
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, menyoroti tantangan pengelolaan tailing yang akan dihadapi industri nikel Indonesia seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi nasional dalam beberapa tahun mendatang. Hal itu disampaikannya dalam Indonesia Critical Mineral Conference & Expo (ICMCE) 2026 yang digelar Shanghai Metals Market (SMM) dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Jumat (5/6/2026).
Dalam paparannya, Arif mengatakan, peningkatan produksi nikel nasional akan berdampak langsung pada lonjakan volume tailing yang harus dikelola oleh pelaku industri, khususnya pada fasilitas pengolahan berbasis hidrometalurgi.
Tantangan terbesar di Indonesia saat ini, terutama untuk pengelolaan tailing, menjadi perhatian serius. FINI telah banyak mendiskusikan isu ini karena kapasitas produksi terpasang Indonesia yang saat ini sekitar 600 ribu ton diperkirakan akan mencapai 1 juta ton pada 2038.

“Satu ton nikel dari proses hidrometalurgi dapat menghasilkan sekitar 100 hingga 150 bahkan hingga 160 ton tailing. Bisa dibayangkan betapa besar tantangan yang harus dikelola dan tekanan yang akan dihadapi industri apabila tidak diantisipasi sejak dini,” katanya.
Pelaku industri dan pemangku kepentingan saat ini terus melakukan berbagai pembahasan untuk mencari solusi yang tepat dalam pengelolaan tailing yang aman dan berkelanjutan. Ia berharap pemerintah dapat segera menghadirkan regulasi baru yang mampu memberikan kepastian dan panduan yang lebih baik bagi industri.
“Kami berharap akan ada regulasi-regulasi baru terkait bagaimana pengelolaan tailing dapat dilakukan dengan lebih baik dan lebih tepat. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, banyak kawasan industri diperkirakan akan menghadapi tantangan dalam pengelolaan tailing ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, penguatan tata kelola tailing menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan keberlanjutan industri pengolahan mineral kritis nasional di tengah meningkatnya permintaan global terhadap nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan teknologi transisi energi. (Shiddiq)











































