Bahlil Siap Fasilitasi Eksekusi Investasi Mangkrak di Konawe Selatan

NIKEL.CO.IDKepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengunjungi PT Bintang Smelter Indonesia (BSI) di Kabupaten Konawe Selatan dalam kunjungan kerjanya ke Kendari, Sulawesi Tenggara pada Rabu siang, 31 Maret 2021.

Didirikan sejak tahun 2013 lalu, PT BSI merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) pada sektor industri logam dasar mulia dan logam dasar bukan besi lainnya dengan realisasi investasi sebesar USD23 juta.

Selama dua tahun terakhir ini, PT BSI berhenti berproduksi karena menghadapi kendala terkait inefisiensi produksi. Selama ini perusahaan menggunakan kokas batu bara sebagai bahan bakar produksi. Ke depan agar lebih efisien, PT BSI akan mengubah teknologi dari Blast Furnace menjadi Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF) dengan rencana investasi USD 110 juta.

Dalam kunjungannya, Bahlil menyampaikan bahwa dengan perubahan teknologi menggunakan RKEF tersebut, maka perusahaan akan lebih efisien dalam produksinya. Investasi yang dijalankan PT BSI dapat diadopsi oleh para investor lokal dengan investasi tidak terlalu besar serta penggunaan teknologi yang tidak terlalu rumit.

“Nah sekarang kan banyak anak-anak Sultra atau kita yang ada di indonesia ini enggak ingin membangun smelter. Ini prospek soalnya. Bisa kita mengadopsi yg kayak gini. Saya lihat kokas ya masalahnya. Kokas diubah ke listrik. Jadi masalah besarnya di situ saja. Ketika terjadi perpindahan, efisiensi pasti akan terjadi,” ucap Bahlil dalam keterangannya.

Kendala lain yang dihadapi oleh PT BSI adalah rencana pembangunan  Kawasan Industri (KI) seluas 1.400 Ha melalui afiliasinya PT. Tinanggea Kawasan Industri, di mana kawasan tersebut saat ini tidak termasuk dalam peruntukan industri.

“Tinggal tata ruangnya yang ada sedikit masalah. Tapi kita minta sama mereka, kalau sudah jadi PT BSI harus menggandeng pengusaha lokal. Kalau tidak, mungkin Bupati akan berpikir dua kali untuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) diubah,” ucap Bahlil.

Kepala BKPM menegaskan kembali bahwa setiap investasi yang masuk ke daerah, tidak hanya berdampak kepada pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga ada ruang kolaborasi untuk pelaku usaha di daerah agar bisa naik kelas.

“Jangan A sampai Z dikelola oleh perusahaan, enggak boleh. Harus melibatkan anak-anak daerah. Tapi anak daerah yang profesional, yang memenuhi syarat. Jangan anak daerah yang modal proposal,” tambah Bahlil.

Dalam melakukan pengawalan investasi, BKPM berkomitmen untuk memfasilitasi perusahaan jika menghadapi kendala, sehingga perusahaan dapat merealisasikan rencana investasinya dengan lancar di Indonesia serta memberikan dampak positif bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

“Tekad kita cuma satu. Bagaimana kita dorong yang tidak efisien, kita buat efisien. Yang mangkrak kita jalankan. Yang belum jalan, kita berikan izin. Semata-mata kita lakukan untuk penciptaan lapangan kerja dan kolaborasi,” tutup Bahlil.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT BSI An Sudarno menyampaikan terima kasih atas kunjungan Kepala BKPM, Gubernur Sulawesi Tenggara, Pj Bupati Konawe Selatan beserta jajarannya ke lokasi smelter PT BSI di Kecamatan Tinanggea.

“Terima kasih atas dukungan pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif terhadap investor. Kami harap akan lebih banyak investor yang tertarik untuk menanamkan investasinya di Kawasan Indsutri kami nantinya,” ujar An Sudarno.

