Anjlok Hampir 30%, Terendah Sejak Januari 2020

    Stok Nikel LME Anjlok Hampir 30%, Terendah Sejak Januari 2020

    NIKEL.CO.ID – Pasokan nikel di gudang LME (London Metal Exchange) pada September 2021 mencapai level terendah sejak Januari 2020. Kelangkaan pasokan membuat harga komoditas ini bergerak naik.

    Dihimpun dari West Metal, persediaan rata-rata logam nikel pada September 2021 sebesar 185.100 ton. Persediaan nikel telah turun selama lima bulan beruntun dan mencatatkan penurunan 28,84% sejak April 2021.

    nikelSumber: westmetal.com

    Langkanya persediaan nikel dan tingginya permintaan membuat harga nikel menembus rekor tertinggi sejak 2014 pada perdagangan akhir pekan kemarin. Permintaan nikel naik seiring dengan meningkatnya kebutuhan nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik di tengah naiknya penjualan mobil listrik dunia.

    Mengutip laporan terbaru Canalys, penjualan mobil listrik dunia pada semester-I 2021 sebesar 2.6 juta unit. Melesat 160% dibanding semester-I 2020.

    International Energy Agency (IEA) dalam laporannya memprediksi pada 2030 penggunaan kendaraan litrik diperkirakan akan meningkat menjadi 22 juta unit, atau melonjak 850,9% dibandingkan 2020. Hal ini didukung oleh komitmen beberapa negara untuk mengurangi emisi karbon, dan ekspektasi tren penurunan harga mobil listrik di masa mendatang.

    Sementara itu melansir data EV Metal Index, nilai logam baterai mobil listrik pada bulan Juni 2021 naik 237% year-on-year (yoy). Dibandingkan bulan sebelumnya, nilai logam baterai mobil listrik naik 36% pada bulan Juni 2021. Artinya produksi logam baterai mobil listrik pada semester-I 2021 meningkat pesat dibandingkan tahun 2020.

    Sebagai informasi, EV Metal Index adalah indeks yang mengukur nilai logam yang digunakan untuk membuat baterai mobil listrik di seluruh dunia.

    nikel
    Sumber: mining.com

    “Sisi permintaan cukup kuat dan pasokan yang terbatas karena lockdown sebelumnya, terutama di tempat-tempat seperti Indonesia.” kata analis independen Robin Bhar, dikutip dari Kitco.com. Bhar memprediksi harga nikel bisa meningkat di atas harga tertinggi 2014 US$ 21.625/ton.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Harta Karun Super Langka Ini Ada di Nikel RI Lho!

    Harta Karun Super Langka Ini Ada di Nikel RI Lho!

    NIKEL.CO.ID – Indonesia ternyata menyimpan “harta karun” super langka yang diincar banyak negara karena manfaatnya yang luar biasa di era modern saat ini, mulai dari bahan baku peralatan elektronika, baterai, telepon seluler, komputer, bahkan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan hingga kendaraan listrik dan peralatan militer atau industri pertahanan.

    “Harta karun” super langka ini yaitu logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element. Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai. Namun pada kenyataannya, LTJ ini melimpah, melebihi unsur lain dalam kerak bumi.

    Mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari 17 unsur, antara lain scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

    Tidak hanya ada di daerah kaya akan timah, ternyata logam tanah jarang ini juga terkandung di dalam laterit nikel.

    Sejumlah mineral yang mengandung LTJ seperti monasit, zirkon, dan xenotim, merupakan mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

    Di Indonesia, mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, untuk endapan lateritik terdapat di beberapa wilayah seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

    Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton.

    Selain itu, berdasarkan data Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Puslitbang Tekmira) Kementerian ESDM, logam tanah jarang ini, termasuk unsur scandium, neodymium, dan dysprosium, bisa diperoleh dari produk samping hasil smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di mana produk utama smelter HPAL ini bisa berupa Mixed-Hydroxide Precipitate (MHP) dan Mixed-Sulphide Precipitate (MSP) yang merupakan salah satu komponen untuk baterai.

    Adapun cadangan terbukti bijih nikel limonit di Indonesia yang bisa diolah dengan smelter HPAL ini mencapai 359 juta ton.

    Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), RI diperkirakan akan mendapatkan investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) untuk sederet proyek bahan baku baterai atau smelter HPAL ini.

    Jumlah investasi tersebut berasal dari enam proyek smelter HPAL yang kini tengah dibangun. Diperkirakan, proyek ini membutuhkan bijih nikel hingga sekitar 32 juta ton per tahun.

    Adapun dari proyek smelter HPAL tersebut diperkirakan dapat menghasilkan 1.324 ton scandium, salah satu unsur logam tanah jarang.

    Keberadaan scandium secara geokimia sangat sulit ditemukan dalam jumlah besar, sehingga produksinya sangat terbatas. Menurut Kaya (2019), dikutip dari data Ditjen Minerba Kementerian ESDM, pasokan dunia untuk scandium oksida (Sc2O3) hanya 5-12 ton per tahun dengan harga yang tidak stabil sekitar US$ 2.000-4.500 per kg atau sekitar Rp 29 juta-Rp 65 juta per kg untuk kemurnian 99,9% Sc2O3 ini. Sementara kebutuhan per tahun mencapai 12-14 ton per tahun.

