Beranda Berita International Pemanfaatan Nikel Masih Didominasi Baja Nirkarat, Bukan Baterai EV

Pemanfaatan Nikel Masih Didominasi Baja Nirkarat, Bukan Baterai EV

129
0
Presiden Nickel Institute, Veronique Steukers (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Presiden Nickel Institute, Veronique Steukers, mengungkapkan, mayoritas nikel dunia hingga saat ini masih digunakan untuk industri baja nirkarat (stainless steel), bukan untuk baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sebagaimana yang banyak dipersepsikan publik.

Hal tersebut disampaikan Steukers saat memaparkan materi pada hari ketiga Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026 yang berlangsung di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Jumat (5/6/2026).

Dalam paparannya di konferensi yang diselenggarakan Shanghai Metals Market (SMM) bekerja sama dengan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) itu, Steukers menjelaskan, berdasarkan data Nickel Institute tahun 2024, sebagian besar nikel global digunakan untuk produksi baja nirkarat.

“Sebanyak 66% nikel digunakan dalam stainless steel. Saat ini sekitar 16% digunakan dalam baterai dan sisanya digunakan untuk berbagai aplikasi lain, seperti baja khusus, industri pengecatan, katalis, hingga sektor transportasi,” ungkapnya. 

Menurut dia, selama ini pembahasan mengenai nikel lebih banyak berfokus pada isu pertambangan, produksi, dan aspek lingkungan, sosial, serta tata kelola (ESG). Namun, informasi mengenai ke mana nikel digunakan setelah diproduksi masih belum banyak diketahui.

“Saya akan berbicara mengenai aliran nikel di seluruh dunia, tentang ke mana nikel berakhir digunakan. Kami tidak membahas proyeksi, permintaan, pasokan, maupun harga,” ujarnya.

Sektor transportasi menjadi salah satu pengguna utama nikel, tetapi tidak hanya melalui baterai kendaraan listrik. Nikel juga digunakan dalam berbagai komponen transportasi, seperti baja nirkarat, logam khusus, serta pelapis atau cat. Selain itu, nikel juga banyak digunakan dalam produk konsumen, industri pengolahan, dan berbagai aplikasi manufaktur lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyoroti pesatnya pertumbuhan produksi nikel Indonesia dalam satu dekade terakhir. Produksi tambang nikel global tumbuh rata-rata 8% dalam 10 tahun terakhir, sedangkan Indonesia mencatat pertumbuhan jauh lebih tinggi.

“Untuk Indonesia, pertumbuhannya sekitar 36%, sementara rata-rata dunia sekitar 8%,” singkapnya.

Indonesia, katanya lebih lanjut, kini menjadi negara produsen nikel terbesar dunia dan memainkan peran dominan dalam rantai pasok global. Salah satu produk utama yang dihasilkan Indonesia adalah nickel pig iron (NPI).

“NPI sangat dominan karena penggunaan terbesar nikel untuk baja nirkarat. Aliran terbesar dari Indonesia menuju China adalah NPI yang kemudian dikonversi menjadi baja nirkarat,” katanya menjelaskan.

Namun, produk nikel Indonesia saat ini tidak hanya dipasarkan ke China, tetapi juga telah memasuki berbagai pasar dan rantai pasok industri di sejumlah negara lainnya. Melalui pemetaan aliran penggunaan nikel tersebut, Nickel Institute berharap masyarakat dan pemangku kepentingan dapat memahami bahwa peran nikel jauh lebih luas dibandingkan hanya sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, melainkan menjadi komponen penting dalam berbagai sektor industri global. (Shiddiq)