Beranda Berita International Adam Fan: Hilirisasi Indonesia Berpotensi Seimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Lingkungan

Adam Fan: Hilirisasi Indonesia Berpotensi Seimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Lingkungan

68
0
Presiden Direktur SMM, Adam Fan (Foto: MNI/Uyun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Program hilirisasi yang dijalankan Indonesia bukan hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga berpotensi menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan industri, perlindungan lingkungan, dan pembangunan sosial.

Presiden Direktur Shanghai Metals Market (SMM), Adam Fan, mengatakan, Indonesia saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan hilirisasi, tetapi laju pertumbuhannya diperkirakan akan semakin pesat dalam beberapa tahun mendatang.

“Menurut saya, hilirisasi Indonesia berkembang dengan cepat. Sekarang adalah tahap awal hilirisasi, dan pada tahun berikutnya kita bisa melihat perkembangan yang cepat, berdasarkan volume dan jangkauan,” kata Adam pada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di sela-sela Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Ekspansi hilirisasi, menurut ia, tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah sumber daya alam. Pembangunan industri hilir juga diarahkan untuk memperbaiki pengelolaan dampak lingkungan yang muncul seiring dengan pertumbuhan sektor industri.

“Kebanyakan pembangunan hilirisasi adalah untuk memperbaiki dampak lingkungan atau, bagaimanapun bisa dikatakan, untuk menyeimbangkan dampak dan pengembangan sosial,” ujarnya, pada acara yang diselenggarakan SMM dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) itu.

Selain itu, melalui pendekatan tersebut, hilirisasi Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“Jadi, hilirisasi Indonesia seharusnya berkembang dengan cepat,” pungkasnya.

Diketahui, program hilirisasi pemerintah adalah strategi transformasi ekonomi jangka panjang untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mengolahnya di dalam negeri guna menciptakan nilai tambah tinggi. Kebijakan ini berfokus pada 26 sektor prioritas, termasuk mineral, minyak dan gas, kelautan/perikanan, serta pertanian/perkebunan. (Fi Yun)