

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – PT Ifishdeco Tbk. mendukung implementasi program biodiesel B50 yang tengah didorong pemerintah, meski perusahaan mengakui kesiapan alat berat dan teknologi operasional masih menjadi tantangan utama dalam penerapannya di sektor pertambangan nikel.
Direktur Operasional PT Ifishdeco, Agus Prasetyono, mengatakan secara operasional penggunaan B50 dinilai dapat membantu kegiatan perusahaan. Namun, tidak seluruh alat tambang saat ini sepenuhnya kompatibel dengan bahan bakar campuran biodiesel 50% tersebut.

“Secara operasional sebenarnya sangat membantu. Cuma alat-alat kita mungkin masih belum mendukung sepenuhnya,” kata Agus dalam paparan publik di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menegaskan, Ifishdeco tetap mendukung kebijakan pemerintah tersebut dan akan mencoba menerapkannya secara bertahap di sejumlah alat operasional yang dinilai telah memiliki dukungan teknologi memadai.

“Mungkin kita akan coba berkolaborasi memakai 50%. Kita tetap mendukung kebijakan pemerintah untuk bisa pakai B50-nya. Tapi, kita akan coba implementasikan secara biaya operasional,” ujarnya.
Penggunaan B50 di sektor alat berat pertambangan, menurut dia, masih memerlukan penyesuaian teknologi agar tidak berdampak pada produktivitas operasional. Ia mengkhawatirkan penerapan yang belum optimal justru dapat mengganggu efisiensi kerja alat di lapangan.

“Karena biasanya akan mempengaruhi efisiensi. Ketika kita pakai, takutnya satu hari kerja dua hari off. Terkait dengan teknologi dan bahan bakar,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya maupun penurunan produktivitas akibat implementasi B50, Ifishdeco menyiapkan sejumlah strategi efisiensi, mulai dari optimalisasi jam kerja alat hingga penerapan selective mining atau penambangan selektif.

“Caranya dengan efisiensi dalam penambangan, terus selective mining. Di samping kita akan coba untuk pemakaian B50, kita akan coba di beberapa alat dengan teknologi. Kalau mumpuni kita akan coba,” tuturnya.
Langkah tersebut dilakukan perseroan agar implementasi kebijakan energi baru terbarukan tetap dapat berjalan tanpa mengganggu keberlanjutan operasi tambang dan target produksi perusahaan. (Shiddiq)
















