Sumber: panjikendari.com

Read More

BKPM RI Sambut Baik Rencana Pengajuan Kawasan Industri PT BSI di Konawe Selatan

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia (RI) Bahlil Lahadalia, mengapresiasi dan menyambut positif bagi para investor tambang yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), salah satunya PT Bintang Smelter Indonesia (BSI) yang berada di Kecamatan Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Hal tersebut diungkapkannya, saat berkunjung di salah satu perusahaan tambang PT Bintang Smelter Indonesia atau PT Ifishdeco, di Kecamatan Tinanggea, Rabu (31/3/2021).

Dikatakannya, sebagai penanggungjawab investasi atau yang mendatangkan investasi, kehadirannya di Sultra untuk memastikan langsung di lapangan, apakah para investor mengalami kendala dilapangan.

“Jadi ketika investor mengalami kendala, silahkan disampaikan kepada ke kita, nanti kita carikan solusi terbaik. Terkait kendala apa yang dihadapi masing-masing investor di Sultra, termasuk di Kabupaten Konsel,” tuturnya.

Disamping itu, terkait pengajuan rencana kawasan industri PT BSI, menteri BKPM menyambut positif, namun sebelumnya dipastikan apakah lokasi investasi BSI, berada pada kawasan industri. Jadi jika BSI ini berada di kawasan industri, tentu keberadaan usaha akan lebih terjamin.

Kemudian, Terkait perijinan juga lebih mudah, jadi terkoneksi dalam memfasilitasi investor. Sehingga pihaknya sangat dukung, namun penting juga disinkronkan dengan Pemerintah Daerah, karena ada beberapa kewenangan itu adalah milih daerah. Diantaranya masalah kawasan dimaksud.

“Kita harapkan, para investor, maupun BSI untuk bersinergi dengan Pemda setempat,” tuturnya.

Sementara itu ditempat yang sama, Gubernur Sultra H Ali Mazi, sangat menyambut positif dan berpesan bahwa, kehadiran investor di daerah itu. harus berkontribusi dengan pembangunan daerah.

“Jadi hubungan antara Pemda dan investor, harus lebih ditingkatkan lagi, komunikasi lebih baik. Dan ini juga jadi perhatian pak Menteri, sehingga kita bisa bersinergi untuk membangun daerah juga,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur PT Ifishdeco, Moh Ishaq mengungkapkan, pihaknya berkomitmen dengan apa yang menjadi saran Menteri BKPM Bahlil Lahadalia, maupun Gubernur Sultra H. Ali Mazi.

“Menteri dan Gubernur menyambut baik, keberadaan PT BSI, tentu kita sebagai investor berkomitmen mengikuti saran maupun atauran, yang telah ditetapkan pusat dan daerah,” tukas Moh Ishaq

Dalam kunjungan tersebut, dihadiri oleh Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Presdir Perusahaan, Gubernur Sultra H. Ali Mazi, Pj Bupati Konsel Andi Tenri Rawe, Staf Khusus BKPM, Komite BKPM, Direktur Wilayah III, Sekda Konsel Ir. Sjarif Sajang, Kadis DPMPTSP Konsel serta Kadis DPMPTSP Sultra.

Sumber: suryametro.id

Read More

Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Rp1,01 Triliun

Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton, melonjak 155,83 persen.

NIKEL.CO.ID – Emiten pertambangan mineral, PT Ifishdeco Tbk., memasang target agresif pada 2021 setelah membukukan kinerja loyo pada 2020. Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton.

Angka tersebut jauh lebih tinggi 155,83 persen dibandingkan dengan perolehan 2020 yang hanya sebesar 781.767 ton.

Adapun, perolehan penjualan 2020 itu anjlok 65 persen dari perolehan 2019 sebesar 2,26 juta ton.