    Smelter HPAL telah diaplikasikan di sejumlah negara seperti Filipina, Madagaskar, Kuba, Australia, Papua Nugini, Turki, hingga Kaledonia Baru (Kaya, 2019).

    Berdasarkan data Tekmira, hampir 90% scandium akan terlarut pada saat proses HPAL ini. Dalam bijih laterit nikel, ada 52 ppm skandium, 18 ppm neodyimium, 60 ppm praseodimium, dan 8 ppm dysprosium.

    Scandium ini bisa dijadikan sebagai bahan baku keramik, laser, pencahayaan, hingga peralatan militer, olahraga, dan dirgantara.

    Namun sayangnya, data saat ini baru berupa potensi keterdapatan, belum terdapat informasi jumlah sumber daya dan cadangan logam tanah jarang, khususnya scandium di Indonesia.

    Oleh karena itu, masih diperlukan kegiatan eksplorasi untuk mengetahui jumlah pasti dari sumber daya dan cadangan scandium dan logam tanah jarang, khususnya dari nikel laterit di Indonesia.

    Berikut daftar 6 proyek smelter nikel HPAL yang tengah dibangun di Indonesia:

    1. PT Kolaka Nickel Industry
    2. PT Huayue Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.
    3. PT QMB Bahodopi, di Morowali, Sulawesi Tengah.
    4. PT Halmahera Persada Lygend (telah beroperasi) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
    5. PT Smelter Nickel Indonesia di Banten.
    6. PT Gebe Industry Nickel

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Tak Cuma Nikel, RI Juga Punya Harta Karun yang Super Langka!

    Tak Cuma Nikel, RI Juga Punya Harta Karun yang Super Langka!

    NIKEL.CO.ID – Cita-cita Indonesia untuk menjadi “Raja Baterai” hingga pemain mobil listrik bukanlah hal mustahil dengan melimpahnya komoditas tambang sebagai sumber bahan bakunya terdapat di dalam bumi negeri ini.

    Tidak hanya sejumlah komoditas tambang andalan seperti nikel, emas, tembaga, batu bara, maupun timah, namun ternyata Indonesia juga memiliki sumber daya tambang yang belum dikembangkan.

    “Harta karun” terpendam ini bernama logam tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Element. Komoditas ini dinamai logam tanah jarang karena didasarkan pada asumsi yang menyatakan bahwa keberadaan logam tanah jarang ini tidak banyak dijumpai. Namun pada kenyataannya, LTJ ini melimpah, melebihi unsur lain dalam kerak bumi.

    Komoditas ini memang belum diproduksi di Indonesia, namun Indonesia juga memiliki sumber “harta karun” terpendam ini.

    Indonesia memang belum memiliki data utuh terkait total sumber daya logam tanah jarang ini karena masih minimnya penelitian dan survei geologi terkait LTJ di Tanah Air. Namun berdasarkan buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2019, sumber daya logam tanah jarang yang berhasil diteliti di beberapa wilayah tercatat mencapai 72.579 ton, berasal dari endapan plaser dan endapan lateritik.

    Endapan plaser ini banyak dijumpai pada lokasi kaya sumber daya timah seperti di Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan selatan Kalimantan Barat.

    Pusat Sumber Daya Geologi-Badan Geologi pada 2014 melakukan kajian untuk mengetahui potensi sumber daya LTJ dalam endapan tailing di wilayah Pulau Bangka dengan menggunakan metoda interpretasi remote sensing. Hasil kajian menunjukkan tebal endapan tailing 4 m s.d. 6 m, luas total endapan tailing 500.000 ha, sehingga diperoleh volume 5.500.000.000 m3. Dengan kadar total LTJ 9,5 gr/m3, maka tonase LTJ mencapai 52.387.500.000 gr atau 52.000 ton.

    Sementara untuk endapan lateritik terdapat di beberapa wilayah seperti Parmonangan, Tapanuli, Sumatera Utara, Ketapang, Kalimantan Barat, Taan, Sulawesi Barat, dan Banggai, Sulawesi Tengah.

    Adapun sumber daya LTJ dari endapan lateritik yang diteliti dari beberapa wilayah tersebut mengandung 20.579 ton.

    Logam tanah jarang merupakan salah satu komoditas mineral yang bisa digunakan untuk banyak peralatan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai bahan baku sumber energi untuk baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika bahkan hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB), lalu bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

    Mengutip buku “Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia” yang diterbitkan Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari kumpulan dari unsur-unsur scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

    Keterdapatan LTJ umumnya dijumpai dalam sebaran dengan jumlah yang tidak besar dan menyebar secara terbatas. Seperti halnya thulium (Tm) dan lutetium (Lu), kedua unsur ini merupakan dua unsur yang terkecil kelimpahannya di dalam kerak bumi tetapi 200 kali lebih banyak dibandingkan kelimpahan emas (Au).

