

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Ifishdeco Tbk. menyiapkan strategi ekspansi melalui penjajakan akuisisi tambang baru di tengah tekanan harga nikel global dan penurunan kinerja operasional sepanjang 2025.
Rencana tersebut disampaikan manajemen PT Ifishdeco Tbk. dalam public expose-nya yang digelar di Puri Putri Hotel Sahid, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Direktur Keuangan PT Ifishdeco Tbk., Iwan Luison, mengatakan, perseroan tetap fokus memperkuat pertumbuhan jangka panjang melalui optimalisasi aset tambang yang ada (existing) dan penambahan cadangan baru.
“Kami juga akan melakukan penjajakan rencana untuk akuisisi tambang-tambang baru untuk pertumbuhan yang meningkatkan nilai tambah perseroan untuk jangka panjang,” ujar Iwan.
Sepanjang 2025, kinerja operasional nikel perusahaan mengalami penurunan. Direktur Operasional PT Ifishdeco Tbk., Agus Prasetyono, menyebut realisasi produksi nikel hanya mencapai 1,67 juta metrik ton dari target RKAB sebesar 2,2 juta metrik ton atau sekitar 76%.

“Pada 2025 produksi kami turun,” kata Agus singkat.
Penjualan nikel, sambungnya, juga terkoreksi. Dari target RKAB sebesar 2,2 juta metrik ton, realisasi penjualan tercatat sekitar 1,29 juta metrik ton atau setara 59% target. Sejumlah faktor mempengaruhi operasional pertambangan sepanjang tahun lalu, mulai dari kondisi pasar hingga cuaca.
“Hal-hal penting, terutama yang berpengaruh pada kegiatan operasi itu, antara lain kondisi pasar, potensi harga, kompetitif di 2025, kemudian adanya peraturan, kebijakan pemerintah, serta, yang paling penting buat kami di pertambangan adalah kondisi cuaca,” ujarnya.

Tekanan harga juga tercermin dari tren harga mineral acuan (HMA) nikel sepanjang 2025 yang cenderung melemah. Menurut Iwan Luison, penurunan harga terjadi hampir sepanjang tahun seiring perlambatan pasar global.
“Selama 2025 ini kita lihat tren HMA yang dikeluarkan pemerintah itu menurun,” katanya.
Meski demikian, perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Pendapatan konsolidasi naik sekitar 2,9% menjadi Rp1 triliun, sedangkan laba bersih tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain memperkuat bisnis nikel, Ifishdeco juga melanjutkan program reklamasi tambang. Hingga 2025, total penempatan jaminan reklamasi (jamrek) tercatat mencapai Rp59 miliar dengan area reklamasi mencapai sekitar 177 hektare.
Ke depan, Ifishdeco menegaskan tetap fokus pada penerapan good mining practice (GMP) dan penguatan fundamental bisnis nikel sebagai sektor utama perusahaan. (Shiddiq)
















