Sejalan dengan target penjualan itu, maka pendapatan 2021 emiten berkode saham IFSH itu diproyeksi dapat mencapai Rp1,01 triliun. Lagi-lagi, pendapatan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pendapatan (unaudited) pada 2020 yang hanya sebesar Rp395,01 miliar.

Kinerja pendapatan (unaudited) 2020 itu, menyusut 63,5 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp1,08 triliun.

IFSH mengaku siap untuk mengejar target itu dan telah mempertimbangkan beberapa hal dalam mengajukan target itu dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) Tahunan 2021.

“Sekarang penjualan 3 bulan sudah mencapai 100.000 ton. Kami yakin dengan menjaga kualitas dan pengiriman, kami berharap sepanjang tahun nanti bisa capai 2 juta ton,” ujar Ishaq saat paparan publik insidentil, Kamis (25/3/2021).

Adapun, Ishaq menjelaskan bahwa penurunan kinerja perseroan pada 2020 seiring dengan banyaknya katalis negatif yang menekan kinerja pada tahun lalu.

Pandemi Covid-19 dan penghentian ekspor bijih nikel oleh Pemerintah Indonesia pada tahun lalu menjadi salah dua faktor yang paling menekan kinerja perseroan.

Dia pun optimistis smelter domestik dapat menyerap penjualan bijih nikel dari perseroan lebih banyak pada tahun ini, sehingga dapat membantu perseroan memulihkan kinerja. Pasalnya, pada 2019 mayoritas penjualan perseroan masih pasar ekspor.

Untuk mengejar target tersebut, IFSH telah merevitalisasi sejumlah fasilitas dan infrastruktur, salah satunya fasilitas jetty pada awal tahun ini.

Jika sebelumnya jetty perseroan hanya dapat menampung kapal tongkang kecil, dengan revitalisasi itu kapasitas jetty menjadi lebih besar sehingga dapat menerima kapal tongkang yang juga jauh lebih besar. Dengan demikian, jumlah pengiriman juga berpotensi menjadi lebih besar.

Selain itu, IFSH juga berencana untuk melakukan akuisisi lahan tambang baru, sehingga dapat memperbesar cadangan nikel perseroan. Namun, perseroan belum menjelaskan secara detail atas rencana ekspansi tersebut.

“Untuk akuisisi lahan tambang, kami masih mencari dan tidak ada negosiasi yang final sampai saat ini. Jadi kami belum bisa mengungkapkan itu tapi nanti kalau jadi aksi korporasi pasti akan kami publikasikan,” papar Ishaq.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Emiten Nikel Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Tembus Rp1 Triliun

Read More

Ifishdeco (IFSH) Terus Kawal Keberlangsungan Proyek Smelter di Tahun Ini

NIKEL.CO.ID – Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan nikel PT Ifishdeco Tbk (IFSH) masih terus mengerjakan proyek smelter melalui anak usahanya, PT Bintang Smelter Indonesia (BSI) di kawasan Sulawesi.

Manajemen IFSH sendiri membutuhkan biaya investasi sekitar US$ 110 juta untuk pembangunan smelter tersebut ke depan. Nilai investasi tersebut diperoleh dari kas internal perusahaan dan pendanaan dari mitra strategis.

Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan, pihaknya menggarap dua proyek, yaitu smelter Blast Furnace dan smelter dengan teknologi Rotary Kin Electric Furnace (RKEF).

Pandemi Covid-19 diakui cukup mempengaruhi kelangsungan pembangunan smelter IFSH. Tak hanya terkendala dari terhambat-nya tenaga ahli dari luar negeri, perusahaan ini juga mengalami hambatan dari sisi pendanaan.

Sebenarnya, smelter Blast Furnace sudah lebih dulu didirikan oleh PT BSI. Namun, teknologi Blast Furnace yang digunakan smelter tersebut belum begitu efisien, karena 60% bahan baku produksi berasal dari batubara kokas yang mesti diimpor dari luar negeri.