    Meskipun demikian, unsur-unsur tersebut sangat sukar untuk ditambang karena konsentrasinya tidak cukup tinggi untuk ditambang secara ekonomis. Ketujuh belas unsur logam ini mempunyai banyak kemiripan sifat dan sering ditemukan bersama-sama dalam satu endapan secara geologi.

    Sejumlah mineral yang mengandung LTJ seperti monasit, zirkon, dan xenotim, merupakan mineral ikutan dari mineral utama seperti timah, emas, bauksit, dan laterit nikel.

    Tidak hanya itu, ternyata logam tanah jarang juga berpotensi terdapat pada batu bara. Tapi sayangnya, LTJ pada batu bara Indonesia masih sangat terbatas.

    Namun, berdasarkan kondisi geologi dan besarnya potensi batu bara Indonesia, diperkirakan potensi LTJ pada batu bara Indonesia cukup signifikan. Penelitian terbaru dari Anggara dkk. (2018) dilakukan pada batu bara Bangko, Sumatera Selatan dan menunjukkan bahwa batu bara tersebut memiliki kandungan LTJ hingga mencapai 118,4 ppm.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Ketergantungan Dunia pada Nikel Indonesia itu Nyata!

    Ketergantungan Dunia pada Nikel Indonesia itu Nyata!

    NIKEL.CO.ID – Indonesia patut bersyukur karena dilimpahi sejumlah sumber daya energi dan tambang, termasuk nikel. Bahkan, “harta karun” nikel Indonesia merupakan terbesar dibandingkan negara lainnya. Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel).

    Jumlah cadangan tersebut merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

    Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

    Besarnya cadangan nikel di Tanah Air ini menjadi salah satu pemicu banyak pihak luar melirik nikel Indonesia, termasuk untuk berinvestasi di Indonesia.

    Begitu pun dari sisi harga, harga nikel ke depannya dinilai akan sangat bergantung pada Indonesia. Pasalnya, fluktuasi harga akan bergantung pada suplai dan permintaan. Meskipun harga nikel dalam sepekan ini mengalami penurunan, namun rata-rata masih berada di sekitar US$ 19.000 per ton.

    Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, mengatakan permintaan nikel dunia ke depannya diperkirakan meningkat karena adanya transisi ke energi baru terbarukan (EBT) seperti peningkatan permintaan kendaraan listrik dan pembangkit listrik energi baru terbarukan yang membutuhkan bahan baku nikel.

    Sementara dari sisi pasokan, peningkatan produksi nikel dunia hanya terjadi di Indonesia. Sedangkan pasokan dari luar Indonesia mengalami tren penurunan.

    Oleh karena itu, tak ayal bila pasokan nikel dunia mengandalkan pasokan dari Indonesia.

    “Ada banyak forecast terkait harga, saya rasa nggak akan naik terlalu jauh dari saat ini karena masih bergantung supply dan demand. Yang jelas demand pasti akan meningkat jauh karena ada mobil listrik dan sebagainya, tapi tampaknya suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Suplai bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/08/2021).

    “Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” ujarnya.

    Dia menjelaskan, dunia kini bergantung pada pasokan nikel Indonesia karena sejumlah proyek smelter nikel yang tengah dibangun, terutama menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang telah diumumkan, terdapat di Indonesia.

    Adapun produk dari smelter HPAL ini bisa berupa Mix Sulphide Precipitate (MSP) maupun Mix Hydroxide Precipitate (MHP) yang kemudian bisa diolah menjadi nickel suplhate yang bisa menjadi komponen baterai lithium.

    Dia mengatakan, pada semester I 2021, pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

    Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020.

    Ini menunjukkan pasokan nikel dunia hanya meningkat dari Indonesia, sehingga tak ayal bila pasokan nikel dunia bergantung pada Indonesia.

    “Luar biasa memang. Total produksi nikel meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

    Dia mengatakan, peningkatan pasokan nikel ini terutama dari smelter di sejumlah kawasan industri nikel seperti di Morowali, Sulawesi Tengah ada PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), lalu Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara ada PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara ada Harita Group, serta di Konawe, Sulawesi Tenggara terdapat PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).

    Kualitas dan Ongkos Produksi Nikel Indonesia Lebih Murah

    Steven mengatakan, banyak pihak luar berminat untuk memperoleh maupun berinvestasi untuk proyek nikel di Indonesia karena selain besarnya cadangan bijih nikel di Indonesia, kualitas dan ongkos produksi nikel di Tanah Air jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri.

    Sementara di luar negeri, produksi bijih nikel kini lebih sulit karena perlu menggali lebih dalam, jumlahnya tak sebanyak di Indonesia, dan ongkosnya lebih mahal.

    “Karena ore lebih accessible dan lebih bagus dan lebih baik daripada negara lain, sementara di negara yang gak ada bijih sulfida, itu sudah sulit untuk dicari, jadi semakin dalam, makin deep galinya, karena dia underground kalau sulfida, jadi makin mahal untuk mengembangkan bijih sulfida,” paparnya.

