

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia dan Swiss secara resmi memperkuat kemitraan strategis di sektor mineral dan logam melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) tentang enhanced cooperation in the minerals and metals sector. Kesepahaman tersebut menjadi langkah lanjutan untuk mendorong investasi hilirisasi, pengembangan teknologi, serta penguatan rantai pasok mineral yang berkelanjutan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan, penandatangan MOU itu menjadi tonggak penting dalam mempererat hubungan kedua negara, khususnya untuk mempercepat pengembangan investasi hilirisasi mineral dan logam yang berkelanjutan.
“Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi. Dalam upaya tersebut, Swis merupakan mitra yang ideal dengan keunggulannya di bidang teknologi, inovasi, keberlanjutan, pembiayaan, logistik, dan akses pasar global,” kata Rosan, dalam keterangannya, dikutip Jumat (17/7/2026).

Kerja sama kedua negara ini ditegaskan untuk membangun ekosistem industri mineral dan logam serta tidak hanya memperkuat daya saing global juga untuk membangun ekonomi yang inklusif dan membuka peluang investasi baru bagi kedua negara
“Keberhasilan kerja sama ini tidak akan diukur dari dokumen yang kita tanda tangani hari ini, melainkan dari proyek-proyek yang kita wujudkan di masa depan. Kami ingin melihat lebih banyak investasi, kemitraan teknologi, pertukaran keahlian, dan peluang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Indonesia terbuka, Indonesia berkomitmen pada reformasi, dan Indonesia siap menjadi mitra jangka panjang,” jelasnya.
Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyebutkan, penandatanganan MOU ini untuk memperkuat kolaborasi dan saling melengkapi untuk kedua negara dalam sektor mineral dan logam.

“Nota kesepahaman ini memanfaatkan keunggulan yang saling melengkapi antara kedua negara, dengan menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, keahlian, dan modal dari Swis di sepanjang rantai nilai, mulai dari investasi dan inovasi hingga praktik pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kami berharap kerja sama ini akan semakin mempererat kemitraan ekonomi kedua negara sekaligus menciptakan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di Indonesia maupun Swis,” pungkasnya.
Penandatanganan MOU di Indonesia dilakukan di Jakarta, Kamis (16/7). MOU tersebut melengkapi proses penandatanganan yang sebelumnya telah dilakukan Presiden Konfederasi Swis sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, pada 23 Juni 2026 di Basel, Swiss, bertepatan dengan penyelenggaraan Swissmem Industry Day 2026.
Indonesia dikatakan memiliki cadangan mineral yang besar, namun fokus pemerintah tidak lagi sebatas mengekspor bahan mentah, melainkan meningkatkan nilai tambah melalui pembangunan industri pengolahan di dalam negeri.

MOU tersebut merupakan tindak lanjut dari Expression of Interest yang ditandatangani pada 30 September 2025. Kerja sama mencakup promosi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam yang berkelanjutan, pertukaran teknologi dan pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, penerapan prinsip environment, social, and governance (ESG), pengembangan teknologi bersih (cleantech), peningkatan tata kelola industri hilir, hingga penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pelatihan, pameran, dan business matching.
Kesepakatan itu juga mendukung agenda transformasi ekonomi Indonesia melalui hilirisasi sumber daya alam, termasuk pengembangan industri pengolahan mineral berteknologi tinggi, ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Swiss terus menunjukkan perkembangan positif. Selama periode 2021 hingga triwulan I 2026, realisasi investasi Swiss di Indonesia mencapai sekitar US$1,33 miliar. Investasi tersebut terutama mengalir ke sektor industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta industri kimia dan farmasi.
Selain itu, implementasi Indonesia–European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) dinilai semakin memperkuat hubungan ekonomi kedua negara dengan memberikan kepastian dan kemudahan bagi pelaku usaha. (Fu Yun)










































