Beranda Berita Nasional Mangantar S. Marpaung: Panas Bumi Bisa Jadi Kunci Dekarbonisasi Industri Nikel Indonesia

Mangantar S. Marpaung: Panas Bumi Bisa Jadi Kunci Dekarbonisasi Industri Nikel Indonesia

Chairman of the Djakarta Mining Club, Mangantar S. Marpaung (Foto: MNI/Tubagus)
Oleh Tubagus Rachmat

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Energi panas bumi (geotermal) dapat menjadi solusi jangka panjang bagi industri nikel Indonesia dalam menjawab tantangan emisi karbon.

Demikian diungkapkan Chairman of the Djakarta Mining Club, Mangantar S. Marpaung, kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id) di sela-sela Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Shanghai Metals Market (SMM), di Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Memang ada tekanan terhadap karbon, emisi. Kamu menghasilkan nikel, tapi kamu menghasilkan karbon juga. Nah, long term solution, tidak mungkin dalam waktu dekat ini kan. Kita kan punya geotermal, panas bumi,” kata Mangantar.

Menurut dia, tekanan terhadap emisi karbon akan menjadi tantangan yang semakin penting bagi industri nikel ke depan. Di satu sisi, nikel dibutuhkan untuk mendukung transisi energi global dan pengembangan kendaraan listrik. Di sisi lain, proses produksinya juga menghadapi tuntutan untuk menghasilkan emisi yang lebih rendah.

Salah satu sumber energi yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menjawab tantangan tersebut, katanya menjelaskan, adalah panas bumi. Indonesia memiliki potensi geotermal yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan industri pengolahan mineral dalam jangka panjang.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Karena ternyata Iceland, segitu jauh dia bisa bawa alumina dari Australia, dikapalkan, diprosesnya masih untung, tapi dia pakai panas bumi. Lah kenapa kita nggak pakai panas bumi kita di sini, segitu banyak?” ujarnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan panas bumi untuk mendukung kawasan industri dan hilirisasi mineral tidak dapat dilakukan secara instan. Pengembangannya memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk akses transportasi dan konektivitas yang dapat menunjang kegiatan industri. “Cuma ya pelan-pelan ya, bikinkan dulu jalannya, bangkitkan ininya, bikinkan rel kereta api dari pelabuhan, bawa dari ini ke pelabuhannya, masuk ke sini, masuk lagi, gitu. Cuma pelan-pelan. Karbon, tidak masalah jadinya kan? Nah, kira-kira begitu,” pungkasnya. (Tubagus)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik Djakarta Mining Club →

  1. Mangantar S. Marpaung: Panas Bumi Bisa Jadi Kunci Dekarbonisasi Industri Nikel Indonesia sedang Anda baca
  2. Mangantar S. Marpaung: Pengendalian Suplai Jadi Kunci Stabilitas Harga Komoditas Tambang
  3. Marpaung Tanggapi Polemik Pemangkasan Produksi RKAB 2026
  4. M.S. Marpaung: RKAB Tahunan sudah Tepat, Investasi tetap Jalan
  5. Mangantar S. Marpaung: Kuota Nikel Harus Dikelola Demi Keberlanjutan Industri Tambang
  6. Dukung Standar ESG Indonesia, Djakarta Mining Club Usulkan Konferensi Indonesian Mining Closure

Agenda industri terdekat

Semua agenda →