    “Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dan keekonomian membangun di Indonesia jauh lebih bagus, lebih murah, dan lebih cepat membangunnya,” ujarnya.

    Dia menyebut, tren investasi di industri nikel Indonesia terus meningkat sejak 2014 lalu ketika ada kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel. Dengan kondisi saat ini, menurutnya investasi di sektor industri nikel di Tanah Air akan tetap maju, atau setidaknya tidak akan melambat.

    “Ya trennya tidak akan melambat lah. Jadi sejak 2014 investasi jalan terus dan tampaknya masih akan terus seperti itu,” imbuhnya.

    Harga Nikel Masuk Super Siklus?

    Menurutnya, apakah nikel kini mendekati masuk ke era super siklus masih diperdebatkan banyak pihak, karena ada yang menganggap ini akan masuk era super siklus, tapi ada juga yang mengatakan masih jauh dari super siklus.

    Pasalnya, harga nikel dunia tertinggi sempat menyentuh US$ 50 ribu per ton, sementara kini baru hampir mendekati US$ 20 ribu per ton.

    Super siklus nikel sebelumnya dipicu karena perkembangan industri di China, namun kini lebih didorong pada transisi energi ke energi baru terbarukan, seperti peningkatan penggunaan kendaraan listrik, pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Transisi energi ini akan memakan banyak nikel, sehingga permintaan nikel ke depan pasti akan terus meningkat.

    “So far suplai nikel masih bisa seimbang dengan permintaan walaupun ke depannya ada dua kelompok, ada yang merasa demand melebihi suplai di masa mendatang, ada yang lain yang merasa supply dan demand tetap seimbang, jadi masih debatable apakah sudah mau supercycle atau tidak,” tuturnya.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Dunia Memang Mengincar Nikel Indonesia

    Dunia Memang Mengincar Nikel Indonesia

    NIKEL.CO.ID – Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Pada 2020, cadangan nikel Indonesia disebut mencapai 72 ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

    Data tersebut berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” yang merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

    Besarnya cadangan nikel di Tanah Air ini menjadi salah satu pemicu banyak pihak luar melirik nikel Indonesia. Namun bukan karena besarnya cadangan, ada faktor lain yang juga membuat perusahaan asing mengincar nikel Indonesia, baik mengincar dalam arti membeli atau bahkan berinvestasi di Indonesia.

    Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, mengatakan banyak pihak di luar negeri mengincar nikel di Indonesia karena selain besarnya cadangan bijih nikel di Indonesia, kualitas dan ongkos produksi nikel di Tanah Air jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri.

    Sementara di luar negeri, produksi bijih nikel kini lebih sulit karena perlu menggali lebih dalam, jumlahnya tak sebanyak di Indonesia, sehingga ongkosnya lebih mahal.

    “..Suplai juga seimbang kalau dilihat terutama dari perkembangan di Indonesia. Suplai bisa keep up dengan demand. Tapi itu semua tergantung dari Indonesia. Jadi di luar Indonesia sama sekali gak keep up dengan demand. Jadi ini semua sangat bergantung pada satu negara (Indonesia),” tuturnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (19/08/2021).

    Apalagi, lanjutnya, sejauh ini beberapa proyek smelter nikel yang diumumkan, termasuk smelter nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), tengah dibangun di Indonesia dan keekonomiannya jauh lebih baik dibandingkan di luar negeri.

    Adapun produk dari smelter HPAL ini bisa berupa Mix Sulphide Precipitate (MSP) maupun Mix Hydroxide Precipitate (MHP) yang kemudian bisa diolah menjadi nickel sulphate yang bisa menjadi komponen baterai lithium.

     

    “Karena ore lebih accessible dan lebih bagus dan lebih baik daripada negara lain, sementara di negara yang gak ada bijih sulfida, itu sudah sulit untuk dicari, jadi semakin dalam, makin deep galinya, karena dia underground kalau sulfida, jadi makin mahal untuk mengembangkan bijih sulfida,” paparnya.

    “Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar dan keekonomian membangun di Indonesia jauh lebih bagus, lebih murah, dan lebih cepat membangunnya,” ujarnya.

    Dia mengatakan, pada semester I 2021, pasokan nikel hanya bertumbuh di Indonesia, yakni meningkat 320 ribu ton atau naik 140% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama 2020. Jumlah tersebut belum termasuk dari produksi nikel PT Vale Indonesia.

    Sementara di luar Indonesia secara global, pasokan nikel justru menurun 265 ribu ton atau turun 26% dibandingkan periode semester I 2020.

    “Luar biasa memang. Total produksi meningkat hanya karena Indonesia,” ujarnya.

    Dia menyebut, tren investasi di industri nikel Indonesia terus meningkat sejak 2014 lalu ketika ada kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel. Dengan kondisi saat ini, menurutnya investasi di sektor industri nikel di Tanah Air akan tetap maju, atau setidaknya tidak akan melambat.

    “Ya trennya tidak akan melambat lah. Jadi sejak 2014 investasi jalan terus dan tampaknya masih akan terus seperti itu,” imbuhnya.