Alhasil, perusahaan ini perlu melakukan upgrade terhadap infrastruktur dan teknologi smelter tersebut supaya lebih efisien.

“Sampai sekarang, sudah kami lakukan beberapa penjajakan untuk modifikasi teknologi tersebut sehingga smelter ini beroperasi kembali,” ungkap dia saat paparan publik virtual, Kamis (25/2/2021).

Mengutip berita sebelumnya, smelter Blast Furnace IFSH diharapkan dapat mulai berproduksi secara komersial pada akhir 2021 atau awal 2022 mendatang.

Setali tiga uang, IFSH juga masih terus melakukan pembicaraan dengan berbagai calon investor untuk mengembangkan sekaligus mengoperasikan smelter RKEF. Dalam catatan Kontan.co.id, smelter RKEF ini ditargetkan dapat mencapai tahap financial close di akhir 2021 dan berpotensi produksi di akhir 2023 atau awal 2024 mendatang.

Terkait kinerja operasional, IFSH berencana menjual 2 juta metrik ton bijih nikel pada tahun ini. Target ini berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya Tahunan (RKAB) IFSH yang telah disetujui oleh pemerintah.

Perusahaan ini dipastikan menjual seluruh bijih nikelnya ke pasar domestik seiring adanya larangan ekspor komoditas tersebut yang diberlakukan pemerintah.

“Menurut kami, sejauh ini kondisi bisnis nikel sudah lebih kondusif dengan adanya kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM) yang memberikan rasa keadilan antara penambang dan pemilik smelter,” terang Ishaq.

Beberapa strategi coba diterapkan oleh IFSH untuk mendongkrak penjualan bijih nikelnya di tahun ini. Salah satunya dengan merevitalisasi infrastruktur, khususnya jetty.

Revitalisasi tersebut diperlukan supaya jetty yang dikelola IFSH dapat memuat kapal tongkang pengangkut bijih nikel dengan ukuran yang lebih besar.

Diharapkan pula ketika revitalisasi infrastruktur ini dapat dituntaskan oleh IFSH, maka ada peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan penjualan bijih nikelnya di tahun 2022 mendatang hingga di kisaran 2,5 juta metrik ton—3 juta metrik ton. Hal ini tentu bergantung pada pergerakan harga nikel di pasar.

“Proyek smelter yang dibangun atau di ekspansi di Indonesia diharapkan dapat segera beroperasi, karena itu target market kami,” tandas dia.

Sebagai informasi, per akhir tahun 2020, penjualan bijih nikel IFSH tercatat sebesar 781.767 metrik ton atau setara 98% dari target di tahun tersebut sebesar 800.000 metrik ton. Realisasi penjualan bijih nikel IFSH di tahun 2020 tampak lebih rendah dibandingkan penjualan di tahun sebelumnya yang mencapai 2.264.400 metrik ton.

Sumber: KONTAN

Read More

Ifishdeco Targetkan Penjualan Bijih Nikel 2 Juta Ton di Tahun 2021

NIKEL.CO.ID PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mendongkrak target penjualan bijih nikel pada tahun ini. IFSH membidik volume penjualan bijih nikel hingga 2 juta metrik ton (MT) pada 2021, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi pada 2020.

Sekretaris Perusahaan Ifishdeco Christo Pranoto membeberkan, pada tahun lalu, penjualan bijih nikel IFSH mencapai 781.767 MT. Angka itu mencapai 98% dari target tahun 2020 yang sebesar 800.000 MT.

Realisasi penjualan tahun 2020 jauh lebih rendah dibandingkan realisasi 2019 yang mencapai 2.264.400 MT. Christo menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa realisasi penjualan IFSH anjlok pada 2020.

Pertama, adanya penghentian izin ekspor pada akhir tahun 2019. Sehingga, pada 2020 penjualan terbatas pada pasar domestik yang mana pangsa pasarnya lebih mini dibandingkan pasar ekspor.

