Beranda Berita Nasional Investasi Hilirisasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010 Triliun

Investasi Hilirisasi Semester I 2026 Tembus Rp1.010 Triliun

58
0
Dok. Sekretariat Presiden RI, foto: Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, melaporkan realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.

Capaian tersebut disampaikan Rosan saat melaporkan perkembangan investasi dan hilirisasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam agenda Peresmian dan Peletakan Batu Pertama Proyek-proyek Industri di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

“Dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat, Bapak. Dalam dua tahun terakhir ini, yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 30 persen dari total investasi yang masuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lebih dari 75 persen realisasi investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan industri berbasis pengolahan sumber daya alam turut mendorong pemerataan investasi dan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Menurutnya, Maluku Utara menjadi salah satu contoh transformasi ekonomi melalui hilirisasi. Provinsi tersebut tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah pertambangan, tetapi juga berkembang menjadi pusat industri pengolahan, khususnya berbasis nikel.

Ia menyebutkan, industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh produk domestik bruto (PDB) Maluku Utara. Selain itu, surplus perdagangan provinsi tersebut dilaporkan mencapai Rp31,1 triliun pada 2025, dengan ekspor didominasi produk olahan nikel, seperti feronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt.

Rosan menilai pengembangan industri pengolahan menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

“Keberadaan kawasan industri ini akan menjadikan kita bagian dari rantai pasok global baterai kendaraan listrik,” katanya.

Ia menegaskan, hilirisasi merupakan tahapan menuju industrialisasi yang mampu menciptakan kegiatan ekonomi bernilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan memberikan dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional maupun daerah. Pemerintah, lanjut Rosan, akan terus mendorong investasi hilirisasi agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri, tetapi juga masyarakat di sekitar kawasan industri. (Shiddiq)