    Sumber: CNBC Indonesia

  • Nikel dan Baterai Listrik: Analisis di Balik Batalnya Investasi Jumbo Tesla dan Tsingshan

    NIKEL.CO.ID – Indonesia disebut sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, yakni mencapai 21 juta ton. Angka ini mengungguli Australia yang diperkirakan memiliki cadangan nikel sebesar 19 juta ton, Brasil 11 juta ton, dan Rusia 7,6 juta ton.

    Dengan adanya potensi tersebut, pemerintah berupaya memaksimalkan penggunaan nikel lewat pengembangan electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik. Targetnya, produksi EV pada 2030 dapat mencapai 600.000 unit untuk roda empat atau lebih, sedangkan roda dua 2,45 juta unit.

    Tujuan pengembangan EV ini diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat atau lebih, dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua.

    Selama ini, pertumbuhan rata-rata penggunaan nikel untuk baterai dapat dikatakan cukup cepat, yakni 20%-30% selama lima tahun terakhir. Penggunaan nikel untuk bahan baku baterai juga diperkirakan naik lima kali lipat menjadi 1,7 juta ton pada 2030. Seperti diketahui, pada tahun lalu penggunaan nikel untuk produk ini baru sebesar 0,2 juta ton.

    Genjot Potensi, Manfaatkan Peluang

    Maka, tak heran jika pemerintah terus berupaya menjalankan strategi agar dapat mendatangkan investasi di sektor ini. Beberapa waktu lalu, negosiasi dengan sejumlah perusahaan telah dilakukan, seperti Tesla Inc dan Tsingshan Steel.

    Semula, kerja sama yang akan dijalin dengan Tesla berkaitan dengan battery energy storage system (BESS). Teknologi ini merupakan penyimpanan sumber energi skala besar dengan kapasitas puluhan hingga ratusan mega watt.

    BESS juga dapat digunakan sebagai stabilisator dan berguna untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik masyarakat. Rencananya, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat tersebut akan mengambil bahan baku nikel sekaligus membangun bisnisnya di Indonesia.

    Sementara itu, proyek bersama perusahaan asal China, Tsingshan pada awalnya bakal dijalin dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Keduanya ingin membangun smelter copper di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

    Tak main-main, investasi yang diprediksi saat itu mencapai US$2,5 miliar setara Rp36 triliun. Dalam pembiayaannya, 92,5% akan diambil oleh Tsingshan, sedangkan Freeport hanya mendanai sebesar 7,5%.

    Kesepakatan Gagal Tercapai, Investor Putar Haluan

    Namun, perundingan kerja sama antara keduanya terpaksa menghasilkan pil pahit. Pasalnya, baik Tesla maupun Tsingshan memilih untuk membatalkan rencana investasi.

    Dalam perundingan, Tesla disebut lebih menginginkan potensi energy storage system (ESS), salah satu proyek rantai pasok ekosistem industri baterai di Indonesia. Dengan kata lain, arahnya lebih kepada pengganti pembangkit listrik.

    Bahkan, diketahui belum lama ini Tesla telah meneken kerja sama dengan perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia. Elon musk sebagai pemilik Tesla, memutuskan untuk membeli nikel di perusahaan tersebut sebagai bahan baku mobil listriknya. Keduanya juga akan berkolaborasi dalam pengembangan energy storage yang ramah lingkungan.

    Sementara itu, batalnya rencana investasi dengan Tsingshan disebut oleh Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama, hanya karena kedua belah pihak tidak menemukan kesepakatan

    “Freeport Indonesia dan Tsingshan Steel tidak mencapai kesepakatan,” mengutip Reuters, beberapa waktu lalu.

    Freeport, ungkapnya, lebih memilih opsi untuk membangun smelter tembaga di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) Gresik, Jawa Timur. Menurutnya, fasilitas listrik dan pengolahan limbah di lokasi tersebut lebih baik ketimbang di Weda Bay.

    Kesiapan Industri Hulu Hingga Hilir

    Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengakui, Indonesia memang dilirik sebagai pemegang penting peranan sumber bahan baku baterai.

    Pasalnya, kesediaan nikel di Indonesia cukup melimpah. Namun, soal kesiapan industrinya, ia bilang hal ini berhubungan dengan banyak hal, seperti bagaimana dukungan pemerintah, penataan unsur bahan baku, serta spesifikasi nikel, mangan, kobalt untuk kebutuhan baterai itu sendiri.

    “Bahan baku siap, tapi ekosistemnya yang betul-betul harus diatur dulu,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa, 3 Agustus 2021.

    Ia menyebutkan, terdapat 96 badan usaha industri hilir nikel yang nanti akan terbangun pada 2024 atau 2025. Artinya, dari 96 usaha yang sudah terdata itu, ada kebutuhan kurang lebih 250 juta ton bijih nikel di Indonesia.

    Selain itu, Meidy mengungkapkan perlunya menciptakan good meaning practice di industri hulu.

