Beranda Berita Nasional Industri Baterai EV: Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri Vietnam

Industri Baterai EV: Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri Vietnam

94
0
Prof. Evvy Kartini (kanan) (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesia memiliki cadangan dan menjadi produsen nikel terbesar di dunia, tetapi tidak serta-merta menjadi produsen kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Kendaraan listrik yang berseliweran di jalanan Indonesia—sepeda listrik, motor listrik, hingga mobil listrik—bukan buatan negeri kaya sumber daya mineral ini. Mengapa?

Karena, menurut pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Dr. Evvy Kartini, hasil penelitian kita mengenai baterai berhenti di laboratorium, belum berlanjut ke industri, belum masuk ke tahap komersialisasi. Penyebabnya, Indonesia masih menghadapi persoalan dalam menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri.

“Indonesia harus belajar dari Vietnam. Itu saja kenyataannya,” kata Prof. Evvy dengan nada tegas saat  konferensi pers menjelang penyelenggaran International Battery Summit (IBS) 2026, yang diselenggarakan NBRI, di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Vietnam, katanya lebih lanjut, dinilai berhasil mengembangkan industri EV dengan membangun kapasitas produksi secara bertahap. Ia menceritakan kunjungannya ke fasilitas VinFast di Vietnam sekitar tiga tahun lalu. Salah satu hal yang menarik dari Vietnam adalah keberanian membangun fasilitas produksi skala awal sebelum meningkatkan kapasitas ke skala gigawatt.

Dia melihat betapa pentingnya mempunyai skala pilot. VinFast itu bisa berkembang karena mereka sudah mulai dengan pilot. Pendekatan produksi baterai dalam jumlah terbatas terlebih dahulu, kemudian meningkatkan kapasitas setelah proses produksinya dinilai siap.

Peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu memberikan contoh lain. Malaysia tak punya nikel, tetapi mulai mengembangkan baterai berbasis nikel, yakni nickel manganese cobalt (NMC). Negeri jiran yang tidak memiliki sumber daya nikel itu justru mulai membangun kapasitas teknologi baterainya sendiri.

Negara Perdana Menteri Anwar Ibrahim itu tengah menyiapkan pilot plant baterai berkapasitas 1 MWh di Sepang. Negara itu telah memilih teknologi baterai berbasis NMC meski tidak memiliki sumber daya nikel seperti Indonesia.

“Malaysia itu nggak punya nikel. Tapi, mereka membangun sendiri, dengan teknologi sendiri, walaupun itu kecil, MWh, mereka yakin pakai NMC,” ujarnya.

Bahkan, sambungnya, lembaga riset di Indonesia juga telah diminta membantu penyediaan material katode untuk proyek tersebut.

“Mereka minta dibuatkan. Jadi, saya bilang, oke. Saya bawa contohnya. Saya bawa ke lab kami, bahkan nanti mau di-launching baterai walaupun baru sedikit. Materialnya buatan dari Indonesia, baterainya dibuat di sana. Tapi, kan lebih bagus kalau dibuat di sini, betul tidak?” tuturnya dengan nada prihatin.

Kondisi tersebut, katanya mencoba menyadarkan, menjadi pengingat bahwa kepemilikan sumber daya alam saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan industri baterai.

“Kalau kita tidak punya itu, yang lain-lain kita ketinggalan. Thailand juga sudah punya,” katanya.

Fisikawan kelahiran Bogor itu menekankan bahwa Indonesia harus menggunakan kekayaan sumber daya dan besarnya pasar domestik untuk membangun kemampuan teknologi serta inovasi di dalam negeri. Karenanya,ia berharap IBS 2026 menjadi ruang bagi akademisi, pemerintah, lembaga riset, dan pelaku industri untuk mempelajari strategi negara lain dalam membangun ekosistem baterai.

“Platform ini, sebenarnya, for us to learn. Untuk semua, baik akademisi, baik institusi, perlaku teknologi Indonesia, untuk belajar bagaimana negara-negara itu bisa maju,” harapnya.  (Shiddiq)