Kedua, pelaku usaha menunggu terbitnya aturan tata niaga nikel terkait pengaturan Harga Patokan Mineral (HPM). Aturan yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM tersebut membuat harga bijih nikel di dalam negeri bisa lebih baik.

Selanjutnya, realisasi penjualan tahun lalu juga dipengaruhi oleh faktor pandemi covid-19 dan cuaca ekstrem.

“Pandemi covid-19 yang mempengaruhi mobilitas operasional. Juga cuaca ekstrem dengan musim hujan yang panjang,” terang Christo, Minggu (31/1/2021).

Pada 2021, IFSH berencana untuk kembali mendongkrak penjualan ke level 2 juta MT. Hal itu sudah disetujui dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun ini.

Christo bilang, kenaikan kinerja pada 2021 diharapkan datang dari tren kenaikan harga bijih nikel melalui HPM yang berbasis pada harga nikel London Metal Exchange (LME).

“Khususnya harga pasar bijih nikel diharapkan akan memiliki tren meningkat dengan adanya sentimen pasar terhadap potensi peningkatan kebutuhan bijih nikel dalam produksi baterai untuk kendaraan listrik,” terangnya.

Lebih lanjut, rencana peningkatan volume penjualan didorong dengan proyeksi kenaikan permintaan pasar domestik seiring dengan penambahan smelter baru yang beroperasi maupun dari peningkatan kapasitas produksi smelter eksisting.

Selain itu, sambung Christo, kinerja IFSH pada tahun ini akan ditunjang dengan peningkatan daya tampung jetty, serta penambahan kontraktor yang akan mendukung produktivitas penambangan.

Untuk mendukung target penjualan 2 juta MT tersebut, IFSH akan mengalokasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 9 miliar. Capex itu digunakan untuk perbaikan jetty, pembelian alat laboratorium, kendaraan dan peralatan operasional.

Rencana ekspansi

Christo menyampaikan, IFSH juga tetap mengusung rencana ekspansi termasuk dalam lahan tambang baru.

“Tetap dijalankan yang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” katanya.

Contohnya ialah PT Patrindo Jaya Makmur, yang saat ini telah menjadi bagian dalam group IFSH. PT Patrindo ini direncanakan akan segera berproduksi dan berpotensi menambah volume bijih nikel IFSH hingga 500.000 MT.

Selain itu, strategi bisnis IFSH pada 2021 ialah dengan optimalisasi eksploitasi cadangan bijih nikel pada lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik IFSH, dengan memperhatikan ketersediaan cadangan.

Hal itu penting untuk memastikan ketersediaan dalam memenuhi kebutuhan smelter IFSH di bawah anak usahanya, yakni PT Bintang Smelter Indonesia (BSI).

Dari sisi hilirisasi, IFSH juga masih berfokus untuk menyelesaikan proyek smelternya. Untuk smelter Blast Furnace, saat ini PT BSI dalam penjajakan kerjasama dengan perusahaan smelter dari China yang memiliki teknologi atau peralatan untuk memodifikasi smelter Blast Furnace miliki PT BSI.

“Sehingga smelter Blast Furnace dapat berproduksi dengan lebih efisien. Kalau memang jadi berkontrak dengan partner yang memiliki teknologi efisien, diharapkan akhir 2021 atau awal 2022 bisa mulai produksi komersial,” sebut Christo.

Untuk proyek smelter dengan teknologi rotary kin electric furnace (RKEF), hingga sekarang IFSH masih dalam proses mencari pendanaan baik dari lokal maupun luar negeri. Hal itu dilakukan untuk dapat merealisasikan kerjasama dengan mitra strategis dalam membangun dan mengoperasikan smelter RKEF tersebut.

“RKEF target financial close akhir 2021, kemungkinan bisa produksi akhir 2023 atau awal 2024,” pungkas Christo.

Sumber: KONTAN

Read More