    “Apapun itu, hilir tidak akan berjalan tanpa ada bahan baku dari hulu. Artinya, supply chain stabil atau tidak, baik secara kuantitas maupun kualitas,” tambahnya.

    Selama ini, kata dia, masih banyak spesifikasi nikel yang tidak sesuai dengan kondisi tambang yang ada. Rasio silikon magnesium pada nikel yang tidak sesuai, akhirnya membuat pengiriman ke smelter terpaksa di-reject.

    Ekosistem Belum Berjalan

    Maka, dibutuhkan pengelolaan dan manajerial yang tepat dan cepat, termasuk sinergi pelayanan publik dari kementerian terkait.

    “Kondisi ini yang betul-betul harus kita cermati, ekosistemnya sudah berjalan atau belum? kenapa Tesla atau negara-negara penghasil baterai, baik di Eropa maupun Amerika malah berpindah haluan?” ujarnya.

    Menurutnya, kondisi nikel di Indonesia pun tak kalah kualitasnya. Namun, tak dimungkiri bahwa investor seperti Tesla bukan hanya melihat kondisi dan bahan bakunya saja, melainkan juga mempertimbangkan kondisi lingkungan.

    Medy bilang, secara tidak langsung penambangan di Indonesia memang masih ada yang belum memperhatikan kondisi dan penataan lingkungan. Bagaimana penambangan baik yang tidak menghancurkan lingkungan.

    “Di industri hilir masih banyak area pencemaran lingkungan, seperti pada penggunaan bahan baku batu bara sehingga emisi karbon cukup tinggi,” ujarnya.

    Jadi, apakah fasilitas pengolahan nikel di Indonesia itu sudah menggunakan energi bersih? Hal ini mesti dicermati. Meidy mengatakan, mayoritas smelter yang beroperasi pun belum menggunakan renewable energi. Upaya ke depan agar produksi nikel ini lebih bermanfaat dari sisi lingkungan, perlu dikembangkan renewable energi, seperti hidroenergi atau geothermal.

    Komitmen Kelola Lingkungan

    Hal ini juga senada dengan apa yang diungkapkan oleh Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM periode 2016-2019. Ia sempat menganalisis sejumlah faktor mengapa Tesla lebih memilih nikel dari perusahaan tambang BHP yang berpusat di Australia.

    Menurutnya, pertama adalah tekanan dari pemegang saham agar Tesla berpartisipasi mengurangi dampak dari perubahaan iklim.

    “BHP selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Perusahaan ini juga berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil,” ujarnya dalam sebuah acara daring pekan lalu.

    Oleh karena itu, komitmen yang kuat dalam mengelola tambang telah dibuktikan oleh BHP melalui penggunaan energi terbarukan.

    Faktor kedua adalah kesamaan visi antara Tesla dengan BHP. Tak asing lagi, keduanya ingin mengatasi masalah lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi pada energi bersih. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. Pandangan jauh ke depan itulah yang akan menguatkan posisi mereka di mata investor.

    Kemudian faktor ketiga, kerja sama ini dianggap mampu menaikkan nilai saham kedua perusahaan.

    “Dapat dibayangkan bagaimana reaksi investor apabila Tesla bekerja sama dengan penambang nikel yang tidak ramah lingkungan,” tambahnya.

    Kendati Tesla bisa mendapatkan harga nikel yang lebih murah, tapi kalau nilai sahamnya turun maka menjadi kerugian yang besar pula.

    Begitu pula sebaliknya, apa yang terjadi apabila BHP menjual nikel kepada perusahaan yang tidak peduli dengan lingkungan? Nilai saham BHP bisa turun. Fakta inilah yang disebut Arcandra sebagai fenomena ke depan yang harus dihadapi perusahaan dunia berstatus go public. Mereka harus peduli dengan lingkungan apabila tidak ingin ditinggal investor.

    Terakhir, adanya usaha yang sungguh-sungguh dari pemerintah Australia untuk membantu perusahaan-perusahan tambang dalam mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Pemerintah setempat dinilai hadir lewat insentif fiskal yang bisa meringankan beban perusahaan.

    Sejumlah Tantangan

    Meskipun demikian, komitmen saja rupanya tak cukup. Upaya pengembangan EV tak luput dari sejumlah tantangan. Arcandra menyebut, EV memiliki harga lebih mahal. Selain itu, ia juga memiliki jarak tempuh yang terbatas.

    “Seseorang bisa menjadi ragu menggunakan mobil listrik,” ujarnya.

    Kemudian, kuantitas charging station atau Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dibutuhkan juga harus tersedia. Baterai EV pun harus diganti setiap beberapa tahun. Dibutuhkan 6000-7000 cycle untuk bisa diganti.

    Terakhir, waktu pengisian dan costnya lebih lama dibandingkan dengan kendaraan umum lainnya. Seperti diketahui, pengisian daya (cas baterai) mobil listrik atau sepeda motor battery electric vehicle (BEV) juga dikenai tarif biaya di SPKLU.

