
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Produsen nikel terbesar dunia, Tsingshan Holding Group, terus memperkuat penerapan standar environmental, social, and governance (ESG) di seluruh rantai pasok nikel yang dimilikinya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi tuntutan pelanggan global sekaligus menjawab berbagai regulasi internasional yang semakin ketat terhadap industri mineral kritis.
Hal itu disampaikan Head of ESG Office in Tsingshan Board, Tsingshan Holding Group, Yumo Li, dalam sesi Nickel & Cobalt Forum bertema “Meet the Future of ESG: Standards, Challenges and Opportunities in Mining and Processing” pada ajang Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Pullman Central Park, Jakarta, Jumat (6/6/2026).
Li mengatakan, Tsingshan saat ini telah membangun rantai industri energi baru yang terintegrasi, mulai dari pertambangan, produksi bahan baku baterai, manufaktur baterai, hingga kendaraan listrik (alectric vehicle/EV). Posisi tersebut membuat perusahaan harus memenuhi berbagai tuntutan keberlanjutan dari pelanggan hilir di pasar global.
“Kami menerima banyak tuntutan dan persyaratan dari pelanggan hilir untuk memenuhi berbagai regulasi terkait tanggung jawab sosial dan keberlanjutan,” ujarnya pada event yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metal Market (SMM) itu.
Untuk menjawab tuntutan tersebut, Tsingshan mengadopsi berbagai standar internasional dalam operasionalnya, mulai dari kegiatan pertambangan, peleburan (smelting), pemurnian (refining), hingga produk akhir.
Tsingshan, katanya menambahkan, menjadi perusahaan pertambangan pertama di Indonesia yang melakukan OMA Self-Assessment. Selain itu, perusahaan ini juga menjadi smelter pertama yang memperoleh sertifikasi Responsible Minerals Initiative Process (RMIP) dan RMI ESG.
Pada sektor pemurnian, Tsingshan juga tercatat sebagai refinery pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi berdasarkan standar Responsible Critical Mineral Initiative (RCMI) dan China Chamber of Commerce of Metals, Minerals and Chemical (CCCMC).

Tidak hanya menerapkan standar ESG di internal perusahaan, Tsingshan juga mewajibkan dan mendorong seluruh tenant yang beroperasi di kawasan industrinya untuk memiliki sertifikasi tiga standar ISO (ISO Triple Certification) serta memenuhi standar Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Indonesia.
“Upaya ini telah mendapatkan pengakuan dari para pelanggan hilir kami,” tuturnya seraya menambahkan bahwa tahun lalu Tsingshan menerima surat apresiasi bersama dari anggota Responsible Minerals Initiative (RMI), termasuk Tesla, Volkswagen, BMW, dan VinFast.
Selain itu, perusahaan juga terpilih sebagai anggota dewan RCI serta memperoleh sertifikasi dari CCCMC sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan rantai pasok nikel yang berkelanjutan. Ke depan, Tsingshan berencana memperluas penerapan audit ESG internasional kepada lebih banyak perusahaan pertambangan, smelter, dan refinery dalam rantai pasok nikel.
Langkah tersebut ditujukan untuk membantu pelanggan memenuhi berbagai regulasi global yang terus berkembang, seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD), Corporate Sustainability Due Diligence Directive (CSDDD), dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). (Li Han)





































