Beranda Berita Nasional Todotua Pasaribu: Hilirisasi Nikel Dorong Indonesia Jadi Pemasok Utama Mineral Kritis Dunia

Todotua Pasaribu: Hilirisasi Nikel Dorong Indonesia Jadi Pemasok Utama Mineral Kritis Dunia

81
0
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, didamping Presdir SMM, Adam Fan, dan Ketum APNI, Komjen Pol. (Purn) Drs. Nanan Soekarna (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat strategi hilirisasi sebagai pilar utama transformasi ekonomi nasional. Melalui pengembangan industri mineral kritis, Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi diarahkan menjadi produsen produk industri bernilai tambah yang mendukung transisi energi global.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, mengatakan, mineral kritis saat ini turut menjadi aset strategis untuk menentukan daya saing industri.

“Mineral kritis kini tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga aset strategis yang menentukan daya saing industri, pertumbuhan investasi, dan dinamika perdagangan global,” kata Todoatua, dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference and Expo (ICMCE) 2026, di Jakarta, Rabu (3/5/2026).

Menurutnya, meningkatnya permintaan global terhadap mineral kritis terjadi di tengah keterbatasan pasokan produk olahan di sejumlah negara. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai mitra strategis dalam rantai pasok global.

“Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah. Tetapi, Indonesia kini telah bergerak menuju pengolahan dan pemurnian mineral. Seiring waktu, kami juga telah membangun berbagai mata rantai industri di dalam negeri. Kami memposisikan diri sebagai mitra strategis dalam ekosistem mineral global sekaligus pemasok utama mineral kritis dunia,” jelasnya.

Pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional tetap kuat di tengah tantangan global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,03% pada 2024 dan diproyeksikan terus meningkat seiring penguatan investasi, konsumsi domestik, belanja pemerintah, serta sektor manufaktur.

Dalam struktur pertumbuhan ekonomi, investasi menyumbang sekitar 30%, sementara konsumsi domestik berkontribusi sekitar 25%. Oleh karena itu, hilirisasi diposisikan sebagai salah satu strategi utama untuk meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung agenda energi hijau.

Pemerintah menargetkan total investasi sebesar US$787 miliar selama periode 2024-2029. Sementara itu, target investasi nasional pada 2026 ditetapkan sebesar US$116,69 miliar. Pada kuartal I 2026, realisasi investasi telah mencapai sekitar 25% dari target tahunan, dengan kontribusi penanaman modal dalam negeri dan asing yang relatif seimbang.

Sementara itu, di sektor hilirisasi, pemerintah telah mengidentifikasi 38 komoditas strategis yang tersebar di delapan sektor prioritas dengan potensi investasi mencapai sekitar US$680 miliar. Nikel menjadi salah satu contoh keberhasilan strategi tersebut. Sejak kebijakan hilirisasi diterapkan pada 2019, Indonesia telah mengembangkan rantai industri mulai dari pertambangan, peleburan, hingga produksi material baterai kendaraan listrik.

Pemerintah juga terus mendorong pengembangan ekosistem energi hijau yang terintegrasi, termasuk pembangunan industri panel surya, pengolahan tembaga, paduan logam, serta industri pendukung kendaraan listrik dan energi terbarukan. (Fu Yun)