    Sumber: trenasia.com

  • Ambisi Indonesia di Investasi Mobil Listrik

    Ambisi Indonesia di Investasi Mobil Listrik

    Oleh: SS Kurniawan *)

    NIKEL.CO.ID – Pemerintah berambisi menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik berbasis baterai. Indonesia memang punya modal besar untuk itu: pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara dan produsen nikel paling besar di dunia.

    Negara kita memiliki 24% cadangan nikel, bahan baku baterai kendaraan listrik, di dunia.Karena itu, pemerintah gencar menciptakan ekosistem industri kendaraan listrik berbasis baterai.

    Pekan lalu, Konsorsium Hyundai-LG dan Indonesia Battery Corporation (IBC) menandatangani memorandum of understanding (MoU). Lewat kerjasama ini, mereka akan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat, dengan investasi US$ 1,1 miliar, sekitar Rp 15,9 triliun.

    Proyek itu jadi salah satu langkah pemerintah untuk mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, dari hulu sampai hilir. Sekaligus, menjadi momentum dalam pembentukan industri baterai dan kendaraan listrik.

    Dan, pembangunan pabrik di Karawang merupakan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia dari Konsorsium Hyundai-LG dan IBC senilai total US$ 9,8 miliar.

    Targetnya, fasilitas produksi di Karawang tersebut bisa segera groundbreaking pada tahun ini. Pabrik itu rencananya memiliki kapasitas produksi sebesar 10 gigawatt hour (GwH), yang kelak akan memasok baterai untuk kendaraan listrik buatan Hyundai.

    Hyundai juga akan membangun pabrik mobil listrik mulai 2022 di Cikarang. Pabrikan asal Korea Selatan itu juga akan membuat mobil listrik sesuai kebutuhan pasar Indonesia. Dan bukan cuma Hyundai, rencananya Toyota, Mitsubishi, dan Honda juga mendirikan pabrik mobil listrik di Indonesia.

    Pemerintah memang tidak main-main menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Bahkan, pemerintah menargetkan produksi kendaraan listrik berbasis baterai roda 4 atau lebih hingga 600.000 unit per tahun dan roda 2 mencapai 2,45 juta unit per tahun pada 2030 nanti.

    Dan pemerintah sadar, untuk mendorong populasi kendaraan listrik, maka harganya harus terjangkau. Itu sebabnya, pemerintah menyiapkan berbagai insentif bagi konsumen.

    Mulai pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), pajak daerah paling tinggi 10%, hingga uang muka kredit minimum 0% dan bunga ringan.

    Karena pasar yang potensial juga menjadi insentif buat investor.

    *) SS Kurniawan adalah Redaktur Pelaksana Kontan

    Sumber: kontan.co.id

  • Kemenko Marves Ungkap Alasan Tesla Pilih Nikel Australia Daripada RI

    Kemenko Marves Ungkap Alasan Tesla Pilih Nikel Australia Daripada RI

    NIKEL.CO.ID – Di tengah rencana investasi di Indonesia yang masih menggantung, produsen mobil listrik Tesla justru meneken kerja sama dengan perusahaan tambang asal Australia, BHP. Dengan kerja sama ini, BHP akan memasok kebutuhan nikel untuk Tesla, untuk memproduksi baterai mobil listrik.

    Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi mengatakan bahwa penjajakan yang dilakukan BHP dengan Tesla bisa dikatakan selangkah lebih maju dibanding Indonesia. Pasalnya, kedua pihak telah mulai bernegosiasi sejak Oktober tahun lalu.

    “Australia (BHP) negosiasi sudah mulai dari Oktober, baru close Juli. Kita baru memulai pembicaraan bulan Maret,” kata Jodi kepada Katadata.co.id, Senin (2/8/2021).

    Meski begitu, Jodi enggan membeberkan lebih jauh mengenai kepastian dari kelanjutan investasi Tesla di Indonesia. Pasalnya Indonesia terikat dengan non-disclosure agreement (NDA) alias perjanjian larangan pengungkapan informasi.

    “Saya tidak bisa bicara soal ini. Ada NDA yang harus kita hormati,” ujarnya.

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan beberapa waktu lalu juga pernah buka suara soal Tesla yang akhirnya memilih India sebagai tujuan investasi untuk pabrik mobil listrik. Hal ini merespons isu yang menyebut perusahaan asal Amerika Serikat itu tak tertarik berinvestasi di Indonesia.

    Padahal, menurut dia, pemerintah dan Tesla tak pernah membicarakan investasi semacam itu.

    “Kami nggak pernah bicara soal pabrik mobil,” ujar Luhut.

    Ia menyebut Tesla memiliki enam sektor usaha yang berpotensi digarap di Tanah Air. Keenam sektor itu adalah mobil listrik, Starlink (satelit akses internet), launching pad (landasan peluncuran satelit), hypersonic flight (pesawat hipersonik), baterai lithium-ion, dan penstabil energi.

