
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia memiliki sumber daya nikel yang menjadi salah satu bahan penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Namun, kekayaan sumber daya tersebut dinilai belum otomatis membuat Indonesia unggul dalam pengembangan teknologi baterai.
Profesor riset baterai, Prof. Dr. Evvy Kartini, menilai, Indonesia masih menghadapi persoalan dalam menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri. Ia menyoroti pentingnya pembangunan fasilitas percontohan atau pilot plant berskala industri agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium.
“Jadi, seharusnya inovasi, balik ke inovasi, novelty (kebaruan) tadi harusnya dinaikkan. Bagaimana kita menjembatani ini? Kita mulai membuat pilot plan. Pilot plan di Indonesia yang skalanya industri, yang standarnya industri, belum ada,” kata Prof. Evvy dalam konferensi pers International Battery Summit (IBS) 2026, yang diseleenggarakan National Battery Research Institute (NBRI), JIExpo Kemayoran Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, fasilitas pilot plant tersebut diperlukan untuk menguji hasil riset dalam skala yang lebih besar sebelum masuk ke tahap komersialisasi. Ia mengusulkan pengembangan fasilitas dengan skala megawatt hour (MWh) yang dapat menjadi penghubung antara peneliti dan industri.
“Jadi, teman-teman yang di riset, yang sudah bagus, kita bisa tune in di situ di pilot ini. Dengan ukuran yang besar, kemudian dari situlah nanti baru kita tune in ke industri,” ujarnya.
Namun, ujarnya lebih lanjut, salah satu persoalan utama pengembangan industri baterai di Indonesia adalah perbedaan orientasi antara dunia riset dan industri. Peneliti pada dasarnya mengejar novelty atau kebaruan ilmiah, sedangkan industri membutuhkan teknologi yang sudah dapat ditingkatkan skalanya dan digunakan untuk menghasilkan produk secara komersial.

“Orang riset, dan ini juga nanti mungkin, makanya saya undang kepala BRIN gitu. Riset itu tujuannya bagaimana mencari kebaruan, mencari novelty,” jelasnya.
Founder NBRI ini memberi contoh bahwa penelitian baterai masih dapat dilakukan dalam skala gram atau miligram, sementara kebutuhan industri sudah berada pada skala ton.
“Di riset itu skalanya masih gram, miligram. Tapi, kalau industri pake baterai bikinnya langsung ton. Itu sudah sesuatu yang berbeda,” ulasnya.
Karena itu, diperlukan tahapan antara laboratorium dan industri. Tanpa fasilitas percontohan tersebut, industri akan kesulitan menunggu hasil riset yang membutuhkan waktu panjang.
“Industri ini tidak mau menunggu. Industri ini maunya jualan,” tambahnya. (Shiddiq)











































