Beranda Berita International ICMCE 2026: Indonesia Kendalikan Produksi Nikel untuk Jaga Stabilitas Harga Global

ICMCE 2026: Indonesia Kendalikan Produksi Nikel untuk Jaga Stabilitas Harga Global

86
0
Ki-ka: Septian Hario Seto, Denis Sharypin, Edric Koh, Mark Selby, dan Jim Lennon (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia akan terus mengendalikan produksi bijih nikel untuk menjaga keseimbangan pasar dan mencegah kelebihan pasokan yang berpotensi menekan harga nikel dunia. 

Kebijakan tersebut disampaikan anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Republik Indonesia, Septian Hario Seto, dalam panel diskusi “Nickel Price Volatility, Product Spreads, and Policy Shifts: What Will Define the Market in the Next 5 Years?” pada Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026 di Hotel Pullman Central Park Jakarta, Jakarta Barat, Kamis (4/6/2026).

Seto mengatakan, Indonesia memiliki tanggung jawab sekaligus kemampuan untuk menjaga keseimbangan pasar nikel internasional.

“Kita harus mengendalikan produksi karena Indonesia memiliki sekitar 65% produksi nikel dunia dan 64% kapasitas pengolahan. Kita tidak ingin menciptakan surplus yang menghancurkan harga nikel, sehingga nilai yang diperoleh dari setiap ton nikel yang diproduksi tidak optimal,” katanya pada acara yang diselenggarakan Shanghai Metals Market (SMM) bekerja sama dengan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Pengendalian produksi, katanya menjelaskan lebih lanjut, dilakukan melalui pengaturan kuota produksi bijih nikel. Langkah tersebut diambil untuk menghindari kelebihan pasokan yang dapat mengganggu stabilitas harga dan mengurangi nilai tambah yang diperoleh Indonesia dari sektor pertambangan nikel.

Tanpa pengendalian produksi yang memadai, pasar berpotensi menghadapi surplus pasokan dalam skala besar pada tahun-tahun mendatang. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan produksi dan kebutuhan pasar global.

Pemerintah juga melakukan penyesuaian harga patokan mineral (HPM) agar lebih mencerminkan kondisi pasar. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sumber daya mineral nasional sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

“Kami ingin melihat harga bergerak pada tingkat yang lebih sehat, tetapi tetap tidak menimbulkan masalah bagi industri pengguna,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Corporate Sales Asia of London Metal Exchange (LME), Edric Koh, mengatakan, LME masih menjadi acuan utama perdagangan nikel dunia karena memiliki tingkat likuiditas yang tinggi dan akses pasar yang luas.

Perdagangan nikel di LME, Koh menerangkan, mencapai sekitar 80.000 kontrak per hari. Selain itu, LME didukung jaringan gudang global dan partisipasi produsen dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

“LME tetap menjadi pusat perdagangan logam dunia. Untuk nikel, kami memiliki likuiditas yang tinggi dan akses global yang memungkinkan pelaku pasar di seluruh dunia menggunakan LME sebagai referensi harga,” ungkapnya.

Sementara itu, analis Macquarie, Jim Lennon, menilai, kebijakan Indonesia dalam mengendalikan produksi telah membantu mengurangi tekanan surplus yang sebelumnya membebani pasar nikel global. Keseimbangan pasar dalam beberapa tahun ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan produksi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.

“Kita mulai melihat rasionalitas dalam pertumbuhan pasokan global. Namun, masih terdapat tambahan kapasitas yang sedang dikembangkan di berbagai negara,” ujarnya.

Di sisi lain, Strategic Marketing Director of Norilsk Nickel, Denis Sharypin, menilai, perkembangan industri hilirisasi nikel Indonesia akan sangat bergantung pada pertumbuhan permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Sharypin menilai, peningkatan kapasitas produksi produk turunan nikel harus diimbangi dengan pertumbuhan permintaan pasar agar tidak memunculkan kelebihan pasokan baru.

“Pertanyaannya adalah apakah ekspansi kapasitas yang dibangun dapat diimbangi oleh pertumbuhan permintaan pasar. Sampai saat ini permintaan belum tumbuh secepat yang diperkirakan sebelumnya,” katanya.

Dalam pada itu, CEO dan Director of Canada Nickel Company, Mark Selby, menambahkan, diversifikasi sumber pasokan nikel global penting dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah produksi.

Selby menilai, proyek-proyek nikel baru di Kanada, Brasil, dan Tanzania dapat menjadi sumber pasokan alternatif sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon industri pertambangan.

Menutup diskusi, Seto menyoroti semakin kompleksnya persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China dalam rantai pasok mineral kritis dunia. Menurut dia, Indonesia berupaya menjaga hubungan baik dengan kedua negara guna memastikan akses terhadap teknologi, investasi, dan pasar.

“Indonesia tidak ingin terjebak dalam persaingan antara Amerika Serikat dan China. Namun, pada saat yang sama kami membutuhkan teknologi, investasi, dan akses pasar dari berbagai pihak,” ujarnya. (Shiddiq)