
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Ifishdeco Tbk. mencatat kinerja keuangan impresif sepanjang 2025 dengan lonjakan laba bersih lebih dari dua kali lipat, meski produksi nikel justru turun di tengah tekanan harga global.
Berdasarkan laporan tahunan 2025, produksi bijih nikel perseroan turun 16,5% menjadi 1,67 juta metrik ton (mt), dari 2,00 juta mt pada 2024. Penurunan ini terjadi saat pasar global dibanjiri pasokan, menekan harga nikel di kisaran US$15.000–16.600 per ton.
Namun, tekanan tersebut tidak menggerus kinerja keuangan. Pendapatan Ifishdeco justru meningkat menjadi Rp1,00 triliun, dari Rp972,71 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bersih melonjak signifikan menjadi Rp220,36 miliar, dibanding Rp100,11 miliar pada 2024.
Presiden Direktur Ifishdeco, Muhammad Ishaq, menegaskan, efisiensi operasional menjadi faktor kunci di balik lonjakan kinerja tersebut.

“Kami tetap optimis menetapkan strategi peningkatan produksi dan efisiensi biaya yang konsisten untuk menangkap peluang jangka panjang,” kata Ishaq dalam laporan tahunan keuangan tahun 2025, ditulis Selasa (28/4/2026).
Kinerja positif ini juga tercermin pada rasio profitabilitas. Margin laba bersih meningkat menjadi 15,38%, sementara return on equity (ROE) melonjak ke level 28,04%, mencerminkan optimalisasi penggunaan modal.
Dari sisi fundamental, struktur keuangan perusahaan juga semakin solid. Total aset meningkat menjadi Rp1,06 triliun, sementara liabilitas turun menjadi Rp147,62 miliar, menunjukkan penguatan posisi neraca. Di tengah dinamika global, Ifishdeco melihat peluang besar dari transformasi industri nikel nasional.

“Industri nikel Indonesia sedang dalam fase transformasi menjadi terintegrasi dari hulu ke hilir,” ungkapnya.
Momentum hilirisasi ini, menurut pandangannya, membuka ruang pertumbuhan baru, terutama dari tingginya permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik. Namun, tantangan tidak kecil. Perseroan mengakui tekanan dari aspek regulasi dan lingkungan yang semakin ketat.
“Tuntutan lingkungan dan regulasi juga makin ketat, baik dari pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya,” ungkapnya.
Untuk menjaga keberlanjutan, perusahaan menempatkan kepercayaan sebagai fondasi utama strategi bisnis.

“Kami memelihara kepercayaan sebagai strategi utama untuk keberlanjutan usaha,” lanjutnya.
Secara global, industri nikel masih dibayangi surplus pasokan, dengan produksi dunia diperkirakan mencapai 3,74 juta ton pada 2025, melampaui konsumsi 3,54 juta ton. Meski demikian, Indonesia terus mengukuhkan diri sebagai pemain dominan dengan kontribusi hingga 67% produksi global.
Dengan kombinasi efisiensi, penguatan fundamental, dan momentum hilirisasi, Ifishdeco menunjukkan ketahanan di tengah tekanan industri, menandakan bahwa strategi yang tepat mampu menjaga profitabilitas bahkan saat produksi menurun. (Shiddiq)





















