    Keinginan produsen mobil listrik itu berinvestasi di Indonesia karena cadangan nikel yang besar. Dalam laporan tim EV Battery BUMN, kekayaan alam Indonesia mengandung 21 juta ton cadangan nikel. Angka tersebut sekaligus menjadi yang terbesar di kancah internasional. Indonesia juga mempunyai sejumlah material baterai lainnya, seperti aluminium, tembaga, dan mangan.

    Namun Luhut tak bisa menjelaskan lebih detail pembicaraan pemerintah dengan Tesla. Sebab, Indonesia telah meneken NDA. “Tapi sampai hari ini kami masih bicara. Jadi, tidak ada sebenarnya soal orang ribut mobil Tesla di India,” kata dia pertengahan Juni.

    Seperti diketahui, perusahaan tambang nikel asal Australia yakni BHP beberapa hari lalu mengumumkan telah menandatangani kesepakatan perjanjian kerja sama dengan Tesla. Terutama untuk memasok nikel guna kebutuhan baterai kendaraan listrik.

    Chief Commercial Officer BHP, Vandita Pant mengatakan permintaan nikel dalam baterai diproyeksi akan tumbuh lebih dari 500%. Adapun sebagian besar kebutuhannya untuk mendukung permintaan dunia akan hadirnya kendaraan listrik.

    “Kami senang menandatangani perjanjian ini dengan Tesla, dan untuk berkolaborasi dengan mereka tentang cara membuat rantai pasokan baterai lebih berkelanjutan,” kata dia melalui keterangan resmi perusahaan, Kamis (22/7/2021).

    BHP juga akan bekerja sama dengan Tesla untuk masuk ke industri sistem penyimpanan energi (EES). Hal ini guna mengidentifikasi peluang dalam menurunkan emisi karbon, melalui peningkatan penggunaan energi terbarukan. Presiden BHP Minerals Australia, Edgar Basto mengklaim BHP merupakan salah satu produsen nikel dengan intensitas karbon terendah di dunia. Menurut dia produksi nikel berkualitas yang berkelanjutan dan andal akan sangat penting untuk memenuhi permintaan dari raksasa mobil listrik seperti Tesla.

    “Investasi yang kami lakukan dalam aset kami dan pengejaran komoditas seperti nikel akan membantu mendukung dekarbonisasi global dan memposisikan kami untuk menghasilkan nilai jangka panjang bagi bisnis kami,” ujarnya.

    ____

    Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Kemenko Marves Ungkap Alasan Tesla Pilih Nikel Australia Daripada RI”

    Penulis: Verda Nano Setiawan

    Editor: Happy Fajrian

  • Ini Daftar Daerah di RI Penyimpan Harta Karun Nikel Terbesar

    Ini Daftar Daerah di RI Penyimpan Harta Karun Nikel Terbesar

    NIKEL.CO.ID – Indonesia ternyata pemilik harta karun nikel terbesar di dunia. Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel) atau setara 52% dari total cadangan nikel dunia yang tercatat mencapai 139.419.000 ton Ni.

    Data tersebut merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019, dikutip dari booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia” 2020 yang dirilis Kementerian ESDM.

    “Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, artinya Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia,” tulis keterangan data tersebut.

    Lantas, daerah mana saja yang menyimpan harta karun nikel terbesar di Tanah Air? Berikut daftarnya, mengutip sumber yang sama dari data Kementerian ESDM 2020 tersebut.

    1. Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara

    Sebesar 77% wilayah di daerah ini berpotensi pembawa mineralisasi dan belum ada Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

    Adapun cadangan bijih nikel di Sulawesi ini mencapai 2,6 miliar ton bijih.

    Banyaknya sumber daya nikel di daerah ini tak ayal banyak Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterbitkan. Hingga September 2020 tercatat IUP nikel di Sulawesi Tenggara mencapai 154 IUP dan 1 pemegang Kontrak Karya (KK), lalu 85 IUP di Sulawesi Tengah, dan 3 IUP di Sulawesi Selatan.

    Ada tiga kawasan industri nikel di Sulawesi yakni:
    1. Kawasan Industri Morowali
    2. Kawasan Industri Konawe
    3. Kawasan Industri Bantaeng.

    2. Maluku, baik Maluku maupun Maluku Utara

    Terdapat 43% wilayah potensi pembawa mineralisasi dan belum ada WIUP. Diperkirakan memiliki cadangan bijih nikel hingga 1,4 miliar ton bijih.

    Maluku Utara menjadi daerah paling banyak pemegang IUP nikel di kawasan Maluku ini yaitu 44 IUP dan 1 KK, sementara Maluku hanya terdapat 2 IUP nikel.

    Di Maluku Utara terdapat satu kawasan industri khusus nikel yakni di Weda Bay, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

    3. Papua, termasuk Papua dan Papua Barat

    Terdapat 98% wilayah potensi pembawa mineralisasi dan belum ada WIUP. Papua diperkirakan memiliki cadangan bijih nikel mencapai 0,06 miliar ton bijih.

    Ada tiga IUP dan 1 KK di Papua Barat, dan 1 IUP dan 1 KK di Papua. Namun tidak ada kawasan industri khusus nikel di Papua maupun Papua Barat.

    Sumber: CNBC Indonesia